Pagi itu rumah sakit seperti sebuah kota kecil yang belum sempat bangun sepenuhnya.
Lampu-lampu di lorong masih menyala pucat, memancarkan cahaya ke lantai keramik yang dingin dan berbau disinfektan.
Suara roda tempat tidur beradu lembut dengan napas para perawat menjadi ritme pelan yang membuat waktu terasa lebih berat dari seharusnya.
Udara di lorong terasa terlalu bersih. Seperti tak menyisakan ruang bagi kenangan.
Aluna berdiri di depan ruang konseling nomor tujuh. Tangan Aluna memegang gagang pintu hanya saja seperti enggan untuk segera membukanya.
Dari balik kaca buram, Aluna bisa melihat bayangan samar seorang perawat yang sedang membereskan sesuatu di dalam.
Aluna bahkan tahu apa yang tersisa di ruangan itu, secangkir teh yang sudah dingin, selembar kertas dengan tulisan tangan yang tergesa dan bau samar lavender dari diffuser yang selalu Lyra bawa setiap sesi.
Aluna menarik napas pelan, meski oksigen yang masuk justru terasa menyesakkan bagi Aluna.
Di ujung lorong, cahaya matahari menembus tirai transparan, membentuk garis tipis di dinding yang lebih seperti luka yang tak sepenuhnya bisa tertutup.
Dua hari lalu, Lyra ditemukan tak bernyawa di apartemennya, dengan obat tidur dan catatan singkat di meja yang hanya terdiri dari satu kalimat: Maaf, aku terlalu lelah.
Sejak berita itu datang, dunia Aluna terasa seperti film yang suaranya dihilangkan. Semua tetap bergerak, tetap berjalan, hanya saja maknanya lenyap.
Aluna melangkah masuk ke ruangan yang masih sama seperti terakhir kali mereka bertemu.
Kursi kulit hitam yang posisinya masih sama di pojok, tirai abu-abu yang menggantung terlalu rendah, meja kecil dengan vas kaca berisi bunga melati yang kini sudah layu.
Bunga itu pemberian Lyra, katanya untuk membuat ruang konseling terasa lebih “hidup”.
Aluna menurunkan tasnya perlahan. Suara resleting tasnya terdengar jelas, memecah keheningan yang terlalu sunyi.
Kini Aluna hanya bisa terdiam sambil menatap kursi di hadapannya, kursi pasien tempat Lyra biasa duduk.
Aluna bahkan masih bisa membayangkan suara lembut gadis itu, nada suaranya yang selalu berusaha terdengar kuat, terdengar tenang meski selalu bergetar di ujung kalimat.
Sebuah bayangan kecil menyelinap di benak Aluna. Lyra yang menunduk, tersenyum kaku, lalu berkata, “Aku baik-baik saja, Dok. Cuma capek sedikit.”
Aluna menutup mata. Kalimat itu kini terasa mengiris seperti belati.
Ponsel Aluna bergetar di atas meja. Aluna menoleh tanpa niat mengambil. Nama kepala rumah sakit muncul di layar. Aluna tahu panggilan itu bukan untuk menghibur, pasti tentang laporan, tentang pasien, tentang tanggung jawab.
Kata yang kini terasa berat di tenggorokannya, seperti sesuatu yang tersangkut, tak bisa ia telan maupun muntahkan.
Aluna lalu hanya menekan tombol hening di ponselnya.
Di luar jendela, suara kota mulai ramai, hanya di ruang itu waktu seperti menolak bergerak. Cahaya pagi merayap perlahan di lantai, menyoroti bercak teh yang menempel di meja, jejak hari terakhir Lyra.
Aluna duduk di kursi pasien. Posisinya terbalik dari kebiasaan, dan untuk pertama kalinya ia merasakan bagaimana rasanya berada di sisi lain meja itu.
Aluna mencoba mengingat percakapan terakhir mereka. Tentang rasa cemas, tentang tidur yang sulit, tentang suara-suara di kepala Lyra yang katanya tidak mau diam.
Aluna ingat ia tersenyum waktu itu, mencoba menenangkan dengan teori-teori yang ia hafal selama kuliah. "Tidak apa-apa, semua bisa diatur, Lyra. Kita akan atasi perlahan." Kata Aluna saat itu.
Kini, kata-kata itu terdengar kosong. Kenyataannya, mereka bahkan tidak bisa mengatur apa pun. Aluna tidak bisa mengatasi apa pun.
Di saku jasnya, ada surat yang belum ia buka, laporan forensik. Aluna tidak perlu membacanya untuk tahu isinya, dosis berlebih, penyebab kematian, waktu kejadian.
Fakta-fakta dingin, kaku dan formal, meski semua kini seperti sedang membekukan dirinya dalam sunyi.
Aluna bersandar, menatap langit-langit ruangan. Dalam keheningan itu, satu pertanyaan muncul, pertanyaan kecil yang tak mau pergi, pertanyaan tentang di titik mana sebenarnya Aluna gagal? Kenapa?
Apakah di saat ia membiarkan Lyra pulang lebih cepat dari biasanya? Atau ketika ia terlalu yakin bahwa senyum yang Lyra tunjukkan adalah tanda pemulihan, bukan kepasrahan?
Helaan napas Aluna keluar perlahan, meskipun terasa berat seperti batu.
Jam dinding berdetak pelan. Setiap detik menandai sesuatu yang tidak akan kembali.
Aluna menatap dirinya di cermin kecil di sudut ruangan. Bayangan itu tampak asing, mata cekung, wajah pucat, bibir kering.
Seorang terapis yang kehilangan pasien bukan hanya kehilangan seseorang, ia juga kehilangan sebagian keyakinan bahwa pekerjaannya berarti, bahwa ia layak.
Dunia di sekitar Aluna terus bergerak, sementara dirinya tertinggal di sini, di ruangan ini.
Ponselnya kembali bergetar. Kali ini ia angkat. Suara di seberang terdengar formal, menyampaikan tentang laporan media yang sudah mulai keluar, keluarga Lyra yang menolak untuk diwawancara, dan rumah sakit yang akan mengadakan rapat darurat siang ini.
Aluna hanya menjawab singkat, “Baik.” Suaranya datar, seperti suara orang yang baru saja kehilangan bahasa.
Setelah panggilan berakhir, ia menatap layar ponsel lama-lama, lalu menaruhnya kembali di meja. Tangannya gemetar sedikit.
Aluna memandangi kursi pasien itu sekali lagi. Dalam heningnya, ia seperti mendengar bisikan lembut, bukan dari suara luar, itu bisikan dari dalam dirinya sendiri, Aluna jika kau gagal menyelamatkan satu jiwa, apakah seluruh ilmumu masih berarti?
Aluna tidak punya jawaban.
Aluna hanya tahu, sejak hari itu, sesuatu dalam dirinya ikut mati bersama Lyra dan sejak hari itu, dunia profesional Aluna pun runtuh.