Udara di kamar Aruna beraroma lembut bunga lili yang disemprotkan dari diffuser kristal, berpadu harmonis dengan aroma manis samar dari kue pengantin red velvet yang baru saja dicicipinya beberapa jam lalu, meninggalkan jejak rasa legit di lidahnya.
Jubah sutra putih gading terasa dingin dan halus di kulitnya saat menjuntai anggun dari bahunya, lengan bajunya terbuat dari renda Chantilly Prancis yang membingkai pergelangan tangannya yang ramping seperti jaring laba-laba halus.
"Ya Tuhan," bisiknya, suaranya sedikit bergetar. Bukan karena gugup yang melumpuhkan, melainkan haru dan bahagia yang meluap tak tertahankan, membasahi sudut matanya hingga terasa perih yang manis, di pembuluh darahnya.
Hari ini adalah hari yang ia tunggu-tunggu sejak ia pertama kali mengenal arti cinta. Hari di mana ia akan resmi menjadi istri Iptu Satya.
Ia menghela napas panjang, menarik dalam-dalam aroma harum bunga yang memenuhi ruangan, campuran lili, melati, dan sedikit aroma kayu cendana dari lilin aromaterapi yang baru dinyalakan.
Di luar jendela, suara riuh rendah aktivitas mulai terdengar. Para vendor dekorasi telah berdatangan sejak subuh, mempersiapkan halaman rumahnya yang luas untuk resepsi megah malam nanti.
"Aruna, sayang? Apa kau sudah siap?" Suara ibunya terdengar dari balik pintu yang sedikit terbuka, sedikit teredam oleh bahan kayu jati yang tebal.
Ibu Aruna, seorang wanita paruh baya dengan senyum teduh yang selalu menenangkan dan mata yang sama hangatnya seperti Aruna, melongokkan kepalanya ke dalam.
Begitu melihat putrinya dalam balutan gaun pengantin, matanya langsung berbinar terpesona. "Ya ampun, Cantik sekali, Nak. Benar-benar seperti bidadari dari kahyangan."
"Terima kasih, Bu. Aku tidak percaya ini benar-benar terjadi."
"Ini nyata, sayang. Hari bahagiamu. Satya pasti akan terpesona luar biasa saat melihatmu nanti," balas ibunya, tangannya mengelus punggung Aruna dengan lembut, merasakan tekstur sutra gaun itu di antara jemarinya.
"Cepat, sebentar lagi penghulu datang. Jangan sampai pengantin prianya yang gagah itu menunggu terlalu lama."
Aruna tertawa kecil, tawanya terdengar renyah seperti gemericik air. Satya, tunangannya. Perwira polisi yang gagah, berwibawa, dan setidaknya, di matanya, sangat mencintainya. Sejak pertama kali mereka bertemu tiga tahun lalu di sebuah acara amal yang diselenggarakan oleh yayasan ibunya, Aruna sudah jatuh hati pada senyumnya yang hangat dan tatapannya yang tegas, tapi teduh.
Satya adalah definisi pria idaman yang muncul dari halaman novel romantis. Ia romantis, perhatian, selalu punya kejutan kecil, dan selalu tahu cara membuat Aruna merasa menjadi wanita paling berharga di dunia.
Undangan pernikahan mereka telah tersebar ke ratusan tamu undangan. Mulai dari kerabat jauh yang jarang ditemui, teman-teman masa kecil yang kini telah tumbuh dewasa, kolega Satya dari kepolisian yang berjas rapi, hingga beberapa pejabat penting yang kehadirannya menambah kesan prestisius.
Semuanya sudah dipersiapkan dengan matang dan cermat. Gaun pengantin impiannya, cincin kawin emas putih yang dihiasi berlian kecil berkilauan di bawah lampu, seserahan bernilai tinggi yang tersusun apik, hingga daftar lagu yang akan mengiringi dansa pertama mereka, semuanya adalah buah dari perencanaan matang dan impian bertahun-tahun yang kini berada di puncak pemenuhannya.
Setelah ibunya pergi, meninggalkan aroma parfum mawar yang samar, Aruna kembali menatap pantulan dirinya di cermin. Ia mengamati detail renda halus di lehernya, merasakan dinginnya sentuhan kristal yang menempel di kain saat jarinya menyusuri kerah gaun.
Ia menarik napas dalam, mencoba meresapi setiap detik dari kebahagiaan yang terasa begitu nyata ini. Ia membayangkan wajah Satya saat pertama kali melihatnya nanti. Pasti akan ada binar tak percaya di matanya yang cokelat gelap, senyum lebar yang memperlihatkan lesung pipinya yang menawan. Ya, ia yakin sekali.
Ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja rias bertahtakan mutiara. Jari-jarinya yang lentik menari di atas layar sentuh, membuka galeri foto. Deretan foto bersama Satya memenuhi layar, memantik senyum di bibirnya.
Foto saat mereka berlibur di tepi pantai berpasir putih, ombak biru menjadi latar belakangnya, foto saat mereka makan malam romantis di restoran berbintang, cahaya lilin memantul di mata mereka, foto candid Satya yang sedang tertawa lepas menatapnya.
Sebuah pesan masuk bergetar lembut di layar ponselnya. Jantung Aruna berdebar sedikit lebih cepat, sebuah antisipasi yang menyenangkan.
Satya. Pagi, Sayang. Sudah siap? Aku tidak sabar melihatmu. Jangan sampai terlambat, ya. Aku mencintaimu.
Aruna tersenyum, senyum yang begitu tulus hingga terasa sampai ke matanya. Ia membalas pesan itu dengan cepat, jemarinya menari lincah di atas keyboard.
Aruna. Pagi, Cintaku. Tentu saja. Aku juga tidak sabar. Sangat mencintaimu juga.
Ia meletakkan ponselnya kembali, lalu meraih buket bunga mawar putih kecil yang telah disiapkan di atas meja. Aroma segar mawar yang lembut bercampur dengan wangi lili yang menenangkan, menciptakan harmoni wangi yang sempurna untuk hari istimewa ini.
Ia memejamkan mata sejenak, membayangkan dirinya berjalan menyusuri altar yang ditaburi kelopak mawar, menggenggam tangan Satya yang hangat, mengucapkan janji suci yang akan mengikat jiwa mereka selamanya.
"Aruna!" Suara ayahnya memanggil dari luar kamar, nadanya tegas dan penuh kasih.
"Ayo, kita harus segera berangkat ke gedung serbaguna. Penghulu sudah menunggu di sana. Keluarga besar sudah berkumpul."
Aruna membuka matanya. Ia menatap pantulan dirinya sekali lagi di cermin besar itu. Gaun ini, momen ini, kebahagiaan yang membuncah di dadanya. Semuanya terasa begitu nyata, begitu mempesona.
Ia menarik napas dalam, merasakan udara yang sedikit lebih sejuk kini, siap melangkah keluar dari kamar pengantinnya, menuju babak baru kehidupannya. Babak yang ia yakini akan dipenuhi cinta, kebahagiaan, dan tawa riang bersama pria yang sangat ia cintainya.
Ia tak tahu, di balik tirai sutra kebahagiaan yang berkilauan itu, badai dahsyat telah siap menerjang, mengintai dalam diam, siap meruntuhkan segalanya dalam sekejap mata.