Langit malam di Cianjur Selatan sepi, hanya suara jangkrik dan desir angin yang menyelinap dari sela-sela dinding papan rumah yang berdiri di lereng bukit kecil.
Lampu minyak tanah berkedip redup di sudut kamar, menemani seorang perempuan muda yang tengah duduk memeluk lutut di atas tikar pandan.
Qonita, namanya. Perempuan bersahaja yang selalu dikenal masyarakat kampung sebagai sosok lembut, rajin, dan berbakti pada orang tua.
Malam itu, wajahnya yang biasanya ramah dan bersinar, tertunduk lesu. Rambutnya yang terurai sebagian menutupi pipinya yang basah.
Ia baru saja selesai salat Isya, tapi sepertinya hatinya belum juga tenang. Sajadah masih tergelar, mukena belum dilepas sepenuhnya, dan air mata belum berhenti mengalir.
Sudah tiga bulan ia menjadi istri Aziz, lelaki yang dikenalnya lewat proses ta’aruf yang diatur oleh orang tuanya.
Pernikahan yang katanya penuh keberkahan. Siapa sangka, sejak malam pertama, keberkahan itu justru terasa menjauh.
Aziz memang tidak kasar di luar. Ia bahkan rajin mengaji dan sering diminta jadi imam salat. Namun, saat hanya berdua ia berubah.
Qonita terisak lagi. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Ya Allah, apakah aku salah memilih?” gumamnya lirih.
Pikirannya berputar ke kejadian malam tadi. Aziz kembali memaksanya, meski ia sudah menangis dan memohon agar ditunda.
Ia belum siap, belum mampu menyerahkan sepenuhnya tubuhnya dalam keadaan tertekan. Aziz berjanji akan sabar saat mereka menikah, tapi sudah dua kali janji itu dilanggar.
Qonita menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ia bangkit dari tikar dan mengambil surat yang ia simpan di bawah lipatan baju, surat dari Hofiza.
“Kalau kau butuh tempat untuk menenangkan diri, pulang dan jangan ragu, Qonit.”
Qonita menatap surat itu lama. Lalu, dengan tangan gemetar, ia menyalakan lampu minyak lebih terang dan mulai menulis balasan di secarik kertas lusuh:
"Teteh, aku lelah. Ingin keluar dari rumah ini, tapi takut. Takut dosa, terus Apih dan Amih malu. Aku juga takut, jika bertahan, akan kehilangan diriku sendiri."
Belum sempat ia lanjutkan, suara langkah kaki terdengar dari luar kamar. Qonita buru-buru melipat surat dan menyembunyikannya kembali. Aziz masuk tanpa mengetuk.
“Kau belum tidur?” tanyanya datar.
Qonita menggeleng pelan.
Aziz berdiri di ambang pintu, sorot matanya gelap. “Jangan lama-lama menyendiri. Kita ini sudah suami istri. Aku berhak, Qonita.”
Qonita menunduk. Tidak menjawab. Dalam hatinya, rasa takut dan luka bercampur jadi satu. Ia tidak membantah, tapi juga tidak setuju. Diamnya malam menjadi saksi betapa hatinya sudah remuk.
Setelah Aziz keluar, Qonita kembali menatap suratnya. Lalu ia menyelipkannya dalam bungkusan kecil bersama uang simpanannya. Di balik kertas tipis itu, tersembunyi rencana besar, yaitu pelarian.
***
Tiga bulan sebelum malam itu, Qonita sedang menjemur pakaian di halaman belakang ketika Amih memanggil dari dapur dengan suara agak gemetar.
“Qonita, ke sini sebentar, Nak. Apih mau bicara.”
Qonita segera meletakkan keranjang pakaian. Saat masuk ke ruang tengah, ia melihat Apih duduk bersila di tikar, memegang tasbih dan mengenakan sarung kotak-kotak.
Di sebelahnya, duduk Hofiza, kakaknya, yang baru setahun lulus sekolah dan memilih melanjutkan kursus menjahit.
“Duduk, Neng,” kata Apih pelan. Wajahnya tenang tapi mata Qonita menangkap ada keraguan yang tersembunyi.
"Hofiza, bagaimana sekolahmu?" tanya Apih.
"Alhamdulillah lancar, Pih."
"Bagaimana denganmu Qonita, mau melanjutkan sekolah seperti tetehmu ini?" tanya Apih penasaran.
Qonita mengangkat wajahnya dan menarik napas p inianjang. Tiba-tiba dari ujung mata, ia melihat Amih sedang mengasuh adik-adiknya yang masih kecil. Ada rasa hangat yang menenangkan menyelusup ke dalam dadanya. Lalu ia tersenyum dan menjawab Apih.
"Qonita terserah Apih dan Amih saja."
Jawaban itu menarik perhatian Hofiza. Dia mengernyitkan alis dan menyikut lengan Qonita. Seolah meyakinkan dirinya bahwa dia tidak salah dengar.
Apih menatap Qonita lekat dan tersenyum kagum. "Qonita, apa benar-benar sudah yakin mau menuruti kehendak Apih dan Amih?"
Qonita mengangguk pelan sambil tersenyum.
Hofiza yang duduk disampingnya semakin geram dan tak kuat menahan diri. "Qonit masih kecil Pih, dia belum mengerti keinginannya sendiri. Maafkan jika aku lancang, tapi apa mungkin Qonit akan dijodohkan dengan Aziz?"
Qonita pun penasaran, sebenarnya apa yang sudah Apih dan Amih putuskan untuknya. Qonita tidak mau membuat penolakan yang sama seperti kakaknya dulu. Sehingga membuat orang tuanya merasa sedih dan kecewa.
"Tenangkan dirimu, Hofiza!"
Kedua putrinya menunduk, bukan karena rasa takut. Namun, adab yang sudah tertanam sejak kecil, membuat mereka suka ataupun tidak, akan tetap menghargai orang tua.
"Maaf, Pih. Hofi sayang Qonit, Pih. Gak rela kalau adik sendiri gak bahagia."
"Apih sependapat denganmu, Hofi. Tapi beda makna bahagia anak muda dengan orang tua. Bahagia itu jangan dikejar jika untuk dunia saja, tapi bahagia harus diperjuangkan jika menyangkut dunia dan akhirat."
Hofiza menunduk, lisannya terkunci meski dalam hatinya tetap bersuara.
Dalam diam Qonita merasa tak nyaman berada di antara Apih dan kakaknya yang berbeda pendapat. Dia berusaha tersenyum menenangkan diri.
“Begini, Qonita dan Apihmu ini punya sahabat karib di kampung perbatasan. Anak lelakinya bernama Aziz. Dia sedang mencari calon istri dan mau ke sini besok,” lanjut Amih sambil menyuap bubur ke mangkuk.
Qonita menunduk. Hatinya berdesir.
“Dia minta ta’aruf, secara syar’i. Nggak langsung lamar. Cuma mau kenalan dulu, lewat perantara,” kata Amih, suaranya lembut tapi tegas.
"Dia orang baik-baik,” imbuh Apih.
Qonita diam. Ia tahu bahwa di usianya yang sudah baligh, dirinya sudah cukup matang untuk menikah. Beberapa pemuda pernah mengutarakan niat, tapi semuanya ditolak halus oleh Amih, menunggu waktu yang tepat. Kini, waktu itu tampaknya sudah tiba.
Apih menatap putrinya lekat-lekat. “Kalau kau tak berkenan, Apih tak akan paksa. Tapi kalau kau merasa ini baik, kita bisa lanjutkan dengan niat ibadah, bukan cinta-cintaan murahan.”
Qonita mengangguk perlahan. “Boleh, kalau memang sesuai syariat.”