Bel masuk berbunyi nyaring, menandakan dimulainya jam pertama. Koridor SMA Nusantara Jakarta yang biasanya riuh perlahan menjadi lebih tenang. Para murid bergegas masuk ke kelas masing-masing sebelum guru datang.
Di kelas XI IPS 2, suasana masih ramai.
"Eh, katanya hari ini guru sosiologi yang baru mulai ngajar, ya?" tanya Naila sambil membuka buku catatannya.
Raka yang duduk di sebelah jendela mengangkat bahu.
"Katanya begitu. Guru lama masih cuti."
"Bapak atau ibu?"
"Enggak tahu."
Doni yang duduk di depan mereka ikut menoleh. "Semoga jangan galak."
Naila tertawa kecil. "Kalau galak, paling kamu yang pertama kena."
"Kenapa aku?"
"Karena tugasmu saja sering telat."
"Fitnah."
Mereka masih bercanda ketika pintu kelas terbuka.
Seketika suasana menjadi lebih tenang.
Seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun masuk sambil membawa map hitam. Wajahnya bersih, rambutnya rapi, dan senyumnya terlihat hangat.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi, Pak," jawab seluruh kelas hampir bersamaan.
Pria itu meletakkan map di atas meja guru.
"Perkenalkan. Nama saya Jono. Untuk sementara, saya akan menggantikan Bu Ratna mengajar sosiologi."
Ia tersenyum lagi.
Senyum yang membuat banyak murid langsung merasa nyaman.
"Bapak masih muda," celetuk seseorang dari belakang.
Kelas langsung tertawa.
Jono ikut tertawa.
"Wah, terima kasih. Padahal usia saya sudah cukup untuk dipanggil om."
Gelak tawa kembali terdengar.
Raka memperhatikan dari tempat duduknya.
Guru ini berbeda.
Biasanya guru baru terlihat kaku saat pertama masuk kelas. Namun, Jono tampak santai seolah sudah lama mengenal mereka.
"Baik," kata Jono. "Daripada langsung belajar, saya ingin kenalan dulu."
"Setuju!" seru beberapa murid.
Jono menunjuk bangku depan.
"Kita mulai dari sana. Sebutkan nama dan cita-cita kalian."
Satu per satu murid memperkenalkan diri.
Ketika giliran Naila tiba, gadis itu berdiri.
"Naila. Cita-cita saya jadi jurnalis."
"Wah, menarik," kata Jono. "Kenapa jurnalis?"
"Saya suka mencari fakta."
"Bagus. Negara butuh orang yang berani mencari kebenaran."
Naila tersenyum bangga.
Giliran berikutnya adalah Raka.
"Aku Raka."
"Cita-cita?"
"Masih bingung."
Kelas tertawa.
Jono mengangguk.
"Jawaban paling jujur hari ini."
Tawa kembali pecah.
Untuk pertama kalinya, Raka merasa pelajaran sosiologi tidak membosankan.
Dua minggu berlalu.
Kehadiran Jono membuat suasana kelas berubah.
Ia bukan hanya mengajar.
Ia mendengarkan.
Ketika murid bercerita tentang kesulitan belajar, ia mendengarkan.
Ketika murid mengeluh tentang tugas yang menumpuk, ia memberi saran.
Bahkan saat jam istirahat, beberapa murid sering berkumpul di ruang guru hanya untuk mengobrol dengannya.
Hari itu, setelah pelajaran selesai, Jono berjalan keluar kelas bersama beberapa murid.
"Naila."
"Ya, Pak?"
"Tulisan artikelmu bagus."
Mata Naila berbinar.
"Benarkah, Pak?"
"Tentu. Kalau terus dilatih, kamu bisa masuk media besar suatu hari nanti."
"Terima kasih, Pak."
Pujian itu membuat Naila semakin menghormatinya.
Tak jauh dari sana, Raka sedang memasukkan laptop ke dalam tas.
Laptop itu bukan barang baru.
Sudah dipakainya hampir tiga tahun. Namun, laptop tersebut sangat penting karena menyimpan berbagai tugas sekolah.
"Raka."
Ia menoleh.
Ternyata Jono yang memanggil.
"Pak?"
"Boleh bicara sebentar?"
"Tentu."
Jono tersenyum.
"Ayo ke koridor."
Mereka berjalan keluar kelas.
Koridor siang itu cukup sepi.
Beberapa siswa berlalu-lalang sambil bercanda.
Jono berhenti dekat jendela.
"Saya mau minta bantuan."
Raka mengernyit.
"Bantuan apa, Pak?"
Jono terlihat ragu-ragu.
Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Raka melihat ekspresi tidak nyaman di wajah guru itu.
"Sebenarnya agak tidak enak."
"Kenapa, Pak?"
"Saya sedang ada keperluan mendadak."
Raka mulai penasaran.
"Maksudnya?"
"Saya perlu menyelesaikan beberapa dokumen malam ini. Laptop saya tiba-tiba rusak."
"Oh."
Jono menghela napas.
"Saya sudah mencoba meminjam ke teman, tapi belum ada yang bisa membantu."
Raka diam.
Jono kembali berbicara.
"Kalau tidak keberatan, boleh saya pinjam laptopmu selama dua atau tiga hari?"
Raka sedikit terkejut.
Laptop?
Ia tidak menyangka permintaan itu.
Jono buru-buru menambahkan.
"Kalau tidak bisa juga tidak apa-apa. Saya hanya bertanya."
Raka menimbang-nimbang.
Di satu sisi, laptop itu penting.
Di sisi lain, yang meminjam adalah gurunya sendiri.
Lagipula hanya dua atau tiga hari.
"Kalau cuma beberapa hari, boleh, Pak."
Wajah Jono langsung terlihat lega.
"Serius?"
"Iya."
"Terima kasih sekali, Raka."
"Tidak masalah."
"Besok saya kembalikan kalau pekerjaan selesai."
"Baik, Pak."
Jono menjabat tangannya.
"Terima kasih."
Raka tersenyum.
Ia merasa telah membantu seseorang yang sedang kesulitan.
Sore harinya, Raka menceritakan kejadian itu kepada Naila melalui pesan singkat.
Tak lama kemudian, balasan masuk.
"Kamu pinjamin laptop?" tanya Naila.
"Iya," jawab Raka.
"Berani juga," kata Naila.
"Kan buat kerjaan," ujar Raka.
"Tetap saja. Itu laptop penting," balas Naila.
"Pak Jono orang baik," kata Raka.
Beberapa detik kemudian muncul balasan.
"Semoga saja,” ucap Naila.
Raka tersenyum kecil.
Menurutnya Naila terlalu khawatir.
Apa yang bisa salah?
Tiga hari berlalu.
Laptop itu belum kembali.
Saat pelajaran sosiologi berlangsung, Raka mencoba bertanya.
"Pak."
"Ya?"
"Laptop saya."
"Oh iya."
Jono langsung mengangguk.
"Maaf. Pekerjaan saya belum selesai."
"Tidak apa-apa, Pak."
"Besok saya bawa."
"Baik."
Jawaban itu cukup membuat Raka tenang. Namun, keesokan harinya, laptop tersebut tetap belum kembali.
Alasannya berbeda.
"Masih saya pakai sebentar."
Hari berikutnya lagi.
"Maaf, ada file yang belum saya pindahkan."
Lalu hari berikutnya.
"Nanti sore saya antarkan."
Sore itu tidak ada siapa pun yang datang.
Kegelisahan mulai muncul.
Saat pulang sekolah, Raka menemui Naila di kantin.
"Nail."
"Hm?"
"Laptopku belum balik."
Naila menghentikan aktivitasnya.
"Masih?"
"Iya."
"Sudah berapa lama?"
"Hampir seminggu."
Ekspresi Naila berubah serius.
"Kamu enggak curiga?"
Raka menggeleng.
"Mungkin benar-benar sibuk."
"Mungkin."
Nada suara Naila terdengar ragu.
"Atau mungkin ada masalah lain."
Raka terdiam.
Untuk pertama kalinya, pikiran itu muncul di kepalanya.
Bagaimana jika memang ada sesuatu yang tidak beres?
Keesokan pagi, Jono tidak masuk mengajar.
Murid-murid mengira ia sakit. Namun, hingga siang, tidak ada kabar.
Hari berikutnya juga sama.
Tidak ada Jono.
Tidak ada pesan.
Tidak ada pemberitahuan.
Yang datang justru guru piket.
"Pak Jono izin?" tanya seorang murid.
Guru piket terlihat bingung.
"Bukankah beliau tidak masuk?"
"Iya, Pak."
"Saya tidak tahu."
Kelas langsung saling pandang.
Raka merasakan sesuatu yang aneh.
Sangat aneh.
Sepulang sekolah, ia mencoba menghubungi nomor Jono.
Tidak aktif.
Ia mencoba lagi.
Tetap tidak aktif.
Jantungnya mulai berdebar lebih cepat.
Malam harinya, ia kembali menghubungi nomor tersebut.
Hasilnya sama.
Tidak dapat dihubungi.
"Ada apa sebenarnya?" gumamnya.
Pesan dari Naila masuk.
"Sudah bisa dihubungi?" tanya Naila.
"Belum," balas Raka.
Beberapa detik kemudian.
"Raka," ucap Naila.
"Kenapa?" tanya Raka.
Balasan berikutnya membuat perutnya terasa tidak nyaman.
"Aku baru dengar sesuatu dari anak kelas sebelah," ucap Naila.
Jari Raka berhenti di atas layar ponsel.
"Apa?" tanya Raka.
Titik-titik pengetikan muncul.
Lalu menghilang.
Muncul lagi.
Seolah Naila sedang ragu untuk mengatakannya.
Akhirnya sebuah pesan terkirim.
"Katanya bukan cuma kamu yang pernah dipinjami barang sama Pak Jono," ucap Naila.
Raka langsung duduk tegak.
Wajahnya menegang.
"Maksudmu?" tanya Raka.
Balasan Naila datang cepat.
"Besok kita harus cari tahu," ucap Naila.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak mengenal Jono, Raka tidak bisa tidur dengan tenang.
Di dalam benaknya hanya ada satu pertanyaan.
Apakah guru yang selama ini mereka percaya benar-benar seperti yang terlihat?
Atau selama ini mereka hanya melihat senyum yang menutupi sesuatu yang jauh lebih besar?
Tanpa disadari oleh siapa pun, misteri itu baru saja dimulai.