


oleh chunlielliem · 5 Bab
Bisikan lembutmu masih hangat di telingaku Janjimu sampai ke ujung senja Membuai jiwa Wanita mana yang sebahagia aku? Namun, nyatanya Aku Bukanlah satu-satunya ibu anak-anakmu Mengapa Asa yang kau tanamkan di hati ini kau cabut sampai ke akarnya? Lukisan senja tak lagi indah dipandang Segurat tinta hitam telah mencemarinya Ke mana perginya janjimu?
"Sayang, aku sangat mencintaimu ...," bisik seorang pria di telinga wanita yang berbaring di sampingnya.
Kehangatan berada dalam pelukan pria itu membuat si wanita bernama lengkap Netycia Anggraeni merapatkan tubuh lebih lagi. Dia tak mau menyia-nyiakan waktu bersama dengan lelaki yang dicintainya ini, Erwin Handoko.
"Aku tahu, aku juga mencintaimu, Sayang." bisik Nety penuh perasaan.
Desahan napas Nety membuat Erwin bergelora untuk mencumbunya kembali.
Mereka telah melewatkan malam yang indah dan rasanya tidak pernah cukup melepaskan segala hasrat yang ada.
Erwin dan Nety sedang dimabukkan anggur cinta.
Semakin lama semakin mereka hanyut oleh luapan cinta dan gairah. Genggaman tangan dan tubuh yang menyatu disertai desahan napas yang berpacu untuk mencapai puncak kenikmatan dilakukan bersama.
Tiba-tiba.
"Kroooook!"
Nety kaget dan konsentrasinya pun buyar. Sekejap semuanya menguap. Gairahnya pun turun pada titik terendah.
Nety berpaling ke samping, dilihatnya lelaki yang disebutnya suami tidur terlentang dengan suara yang tak asing lagi didengarnya setiap malam.
"Aaah! Lagi-lagi mimpi!" dengkusnya kesal, kecewa apa yang dinikmati tadi hanya sebatas mimpi. "Selalu begitu!"
Nety menutup telinga dengan bantal, tidak tahan dia mendengar suara dengkuran si suami. Kaki kanan menyepak kaki Erwin, tidak keras tapi cukup membangunkan pria yang tidur bersebelahan dengannya.
"Ada apa ?" tanya Erwin kaget seketika terbangun.
"Tidak apa-apa, " jawab Nety dongkol, "tidurlah dan jangan mengorok lagi!"
Sebenarnya telinga Nety sudah terbiasa mendengar dengkuran suaminya, bukankah sudah berjalan hampir dua puluh lima tahun? Toh, dia masih bisa tidur dengan nyenyak.
Namun, tentu saja yang membuat dia kesal adalah kenikmatan yang hampir didapatnya dalam mimpi tiba- tiba saja menguap.
"Dalam mimpi pun, aku tidak bisa menikmatinya!" desisnya kecewa.
Nety lalu meraih ponsel yang terletak di nakas di samping ranjang. Waktu menunjukan pukul 4.50. Sebentar lagi dia sudah harus bangun dan melakukan semua tugas sebagai istri sekaligus ibu dari tiga anak .
Anak pertama, William tinggal di Medan, kerja, umur dua puluh lima tahun.
Anak kedua, Jessica, dua puluh tahun sedang kuliah semester ketiga di ITS, Surabaya.
Si bungsu bernama Monica, anak kebobolan lahir ketika Netycia berumur 36 tahun, kini berumur hampir genap sepuluh tahun.
Nety memejamkan matanya lagi, masih ada waktu untuk tidur pikirnya. Setengah jam lagi cukuplah.
Barangkali dia bisa menyambung mimpi yang terputus tadi.
Mimpi tentang kemesraan bersama suaminya dan berharap menjadi kenyataan.
Hal yang didambakan dari waktu ke waktu sepanjang usia pernikahan mereka.
'Suamiku sayang, adakah kau mengerti perasaanku? Mengerti keinginan hatiku? Terlalu besarkah harapku ini bagimu? Seandainya kamu mau meluangkan banyak waktu buatku ... seandainya aku bisa merasakan lagi semua yang mulai hilang ketika kita masih muda dulu? Apakah semakin menua usia kita semakin layu juga keromantisan kita?'
Nety bergumam dalam hati seraya melingkarkan tangannya pada pinggang suaminya, berharap dia bisa membawa pria itu masuk ke dalam mimpi walau hanya sesaat saja.
Bagi Nety, itu hanya keinginan kecil saja, tetapi bukan begitu pendapat Erwin. Bagi lelaki itu, Nety adalah istri yang terlalu menuntut terutama dalam hal keromantisan yang harusnya tidak terlalu dipusingkan. Menurut Erwin, dia sudah menjadi suami dan kepala keluarga yang bertanggung jawab, apa lagi yang kurang?
Kami hanya tinggal bersama, tidak hidup bersama, demikian ucapan Nety pada sahabatnya, Ella berulang kali.
"Aku bukan tipe istri yang suka menuntut materi dari suami. Yang kuinginkan cuma kebutuhan batin, sedikit saja! Ini semua bukan hanya tentang s*ks tapi tentang pemenuhan emosi!" Nety berkata lantang pada Ella kala sahabatnya itu memberi nasehat untuk lebih mengucap syukur.
"Net, jujur padaku, apa kamu merasa kehidupan ranjang kalian sudah berkurang?" tanya Ella, sahabat semenjak sekolah lanjutan atas.
"Ell, kan sudah kubilang ini bukan tentang s*ks! Ck! Kamu kan pernah menikah, pasti ngertilah."
Ella, sahabatnya ini seorang janda satu anak. Kehidupan rumah tangga Ella dulu termasuk rumit, dia sudah menjalani banyak proses dalam pernikahan yang berakhir gagal.
Namun, ditinjau dari kedewasaan rohani, Ella berada di atas Nety, mungkin saja pengalaman hidup sudah menempa Ella menjadi pribadi yang tangguh. Jadi tak heran Nety sering meminta pendapat dan masukan dari Ella.
"Nety, apakah kamu mengalami degradasi kepercayaan diri?" tanya Ella mengingat Nety sudah tak muda lagi dan menjelang menopause walaupun wanita itu masih terlihat cantik.
Pada titik ini, wanita yang umurnya menuju kepala lima itu termenung.
Diakui Nety, selama mengenal Erwin, suaminya ini memang bukan tipe pria romantis. Dia seharusnya sudah tahu watak Erwin.
Pria itu hanya menunjukkan perasaannya saat tertentu saja, dia bukan pria yang selalu mengumbar kata manis dan kemesraan di dunia media sosial.
Pernikahan mereka juga bukan tanpa proses, bahkan akan terus berproses sampai salah satu belahan jiwa meninggalkan dunia yang fana ini.
Namun, bagi Nety, di usianya yang tak muda lagi, dia ingin mereguk sedikit keromantisan yang diidamkannya. Maukah Erwin mengerti keinginan hati kecilnya?
Pernikahan Erwin dan Nety awalnya hanya melewati riak-riak kecil di tengah samudra pernikahan yang tenang tetapi di tengah perjalanan harus menghadapi badai yang mengamuk menggoncangkan biduk pernikahan mereka. Bisakah keduanya bersama menghadapi badai itu atau salah satu dari mereka menyerah?

chunlielliem
0 Pengikut · 1 Novel