"Tanda tangani saja, Alya. Tidak perlu banyak tanya."
Suara Aris sedingin es yang baru keluar dari pembeku. Di atas meja makan yang sudah tertata rapi dengan lilin aromaterapi dan hidangan spageti aglio olio kesukaan suaminya, tergeletak selembar amplop cokelat. Isinya bukan kado perhiasan atau tiket liburan seperti yang Alya bayangkan sejak pagi tadi. Isinya adalah surat gugatan cerai.
Alya mematung. Jemarinya yang masih memegang sendok perak gemetar hebat. "Candaan macam apa ini, Ris? Hari ini ulang tahun pernikahan kita yang ketiga. Kamu bilang mau pulang cepat untuk merayakan."
"Aku tidak sedang bercanda," potong Aris tajam. Pria itu berdiri tegak, mengenakan setelan kantor yang masih rapi, sorot matanya yang biasa hangat kini kosong, seolah Alya hanyalah orang asing yang menghalangi jalannya. "Semua barangku sudah kukemas. Aku akan pergi malam ini juga."
"Kenapa?" Suara Alya pecah. Ia berdiri, mengabaikan kursi yang berderit nyaring di lantai marmer.
"Salahku apa? Kita baru saja merencanakan program hamil bulan depan. Kita baik-baik saja, Aris!"
Aris tidak menjawab. Ia justru meraih kunci mobil di atas bufet. Sikap diamnya jauh lebih menyakitkan daripada makian. Bagi Alya, keheningan ini adalah bentuk penghinaan paling telak. Tiga tahun membangun rumah tangga, berbagi ranjang, dan rahasia, ternyata hanya berujung pada selembar kertas tanpa penjelasan satu kalimat pun.
"Ris, tolong lihat aku!" Alya mengejar Aris ke arah pintu depan, menyambar lengan kemeja suaminya. "Kalau ada masalah di kantor, atau kalau aku ada salah kata, bicarakan. Jangan seperti ini. Kamu membuatku merasa seperti sampah yang dibuang begitu saja."
Aris menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu. Ia menoleh perlahan, melepaskan cengkeraman tangan Alya dengan gerakan yang sangat halus dan penuh penolakan.
"Jangan mempersulit diri sendiri, Alya. Kamu wanita baik, kamu akan menemukan orang lain, tapi itu bukan aku. Sudah cukup."
Sudah cukup.
Dua kata itu menghantam dada Alya seperti godam besi. Tanpa penjelasan lebih lanjut, Aris melangkah keluar menuju mobilnya yang sudah terparkir di halaman. Alya berdiri mematung di teras, membiarkan angin malam yang menusuk tulang menerpa daster sutra tipisnya. Ia menyaksikan lampu belakang mobil Aris menjauh, mengecil, hingga menghilang di tikungan kompleks perumahan mereka.
Dunia Alya runtuh seketika.
Ia kembali masuk ke dalam rumah yang mendadak terasa terlalu luas dan mencekam. Wangi masakan yang ia siapkan dengan penuh cinta kini tercium memuakkan. Alya duduk di lantai ruang tamu, memeluk lututnya sendiri. Ia teringat bagaimana tadi siang ia menghabiskan waktu tiga jam di dapur, berdandan secantik mungkin, dan menyemprotkan parfum favorit Aris di setiap sudut ruangan. Semuanya sia-sia.
Pikirannya liar mencari alasan. Apakah ada wanita lain? Tidak mungkin. Aris adalah pria rumahan yang disiplin. Apakah karena masalah uang? Rasanya tidak, karier Aris sebagai manajer keuangan sedang di puncak. Lalu apa? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya seperti gasing yang tak kunjung berhenti, menyisakan sakit kepala yang berdenyut-denyut.
Alya meraih ponselnya, mencoba menghubungi nomor Aris. Dialihkan. Ia mencoba lagi. Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi. Pesan singkat yang ia kirimkan hanya berakhir dengan satu centang abu-abu. Ia benar-benar telah diblokir dari kehidupan suaminya sendiri dalam hitungan menit.
Malam itu, Alya tidak tidur. Ia hanya duduk bersandar pada pintu kamar yang terkunci, menatap bayangannya sendiri di cermin lemari. Matanya yang sembap dan wajahnya yang pucat pasi mencerminkan kehancuran batinnya. Ia merasa kerdil, tidak berharga, dan terbuang. Mengapa takdir begitu kejam memberinya kado perceraian di hari yang seharusnya penuh syukur?
Pagi buta, sekitar pukul lima, suara ketukan keras di pintu depan mengejutkannya. Harapan kecil membuncah di hati Alya. Aris pulang? Apakah dia menyesal?
Alya berlari sekuat tenaga, tidak peduli dengan rambutnya yang berantakan atau matanya yang merah. Ia membuka pintu dengan napas terengah.
"Aris."
Ucapannya terhenti. Di depannya bukan Aris. Dua orang pria bertubuh tegap dengan seragam dinas lengkap berdiri di sana. Salah satunya membawa sebuah map besar, sementara yang lainnya menatap Alya dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara ketegasan dan sedikit simpati.
"Selamat pagi, Ibu Alya?" tanya salah satu petugas itu.
"I-iya, saya sendiri. Ada apa ya, Pak?"
Petugas itu mengeluarkan sebuah surat resmi yang berbeda dari surat yang ditinggalkan Aris semalam. Ada stempel merah di sudutnya.
"Kami dari kepolisian. Kami membawa surat perintah penyitaan atas aset rumah ini terkait kasus penggelapan dana besar-besaran yang melibatkan Saudara Aris Pratama. Mulai hari ini, rumah ini berada di bawah pengawasan negara dan Ibu diminta untuk segera mengosongkan tempat ini dalam waktu satu jam."
Alya terhuyung, berpegangan pada daun pintu agar tidak ambruk. Dunianya yang sudah hancur semalam, kini benar-benar rata dengan tanah. Aris tidak hanya mencampakkannya, pria itu juga meninggalkan lubang hitam yang siap menelannya hidup-hidup. Alya seakan dunianya runtuh, dalam seketika.
"Satu jam? Bapak bercanda, kan? Saya bahkan tidak tahu apa yang sedang terjadi!"
Suara Alya melengking tinggi, beradu dengan deru mesin truk yang baru saja berhenti di depan pagar rumahnya. Air matanya yang sempat mengering kini kembali luruh, membasahi pipi yang pucat. Ia menatap nanar pada petugas kepolisian yang berdiri tegak di hadapannya.
"Kami hanya menjalankan tugas, Bu Alya. Silakan ambil barang-barang pribadi yang sekiranya penting. Dokumen, pakaian, dan barang berharga milik Ibu sendiri. Selain itu, aset rumah dan isinya sudah dibekukan oleh negara," jawab petugas itu dengan nada datar, dan matanya menunjukkan secercah empati yang tidak bisa berbuat banyak.
Alya limbung. Ia masuk kembali ke dalam rumah dengan langkah gontai. Ruang tamu yang kemarin masih terasa hangat, kini tampak seperti penjara bawah tanah yang dingin. Ia berlari menuju kamar, menyambar koper besar dan memasukkan pakaiannya secara asal. Tangannya gemetar saat membuka laci nakas, mencari kotak perhiasan dan buku tabungan.
Napasnya tercekat saat melihat saldo di aplikasi perbankan melalui ponselnya. Nol. Semuanya kosong. Aris ternyata telah memindahkan seluruh dana di rekening bersama mereka ke tempat lain yang tak terlacak sebelum ia menghilang. Pria yang ia cintai itu tidak hanya memberikan luka batin, tetapi juga benar-benar memutus napas kehidupannya.