Aroma tumis daging sapi lada hitam yang gurih dan pedas memenuhi setiap sudut ruang makan apartemen lantai dua belas itu. Ratna tersenyum kecil, jemarinya yang sedikit berisi merapikan letak taplak meja brokat berwarna gading yang baru ia beli pekan lalu untuk menyambut momen istimewa ini.
Di tengah meja, dua batang lilin aromaterapi beraroma cendana menyala tenang, menciptakan pendar cahaya temaram yang romantis di bawah lampu gantung kristal. Malam ini adalah perayaan ulang tahun pernikahan mereka yang kelima, sebuah tonggak sejarah yang bagi Ratna adalah bukti keteguhan cinta mereka.
Suara kunci diputar dari pintu depan membuat jantung Ratna berdesir hebat. Ia segera berdiri tegak, memaksakan senyum paling manis meski kakinya sedikit pegal karena terlalu lama berdiri. Farhan melangkah masuk dengan setelan jas abu-abu yang tampak sedikit kusut.
"Selamat datang, Mas. Selamat ulang tahun pernikahan yang kelima," sapa Ratna lembut, melangkah mendekat untuk mengambil tas kerja kulit milik Farhan.
Farhan hanya bergumam tidak jelas tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel. Ia tidak membalas pelukan hangat Ratna, justru menghindar dengan gerakan kaku seolah-olah sentuhan Ratna adalah sesuatu yang mengganggu.
"Aku ingin cuci muka dulu," ucapnya dingin.
Ratna tertegun di ruang tengah, tangannya yang menggantung di udara perlahan turun. Keretakan halus ini sebenarnya bukan hal baru. Selama enam bulan terakhir, Farhan seolah membangun tembok tinggi di antara mereka.
Farhan sering pulang terlambat dengan alasan lembur, lebih banyak diam saat makan malam, dan hampir tidak pernah lagi menyentuh Ratna dengan kasih sayang yang tulus. Jika pun mereka berbicara, Farhan sering melontarkan komentar-komentar yang menyayat hati tentang penampilan fisik Ratna.
“Ratna, apa kamu tidak merasa pengap dengan pakaian sesempit itu?" atau "Mungkin porsi makanmu harus dipangkas setengah, pipimu sudah menutupi leher.” Kalimat itu, yang pernah diucapkan oleh Farhan.
Farhan kembali ke meja makan setelah beberapa menit. Ia duduk dengan punggung tegak, wajahnya tanpa ekspresi. Ratna segera menyendokkan nasi dan lauk ke piring suaminya dengan penuh perhatian, berharap masakan rumah ini bisa mencairkan suasana dingin di antara mereka.
"Aku masak daging lada hitam kesukaanmu, Mas. Dagingnya sangat empuk karena aku presto dulu.”
Farhan hanya menatap piringnya dengan pandangan kosong. Ia tidak menyentuh sendoknya sama sekali. Denting jarum jam dinding terasa kian nyaring, menciptakan ketegangan yang menyesakkan dada.
Tiba-tiba, Farhan meletakkan kedua tangannya di atas meja, lalu menghela napas panjang yang terdengar sangat berat, seolah ia baru saja melepaskan beban yang sangat besar.
"Ratna." Suara Farhan rendah, bergetar dengan nada yang sangat dingin.
"Iya, Mas? Ada yang kurang rasanya?”
Farhan mendongak, menatap tepat ke manik mata Ratna. Tidak ada kehangatan di sana. Hanya ada kekosongan yang menakutkan.
"Mari kita sudahi semua ini. Aku ingin kita bercerai."
Kalimat itu meluncur begitu saja, tanpa basa-basi, tanpa aba-aba. Dunia seolah berhenti berputar bagi Ratna.
Ia merasa telinganya berdenging hebat, dan pasokan oksigen di paru-parunya seakan menghilang seketika. Ia mencoba tertawa, dan yang keluar hanyalah suara serak yang memilukan.
“Mas, bercanda, kan?”
"Aku tidak sedang bercanda, Ratna," potong Farhan cepat dengan nada suara yang naik satu oktaf.
"Surat-surat cerai sudah disiapkan oleh pengacaraku. Besok pagi mereka akan datang menemuimu. Kamu hanya perlu menandatanganinya dan kita selesai secara baik-baik."
"Kenapa, Mas? Apa salahku?" Air mata yang sejak tadi ditahan kini tumpah membasahi pipi Ratna.
"Aku mengurus rumah ini tanpa cela. Aku selalu menunggumu pulang, aku selalu mendukung karirmu, aku mencintaimu lebih dari nyawaku sendiri! Apa satu kesalahan kecilku sampai kamu tega membuangku seperti ini?"
Farhan berdiri dari kursinya, mendorong meja hingga gelas air putih sedikit bergoyang. Ia menatap Ratna dari atas ke bawah dengan tatapan penuh kejijikan yang kini ia tunjukkan secara telanjang.
"Kenapa? Kamu masih butuh alasan setelah berkali-kali aku memberi kode?"
Ia melangkah maju, mendekati Ratna yang masih terduduk lemas.
"Lihat dirimu di cermin, Ratna! Lihat betapa berantakannya fisikmu. Kamu terlalu gemuk.”
“Aku adalah seorang eksekutif muda dengan masa depan cerah, dan aku malu setiap kali harus membawamu ke acara kantor.”
Ratna ternganga, tangannya gemetar hebat di atas pangkuannya.
"Hanya karena, berat badan?"
"Itu lebih dari sekadar berat badan, Ratna. Itu tentang gairah yang mati," desis Farhan kejam.
"Aku muak melihatmu terus-menerus makan sementara tubuhmu makin tidak berbentuk. Aku tidak bisa lagi melihatmu sebagai seorang wanita yang menarik.”
Setiap kata yang keluar dari mulut Farhan terasa seperti belati yang dihunus berkali-kali ke dada Ratna. Hatinya hancur berkeping-keping, hancur menjadi debu yang tak bersisa.
Ia merasa seluruh pengabdian dan kesetiaannya selama lima tahun ini dianggap sampah hanya karena perubahan fisiknya. Farhan yang dulu berjanji akan menjaganya dalam suka dan duka, kini menjadi orang pertama yang meludahinya saat ia berada di titik paling rapuh.
"Hanya karena aku tidak langsing lagi, kamu melupakan semua kenangan kita, Mas?"
"Kenangan tidak bisa membuatku bangga saat bersanding denganmu di depan umum," jawab Farhan tanpa ampun.
Ia mengambil tas kerjanya kembali, mengabaikan hidangan mewah yang mulai dingin di atas meja.
"Aku akan menginap di hotel malam ini agar aku tidak perlu melihat wajahmu lagi. Besok siang, saat aku pulang, aku harap kamu sudah mengemasi semua barangmu dan pergi dari apartemen ini."
Farhan melangkah pergi tanpa menoleh sedikit pun. Suara pintu depan yang berdebam keras menjadi titik akhir dari pernikahan yang selama ini Ratna agung-agungkan.
Ratna jatuh tersungkur di lantai dapur yang dingin. Ia meraung, mendekap perutnya sendiri dengan rasa benci dan hina yang luar biasa.
Di atas meja, lilin cendana masih menyala, aromanya kini terasa seperti bau kematian. Hidangan yang dimasak dengan cinta itu kini hanyalah tumpukan sampah yang menandai kehancuran total hidupnya.
Malam itu, di tengah kemewahan apartemen yang sunyi, Ratna kehilangan segalanya, suaminya, rumahnya, dan yang paling menyakitkan, kepercayaan pada dirinya sendiri.