Hana duduk di kursi rotan di teras rumah mungilnya, tangannya menopang dagu sementara matanya menerawang jauh. Sepulang kerja, pikirannya tak kunjung tenang. Udara sore yang mulai beranjak malam terasa sejuk, tetapi hatinya masih dipenuhi kebimbangan.
Lauren datang menghampiri, membawa nampan berisi dua cangkir teh manis yang mengepul hangat. Ia meletakkannya di meja kecil di antara mereka, lalu duduk di kursi di sebelah Hana.
"Bu, sebenarnya aku tidak yakin dengan pernikahan ini, bagaimana menurut Ibu tentang Rey?" tanya Hana dengan suara lirih, menatap cangkir tehnya yang masih beruap.
Lauren menghela napas pelan sebelum menanggapi. Ia menatap putrinya dengan penuh kasih sayang, lalu mengelus pundaknya dengan lembut.
"Ibu mengerti, ini pasti sulit untukmu. Kalau menurut ibu, Rey pria yang baik, hanya saja dia kurang mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Itu yang membuatnya terlihat begitu dingin. Pria seperti dia sebenarnya tak butuh macam-macam, Nak. Yang dia butuhkan hanyalah seseorang yang mau mendengarkannya dan mendukungnya," ujar Lauren bijak.
Ia berhenti sejenak, mengambil cangkir tehnya dan menyeruputnya perlahan sebelum melanjutkan.
"Tapi yang ibu lihat, matamu berbinar setiap kali menatap Rey. Kalian punya masa lalu yang rumit, tetapi justru karena itu, ibu rasa kalian bisa saling memahami dan menjaga satu sama lain."
Hana terdiam, menunduk sedikit sambil mengulum senyum samar. Kata-kata ibunya begitu dalam, seolah menyentuh sesuatu yang selama ini enggan ia akui.
"Benarkah begitu? Aku rasa Rey memang pria yang baik, hanya saja sikap arogannya sering kali menutupinya. Mungkin banyak orang tak bisa melihat sisi lain darinya, tetapi ... dia berbeda saat bersamaku," gumam Hana, suaranya nyaris seperti bisikan.
Ia kemudian mendongak, menatap langit malam yang mulai bertabur bintang. "Apa artinya itu?"
Lauren tersenyum lembut, mengangkat tangannya untuk membelai kepala Hana penuh kasih.
"Jodoh adalah dia yang membuatmu merasa nyaman menjadi diri sendiri, tanpa berpura-pura."
Hana menoleh, menatap ibunya dengan perasaan yang semakin tak menentu. Kata-kata itu menggema di kepalanya.
Ya, bersama Rey, ia merasa bisa menjadi dirinya sendiri.
Sebelumnya, pernikahan hanya ia anggap sebagai sebuah transaksi bisnis. Sesuatu yang harus dijalani demi kepentingan perusahaan dan keluarganya. Tapi kini, Hana menyadari sesuatu yang lebih dalam.
Ia ingin pernikahan ini bukan karena alasan bisnis semata. Bukan pula untuk lari dari luka lama. Ia ingin menikah karena telah menemukan seseorang yang benar-benar bisa menjadi belahan jiwanya.
Seseorang yang bisa menemaninya hingga akhir hayat.
Sejak malam itu, Hana mulai mencoba melepaskan beban masa lalu. Ia menyadari bahwa tak peduli sekeras apa pun ia menghindar, jalannya tetap mengarah ke satu titik yang sama pernikahan dengan Rey Harrington.
Syuting drama yang ia tulis akhirnya selesai. Semua adegan telah rampung, tinggal menunggu proses editing sebelum akhirnya tayang. Ini adalah momen besar bagi Hana, melihat karyanya akan segera rilis sebagai drama layar kaca.
Malam itu, tim produksi mengadakan perayaan. Sebuah pesta kecil di sebuah bar, penuh dengan tawa dan kebahagiaan. Semua merayakan keberhasilan ini, termasuk Hana yang akhirnya bisa merasa sedikit lebih ringan setelah melewati begitu banyak pergulatan batin.
Rey, yang jarang sekali hadir dalam perayaan semacam ini, malam ini duduk di antara mereka. Meski begitu, ia tidak minum banyak, sebaliknya, justru Hana yang terus-menerus menuang minuman ke dalam gelasnya.
"Ah, lagi-lagi kalah!" keluh Hana sambil menepuk meja.
Game sederhana yang dimainkan tim mereka memang mengharuskan yang kalah untuk minum. Dan entah kenapa, malam ini dewi fortuna benar-benar menjauhi Hana. Ia selalu kalah, selalu harus meneguk alkohol, dan wajahnya pun mulai memerah.
Rey, yang sejak tadi hanya mengamati dengan ekspresi datar, akhirnya menghela napas panjang.
"Bastian, bawa mobil ke apartemenku saja," ujar Rey, menyerahkan kunci mobilnya pada asistennya.
Bastian mengangguk mengerti, lalu menatap Hana yang sudah mulai terhuyung. Tim lainnya mulai berbisik-bisik dan tersenyum gemas melihat bagaimana Rey, tanpa banyak bicara, membopong Hana keluar dari bar.
"Wow, mereka berdua benar-benar seperti pasangan pengantin baru, ya?" bisik Dina.
"Bukannya memang sebentar lagi mereka akan menikah?" sahut yang lain.
Sementara itu, Rey tetap tak menghiraukan komentar-komentar tersebut. Dengan langkah pasti, ia membawa Hana menuju mobilnya, lalu duduk di kursi belakang setelah memastikan Hana nyaman di sampingnya.
Bastian segera mengambil kemudi, membawa mereka menuju ke apartemen Rey.
Dalam perjalanan, Hana yang sudah setengah sadar bersandar di bahu Rey, matanya setengah terpejam.
"Lagi-lagi menyusahkan," gumam Rey pelan, sambil merangkul Hana lebih erat agar tidak jatuh ke samping.
Wanita ini memang selalu seperti ini, ceroboh, tidak kuat minum, tapi tetap saja nekat mengikuti permainan.
Ia melirik wajah Hana yang tertidur dengan nafas tenang di bahunya. Bibirnya sedikit terangkat tanpa sadar.
Hana benar-benar membuatnya gila.
Setibanya di apartemen Rey, pria itu tanpa ragu membopong Hana ke dalam gedung, melewati lorong dengan langkah mantap menuju unitnya. Sementara itu, Bastian mengekor di belakang, siap membantu jika diperlukan.
Begitu sampai di depan pintu, Bastian dengan sigap membukakannya. Rey masuk tanpa banyak bicara, lalu sebelum melangkah lebih jauh ke dalam, ia menoleh sekilas ke arah asistennya.
"Bastian, sepertinya besok pagi kau tidak perlu buru-buru menjemputku ke kantor," ujar Rey dengan nada datar namun penuh makna.
Bastian menahan senyumnya. Ia sudah cukup lama bekerja untuk Rey dan bisa menebak apa yang sedang terjadi. Dengan sikap penuh pengertian, ia mengangguk.
"Baik, Tuan. Saya mengerti," jawabnya sopan.
Namun, sebelum ia bisa menambahkan komentar lain, pintu apartemen Rey tertutup begitu saja di depan wajahnya.
Bastian sempat tertegun, lalu mengangkat alis dengan ekspresi geli.
"Uh waw, sepertinya akan ada pertempuran ranjang malam ini," gumamnya pelan sambil berbalik, meninggalkan koridor dengan langkah santai.