


oleh Nuraselina · 7 Bab
Pernikahan tanpa restu orang tua membuat pria bernama Azlan harus menelan pil pahit dalam hidupnya. Dia diusir dari rumah mertuanya saat tidak memiliki pekerjaan. Cinta menuntun sang istri untuk mengikuti ke mana pun sang suami pergi, meski harus merelakan hidup terpisah dari orang tuanya. Mereka mengadu nasib ke ibu kota dengan berbekalkan uang 45 ribu rupiah.
“Akang takut dengan para preman tadi, ya?” tanya Nauma.
“Nggak, aku nggak takut. Aku hanya takut kamu yang menjadi korban kekerasan mereka saja. Makanya aku langsung ajak kamu pergi dari sana,” elaknya.
“Tenang saja Kang, mereka tidak akan berani. Kepala preman pasarnya kan Bapak. Pasti kena tampol sama Bapak kalau mereka berani nyakitin kita."
“Astaga! Serius Neng, bapak kamu kepala preman pasar?” Azlan terkejut.
“Serius, buat apa Neng bohong?”
“Wah! Tahu begitu aku hajar saja si Aldo-Aldo itu, sampai babak belur.”
“Tapi kayaknya malah Akang yang akan ditampol sama Bapak. Bapak sepertinya tidak suka sekali dengan Akang. Neng juga nggak suka Akang kasar seperti Aldo,” ucap Nauma dengan nada sedih.
“Kenapa nggak suka? Bapak kamu saja yang sirik, kalah ganteng tuh sama akang. Lagian orang seperti Aldo itu harus diberi pelajaran Neng. Kalau perlu masukin ke sekolah TK lagi biar dia belajar ngomong yang baik. Tapi kalau Bapak yang nampol, aku mundur.”
“Dengar ya Kang, Neng cinta sama Akang itu karena Akang baik dan tidak kasar. Kalau Akang kasar, apa bedanya Akang sama Aldo? Neng nggak suka,” ucap Nauma.
“Iya deh, iya, nggak akan kasar, tapi kalau kasarnya nanti malam di kamar boleh ya?”
“Hu… maunya Akang itu mah, Akang nggak kasihan sama Neng?" jawab Nauma dengan wajah memelas. Azlan bisa mengetahuinya karena terlihat dari kaca spion motor.
“Oh iya, kamu mau mampir ke tempat lain, apa mau langsung pulang?” Azlan mengalihkan pembicaraan.
“Pulang aja Kang, aku takut Ibu marah.”
Azlan langsung melajukan motor dengan cepat, agar bisa cepat sampai rumah. Tidak ada pembicaraan lagi di antara mereka. Sepanjang perjalanan pulang, Nauma hanya memeluk pinggang suaminya dengan erat dan dia menyandarkan kepalanya di bahu Azlan.
“Mana belanjaannya?!” tanya Ibu sambil menyodorkan tangannya kepada Nauma saat mereka sudah sampai di rumah.
“Di Akang Azlan, Bu.”
Degh! ‘Mampus dah aku,’ batin Azlan sambil menepuk kening.
“Kenapa kamu, Lan, nepuk kening gitu?! Mana belanjaannya?” pinta Ibu.
“Belanjaannya ketinggalan Bu, di pasar,” balasnya.
Gara-gara tadi emosi Azlan sampai lupa mengambil keranjang yang diletakkan sembarangan. Bahkan dia tidak ingat di mana dia meletakkannya karena dia terlalu emosi saat ingin menghajar Aldo.
“Ya ampun, Azlan! Kelewatan kamu ya! Buat ibu kesal saja dari tadi!” ucap Ibu sambil menjambak rambut Azlan.
“Ampun Bu, ampun, nanti aku ambil, tadi aku kelupaan,” balasnya sambil berusaha melepaskan tangan Ibu dari rambut.
“Lupa! Lupa! Kerjaan kamu tuh nggak ada yang benar, bagus kalau kamu pergi dari sini!”
“Maaf Bu, itu bukan salah Akang. Itu salah aku yang lupa membawanya,” bela Nauma. Dia juga membantu Azlan melepaskan diri dari amukan Ibu.
“Lihat suami kamu! Tidak pernah mengerjakan pekerjaan dengan serius! Bawa pergi suami kamu dari rumah ini! Bapak tidak sudi melihatnya! Percuma punya menantu tampan tapi pengangguran, tidak ada gunanya!” ucap Bapak kepada Nauma dengan nada yang sangat kasar.
“Tapi Pak, kami harus pindah ke mana? Kang Azlan saja belum memiliki pekerjaan,” balas Nauma sambil terisak.
“Bukan urusan bapak!! Kalau kamu masih mau tinggal di sini, kamu ceraikan saja suami tidak berguna itu!”
“Tapi Pak, bagaimana bisa? Apa Bapak tega melihat kami menjadi gelandangan? Nauma juga nggak mau pisah sama Akang,” jawab Nauma dengan mata berkaca-kaca.
“Kalau kamu takut jadi gelandangan, lebih baik kamu ceraikan saja dia! Tidak ada gunanya juga dia di sini."
“Aku mohon Pak, beri Akang Azlan kesempatan, sekali saja. Aku yakin tidak lama lagi pasti dia akan memperbaiki sifatnya dan mencari pekerjaan."
“Tidak!! Sekali bapak bilang tidak ya tidak! Paham?! Bapak sudah terlanjur malu dengan tetangga. Kamu lihat, Yanti saja bisa mendapatkan suami yang kaya raya, apa kamu tidak mau hidup dengan bergelimang harta?!”
“Iya kaya, tapi suaminya sudah bau tanah, tega banget nyuruh anaknya nikah sama bangkotan," timpal Azlan tanpa sadar.
“Ini nih! Suami kayak gini yang mau kamu pertahankan?! Gini kalau pria tidak punya otak! Orangtua dilawan terus!" bentak Bapak sambil mendorong kening Azlan dengan telunjuknya.
“Pergi kamu dari sini!!” bentak Bapak sambil melempar tas yang ada di tangannya.
Tas yang dilempar Bapak adalah tas bawaan Azlan yang belum sempat dirapikan. Juga tas Nauma yang tidak tahu apa saja isinya.
Rupanya Bapak Nauma tidak ragu mengusir mereka dari rumahnya. Azlan menerima pengusiran itu dengan berat hati, dia melajukan motor dengan kecepatan sedang. Baju bagian belakangnya terasa basah karena tangis Nauma.
“Ki-kita mau pergi ke mana Kang?” tanya Nauma sambil terisak.
“Sementara kita ikuti saja dulu jalan ini, nanti kalau ada tempat pemberhentian kita istirahat di sana,” balas Azlan sambil mengelus tangan Nauma.
“Tapi jalan yang kita ikuti ini adalah jalan menuju kota, Kang. Aku tidak yakin bisa tinggal di sana. Kita tidak memiliki kenalan sama sekali,” balas Nauma dengan nada putus asa.
“Iya akang tahu, nanti kita cari-cari saja tempat yang bisa kita kunjungi. Siapa tahu kita bisa bertemu dengan teman-teman akang di sana.”
“Tapi kita tidak punya uang sama sekali, Kang. Uang sisa penjualan rumah Akang sudah aku berikan kepada Ibu. Aku hanya memegang uang lima puluh ribu saja.”
Hari yang seharusnya menjadi hari paling membahagiakan untuk mereka. Justru menjadi hari yang sangat menyedihkan. Bagaimana tidak sedih? Baru juga beberapa minggu menyandang gelar menantu di rumah Nauma. Tetapi sudah mendapatkan perlakuan buruk seperti ini. Orang tua Nauma mengusirnya tanpa ada rasa iba sama sekali.
Azlan sadar diri kalau dia hanya menumpang di rumah mereka. Ia juga menyalahkan dirinya sendiri karena sudah terlalu percaya diri untuk menikahi Nauma. Alhasil, Nauma menjadi menderita karenanya. Uang yang ada di saku hanya tersisa empat puluh lima ribu rupiah saja. Itu pun uang kembalian dari membeli nasi uduk tadi.
“Bismillah Neng, kita jalani saja dulu. Sekali lagi aku tanya. Kamu yakin mau hidup bersamaku meskipun kamu tahu keadaan aku sekarang bagaimana? Kalau kamu tidak yakin, maka aku tidak bisa berbuat banyak, lebih baik kamu tinggal bersama dengan orang tua kamu aja.”

Nuraselina
2 Pengikut · 1 Novel