


oleh caramelsky · 9 Bab
Ardan menceraikan Luna setelah dia mengira bahwa anak yang dikandung Luna bukanlah darah dagingnya, melainkan anak dari laki-laki lain. Lima tahun kemudian, Ardan dan Luna dipertemukan lagi. Ardan yang dulu menjadi pengusaha besar, kini beralih menjadi dosen di kampus tempat Luna belajar. “Setelah lima tahun, saya pikir kamu sudah hancur, ternyata masih belum. Entah apa alasannya, Tuhan masih memberi nyawa ke tubuh pengkhianat.” Ardan Willy Kusuma. “Aku curiga sama kamu deh, Mas. Dari tadi ngikutin aku mulu. Kamu masih suka sama aku?” Drucia Luna.
Lima tahun yang lalu
Sore itu, Luna sedang bermain bersama saudara-saudaranya di halaman panti asuhan ketika ibu panti memanggilnya untuk masuk ke dalam rumah. Di dalam, telah menunggu sepasang suami istri yang ingin berbicara dengannya.
“Ada apa, Bu? Aku mau diadopsi?” tanyanya langsung, tanpa basa-basi.
“Dengar dulu, Nak,” jawab sang ibu panti dengan lembut.
Luna menghela napas dan menatap pasangan yang duduk di hadapannya dengan wajah tak nyaman. Pria itu memperkenalkan diri lebih dulu.
“Perkenalkan, saya Ardan, dan ini istri saya, Wulan,” ujarnya. Wulan hanya tersenyum tipis tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Kami ingin menawarkan sesuatu kepadamu, Luna. Kami sudah tujuh tahun menikah, tapi belum dikaruniai anak,” lanjut Ardan.
Luna mendengkus pelan. Otaknya langsung menebak kemungkinan terburuk: mereka datang untuk mengadopsinya.
“Aku nggak mau diadopsi. Aku udah besar. Aku nyaman tinggal di sini,” ucapnya tegas.
“Kami tidak berniat mengadopsimu, Luna,” sahut Wulan tenang.
“Terus?” balas Luna, menatap sinis.
“Kami ingin menawarkanmu untuk menjadi istri kedua suami saya dan melahirkan anak untuk keluarga kami,” lanjut Wulan dengan suara stabil.
Ia terdiam, menatap pasangan itu tak percaya. Ardan kemudian menambahkan penawaran mereka.
“Kami akan memberimu imbalan satu miliar rupiah dan merenovasi seluruh bangunan panti ini. Setelah anak itu lahir, kamu bisa bercerai dari saya, tanpa membawa anak tersebut, dan kamu bisa lanjutkan hidupmu seperti biasa.”
Luna terkejut, tetapi masih berusaha tegar di hadapan mereka. Tawaran itu sangat tidak masuk akal—terlalu mahal untuk harga dirinya.
“Kami juga akan menjadi donatur tetap untuk panti ini jika kamu menyetujui,” tambah Ardan.
Wajah Luna tetap keras, dan suaranya terdengar lantang saat ia menjawab, “Enggak!”
Namun, Wulan tidak menyerah begitu saja. Ia mencoba merayu Luna dengan alasan yang lebih menyentuh.
“Pikirkan baik-baik, Luna. Kalau ini terlalu berat, pikirkan ibu panti dan adik-adikmu. Dengan uang sebanyak itu, mereka bisa hidup lebih baik. Tidak ada lagi atap bocor, makanan cukup, dan uang jajan pun tidak kekurangan.”
Luna terdiam. Di satu sisi, tawaran itu menjijikkan. Tapi di sisi lain, itu bisa mengubah hidup semua anak di panti. Ia masih muda, cantik, berprestasi, dan banyak pria lajang mengaguminya. Tapi kenapa harus pria beristri? Walau Ardan tampak gagah, itu tidak membuatnya bisa menerima situasi tersebut.
“Kenapa kalian nggak coba bayi tabung aja?” tanyanya akhirnya.
“Kami sudah mencoba. Tapi gagal. Saya sudah tidak punya rahim,” jawab Wulan lirih.
Keheningan menggantung cukup lama. Luna memikirkan nasib ibu panti yang terlilit utang, juga anak-anak lain yang hidup serba kekurangan. Akhirnya, dengan suara lirih dan wajah pasrah, ia berkata, “Aku akan coba bantu. Tapi hanya sekali, hanya untuk anak itu. Setelah itu, aku ingin hidupku kembali seperti semula.”
Pernikahan itu terjadi. Selama lima bulan, Luna menjalani kehidupan rumah tangga dengan rasa sesak. Ia masih sering menangis. Di usianya yang baru delapan belas tahun, ia dipaksa menerima takdir sebagai istri kedua dari pria berumur lima belas tahun lebih tua darinya.
Meskipun Ardan bersikap baik dan perhatian, perasaan tidak nyaman itu tidak hilang. Wulan, istri pertama Ardan, mulai menunjukkan sisi gelapnya. Jika Ardan tidak di rumah, Wulan sering memarahinya bahkan menyiksanya secara fisik dan emosional.
“Kehadiran kamu cuma ngerusak hubungan saya sama Mas Ardan! Kamu nggak tahu diri! Sejak kamu ada, perhatian dia terbagi. Dia bahkan jarang senyum ke saya lagi!” bentaknya sambil menjambak rambut Luna.
Luna hanya bisa menangis. Tubuhnya lemah, tak mampu melawan. Ia sempat mengadu pada Ardan.
“Tolong aku, Mas. Aku nggak kuat tinggal sama Mbak Wulan terus. Aku disiksa kalau nggak ada kamu.”
“Sudah saya tegur. Wulan memang begitu orangnya, tapi dia sebenarnya baik. Kamu harus belajar beradaptasi. Nanti juga terbiasa,” jawab Ardan enteng.
Hari demi hari, penderitaan Luna makin menjadi. Saat kandungannya menginjak usia enam bulan, Wulan bahkan tidak memberinya kesempatan beristirahat, hingga Luna nyaris keguguran.
“Kalau pada akhirnya cemburu, kenapa dulu Mbak maksa saya jadi istri kedua Mas Ardan? Kalau waktu itu Mbak nggak maksa, saya nggak akan menderita seperti ini. Mbak juga nggak akan kehilangan perhatian Mas Ardan,” ujar Luna suatu hari, tak mampu lagi menahan kecewa.
“Terus kenapa kamu terima?! Dasar mata duitan! Saya ngelakuin itu karena saya takut diceraikan Mas Ardan!” teriak Wulan.
Luna pernah bertanya mengapa dirinya yang dipilih. Jawaban yang ia terima hanya menambah luka—anak-anak panti dianggap tidak berharga, dan karena itu bisa diperlakukan seenaknya.
Saat kandungannya masuk bulan ke delapan, kecemburuan Wulan mencapai puncaknya. Ia menyewa pria bayaran untuk memfitnah Luna, membuat seolah-olah Luna berselingkuh.
Ardan yang terbakar amarah mempercayai semua tuduhan itu. Ia menceraikan Luna.
“Kamu tega banget, Mas.” Suara Luna bergetar, air matanya jatuh satu per satu.
“Mas lebih percaya ucapan orang lain daripada aku, istri kamu sendiri dan anak ini.”
“Luna, kamu pikir aku nggak hancur?!” Suara Ardan meninggi.
“Aku percaya sama kamu, tapi foto-foto dan bukti yang Wulan kasih terlalu nyata!”
“Itu fitnah, Mas! Aku nggak pernah ngelakuin hal sekeji itu! Demi Allah, aku bahkan nggak kenal pria itu! Aku cuma tinggal di rumah ini berusaha bertahan demi anak kita!”
Ardan menatap Luna dengan mata penuh keraguan. Hatinya terombang-ambing di antara logika dan perasaan.
“Kalau memang kamu nggak kenal dia, terus kenapa ada foto kalian berdua di kamar? Kenapa wajah kamu terlihat nyaman di sana?” tanyanya tajam, seakan ingin meyakinkan diri sendiri bahwa rasa sakitnya masuk akal.
Luna menggeleng cepat, air matanya tak berhenti mengalir.
“Itu bukan kamar kita! Aku bahkan nggak tahu kapan foto itu diambil! Mungkin saat aku pingsan atau dikasih obat sama Mbak Wulan!”
“Jangan tuduh Wulan sembarangan, Luna!” potong Ardan, suaranya bergetar. “Dia istriku! Aku tahu dia seperti apa.”

caramelsky
1 Pengikut · 2 Novel