


oleh umi roihan · 46 Bab
Kamila dan Mayra, dua bersaudara yang jauh berbeda. Kamila gadis yang blak-blakan, bahkan cenderung kasar. Berbanding terbalik dengan Mayra yang lembut dan sopan. Jika Kamila iri karena Mayra terlihat sempurna di mata semua orang, maka Mayra justru iri pada Kamila yang mendapat kasih sayang penuh dari ibu mereka. Betapa sakit rasa hati Kamila mengetahui lelaki yang ia sukai ternyata malah menyukai kakaknya sendiri. Kamila marah dan memutuskan pergi dari rumah. Bagaimana akhirnya kisah mereka?
"May, tungguin." Teriakan seorang gadis berjilbab membuat beberapa orang menoleh padanya.
Gadis yang dipanggil dengan sebutan 'May' itu langsung menoleh dan mendapati Aisyah berlari mengejarnya. Mayra tersenyum lebar sambil menunggu Aisyah mendekat.
"Kamu cepet banget sih jalannya. Aku dari tadi manggil-manggil tapi kamunya nggak nyahut," ujar Aisyah sambil ngos-ngosan mengatur napas.
Senyuman lebar tampak dari gadis cantik itu membuat siapa pun yang melihatnya akan ikut tersenyum. Lesung pipi langsung tercetak di kedua sisi wajahnya.
"Maaf Syah, aku nggak denger tadi. Nih, minum dulu. Kamu pasti capek lari-larian."
"Wah, makasih. Kamu tahu aja aku lagi haus banget," ujar Aisyah sambil membuka tutup botol berisi jus jambu biji itu.
"Sambil duduk minumnya."
"Eh iya, hehe."
Aisyah duduk di bangku yang terbuat dari beton di dekat mereka berdua. Mayra masih mengamati sahabatnya itu sambil tersenyum.
"Makasih ya May, buat minumannya."
"Sama-sama. Maaf ya, tadi aku ninggalin kamu. Aku mau cepet-cepet pulang soalnya."
"Buru-buru amat, sih. Emang mau ngapain di rumah? Paling-paling disuruh ngerjain segala kerjaan rumah sama ibu kamu. Enak banget itu si Mila dimanja banget nggak pernah disuruh-suruh."
"Nggak papa Syah, lagipula udah kewajiban aku buat menyenangkan hati orang tuaku."
"Tapi aku ngerasa mereka itu nggak adil May, sama kamu. Kayak yang dibedain gitu."
"Aku nggak ngerasa gitu, Syah. Aku kan anak sulung, harus memberi contoh yang baik buat adikku."
Aisyah manggut-manggut mencoba memahami perkataan sahabatnya. Kedua gadis itu akhirnya sampai di parkiran motor di mana seorang gadis cantik duduk di atas motor matic kepunyaan Mayra.
"Lama amat sih, Kak. Aku sampe lumutan nungguin Kak Mayra di sini."
"Maaf Mil, aku baru saja selesai jamnya. Kamu pasti capek ya, nungguin aku. Ya udah yuk, kita pulang sekarang."
Mayra mengenakan helm di kepalanya setelah menyimpan tas yang tadi dia pakai ke gantungan depan motornya. Sambil bersungut-sungut, sang adik duduk di boncengan motor tersebut. Setelah siap, Mayra melajukan motornya lalu membunyikan klakson saat melewati Aisyah.
"May, May, aku nggak habis pikir kamu bisa sesabar itu menghadapi gadis manja kayak Mila. Kalau aku yang punya adik kayak gitu, udah kupites."
"Siapa yang mau dipites, Syah?" Sebuah suara bass khas lelaki terdengar dari belakangnya.
Aisyah menoleh dan mendapati seorang pria berumur dua puluh enam tahun tengah memandang jahil padanya.
"Abang nggak ada angin nggak ada hujan nyahut aja sama omongan aku. Eh tapi, lagi nggak ada siapa-siapa, kan?"
Aisyah menengok kanan kiri dan mengusap dada lega tak melihat siapa pun di parkiran selain mereka berdua.
"Aman, Syah. Pertanyaan abang belum dijawab. Siapa yang mau kamu pites?"
"Itu Bang, adeknya temen aku. Gemes banget lihat tingkahnya. Udah manja, suka nyuruh-nyuruh kakaknya, cerewet, pokoknya hiiih kesel aku tuh."
"Hahaha, kayak yang kamu nggak manja aja sama abang."
"Iya sih, tapi kan aku nggak pernah sampe keterlaluan nyuruh-nyuruh Bang Farhan. Abang masih ada kelas?"
"Udah selesai kok. Kenapa, mau pulang bareng?"
"Boleh kalo Abang nggak keberatan. Kecuali kalo Abang mau pergi kencan."
"Hahaha, kamu lucu banget sih, Syah. Aku nggak punya pacar, ya. Emm, ada sih yang lagi diincer. Doain aja aku bisa mendapatkan hatinya."
"Cieee, siapa tuh? Kasih tahu dong, Bang."
"Ntar lah, kalau emang udah pasti diterima. Aku udah ngirimin CV sih sama Ustadz Fahmi biar beliau yang nyampein."
"Abang mau ta’aruf?"
"Iya, abang nggak mau cuma pacaran aja. Abang udah yakin sama dia makanya lebih baik melamar secara langsung, kan?"
"Iya, bagus itu. Daripada ntar disamber orang. Ya udah pulang yuk, Bang."
Farhan mengangguk dan mengeluarkan mobil sport dari deretan kendaraan khusus dosen. Tak ada satu pun orang di kampus itu yang mengetahui hubungan antara Farhan dan Aisyah karena sikap mereka yang berbeda saat ada banyak orang.
***
Mayra baru saja memarkirkan motornya di depan rumah saat terdengar teriakan sang ibu. Gadis itu buru-buru masuk ke rumah sampai tak sadar helmnya masih bertengger di kepala.
"Buuuu ... Ibu di mana?" teriaknya saat tak melihat sang ibu di ruang tamu dan di dapur. Gadis itu segera menuju kamar mandi yang terletak di dalam kamar ibunya.
Mayra berlari tergopoh saat melihat wanita paruh baya yang dipanggilnya ibu itu tergeletak tak berdaya di lantai kamar mandi.
"Ya Allah, Ibu kenapa?" Mayra memangku kepala sang ibu. Tak dipedulikannya baju yang basah terkena percikan air.
"Mila, Mil, tolong panggilin dokter. Ini Ibu jatuh di kamar mandi."
Dengan raut malas Mila yang tadi mengikuti langkah Mayra hingga ke kamar ibunya, mengambil ponsel dari dalam tas yang disandangnya.
Mila menggulirkan layar kemudian melakukan panggilan suara meminta dokter langganan mereka untuk datang ke rumah.
"Kak, kita pindahin dulu Ibu ke kasur."
"Iya, kasihan Ibu pasti kedinginan."
"Ibu tidak apa-apa, Nak. Hanya terpeleset saja tadi. Lantai kamar mandinya licin."
"Ayo Bu, biar aku bantu. Mil, tolong ambilkan handuk untuk mengelap tubuh Ibu."
Mila mengangguk dan mengambil handuk yang terlipat dalam lemari sang ibu.
"Ayah ke mana, Bu?" tanya Mila.
"Ayahmu belum pulang dari tadi pagi. Mungkin masih banyak pekerjaan di toko. Ibu kurang enak badan makanya nggak ikut Ayah ke toko."
Mayra dengan telaten mengelap tubuh basah wanita paruh baya itu. Dia juga mengambil pakaian kering lalu membantu sang ibu berganti pakaian.
"Aku mau mandi dulu sama ganti baju ya, Bu. Nggak enak dari tadi pakai baju campur keringet," ucap Mila.
"Iya, sana. Biar ibu dibantu sama Mayra saja," titah wanita itu.

umi roihan
67 Pengikut · 3 Novel