


oleh Azhan · 113 Bab
Elfira menolak dijodohkan dengan Arga, anak pemilik perusahaan dan memilih menerima Galih, seorang OB kantor. Dia pun mendapat restu dari kakaknya, Rayyan, yang menjadi wali pernikahannya. Tanpa Elfira ketahui jika Galih dan Rayyan saling kenal, bahkan mereka menyimpan sebuah rahasia di belakang Elfira. Hal itu membuat Elfira murka lalu memilih pergi meninggalkan mereka. Apa yang harus Galih lakukan saat sang istri mengetahui rahasia besar bersama kakak iparnya? Apalagi mereka melibatkan Maya, sahabat baik Elfira. Simak kisah mereka selanjutnya 🙏
“Kamu pikir karena jadi manajer, kamu bisa seenaknya memecat karyawan? Aku pastikan, kalau kamu berani memecatku, justru kamu sendiri yang akan keluar dari kantor ini. Camkan itu!” ucap Galih dengan berapi-api.
“Apa kuasamu sampai berani membentakku? Kamu hanya seorang OB. Tidak lebih,” jawab Roni, tersulut emosi.
“Meski aku OB, aku pastikan bisa memecatmu kapan saja,” balas Galih, tak mau kalah.
Galih berlalu pergi dari lantai tiga tempat Roni berada. Roni tampak frustrasi menerima ancaman dari seorang OB yang baru sebulan bekerja, tetapi sudah berani melawannya. Ia pun menendang ember berisi air pel sampai tumpah.
Jojo melihat itu dan segera membersihkan tumpahan air pel, kemudian membawanya ke lantai bawah. Sementara itu, Galih terdiam di pantry, emosinya meledak setiap kali bertemu Roni, manajer di kantor properti tersebut yang selalu bertindak seenaknya.
Galih mencuci gelas dan peralatan lain di pantry sambil memikirkan cara memberi pelajaran kepada Roni, sang manajer.
“Apa dia labil karena jomlo, seperti kata anak-anak?” pikir Galih.
“Ah, bodo amat!” Galih menggerutu, lalu segera mengelap tangannya dan mengambil cangkir miliknya sendiri untuk membuat kopi.
“Heh ... melamun!” Putra menepuk pundak Galih yang kaget.
“Ngagetin aja!” seru Galih sambil menyeruput kopi yang baru saja dibuatnya.
“Berani kamu melawan Pak Roni, si jomlo itu?” tanya Putra.
“Pemimpin kayak dia itu patut dilawan. Kita nggak salah, tapi selalu dijadikan kambing hitam. Mana maulah?” ucap Galih tegas.
“Apa kata Pak Darmawan kalau kamu melawan?”
“Pak Darmawan mana berani pecat karyawan sembarangan. Cuma si aneh itu yang berani mengancam.”
“Betul, Bro. Tapi aku nggak berani.” Putra menyeringai, karena selama jadi OB, dia selalu patuh.
Semua OB selalu patuh karena takut dipecat. Namun, Galih baru sebulan sudah sering kali berseteru dengan Roni, si manusia aneh. Roni sering mengancam akan memecat karyawan yang tidak menuruti kemauannya.
“Sssttt ... orangnya ke sini,” ujar Jojo sambil meletakkan jari telunjuk ke bibirnya, berpura-pura mengepel lantai.
Putra segera mengambil cangkir untuk membuat kopi karyawan. Galih membawa botol minuman dengan nampan untuk dibawa ke ruang rapat, berusaha menghindari Roni.
“Jo, buatkan kopi hitam seperti biasa,” pinta Roni pelan, tetapi matanya mengarah ke Galih.
Galih cuek dan tak peduli dengan keberadaan Roni di ruangan itu. Ia berlalu begitu saja, sedangkan Jojo mengangguk sopan.
Di sela waktu senggang, Roni mendatangi ruangan Pak Darmawan sebelum rapat untuk memastikan Galih dipecat dari kantor.
“Pak, rapat mulai pukul 13.00 WIB. Apakah klien nanti kira-kira akan setuju dengan ketentuan yang telah kita buat, Pak?”
“Semoga saja. Saya kenal baik dengan Pak Roy, dia biasanya memberikan kepuasan kepada semua klien yang mengajukan ketentuan demi keuntungan bersama,” jawab Pak Darmawan sambil duduk di kursinya.
“Pak, kenapa OB baru itu masih dipertahankan? Dia selalu bikin ulah.” “Bikin ulah bagaimana?” tanya Pak Darmawan dengan dahi berkerut heran.
“Kerjanya nggak profesional, sering meninggalkan pekerjaan, dan suka bikin ulah,” lapor Roni mencoba menghasut Pak Darmawan.
“Sepertinya dia baik. Kerjanya juga bagus. Lihat ruangan ini, bersih dan rapi, karena dia yang mengerjakan setiap hari.”
“Tidak dengan ruangan saya, Pak. Dia teledor sekali.”
“Jangan mengada-ada, Ron. Kalau dia buat kesalahan, tegur dan beri arahan agar mengerti. Selama ini yang saya lihat, dia baik-baik saja.”
“Baiklah, Pak. Saya permisi dulu, mau menyiapkan berkas untuk rapat nanti.” Roni tidak berhasil menghasut Pak Darmawan.
Roni berjalan menuju ruangannya, bersamaan dengan Galih yang menuju ruang rapat untuk menata minuman dan merapikan ruangan. Saat berpapasan, Roni sengaja menyenggol pundak Galih hingga minuman kemasan dari nampan yang ia bawa berserakan di lantai.
“Lihat saja nanti, kamu nggak akan menginjakkan kaki di perusahaan ini lagi!” teriak Roni.
“Coba saja kalau bisa. Sampai kiamat pun kamu nggak akan bisa mengeluarkanku dengan mudah,” balas Galih, menatap Roni dengan penuh tantangan.
“Apa kamu bilang?” Roni menarik kerah baju Galih, tangannya sudah mengepal di udara, siap melayangkan pukulan.
Namun, Jojo segera berjalan ke arah mereka, dan Roni buru-buru melepas cengkramannya.
“Pak, jangan, Pak. Tolong lepas Mas Galih. Dia sedang bekerja, Pak,” pinta Jojo sopan.
“Kali ini, kamu selamat. Awas kamu!” ucap Roni.
Galih merapikan bajunya, menatap Roni sinis, lalu menerima nampan berisi minuman kemasan yang dipungut oleh Jojo dan membawanya ke ruang rapat.
Setelah selesai merapikan ruangan meeting, Galih keluar dan menuju ruangan Pak Darmawan.
“Selamat pagi, Pak. Ruang meeting sudah siap,” ucap Galih sambil mengangguk.
“Tolong dampingi saya di ruang rapat, sambil dengarkan apa yang akan dibahas,” perintah Pak Darmawan.
“Baik, Pak,” jawab Galih, lalu kembali ke ruang meeting.
Roni masuk ke ruang meeting dan memicingkan mata melihat Galih berdiri di belakang kursi Pak Darmawan. Namun, dia memilih diam dan membiarkannya.
“Maaf?” panggil seorang klien sambil menunjuk Galih.
“Iya, Pak. Ada yang bisa kami bantu?” tanya Galih sambil mendekat dan membungkuk sopan.
“Pak Darmawan, dia ...?”
“Ya, saya yang memintanya standby di sini, agar mudah memberikan bantuan bagi yang membutuhkan,” jawab Pak Darmawan, memberi isyarat kepada kliennya.
“Oh, baiklah.” Klien itu mengerti.
Roni tampak bermuka masam melihat Pak Darmawan memercayai Galih, si OB yang suka melawannya. Namun, dia tak bisa berbuat apa-apa karena Pak Darmawan adalah pemilik perusahaan.
Mata Roni menatap tajam ke arah Galih, tetapi selama rapat berlangsung, Galih sama sekali tidak meliriknya, seakan-akan Roni tidak ada di ruangan itu. Ini benar-benar membuat Roni kesal. Sedangkan Galih tetap fokus pada pembahasan rapat meski hanya berdiri di belakang kursi Pak Darmawan.
“Galih, tolong tunggu sebentar, ada yang ingin kami bicarakan denganmu,” ucap Pak Darmawan setelah rapat selesai.
“Baik, Pak,” jawab Galih sambil mengangguk.
Roni yang melihat itu merasa semakin terintimidasi, tetapi Galih justru tersenyum meremehkan, membuat darah Roni mendidih.
Setelah semua orang keluar dari ruangan, hanya tinggal Pak Darmawan, klien bernama Pak Roy Adiputra, dan Galih. Roni yang menunggu di luar ruangan bertekad untuk segera memecat Galih.
“Apa Galih sudah menjadi kepercayaan Pak Darmawan? Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus segera memecat OB itu!” gerutu Roni sendiri di luar ruangan.
“Pak Roni …,” sapaan dari arah belakang membuat Roni terlonjak kaget.
“Kamu bikin kaget aja!” gerutu Roni saat melihat Jojo di belakangnya sambil membawa kopi untuknya.
“Kan tadi Pak Roni minta kopi, eh, nggak tahunya ada rapat,” ucap Jojo sopan.
“Iya, terima kasih ya,” Roni mengambil segelas kopi yang dibawa Jojo.
“Sama-sama, Pak. Mari, saya ke belakang dulu,” pamit Jojo.
Roni hanya mengangguk sambil tersenyum.
Sementara itu, di lain tempat, Elfira, gadis berjilbab itu, mendengkus kesal. Karena ia berkali-kali melamar pekerjaan ke beberapa perusahaan yang ternyata tidak ada
lowongan. Dia sudah capek ke sana kemari membawa map dan keluar-masuk beberapa perusahaan, tetapi tetap tidak membuahkan hasil.
“Susah juga mencari kerja dengan ijazah SMK,” keluhnya sambil menatap map di tangannya.
“Ke mana lagi aku mencari pekerjaan?” gumamnya dalam hati.

Azhan
29 Pengikut · 1 Novel