Zalia dan Tania telah bersahabat sejak SMA dengan karakter yang jauh berbeda.
Zalia merupakan anak orang kaya dan merupakan salah satu putri dari donatur di sekolahnya, dia juga sangat digandrungi kaum adam. Dia punya segalanya, wajah cantik rupawan, pakaian mewah, dan hidup serba berkecukupan.
Berbeda dengan Tania yang merupakan gadis sederhana dan mendapatkan beasiswa demi bisa bersekolah di tempat favorit seperti yang dia rasakan saat ini. Ayahnya, yang hanya seorang buruh tani dan ibunya, merupakan penjaga kantin, Tania memiliki tiga orang adik yang masih membutuhkan biaya besar untuk sekolah. Tania harus bekerja keras untuk membantu orang tuanya.
Setiap kali selesai sekolah, Tania bekerja paruh waktu di sebuah kafe sebagai waiter. Namun, malam itu suasananya berbeda.
Tania baru saja pulang kerja. Hari itu, Tania mendapatkan rezeki yang lumayan banyak dari hasil kerjanya sebagai waiter. Dia pun berniat untuk membelikan nasi bungkus dengan lauk ayam goreng untuk kedua orangtuanya dan tiga adiknya.
"Wah, untung aja, warungnya belum tutup. Aku udah kemalaman pulangnya. Mana hujan lagi." Tania berteduh di salah satu emperan toko sembari menunggu hujan reda.
Setengah jam menanti, akhirnya Tania bisa menuju ke sebuah warung nasi untuk membelikan makanan yang telah dia niatkan untuk tiga adiknya dan kedua orangtuanya.
Sesampainya di warung Tania memesan makanan pada si penjual.
"Bu, beli dua bungkus, lauknya ayam goreng," pinta Tania.
Si penjaga warung langsung membuatkan pesanan Tania. Setelah membeli makanan Tania langsung berjalan menuju halte bus.
"Sudah hampir jam sepuluh malam, belum ada bus yang lewat," keluh Tania sambil melihat jam tangannya.
Tania masih fokus berjalan menuju halte bus. Awalnya terasa biasa saja, tetapi lama-kelamaan Tania mulai merasa tidak aman dengan situasi yang dia rasakan.
'Sepertinya ada orang yang mengikutiku,' gumamnya dalam hati. Tania menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memerhatikan siapa yang sedang membuntutinya.
'Tidak ada siapa pun, apa cuma perasaanku saja?' pikir Tania sambil mencari-cari di sekeliling. Setelah memastikan semua baik-baik saja, Tania melangkahkan kakinya kembali.
Satu, dua langkah, semua tampak biasa saja. Namun, begitu Tania melanjutkan langkahnya, dua orang pria mempercepat langkahnya dan langsung membekap mulut gadis malang itu dengan sapu tangan yang telah diberikan kloroform, yaitu sejenis cairan tak berwarna dengan bau yang menyenangkan, tidak mengiritasi, dan rasa yang sedikit manis, yang digunakan sebagai alat bius.
Dalam hitungan detik, tubuh Tania langsung melunglai dan tanpa perlawanan. Para pemuda berandalan itu dengan mudahnya menaklukkan Tania.
Akan tetapi, dari kejauhan seorang pria memperhatikan mereka dan diam-diam pemuda itu mengikuti mereka.
"Itu kan Tania, mau dibawa ke mana dia sama orang-orang itu?" Si pemuda mengucek-ngucek matanya untuk memastikan dia tidak salah orang.
"Tidak salah lagi, itu pasti Tania!" ucap lelaki itu memastikan. Setelah memastikan kalau dia tidak salah orang, pemuda itu mengikuti mereka.
Tidak mungkin dia akan melawan para pria bertubuh kekar di depannya, yang ada dia akan mati konyol saat itu juga.
"Ayo, cepat ambil mobilnya sekarang juga. Kita harus membawa gadis ini, sebelum ada yang melihat kita!" titah pria brewok dengan tubuh tegap dan tinggi pada dua temannya.
Tanpa banyak bertanya, dua pria itu langsung mengikuti perintahnya. Tidak butuh waktu lama, sebuah mobil hitam telah berada di depan mereka dan mereka berhasil membawa Tania bersama mereka.
"Hari ini kita akan bersenang-senang, kita dapat mangsa yang cantik."
"Hmm, tentu saja. Aku dapat membayangkan betapa cantiknya gadis ini." Para lelaki itu langsung masuk ke dalam mobil sambil mengangkat tubuh Tania yang tidak berdaya.
Setengah jam berlalu, mereka telah sampai di sebuah tempat yang cukup sepi.
Malam semakin larut dan mencekam. Rumah kosong di ujung gang tampak gelap dan sunyi, hanya cahaya remang terlihat di sana. Di sebuah ruangan, Tania terduduk lemah dengan tangan terikat. Napasnya tersengal, tubuhnya gemetar.
"Kepalaku, kenapa rasanya pusing sekali? Ini di mana?" Tania mengerjapkan matanya untuk mengembalikan kesadaran dirinya.
Sementara di luar rumah, seorang pemuda berlari sambil mengendap-endap, mengintip keadaan lewat celah dinding kayu yang rapuh. Wajahnya tegang. "Aku harus mencari cara untuk menyelamatkan Tania."
Dia menelan ludah, matanya bergerak mencari celah untuk masuk. Namun, setiap pintu dan jendela tampak dijaga dua lelaki bertubuh besar.
Lalu, pandangannya kini tertuju pada sebatang kayu besar yang tergeletak tak jauh dari tempatnya bersembunyi. "Sepertinya, kayu ini cukup kokoh. Aku rasa, ini sudah cukup untuk membantuku menyelamatkan Tania dari sini."
Lelaki itu menghela napas dalam-dalam, mencoba menyetabilkan adrenalin yang memuncak. Tanpa berpikir lama, dia mengambil kayu itu, menggenggamnya erat.
Preman yang pertama berdiri dengan santai, tidak menyadari kedatangan si pemuda. Saat jarak mereka hanya tinggal satu meter, dia mengayunkan kayu besar itu sekuat tenaga.
BRUKK!
"Argh!" Lelaki itu tersungkur ke tanah, tak sempat mengeluarkan teriakan panjang.
Preman kedua terkejut. "Hei! Apa—" Belum sempat dia melakukan perlawanan, pemuda itu mengayunkan kayunya.
BRUKK!
Lelaki itu pun roboh menyusul temannya. Tanpa membuang waktu, si pemuda bergegas menuju pintu rumah dan mendorongnya perlahan.
Pintu itu berdecit, tapi cukup membuatnya bisa masuk ke dalam. Dia melangkah masuk ke dalam, setiap langkah menimbulkan suara kayu lapuk.
"Tania!" panggilnya dengan suara rendah.
Dari sudut ruangan sayup-sayup terdengar suara lirih. "Siapa di sana?" Tania masih belum sadar sepenuhnya, pengaruh obat bius itu masih terasa dalam kepalanya.
"Tania, ini aku. Aku datang untuk menolongmu!" Pemuda itu segera mendekati Tania, tetapi Tania terlalu lemah hanya untuk membuka matanya. Pemuda itu berusaha keras membantu Tania untuk keluar dari tempat itu.
Pemuda itu melepaskan ikatan di pergelangan tangan Tania. "Kamu bisa berdiri?"
Tania mencoba bangkit, tetapi tubuhnya tidak bisa berdiri dengan baik.
Bergegas pemuda itu menopangnya. "Pegangan aku. Kita akan lewat pintu belakang, sepertinya pintunya tidak terkunci."
Tania mengangguk. "Aku takut ...."
"Aku di sini. Jangan khawatir."
Mereka melangkah pelan menuju pintu belakang. Suara angin menerobos dinding kayu membuat suasana semakin tegang.
Saat mereka hampir mencapai pintu, terdengar suara gerakan dari depan. Para preman mulai sadar. Suasana kembali tegang.
"Ayo, kita harus segera pergi dari sini!" Pemuda itu menarik tangan Tania dan membuka pintu belakang. Angin malam langsung menerpa wajah mereka.
"Lari, Tania!" serunya.
Tanpa menoleh lagi, mereka berlari keluar rumah kosong itu. Di depan halaman rumah itu, motor sport milik sang pemuda masih di sana. Sang pemuda langsung menaiki motornya dan membawa Tania bersamanya. Sebelum para preman itu benar-benar terjaga mereka segera pergi dari sana.
Di perjalanan tidak ada satu patah kata pun yang keluar di antara keduanya. Namun, satu yang pasti ada rasa menghangat di hati Tania. Entah siapa pemuda yang menyelamatkannya, tetapi dia merasa terlindungi oleh pemuda itu.