


oleh Lifha az zhafa · 111 Bab
Nazila, diumurnya yang masih muda harus menggantikan pernikahan kakaknya yang meninggal karena kecelakaan. Walaupun berat, Nazila berusaha menerima pernikahan itu. Namun, siapa sangka di saat dirinya berusaha mengambil hati suaminya, Nazila harus menerima kenyataan jika sang suami membawa wanita lain sebagai calon istrinya. Apakah yang dilakukan Nazila setelah ini?
“Nazila Raquina Putri!” teriak seseorang membuat Nazila yang sedang jalan mengendap-endap di lorong sekolah. Matanya mengarah mencari suara gelegar yang memanggil namanya, siapa lagi kalau bukan Ali yang menjabat sebagai guru BK di tempatnya bersekolah.
Deg!
Nazila, gadis yang biasa akrab dipanggil Zila itu menoleh, memberikan senyum manisnya agar sang guru BK tidak memberikan ultimatum untuk sekian kalinya, karena dirinya dikenal dengan murid tukang bolos.
“Eh, Pak Guru Ali,” ringis Nazila gugup, tangannya tak henti menggaruk jilbabnya untuk mengalihkan rasa cemas.
Ali, salah satu guru pesantren yang sedang berkeliling untuk mengontrol siswa yang bandel. Jam-jam sekolah ini terkadang membuat beberapa siswa lebih memilih bolos daripada ikut pelajaran.
“Kamu ngapain di sini? Bukankah hari ini mata pelajaran Pak Syafaq?” cerca Ali menatap Nazila dengan menyelidik.
“Ini, aku lagi izin ingin ke toilet, Pak Guru. Dih, suudzon mulu sama muridnya tercantik ini,” papar Zila sambil berdecak kesal.
“Saya tidak percaya, biasanya kamu akan bolos kalau pelajaran yang kamu tidak sukai.” Ali tak percaya begitu saja.
“Buat apa aku bolos pelajaran milik calon kakak iparku, Pak Guru? Nanti aku dilaporkan lagi ke orang tuaku.” Zila mencibir.
Ali menghela napasnya pelan. “Kan biar kamu sekolah yang benar. Lagian masa depan kamu masih panjang jangan disia-siakan,” pesan Ali lembut. Senyum itu kembali terukir ketika tak sengaja Zila ngobrol dengannya, biasanya laki-laki itu pelit senyum bahkan sikapnya terlalu dingin kepada lawan jenis.
“Auh ah, malas ngomong sama Pak Guru Ali!” Zila meninggalkan Ali begitu saja, membuat lelaki itu hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Zila yang menggemaskan.
Setelah memastikan Zila kembali kelas, Ali kembali menuju ruangannya.
Zila saat ini sedang duduk di kelas 3 SMA di salah satu yayasan tak jauh dari kediamannya. Sikapnya yang dulu bar-bar membuat orang tua Zila khawatir dengannya jika harus disekolahkan di sekolah biasa. Takutnya gadis itu akan selalu membuat masalah dan lama kelamaan sikapnya tidak bisa terkendalikan apalagi selama ini, Zila lebih suka berteman dengan cowok ketimbang berteman sesama jenisnya. Penampilannya yang tomboy membuat kedua orang tua Zila takut jika kodratnya sebagai wanita akan berubah begitu saja.
“Kenapa tuh muka ditekuk begitu?” tanya Salsa, teman sebangkunya.
“Lagi kesel aku sama Pak Guru Ali, masa aku dikira bolos mata pelajaran Pak Syafaq. Hih, sukanya suudzon mulu sama aku,” cerita Zila dengan wajah kesal setengah mati.
Salsa terkekeh mendengar cerita sang teman. “Sudah hafal dengan kelakuan kamu, Zil, makanya jangan bolos mulu. Kamu sih kamu dikasih tahu gak mau dengar,” balas Salsa tanpa merasa berdosa membuat mood Zila semakin kesal.
“Dih, kamu tuh temenku apa temennya Pak Guru Ali sih? Kok belain dia!”
Salsa tertawa kecil. “Aku memang teman kamu tapi aku juga tidak bisa menolak pesona Pak Ali apalagi Pak Syafaq yang gantengnya pol. Sayang banget Pak Syafaq sudah punya calon istri dan itu kakak kamu, kamu beruntung lho bisa mendapatkan calon ipar setampan dia.”
“Dih, siapa juga yang beruntung. ‘Kan bukan aku yang nikah sama dia. Sudah ah, aku mau tidur saja, toh Guru Syafaq tidak akan menegurku!” balas Zila dan tak lupa ia meletakkan kepalanya di meja belajarnya.
Tek!
Zila terkejut ketika ketukan pelan menghantam telinganya.
“Kalau mau tidur di rumah jangan di sekolah. Ayo, belajar yang semangat biar lulus dengan nilai bagus,” tegur Syafaq melirik Zila dengan senyum tipis.
Syafaq adalah guru favorit sekolah itu selain Ali. Dua laki-laki mempunyai karakter sendiri. Namun, pesona keduanya tidak diragukan lagi.
Ali, pria berumur dua puluh tujuh tahun adalah anak pemilik yayasan dan menjabat sebagai Guru BK di sekolah itu. Sifatnya yang terkenal dingin dan kaku tetapi mempunyai aura kharismatik tersendiri, membuat semua wanita akan tergila-gila dengannya karena sikapnya yang galak tapi mengayomi.
Sementara dengan Syafaq, guru fisika yang materinya lebih banyak dihindari semua siswa. Akan tetapi aura pengajarnya membuat semua siswa menyukainya apalagi sikapnya yang humble dan menyenangkan membuat guru tersebut banyak disukai para murid perempuan.
“Tolong fokus sama materinya jangan fokus sama saya ya. Nanti kalau kamu jatuh cinta bisa berabe. Bisa-bisa kamu perang dunia keempat dengan kakak kamu,” tutur Syafaq membuat seisi kelas tertawa mendengar lelucon darinya.
Zila mencebik pelan mendengar perkataan Syafaq, memang siapa juga yang mau jatuh cinta padanya?
“Dih, apaan sih, Pak! Siapa juga mau berebut calon suami dari kakakku sendiri? Lagian aku ‘kan masih sekolah. Maaf, ya, Pak aku masih memiliki cita-cita setinggi angkasa, Bapak jangan naksir dulu. Sana sama kakakku saja,” balas Zila dengan asal, ia sangat kesal karena gurunya satu itu suka bawa-bawa kakaknya padahal itu di sekolah.
“Awas jatuh, jangan tingginya ke angkasa cukup di hatiku. Asyek!”
“Astagfirullah. Nanti aku aduin ya ke calon istrinya,” timpal Zila nyalang.
“Eh, bercanda, Adik Ipar. Janganlah kamu baper dengan bercandaanku, ayo semua kembali ke materi!” elak Syafaq dan mengalihkan candaannya.
“Aku bisa mati berdiri punya kakak ipar yang overthingkingnya besar banget kayak dia,” keluh Zila memijat pelipisnya membuat Salsa yang duduk di sebelahnya tertawa kecil.
“Jangan ketawa mulu. Aku jewer nih hidung kamu!” sungut Zila memberikan tatapan horor. Salsa menahan tawanya sambil mengangkat dua jarinya pertanda damai.

Lifha az zhafa
139 Pengikut · 13 Novel