Setelah salat Subuh, Ratu bersiap-siap untuk membersihkan badan karena dia harus ke sekolah untuk mendapatkan informasi seputar ujian. Setelah membersihkan badan dan berpakaian rapi dengan memakai seragam sekolah, dia pun memutuskan untuk keluar kamar. Selagi Nyonya Chaca dan yang lainnya kembali tidur karena kelelahan, lebih baik dia memasak untuk sarapan pagi ini.
Gadis itu pun melangkah menuruni undakan tangga. Kemudian menuju dapur, lalu menyiapkan bahan-bahan untuk membuat sarapan pagi ini. Dia ingin membuatkan nasi goreng untuk Khumaira, Nyonya Chaca, dan Pak Ilyas, sedangkan Riana akan dibuat sayur, sandwich atau salad buah saja. Mungkin nasi putih juga.
Ketika tengah berkutat dengan masakan, Ratu dikejutkan oleh kedatangan Riana yang juga sudah rapi memakai seragam sekolah. Gadis itu duduk sambil menatap ke arah Ratu, lalu memanggil sahabatnya itu. Dia meminta Ratu untuk membuatkannya susu hamil, dan Ratu pun menurutinya.
"Kamu makannya mau pakai sayur? Atau sandwich, atau salad buah? Tapi kalau salad buah seadanya, ya, soalnya ini cuma ada beberapa buah aja," ucap Ratu yang dibalas anggukan kepala oleh Riana.
"No problem. Nggak apa, buat aja yang menurut kamu bagus untuk kesehatan aku dan debay," sahut Riana sambil terkekeh pelan.
Ratu ikut terkekeh pelan. "Kamu kapan mau periksa ke dokter, Ri? Ntar biar aku yang anter, kalau Bang Arsya nggak bisa anter," papar Ratu.
Riana menatap gadis itu sambil terdiam. "Hm, lusa kayaknya, sih. Kamu mau anterin aku, nih? Yakin?"
Ratu mengangguk. "Iya, yakin. Masa aku bohong, sih."
"Hm, ya udah."
Ratu tersenyum penuh kelembutan. Ia seolah melupakan rencana jahat Riana yang tidak sengaja didengagnya semalam. Jika saja itu Khumaira, mungkin Riana sudah berakhir di luar rumah Pak Ilyas.
"Ri, kamu nggak morning sickness gitu? Perasaan aku lihat kamu kayak semangat aja, loh."
Riana menggeleng. "Aku nggak terlalu, Tu. Malah yang kena morning sickness, suka ngidam, dan sebagainya adalah Mas Adam, bukan aku," ungkap Riana, tanpa sengaja.
"Kamu tahu dari mana kalau Mas Adam mengalami hal itu? Apa kamu masih berhubungan dengannya?" tanya Ratu.
Riana menelan saliva dengan kasar. "Iya, aku masih berhubungan dengan Mas Adam sebagai teman, karena ada anak di antara kami. Tapi aku mohon sama kamu, jangan bilang-bilang soal ini," jawabnya.
"Tenang aja, Ri. Kamu tahu sendiri aku kayak gimana? Nggak pernah banyak bicara, aku juga nggak mau kamu kena pukul Om Angga. Apalagi dalam keadaan hamil," tukas Ratu.
"Makasih, Tu."
***
Rumah tangga Pak Ilyas dan Khumaira berjalan dengan mulus tanpa hambatan apa pun. Bahkan, tidak terasa gadis itu sudah menjadi seorang mahasiswi baru di kampus ternama yang ada di Jakarta. Dia mengambil fakultas kedokteran. Iya, tiga bulan yang lalu dia resmi dinyatakan lulus dari SMA milik papanya, walau tidak mendapat predikat siswi terbaik, tetapi baginya itu sudah sangat beruntung. Sebulan ini, gadis itu tengah sibuk dengan pendaftaran ke Universitas Garuda.
Ke mana Ratu dan Riana? Riana sedang menikmati masa bahagianya bersama dengan sang suami, yaitu Adam. Bagaimana bisa dengan Adam? Tentu sangat bisa, Khumaira tidak bisa dan tidak berhak untuk menceritakan semua itu. Karena itu privasi, jika ingin mengetahui dengan apa yang terjadi empat bulan terakhir maka kalian bisa membaca cerita milik Ratu. Arsya sudah mengikhlaskan Riana bersama dengan Adam untuk bahagia menjalani bahtera rumah tangga, karena pria itu baru menyadari satu hal, bahwa dia tidak mencintai Riana, melainkan hanya mengagumi gadis itu. Kini, kehidupannya hanya dipenuhi oleh berkas-berkas di kantor serta rasa penyesalan yang tidak berhingga pada seseorang.
Ratu? Entah ke mana gadis itu pergi. Setelah kejadian menyakitkan baginya, dia pergi meninggalkan semua orang dengan wajah penuh kecemasan setelah meluapkan emosi kepada gadis yang penuh dengan kesabaran dan ketulusan hatinya. Sampai saat ini, Ratu sulit ditemukan, padahal Tuan Bagas, Tuan Angga, dan Tuan Abidzar sudah mengerahkan semua anak buahnya. Namun, Ratu masih belum ditemukan. Mungkin, gadis itu benar-benar terluka oleh sikap semua orang apalagi Tuan Okta yang saat itu memukul serta memakinya, lalu meminta Ratu pergi dari kehidupan pria itu, karena akan bahagia tanpa Ratu. Kehadiran Putri juga yang mungkin membuat Ratu sadar diri.
Semua orang memang menyalahkan dan melukai gadis itu karena telah melakukan kejahatan pada Riana. Namun, tidak menutup kemungkinan kalau mereka khawatir pada Ratu, yang saat ini mungkin sedang mengandung anak Arsya. Bagaimana bisa? Tentu saja bisa, ini sudah menjadi jalan cerita dari kehidupan Khumaira beserta orang-orang di sekelilingnya. Karena ini merupakan dunia Khumaira.
"Kamu kenapa melamun?" tanya Pak Ilyas yang tersenyum begitu manis ke arah sang istri.
Khumaira menggelengkan kepala. "Nggak ada, Mas. Khumaira cuma lagi mikirin keadaan Ratu. Apa dia baik-baik aja? Apa dia nggak kesusahan?" jawab Khumaira dengan raut wajah yang sedih.
Tidak lama kemudian gadis itu menitikkan air mata, lalu menangis sambil memeluk Pak Ilyas yang berada di dalam mobil. Keduanya duduk di kursi penumpang. Iya, semenjak Khumaira menjadi istrinya, Pak Ilyas begitu sangat posesif dan protektif terhadap gadis itu. Dia meminta supir untuk mengantar jemput Khumaira, bahkan gadis itu tidak diijinkan untuk pergi sendirian, apalagi tanpa seizinnya.
"InsyaAllah, Ratu akan baik-baik saja. Percaya sama mas. Ratu itu gadis baik, dia pasti akan dijaga oleh Allah." Khumaira menganggukkan kepalanya.
"Ngomong-ngomong, kamu jadi untuk belajar mengerjakan pekerjaan rumah? Mas, sengaja izin hari ini dan minta supir jemput mas dulu, karena sekalian jemput kamu juga. Lagi pula, kamu cuma nganterin formulir OKK MaBa, kan?"
"Jadi, Mas. Kan, aku udah janji mau jadi istri yang baik dan salihah. Biar masuk surga, dan jadi istri kamu di dunia juga akhirat," ucap Khumaira dengan senyum manisnya.
"Aamiin," sahut Pak Ilyas, sambil mengusap air mata Khumaira.
Khumaira memegang tangan Pak Ilyas. "Tapi maaf, aku belum siap memberikan hak kamu sebagai suami," ungkap Khumaira dengan ragu-ragu