Tuan Bagas masuk ke dalam ruangan Tuan Raffandra dirawat setelah Khumaira pergi bersama Pak Ilyas, Ratu, dan Riana. Pria itu mengulas senyum saat melihat sang mama tengah terlelap di samping papanya dengan saling berpelukan. Pria tua tersebut tidak tertidur, malah terus menatap Nyonya Hidayah sambil mengelus-elus pipi sang istri, tetapi sesekali mengecupnya.
Tuan Bagas berdeham pelan untuk mengalihkan perhatian pria paruh baya itu dari wajah mamanya. Namun, ternyata Tuan Raffandra tetap fokus memandang Nyonya Hidayah dan tidak menghiraukan kedatangannya.
"Papa," panggil Tuan Bagas.
Tuan Raffandra tidak menoleh sedikitpun ke arah Tuan Bagas. Pria tua itu tetap pada posisi yang pertama, tetapi kini dengan mata yang terpejam.
"Papa!" panggil Tuan Bagas sekali lagi dengan suara yang lumayan kencang.
"Kamu pelanin dong suaranya, lihat Mama kamu, kan jadi bangun," ucapnya dengan sinis.
"Bagas manggil Papa dengan suara pelan, tapi nggak nyahut. Mau Papa apa, sih?"
"Papa nyahut, kok. Kamunya aja yang budeg," sahut Tuan Raffandra tak mau kalah.
"Aku nggak budeg, Pa."
"Lah, buktinya kamu nggak dengar suara papa."
"Emang Papa nyahut?"
"Iya, nyahut. Tapi di dalam hati," seloroh Tuan Raffandra.
Tuan Bagas menaruh kantung plastik berisi makanan yang dibelinya dari kantin tadi bersama Tuan Okta. Nyonya Hidayah pun bangun, lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka. Setelahnya dia langsung duduk di sofa bersama Tuan Bagas.
"Makanan di kantin rumah sakit ini enak-enak, Ma. InsyaAllah, Mama nggak akan kecewa."
"Percaya."
"Ma, suapi Bagas," pinta Tuan Bagas kepada Nyonya Hidayah.
Nyonya Hidayah yang mengerti dengan permintaan Tuan Bagas pun langsung menurutinya. Dia tidak sadar kalau sedari tadi papanya memperhatikan interaksi dan aktifitas keduanya. Wanita itu pun menyuapi sang anak, tanpa melihat Tuan Raffandra yang tengah menahan amarah. Sifat posesif dan protektif pria tua itu muncul kembali.
"Hidayah," panggil Tuan Raffandra.
"Ada apa, Mas?" tanya Nyonya Hidayah.
"Jangan menyuapi Bagas, aku nggak ikhlas," jawab Tuan Raffandra dengan sinis.
"Bagas anak aku, Mas. Anak kita, kenapa kamu harus marah," sahut Nyonya Hidayah.
Tuan Raffandra mendengkus sebal. "Nggak boleh, kamu cuma boleh nyuapin aku. Nggak untuk Bagas atau yang lain."
Tanpa keduanya sadari, Tuan Bagas diam-diam menyelesaikan acara makannya, ini bukan sarapan karena sudah pukul 09.00 WIB. Di saat Nyonya Hidayah dan Tuan Raffandra berdebat, di saat itu juga dia selesai makan. Pria itu berdiri, lalu mengatakan kalau dia mau keluar ruangan.
"Bagas sudah selesai makan, Ma. Mau keluar dulu, di sini berisik. Orang sakit, kok dari tadi marah-marah terus."
"Mama ikut keluar, sumpek di dalam sini terus. Aku nyuruh Bram, ya, yang jagain kamu," ucapnya
Tuan Bagas mengerutkan dahi. "Itu makanannya gimana?"
"Kasih ke yang lain aja, pasti banyak yang mau makan," ujar wanita itu.
***
Di dalam mobil sedari tadi Khumaira hanya diam dengan pandangan ke arah samping kaca jendela, mungkin dia fokus memandang pemandangan di luar. Sikap diamnya gadis itu pun menular pada Ratu, Riana, dan Pak Ilyas. Setelah beberapa saat keheningan itu menghinggap di dalam mobil Pak Ilyas, akhirnya terpecahkan oleh Khumaira sendiri yang meminta untuk singgah di minimarket, karena gadis itu ingin membeli sesuatu.
"Ratu, ayo, anter aku ke dalam!"
Ratu menatap Riana yang juga tengah menatapnya, lalu menundukkan kepala. Gadis itu merasa tidak enak dengan sikap Khumaira terhadap Riana.
"Ratu, cepet!" ajak Khumaira dengan nada kesalnya.
Di dalam mobil, Pak Ilyas terus memperhatikan Riana yang menundukkan kepala. Mungkin perlakuan Khumaira membuat gadis itu sedih.
"Bukannya Khumaira sudah memaafkan kamu? Tapi kenapa dia masih bersikap seperti itu?" tanya Pak Ilyas.
Riana mengangkat pandangan. "Sebenarnya Khumaira maafin saya, itu atas paksaan Ratu. Dia nggak mau persahabatan kita jadi rusak, cuma karena kelakuan saya," jawab Riana.
Pak Ilyas mengembuskan napas dengan berat. "Ratu memang sangat baik hati. Dia tidak pendendam terhadap kamu, Khumaira, dan Arsya. Berulang kali pun kalian menyakiti gadis itu, dia tidak akan marah atau membenci. Saya begitu bahagia, Khumaira memiliki sahabat seperti Ratu. Namun, tidak menutup kemungkinan, saya juga bahagia kamu menjadi sahabat istri saya."
"Tapi saya bukan gadis baik seperti Ratu," ucap Riana.
"Kamu memang tidak sebaik Ratu. Tapi kamu juga gadis baik. Kamu mau mengakui kesalahanmu dan meminta maaf pada banyak orang. Karena hal itu, Arsya tetap memilih kamu. Walaupun dia tahu kamu sudah tidak perawan, dan tengah mengandung anak dari laki-laki lain. Bahkan, Arsya pun tidak memecat pria itu," sahut Pak Ilyas.
Saat Riana akan membuka suaranya. Khumaira pun masuk ke dalam mobil bersama Ratu. Gadis itu membeli camilan dan minuman yang lumayan banyak, sedangkan Ratu hanya membawa satu kantung plastik saja.
"Kamu beli banyak banget?" tanya Pak Ilyas.
"Iya, buat aku sama kamu. Eh, Ratu kalau mau juga kukasih."
Ratu tersenyum mendengar jawaban Khumaira. Dia menatap Riana yang tengah melamun, lalu menepuk pelan punggung tangan gadis itu. Riana yang tersadar dari lamunannya pun kini mengalihkan pandangan ke arah Ratu yang tengah tersenyum begitu tulus, kemudian mengangkat kantung plastik berlogo.
"Aku beliin banyak es krim, dan makanan lainnya," ujar Ratu.
"Buat aku?"
Ratu mengangguk. "Iya, buat kamu, Riana. Es krim itu bagus dan aman untuk ibu hamil. Ya, katanya bisa untuk menambah Hb ibu hamil."
"Hb itu apa?" tanya Riana.
Ratu menepuk dahinya. "Masa kamu yang hamil nggak tahu apa itu Hb?" Riana menggelengkan kepala. "Hb itu Hemoglobin, atau protein dalam sel darah merah yang berfungsi membawa oksigen ke seluruh tubuh. Kadar Hb yang normal untuk ibu hamil itu sekitar 12 g/dL. Tapi, kadar Hb yang turun menjadi 10,5 g/dL masih dianggap normal jika nggak terdapat keluhan atau gejala anemia."
Riana manggut-manggut. Gadis itu baru tahu akan hal itu, karena dia juga belum pernah memeriksa kandungannya ke dokter atau bidan.
"Eh, selain itu. Es krim juga bermanfaat untuk menambah berat badan, mengurangi rasa mual, mengatasi stres, dan untuk pembetukan tulang pada janin. Hm, juga kaya akan gizi, soalnya mengandung banyak susu," tambah Ratu sambil terkekeh pelan.
Riana yang melihat Ratu pun ikut terkekeh pelan. "Makasih kalau begitu."
"Pengalaman kamu, Tu."
"Banget."
Keempatnya tertawa mendengar jawaban Ratu.