Aku mengawali kisah ini dengan hal-hal yang telah usai.
Ya, terdengar miris mengingat bagaimana kita sering menceritakan ulang kisah-kisah yang bahkan tak nyaman untuk didengar. Seperti menonton kembali potongan film yang dialognya sudah di luar kepala, tetapi tetap membuat dada sesak setiap kali adegannya muncul. Namun, izinkan aku untuk sekali ini saja membuka kembali lembaran yang sudah lama kusimpan rapat.
Lembaran yang masih menyimpan aroma masa lalu. Tentang perjalanan cintaku, kala Kota Bojonegoro masih begitu syahdu untuk ditinggali, kala waktu dan hati berjalan seirama.
Waktu itu, Bojonegoro tampak seperti potret yang diambil Tuhan dengan cahaya terbaik-Nya. Seakan-akan kota ini diciptakan ketika waktu sedang tersenyum. Matahari sore jatuh lembut di antara pucuk-pucuk pohon jati, memantulkan cahaya keemasan yang mengubah jalan-jalan desa sempit menjadi lorong kenangan.
Jalanan masih lengang, hanya sesekali dilewati sepeda ontel dengan kayuhan lirih yang menyusup ke udara. Angin membawa aroma sawah yang baru dipanen, bercampur wangi tembakau yang dijemur di halaman rumah penduduk.
Di kota ini, aku belajar arti tenang. Tidak ada deru klakson yang membelah udara, tidak ada hiruk-pikuk yang menelan suara hati. Hidup berjalan pelan, seolah semua orang punya cukup waktu untuk berhenti, menatap senja, lalu membiarkan angin sore menyapa wajah.
“Tenang sekali,” gumamku kala itu, lebih kepada diri sendiri.
Banyak orang belum mengenal kota ini. Wajar saja. Bojonegoro bukan kota besar yang sering menghiasi halaman depan majalah wisata, bukan pula destinasi populer dalam daftar wajib para pelancong. Ia hanyalah kota kecil di tengah Jawa Timur, seperti permata yang sengaja disembunyikan di antara jari-jari pulau ini.
Di peta, Bojonegoro berada di posisi yang seolah memilih diam. Di sebelah utara, ia berbatasan dengan Kabupaten Tuban, kota pesisir yang kaya sejarah. Ke arah selatan, ia bersentuhan dengan Madiun dan Nganjuk. Di barat, terdapat Ngawi, gerbang menuju Jawa Tengah.
Letaknya yang strategis justru membuat Bojonegoro tidak tergesa untuk bersuara. Ia tidak memamerkan diri dengan gemerlap, melainkan membiarkan siapa pun yang ingin mengenalnya datang dengan niat tulus dan jatuh cinta dengan perlahan.
Bojonegoro adalah perpaduan dataran rendah yang subur dan perbukitan jati yang membentang luas. Sungai Bengawan Solo mengalir membelah kota ini, menjadi nadi kehidupan bagi sawah dan ladang tembakau. Saat kemarau, airnya memantulkan langit biru tanpa cela. Saat hujan, ia menjelma raksasa yang menyimpan cerita banjir dan kecemasan.
Kota ini tidak dipenuhi gedung tinggi. Langit masih terasa dekat. Malamnya bertabur bintang, paginya dibangunkan suara ayam, bukan deru kendaraan. Orang-orang masih saling menyapa, bahkan kepada yang tak saling kenal.
Bagi mereka yang hanya melintas, Bojonegoro mungkin tampak biasa. Namun, bagi yang bersedia berhenti sejenak, menghirup udaranya, dan menyusuri jalan desanya, kota ini akan membuka wajah aslinya yaitu lembut, penuh cerita, sekaligus menyimpan luka.
Sore itu, aku duduk di bebatuan sungai dengan air sebening kaca berwarna biru kehijauan. Tempat ini tersembunyi di pelukan pepohonan rindang, seolah alam menyimpannya hanya bagi mereka yang mau berjalan lebih jauh.
Orang-orang menyebutnya Sungai Grogolan. Nama yang terdengar seperti mantra, mengundang rasa penasaran. Bagiku, sungai ini bukan sekadar aliran air. Ia adalah harta karun, mutiara yang bersembunyi di balik tirai hijau hutan.
Aku duduk, menurunkan ransel, lalu mengulur kaki ke dalam air.
“Dingin,” desisku pelan.
Airnya merambat perlahan dari telapak kaki hingga betis, menembus ke dada, membawa damai yang sulit dijelaskan. ‘Beginikah rasanya pulang?’ batinku.
Pepohonan tua berdiri anggun di sekeliling. Cahaya matahari menembus celah ranting, menciptakan pola-pola cahaya di permukaan air. Burung-burung kecil bersahutan, seolah sedang menenangkan bumi.
Ikan-ikan kecil berenang mendekat. Aku mengulurkan tangan, menyentuh air yang sedingin bisikan malam.
“Aku mencintaimu,” bisikku lirih, entah kepada sungai, kota ini, atau kenangan yang tumbuh di dalamnya.
Bojonegoro mengajarkanku bahwa keindahan tak selalu harus berisik. Kadang, ia hadir dalam diam yang menenangkan.
Ia tidak seperti Yogyakarta yang romantis, atau Bandung yang puitis. Bojonegoro punya caranya sendiri. Tidak selalu manis, tetapi membuatmu ingin kembali.
Di kota ini, oleh-oleh yang paling sering dibawa pulang bukan makanan khas atau kerajinan tangan, melainkan patah hati.
Entah mengapa, kota ini pandai meracik pertemuan indah dengan perpisahan pahit. Waktu yang berjalan terlalu pelan membuat kita jatuh cinta terlalu dalam, dan ketika cinta pergi, yang tertinggal hanyalah sisa rasa yang tak bisa dibungkus rapi.
Orang bilang, patah hati di Bojonegoro terasa berbeda. Mungkin karena kenangan menempel terlalu erat pada tempat-tempat yang akrab seperti Sungai Grogolan ini.
Airnya masih sama jernih dan dingin. Namun, hatiku tidak. Jika dulu penuh harap, kini hanya menyisakan sisa-sisa yang tak kunjung sembuh, dan aku adalah salah satu dari mereka yang pulang membawa oleh-oleh itu.
Patah hati.
***
Aku berdiri dari bebatuan sungai, menepuk-nepuk celana jins yang basah di ujungnya. Langkah kakiku pelan, seolah berat meninggalkan tempat itu. Air masih menetes dari ujung sepatuku ketika suara langkah lain terdengar dari balik pepohonan.
“Mon?”
Aku berhenti. Tubuhku menegang sebelum akhirnya menoleh.
Fajar berdiri beberapa meter dariku, membawa dua botol air mineral di tangan. Wajahnya terlihat heran, alisnya mengernyit saat melihat ekspresiku yang tak karuan.
“Kamu ke sini sendirian?” tanyanya sambil mendekat.
Aku mengangguk singkat. “Cuma mau duduk sebentar.”
Fajar menyerahkan sebotol air. Aku menerimanya, memutar tutupnya tanpa langsung minum. Tanganku gemetar halus.
“Kamu kelihatan kayak orang habis kehilangan sesuatu,” katanya setengah bercanda, tapi matanya terlalu jujur untuk disebut lelucon.
Aku terkekeh pendek. “Mungkin memang begitu.”
Ia duduk di batu di sampingku. Diam. Tidak mendesak. Fajar selalu begitu hadir tanpa memaksa.
“Masih soal dia?” Akhirnya ia bertanya.
Aku menghela napas panjang. Kepalaku tertunduk, mataku menatap riak air yang tak pernah berhenti bergerak.
“Aku kira datang ke sini bisa bikin semuanya reda.”
“Terus?”
“Nyatanya, malah makin jelas,” jawabku lirih.
Fajar melempar kerikil kecil ke sungai. Plup. Riaknya menyebar, lalu hilang. “Luka memang suka muncul di tempat yang kita anggap paling aman.”
Aku menelan ludah. Dadaku sesak. “Lucu, ya? Kota ini selalu bikin orang jatuh cinta, tapi juga nggak pernah ngajarin cara melepaskannya.”
Fajar menepuk pundakku pelan. “Yang pulang dari sini nggak pernah benar-benar bawa tangan kosong, Mon.”
Aku tersenyum pahit. “Iya. Aku bawa patah hati.”
Kami terdiam lagi. Angin sore berembus, menggerakkan dedaunan. Aku berdiri lebih dulu, menyampirkan ransel ke bahu.
“Ayo pulang,” kata Fajar.
Aku melangkah pergi, meninggalkan sungai di belakang. Airnya tetap mengalir, jernih dan dingin. Sementara aku berjalan membawa sesuatu yang tak terlihat, tapi berat—oleh-oleh yang tak pernah kuminta, dan selalu berhasil kubawa pulang.