


oleh Sumringah · 6 Bab
Setelah kemenangan megah melawan Ratu Penyihir Jahat, 100 gadis penyihir seharusnya jadi pahlawan, tapi mereka memilih jalan lain: menolak permintaan Spirit Roh untuk mengembalikan kekuatan, menyerang mereka, dan menggunakan sihir untuk menjajah negara, merebut wilayah, membuat dunia terbagi dan terbenam dalam kekacauan yang lebih parah dari sebelumnya. Sementara itu, seorang siswi SMP Erica gadis pemalas yang hanya peduli tidur dan camilan ditemukan oleh sisa Spirit yang lolos. Tanpa dia menyadari, semua kekuatan para Spirit ditransfer ke badannya. Sekarang, dia yang tak pernah mau berbuat apa-apa harus menjadi harapan terakhir, menghadapi Para Gadis Penyihir yang sudah tersesat.
Prolog ...
“Terima kasih, para gadis penyihir. Sekarang dunia kembali damai. Kami akan kembali dan membawa kekuatan ajaib bersama kami .…”
Spirit Roh Rubah Miki berdiri di tengah reruntuhan gedung pencakar langit Manhattan, New York di atas puing-puing beton yang pernah menjadi lantai tiga puluh gedung kantor besar. Dia menghadap langsung ke Raya, salah satu dari 100 gadis penyihir yang mereka bantu untuk mengalahkan Ratu Penyihir Jahat pada siang hari.
Mata Miki bersinar hangat dengan rasa syukur dan kepercayaan, sementara suara gemuruh puing-puing yang sedikit bergeser menyelingi kata-katanya. Sinar matahari sore Amerika Serikat menerobos celah-celah bangunan yang ambruk, memberi warna kemerahan pada wajah Miki yang sedang berbicara dengan tulus.
Raya berdiri tepat di hadapannya, tangan kanannya tergenggam di sisinya. Wajahnya yang dulu penuh dengan kebaikan kini tampak datar, tanpa ekspresi apa pun. Di sekitarnya, para gadis penyihir lainnya berdiri berjajar dengan posisi siap tempur. Namun, Miki tidak menyadarinya dia masih mempercayai bahwa mereka semua adalah teman sekutu yang sama.
Tanpa peringatan sedikit pun, bahkan sebelum kata terakhir Miki bisa terlontar dari mulutnya, Raya mengangkat tangan kanannya dengan cepat. Sebilah belati sihir dengan ujung yang menyala merah melesat keluar dari pelindung yang tersembunyi di lengannya, menebas lurus ke arah dada Miki yang terpancar cahaya perak bersih. Gerakannya tajam dan tanpa ragu sama sekali, seolah dia sedang menebas musuh yang paling kejam, bukan makhluk yang pernah menyelamatkan nyawanya.
SLASSSSS!
Belati itu menusuk tepat sasaran. Cahaya perak dari tubuh Miki berkedip-kedip hebat, perlahan memudar seperti lilin yang tiba-tiba ditiup oleh angin kencang dari antara gedung-gedung tinggi yang masih berdiri.
Miki menatap ke dada yang tertusuk, kemudian mengangkat wajahnya untuk melihat Raya dengan mata yang penuh keterkejutan mendalam. Rasa tidak percaya tampak jelas di setiap serat energi yang membentuk tubuhnya, sementara suara sirene polisi terdengar jauh di kejauhan masih belum menyadari bahwa bahaya yang lebih besar telah muncul dari dalam kelompok pahlawan sendiri.
“Ke, kenapa … Raya?”
Suaranya terdengar seperti gelas yang pecah, tertutup oleh suara pelat baja yang terjatuh dari atas. Tubuhnya mulai menghilang menjadi serpihan energi yang berkilau seperti debu bintang, menyebar perlahan ke udara yang penuh dengan debu kota. Tak berdaya, dia lenyap sedikit demi sedikit, hanya menyisakan suara bisikan lembut yang hilang terbawa angin sepoi-sepoi dari jalan raya yang sepi: “Kami pernah mempercayaimu.”
“TIDAKKK!!! MIKIII!”
Para Spirit Roh matanya terbeliak, syok saudaranya diserang hingga musnah. Spirit Roh Hana dengan bentuk burung elang, sayapnya bersinar dengan kekuatan magis. Dia menerjang langsung ke arah Raya dengan kecepatan yang membuat udara berdesir dan puing-puing kecil terbang ke segala arah. Namun, sebelum bisa mencapai sasaran, beberapa gadis penyihir lain melompat dari balik puing-puing gedung bank yang ambruk, menghantam tubuh Hana dengan pukulan mantra yang mengeluarkan suara dentuman seperti guntur kecil yang bergema di antara gedung-gedung kosong.
BAM!
Hana terhempas keras, menghantam tembok beton bertuliskan “WALL STREET” yang masih berdiri setengahnya. Tembok itu langsung roboh, menutupinya dengan bongkahan batu dan besi yang masih sedikit membara seketika Hana musnah menjadi serpihan energi.
Raya menatap belatinya dan tersenyum, mengocok darah sihir yang menetes di ujungnya dengan gerakan yang cuek. Wajahnya tetap tanpa ekspresi, hanya ada kesombongan yang menyembul dari matanya yang dingin seperti es.
“Jangan berpikir untuk melarikan diri.” Suaranya jelas dan tegas, seperti komando yang tidak bisa ditentang. “Kekuatan yang kalian berikan padaku dan pada kami semua kini menjadi sepenuhnya milik kami!”
Satu demi satu, para Spirit Roh bereaksi dengan terkejut dan marah. Spirit Roh Pisces Momo dan adiknya yang berbentuk ikan kembar berwarna biru muda bergerak dengan gesit melayang di udara, mengeluarkan semburan air yang membeku dalam sekejap untuk membuat beberapa gadis penyihir terpeleset. Namun, pasukan penyihir lainnya dengan cepat membentuk barisan yang tak terbendung di depan reruntuhan Stasiun Grand Central, menghalangi setiap jalan keluar.
Di sisi lain lorong, 12 Spirit Roh Binatang Suci berkumpul di depan reruntuhan gedung hotel mewah. Seekor gajah dengan kulit bersinar perak berdiri di depan barisan dengan tubuh yang kokoh, diikuti oleh kuda putih dengan tanduk kristal dan beruang coklat dengan bulu yang menyala seperti bara api. Energi mereka menyatu membentuk tembok cahaya yang mengkilap.
“Lari sekarang!” teriak Spirit Roh Gajah Bram, tubuhnya menerima pukulan setelah pukulan dari mantra yang diterbangkan padanya. “Jaga kekuatan kalian untuk hari esok! Jangan biarkan semuanya berakhir di sini!”
Namun usaha mereka sia-sia. Beberapa gadis penyihir melompat ke atas reruntuhan gedung apartemen yang ambruk, menyerang dari atas dengan tombak sihir yang menyala merah membara.
CRACK!
Bram terhantam ke tanah dengan keras, tubuhnya mulai memudar seperti kabut pagi. Spirit Roh Kuda Luna tertekuk lutut setelah terkena tendangan keras dan memudar perlahan hingga musnah, sementara Beruang Toro diinjak kaki oleh seorang gadis penyihir dengan kekuatan penuh.
“Kalian pikir kami mau mengembalikan kekuatan sehebat ini?”
Tawa Sinta terdengar menyeramkan, bergema di antara lorong-lorong sunyi. Dia menginjak tubuh kecil Spirit Roh Anjing Poco yang sedang merangkak menyelamatkan diri dan Poco yang pernah membantu mereka mengalahkan Ratu Penyihir Jahat.
“Dengan kekuatan ini, kami akan memerintah dunia! Hahaha!”
“Tolong! Kita adalah rekan,” bisik Poco dengan suara lemah. “Poco pernah membantu kalian.”
Tanpa belas kasih, Sinta menekan kakinya dengan penuh kekuatan. Cahaya dari tubuh Poco memudar dengan cepat, menghilang menjadi serbuk cahaya yang menyebar di udara. Teriakan kesakitan dari para Spirit Roh yang masih bertahan menggema di antara reruntuhan, diselingi dengan tawa gadis penyihir yang semakin mengerikan.
Setelah hampir memusnahkan seluruh Spirit Roh, para gadis penyihir mulai mengulurkan tangan mereka yang menyala dengan energi sihir pekat. Mereka berniat menyerap serpihan jiwa Spirit Suci untuk memperkuat kekuatan mereka.
Dari 100 Spirit Roh Suci hanya tersisa lima Spirit Roh yang masih bisa melarikan diri, berusaha kabur, melesat ke sana kemari dengan kecepatan tinggi.
“Cepat habisi, lelet banget kalian,” ujar Sinta.
“Cuma sisa Spirit Roh kalian loh yang belum kalian habisi,” balas Maya.
“Cih, sabarlah.” Rini menggerutu kesal.
“Sudahlah, menyerah saja!” teriak Rini sambil melepaskan anak panah sihir tanpa henti.
Kelima Spirit Roh itu terbang ke langit, namun penghalang energi merah muda menyala telah dipasang di antara puncak gedung pencakar langit.
BUGGG!
Mereka menabrak sebuah penghalang berwarna merah muda. Mereka terjebak.
Di sisi lain, para gadis yang sudah menghabisi Spirit Rohnya, berusaha menyerap serpihan jiwa Spirit yang berhambura seperti butiran pasir berbagai warna dengan liontin perubahan. Namun, sebelum para penyihir bisa menyentuh serpihan jiwa Spirit Suci, lima bentuk cahaya dari atas Spirit Roh Naga Emas Shen, Ular Biasa Xiang, Kijang Berbulu Emas Rin, Merpati Perak Fei, dan Kura-Kura Bintang Kai muncul. Kelima Spirit Roh yang tersisa menyatukan kekuatan terakhir mereka, menarik serpihan jiwa Spirit Suci ke dalam tubuh mereka.
“Kalian tidak akan mendapatkan apa-apa dari kami!” teriak Shen dengan suara yang menggema seperti badai sembari menangis. “Kekuatan kami bukan untuk dimanfaatkan oleh penghianat seperti kalian!”
Tanpa berlama-lama, kelima Spirit Roh itu berputar cepat membentuk pusaran energi yang menyilaukan. Cahaya putih keemasan meledak dengan kekuatan dahsyat di tengah kelompok gadis penyihir.
BOOOOM!
Ledakan yang membuat seluruh reruntuhan bergetar dan menggoyahkan tanah sekitarnya, serta menghancurkan kurungan penghalang sihir. Ketika debu dan cahaya mulai mereda, kelima Spirit Roh itu telah menghilang tanpa jejak, membawa seluruh kekuatan yang tersisa untuk disembunyikan jauh dari ambisi kekuasaan mereka.

Sumringah
2 Pengikut · 3 Novel