Langit malam di Jakarta seperti tumpahan tinta yang pekat, menekan atap-atap rumah kumuh di kawasan padat penduduk tempat Arumi tinggal.
Jantung Arumi berdegup kencang, dentumannya terasa hingga ke tenggorokan. Dengan tangan gemetar, ia mendorong pintu yang setengah terbuka itu. Ruangan dalam tampak berantakan, piring-piring plastik berserakan, lemari pakaian terjungkal, dan satu-satunya cermin di sudut ruangan pecah berkeping-keping.
Ayahnya tidak ada di sana. Yang tertinggal hanya bau rokok murahan yang sangat tajam dan secarik kertas lusuh yang tergeletak di atas lantai semen yang dingin.
“Ayah?” bisik Arumi. Suaranya serak, nyaris hilang tertelan angin malam.
Arumi memungut kertas itu. Tangannya mendingin saat membaca coretan kasar di sana. Bukan permintaan maaf, bukan pula penjelasan ke mana ayahnya pergi.
Hanya satu kalimat pendek dengan tinta merah menyala. ‘Utangmu mencapai batas. Bawa dirimu ke gerbang Adiguna sebelum matahari terbit, atau nyawamu yang akan menutup semua perhitungan.’
Kertas itu jatuh dari jemari Arumi yang lemas. Dunia Arumi seolah runtuh dalam satu kedipan mata. Ia tahu siapa keluarga Adiguna. Nama itu bukan sekadar nama orang kaya, itu adalah nama yang ditakuti, entitas yang memegang kuasa atas ribuan nasib di ibu kota.
Dua jam kemudian, Arumi sudah berdiri di depan gerbang besi yang menjulang tinggi, bak benteng pertahanan kastil zaman pertengahan. Rumah megah milik keluarga Adiguna terlihat angker meski lampu-lampu taman pualam berpendar elegan.
Gerbang berderit terbuka perlahan. Tidak ada penjaga yang ramah. Seorang pria dengan setelan jas hitam klimis muncul dari balik pos pengamanan, menatap Arumi dengan mata sedingin es.
“Namamu Arumi?” tanyanya lugas. Pria itu bahkan tidak menunggu Arumi menjawab, ia langsung memutar tubuh dan memberi isyarat agar Arumi mengikutinya masuk.
Arumi melangkah melewati lorong mansion yang berlantai marmer putih. Setiap langkah sepatunya menimbulkan gema yang menakutkan.
Di dinding-dindingnya, lukisan kuno tampak seperti sedang memperhatikan gerak-geriknya. Ini bukan rumah, ini adalah kurungan berlapis emas.
Pria berpakaian jas tadi membawanya ke sebuah ruangan luas yang dipenuhi oleh rak-rak buku besar. Di tengah ruangan, seorang pria duduk menghadap meja kerja kayu mahoni yang luas.
Cahaya lampu meja yang remang-remang menyorot separuh wajahnya. Devano Adiguna. Pria itu tampak sibuk menandatangani berkas, tidak mengalihkan pandangan sedikit pun meski Arumi telah berdiri kaku di depan mejanya.
“Kau datang tepat waktu.” Suara Devano berat, tenang, tapi memancarkan otoritas yang tidak bisa dibantah. Ia meletakkan pena mahalnya dengan suara ketukan halus, lalu mendongak menatap Arumi. Tatapannya setajam belati, membuat bulu kuduk Arumi berdiri seketika.
“Ayah saya.” Suara Arumi tercekat.
“Ayahmu adalah sampah yang hanya meninggalkan bau busuk di bukuku,” potong Devano tanpa basa-basi. Ia berdiri dari kursinya. Tinggi pria itu membuat Arumi merasa begitu kecil dan tak berdaya.
Devano berjalan mengitari meja, mengamati Arumi dari atas ke bawah seolah sedang menilai kualitas barang yang baru dibeli di pelelangan.
“Saya ingin membayar utang itu. Saya akan bekerja, saya akan melakukan apa pun yang Anda perintahkan sampai semuanya lunas,” ucap Arumi dengan sisa harga dirinya.
Devano terkekeh kecil, tidak ada humor dalam suara itu. Hanya ada kebencian yang mendalam. Ia berhenti tepat di hadapan Arumi, jarak mereka begitu dekat hingga Arumi bisa mencium aroma parfum mahal pria itu, yang samar-samar tercium seperti wangi kayu pinus saat musim hujan.
“Apa pun? Kau tidak tahu seberapa besar nilai hidup yang kau coba beli kembali itu, gadis kecil,” ujar Devano pelan, jemarinya terangkat perlahan, menyentuh rahang Arumi.
Sentuhan dinginnya membuat kulit Arumi meremang.
“Aku tidak butuh pelayan yang hanya membersihkan lantai. Aku butuh seseorang yang bisa kupakai sebagai sasaran pelampiasan dari rasa sakit yang ditinggalkan oleh keluargamu bertahun-tahun lalu.”
Arumi berusaha menarik diri, cengkeraman Devano pada rahangnya justru mengerat, meskipun tidak sampai menyakiti secara fisik, tapi itu adalah bentuk penegasan kuasa yang jelas.
“Jadikan saya apa pun yang Anda inginkan, selama Anda membebaskan saya setelah semua utang ini terbayar,” tantang Arumi. Ia harus menunjukkan bahwa meski hartanya tidak ada, semangatnya tidak mudah dipatahkan.
Devano menyunggingkan senyum miring yang jauh lebih menyeramkan daripada tatapan dinginnya tadi. Ia melepaskan dagu Arumi dan kembali ke meja, lalu mengambil sebuah lembaran kontrak dan melemparkannya ke depan gadis itu.
“Tanda tangani. Mulai malam ini, tidak ada lagi nama Arumi. Yang ada hanyalah angka nol yang akan kupahat menjadi pengingat bagi ayahmu. Setiap napas yang kau hirup di rumah ini adalah utang baru. Jadi, bersiaplah untuk melunasinya dengan cara yang paling sulit.”
Arumi gemetar saat membubuhkan tanda tangannya. Tinta hitam itu menari di atas kertas, seolah-olah ia sedang menandatangani surat kematian bagi kehidupannya sendiri sebagai orang bebas. Begitu ia selesai, Devano segera menyambar kertas itu.
“Ikut aku,” perintah Devano sambil berbalik badan tanpa menoleh.
Arumi berjalan mengikuti pria itu, pikirannya berkecamuk. Ia dibawa ke sebuah ruang bawah tanah yang ternyata merupakan akses menuju kamar-kamar para pelayan di bagian mansion yang tersembunyi. Lorongnya lembap dan remang.
Devano berhenti di depan sebuah pintu besi berkarat. Ia menekan tombol, dan pintu itu terbuka dengan suara desis mesin otomatis yang kasar.
“Mulai saat ini, ini adalah tempatmu,” ujar Devano tanpa perasaan.
Arumi tertegun melihat isi kamar tersebut. Hanya ada tempat tidur single dengan kasur yang sudah menipis, satu kursi kayu, dan jendela kecil yang dipagari besi. Kamar ini seperti ruang interogasi. Arumi berbalik untuk memprotes, tapi pintu itu tertutup dengan bantingan keras tepat di depan wajahnya.
Terdengar suara dentuman kunci yang terkunci dari luar. Arumi mencoba menggedor pintu itu. “Buka! Kenapa kau mengunci pintu ini?
Suara langkah kaki Devano yang tenang semakin menjauh di koridor. Lalu, pria itu berhenti. Suara langkahnya terdengar kembali, tapi kali ini perlahan, hingga berhenti tepat di balik pintu kamar Arumi.
“Aku baru saja ingat satu hal, Arumi.” Suara Devano teredam pintu, terdengar dingin dan anehnya intim di tengah kegelapan.
“Ayahmu sebenarnya tidak kabur sendirian. Dia membawa sesuatu yang sangat penting milikku sebelum dia melenyapkan diri.”
Jantung Arumi mencelos.
“Apa? Dia hanya penjudi biasa! Dia tidak memiliki apa-apa!”
“Jika itu benar.” Devano melanjutkan dengan nada yang mengancam. “Maka mungkin saatnya bagiku untuk memutus satu jarimu setiap hari sampai kau mau mengakui di mana dia menyembunyikan brankas kecil milikku, atau lebih baik lagi, apakah kau sendiri yang menyimpannya?”