


oleh faresthy · 40 Bab
Dilahirkan dari rahim selir, Alia dicap sebagai aib kerajaan. Ia tumbuh tanpa kasih, hanya ditemani bunga mawar—satu-satunya sahabatnya. Namun, saat berani membawa “teman” itu ke kehidupannya, segalanya semakin berubah: tatapan dingin Raja, bisikan penuh hinaan, hingga pengkhianatan kakaknya. Semua menudingnya gadis terkutuk. Kutukan macam apa yang sebenarnya ia bawa? Mungkinkah ia menemukan tempat yang benar-benar menerimanya?
Di koridor istana yang panjang dan sepi, suara pesta dari gedung tinggi terdengar sayup-sayup, seperti gema jauh yang tak ingin menyapa.
Lampu-lampu gantung berkilau putih, memantulkan cahaya di lantai marmer yang dingin. Cahaya itu menciptakan kontras tajam antara bayangan gelap di sudut koridor dan sorotan terang dari pintu gedung yang terbuka lebar.
Dua penjaga berseragam rapi berdiri tegak di depan pintu, wajah mereka kaku, menjaga agar tak sembarang orang bisa masuk.
Di salah satu sudut koridor itu, seorang gadis kecil berumur delapan tahun duduk sendiri. Alia, tubuhnya mungil, menempel di lantai dingin. Lututnya tertekuk, tangannya memeluk perut, seolah ingin menyusut agar tak terlihat.
Sorot lampu menusuk matanya, membuatnya menutup kelopak rapat-rapat. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara takut dan penasaran.
Ia mendengar tawa dan percakapan orang dewasa dari kejauhan, aroma parfum mahal bercampur dengan wangi anggur memenuhi udara, tapi ia tetap diam.
Ia berharap bisa menghilang di antara bayangan, menjadi bagian dari dinding yang tak diperhatikan siapa pun. Namun, harapannya buyar ketika suara berat seorang penjaga memecah keheningan.
“Kabur lagi? Anak sialan!” seru penjaga, kesal.
Alia terkejut. Sebelum sempat membela diri, tangan mungilnya ditarik paksa. Tubuh kecilnya terbawa melewati koridor panjang, menuju gedung tinggi yang bercahaya menyilaukan. Lantai marmer dingin terasa menusuk telapak kakinya. Setiap langkah begitu berat, bukan jalannya sendiri, melainkan langkah yang dipaksa.
Begitu melewati pintu, suasana pesta langsung menelannya. Musik lembut berhenti. Kerumunan orang dewasa yang tengah minum dan bercakap-cakap terdiam. Semua mata beralih ke arah Alia. Pandangan mereka tajam, menilai, meneliti. Bisik-bisik muncul dan samar, tapi jelas.
“Siapa itu?
“Anak siapa dia?”
Alia menunduk, keringat dingin menetes di pelipis. Ia merasa telanjang, seolah setiap bisikan menyingkap luka yang coba ia sembunyikan. Jantungnya berdentum makin keras. Ia ingin lari, tapi genggaman penjaga di tangannya tak memberi ruang untuk kabur.
Akhirnya, ia sampai di depan kursi raja. Kursi megah itu berdiri tinggi di ujung aula, dihiasi ukiran emas dan permata yang berkilau di bawah cahaya lampu kristal. Raja duduk tegak, wajahnya dingin bagai patung. Ia tidak berucap sepatah kata pun pada awalnya, hanya menatap lekat pada Alia, membuat udara seisi aula membeku.
Penjaga menunduk, lalu berkata lantang,
“Putri Alia sudah datang, Baginda.”
Ruangan seketika terhenti. Sunyi begitu pekat, sampai-sampai suara napas terdengar jelas.
Beberapa bangsawan langsung saling menoleh, wajah mereka penuh kebingungan. Suara bisikan cepat menyebar seperti api kecil yang merambat di ladang kering.
“Putri?”
“Bukankah anak raja hanya dua putra?”
“Dari mana munculnya anak ini?”
“Apakah selir itu ....?”
Nada kaget bercampur ejekan. Ada yang menutup mulut sambil tertawa kecil, ada yang menatap Alia dengan jijik, seolah kehadirannya aib yang baru saja dipertontonkan.
Alia menunduk lebih dalam. Pipinya panas, tubuhnya kaku. Kata-kata itu menusuk telinganya, membuatnya ingin lenyap dari dunia.
Di kursi megah, sang raja masih duduk tegak. Matanya yang tajam menatap Alia, tapi tak ada kasih, tak ada pengakuan. Justru tatapan itu membuat tubuh kecilnya semakin menciut.
Akhirnya, dengan suara dingin yang menggema di seluruh aula, raja berkata, “Pergi.”
Hanya satu kata, tapi cukup untuk meruntuhkan harapan kecil dalam hati Alia.
Penjaga segera menarik Alia keluar dari aula. Tubuh kecilnya kembali terseret di atas lantai marmer dingin. Orang-orang masih menatapnya dengan rasa ingin tahu, sementara bisikan-bisikan makin keras,
“Sepertinya anak itu lahir dari mantan selir raja. Wajah gadis itu mirip sekali dengannya.”
“Lihat matanya ..., persis ibunya.”
"Kenapa anak menjijikan itu datang? Merusak pemandangan. Lebih baik aku mencari pangeran."
“Kasihan, Raja pasti membuangnya.”
“Anak buangan.”
Kata-kata itu menusuk telinga Alia, tajam seperti duri. Air matanya hampir pecah, tapi ia menahan. Tubuhnya mungkin kecil, tapi rasa tidak diinginkan itu terasa lebih berat daripada beban dunia.
Ia berjalan kembali ke sudut koridor yang sunyi, tempat di mana bayangan menjadi satu-satunya pelindung. Di sana, sebuah pot mawar merah berdiri di atas meja kecil. Mawar itu tampak hidup, kelopak merahnya berkilau di bawah cahaya redup, seolah mengawasinya.
Alia mendekat perlahan. Tangannya gemetar ketika meraih kelopak yang halus. Ia menunduk, menghirup wangi mawar itu. Aroma manisnya menenangkan, berbeda dari bau anggur dan parfum di aula tadi. Namun, ketika ia menggenggamnya terlalu erat, duri mawar menusuk kulitnya. Setetes darah segar muncul di jari mungilnya.
Alia terkejut, menarik tangannya. Meskipun begitu, anehnya, rasa sakit itu tidak hanya di kulit. Ada sesuatu di dalam dirinya yang ikut perih, seolah mawar itu menyadari kesepiannya. Ia menatap darah di jarinya, lalu kembali menatap bunga itu. Untuk sesaat, ia merasa mawar itu menatap balik, menyimpan rahasia yang hanya ia sendiri bisa pahami.
Bisikan-bisikan dari aula masih terngiang: “Anak selir ..., kau, anak buangan ....”
Alia menggigit bibir, menahan tangis yang hampir pecah.
Alia masuk ke kamarnya, masih terasa penat setelah pesta tadi. Ia melempar tas ke sudut dan hendak duduk di tempat tidur, tapi matanya menangkap sesuatu yang membuatnya berhenti sejenak. Di meja kecil dekat jendela, berdiri sebuah pot mawar merah. Ia menatapnya, terdiam—baru sekarang ia menyadari keberadaan bunga itu. Kelopaknya merah berkilau lembut di bawah cahaya redup.
Alia melangkah perlahan mendekat, jantungnya berdebar. Tangannya gemetar saat meraih kelopak yang halus. Aroma manis mawar itu menenangkan, berbeda dari bau anggur dan parfum di aula tadi. Namun, ketika ia menggenggamnya terlalu erat, duri kecil menusuk kulitnya. Setetes darah segar muncul di jarinya.
Ia terkejut dan menarik tangan, tapi rasa sakit itu terasa lebih dalam, seolah ada sesuatu dalam dirinya ikut merasakan luka itu. Ia menatap darah di jarinya, lalu kembali menatap bunga itu. Untuk sesaat, ia merasa mawar itu menatap balik, seolah menyimpan rahasia yang hanya ia sendiri bisa mengerti.
Alia duduk di tepi tempat tidurnya, memandang mawar merah itu. Suaranya nyaris tak terdengar, hanya sebuah bisikan lirih yang tenggelam dalam sunyi.
“Apakah ayah membenciku?”
"Mengapa aku harus menghadiri pesta itu?"
"Apa aku tidak diinginkan?"
Udara di sekitarnya membeku. Di luar kamarnya, pesta kembali riuh dengan tawa, tapi di dalam dada Alia hanya ada satu rasa.
Sepi yang menusuk lebih dalam, seperti takdirnya untuk ditusuk duri mawar itu sendiri.

faresthy
3 Pengikut · 1 Novel