"Bahaya karena aku bisa menendangmu dengan ujung sepatu yang keras ini?"
Arthur tertawa kecil, gigitannya di bahu Ivy membuat wanita itu mendesah pelan. "Bahaya karena kau membuatku ingin mengunci pintu kamar ini dan melupakan bahwa aku punya perusahaan untuk diurus besok pagi."
"Kau sudah mengurungku sepanjang minggu kemarin. Jangan mulai lagi." Ivy berbalik dalam pelukan Arthur, menatap mata suaminya dengan tatapan menggoda.
"Ini bukan pengurungan. Ini adalah apresiasi seni." Arthur mengangkat Ivy kembali, membawanya menuju ranjang yang luas. "Malam ini, aku ingin melihat pertunjukan pribadiku sendiri sebelum kau mulai berlatih dengan gurumu besok."
Ivy tersenyum manis, menarik kerah kemeja Arthur agar pria itu tidak punya ruang untuk bicara lagi. "Lakukan saja, tapi jangan protes kalau besok pagi kakiku terlalu pegal untuk menari."
"Aku punya banyak cara untuk memijatmu, Sayang. Kau tidak perlu khawatir soal itu."
Gairah kembali meledak di antara mereka. Ivy menyadari bahwa meski ia mencoba mencari identitas diri lewat ballet, pada akhirnya, identitasnya akan selalu terikat dengan pria yang sedang mendominasinya ini. Anehnya, ia tidak lagi merasa keberatan. Selama perisainya adalah Arthur, ia siap menari di tengah badai mana pun.
"Arthur," desah Ivy di tengah napas yang memburu. "Sepatunya, jangan dilepas dulu."
Arthur menyeringai yang menunjukkan bahwa ia sangat menyukai ide nakal istrinya. "Sesuai perintahmu, Cinta."
Setelah itu, hanya ada panas tubuh Arthur dan perasaan sayang bahwa ia tidak akan pernah dibiarkan jatuh.
***
"Kau bergerak seolah sedang mencoba melarikan diri dari bayanganmu sendiri. Tarikan napasmu terlalu pendek dan punggungmu itu, kau tidak sedang memanggul beban seluruh saham Sterling saat menari."
Arthur berbicara seolah suaranya memantul di dinding kaca studio baru yang masih berbau aroma mahal. Ivy tersentak, kehilangan keseimbangannya di atas ujung sepatu pointe hitamnya. Ia hampir terjatuh jika saja ia tidak segera mencengkeram bar yang menempel di dinding. Napasnya terengah-engah, peluh membasahi pelipisnya, membuat beberapa helai rambutnya menempel di kulitnya yang memerah.
"Berapa lama kau berdiri di sana? Berhenti memberiku instruksi, Arthur. Kau tahu soal pasar modal, bukan soal teknik fouetté," sahut Ivy ketus. Ia menatap pantulan suaminya di cermin raksasa yang memenuhi satu sisi ruangan.
Arthur berdiri di ambang pintu, masih mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, dasinya sudah lama hilang dan kancing teratasnya terbuka. Di tangannya, ia memegang sebotol air mineral dingin. Pria itu tidak segera mendekat, ia hanya berdiri di sana, menikmati pemandangan istrinya yang tampak begitu rapuh sekaligus tangguh di bawah lampu LED tersembunyi yang suasananya diatur menyerupai senja.
"Aku tahu soal kesempurnaan. Aku tahu saat seseorang sedang memaksakan diri sampai ke titik retak." Arthur melangkah maju, suara sepatunya di atas lantai terdengar sangat dominan. Ia menyerahkan botol air itu pada Ivy. "Gurumu, Madame kaku itu, baru saja aku atur jadwalnya. Dia tidak akan datang hari ini. Aku ingin kau berlatih denganku."
Ivy meminum air itu dengan rakus, lalu menatap Arthur tidak percaya. "Berlatih denganmu? Kau gila? Kau bahkan tidak bisa membedakan antara arabesque dan posisi berdiri biasa."
"Aku punya mata yang sangat teliti, Ivy. Aku bisa melihat otot mana yang tegang dan mana yang tidak mengikuti ritme." Arthur meraih pinggang Ivy, menarik wanita itu hingga punggungnya menempel pada dada bidangnya. "Tutup matamu. Berhenti menatap cermin itu seolah dia adalah hakim yang akan memvonis hukuman mati padamu."
"Arthur, lepaskan. Aku sedang mencoba fokus."
"Fokusmu salah. Kau menari untuk ayahmu yang sudah tiada atau untuk membuktikan sesuatu padaku. Kenapa kau tidak menari untuk dirimu sendiri?" bisik Arthur tepat di ceruk leher Ivy.
Ivy merasakan tangannya mulai gemetar. Perkataan Arthur selalu punya cara untuk menguliti lapisan pertahanannya yang paling dalam. Ia memang menari karena rasa bersalah, karena memori pahit tentang sepatu yang berlumuran darah, dan karena ia ingin memiliki sesuatu yang tidak bisa dikontrol oleh Arthur, tapi di sini, di studio yang Arthur bangun khusus untuknya, privasi itu pun terasa seperti ilusi.
"Aku tidak bisa," gumam Ivy pelan.
"Bisa. Ikuti tanganku."
Arthur meletakkan tangan besarnya di atas perut Ivy, sementara tangan lainnya membimbing lengan Ivy ke posisi port de bras. Gerakan Arthur pelan, hampir sangat lembut, sebuah perbedaan yang selalu membuat Ivy bingung. Pria ini bisa menghancurkan hidup orang dalam satu tanda tangan, tapi saat ini, ia memperlakukan Ivy seolah-olah istrinya adalah instrumen musik yang sangat mahal dan sensitif.
"Bernapas, Ivy. Buang semua angka di kepalamu. Buang rasa benci pada Liam dan buang kecurigaanmu padaku," perintah Arthur.
Ivy memejamkan mata, membiarkan tubuhnya mengikuti bimbingan Arthur. Anehnya, tanpa gangguan visual dari cermin, ia mulai merasakan tubuhnya lebih ringan. Ia tidak lagi memikirkan posisi kaki yang sempurna, ia hanya merasakan panas tubuh Arthur yang menyokong punggungnya. Mereka bergerak perlahan, sebuah tarian tanpa musik yang terasa jauh lebih intim daripada apa pun yang pernah mereka lakukan di ranjang.
"Kau tahu kenapa aku memberimu sepatu hitam?" tanya Arthur rendah, bergetar di dalam dada Ivy.
"Karena kau suka kegelapan."
"Karena kau adalah angsa hitam di duniaku yang monoton, Ivy. Kau tidak perlu berpura-pura menjadi putih dan suci. Aku menyukaimu justru karena kau punya luka, karena kau punya duri. Jangan mencoba menjadi penari yang sempurna. Jadilah penari yang hidup."
Ivy berbalik dalam pelukan Arthur, menatap mata suaminya yang kini berkilat oleh emosi yang sulit didefinisikan. Ada perasaan posesif di sana, tapi ada juga sesuatu yang menyerupai ketulusan yang mengerikan.
"Kau selalu tahu cara membuatku merasa tidak berdaya dengan kata-katamu." Ivy merengkuh leher Arthur, jemarinya yang masih dingin karena keringat menyentuh kulit leher suaminya yang panas.
"Itu bukan ketidakberdayaan. Itu adalah penyerahan diri." Arthur menyeringai jahil. Ia mengangkat Ivy, mendudukkannya di atas bar yang menempel di dinding. "Sekarang, karena kau sudah cukup 'santai', bagaimana kalau kita bahas hukumanmu karena sudah mematikan GPS ponselmu saat pergi ke studio itu tadi siang?"
Ivy tertawa kecil, mencoba mendorong bahu Arthur. "Aku sedang mencari inspirasi! Gedung itu punya sejarah bagiku."
"Sejarahmu sekarang ada di gedung ini, di bawah namaku. Jika kau ingin pergi ke mana pun, kau harus memintaku untuk menemanimu. Aku tidak suka ide kau berjalan sendirian di kota pinggiran yang kumuh itu hanya untuk bernostalgia."
"Kau benar-benar monster posesif. Apa kau akan memasang chip di dalam otakku juga?"
"Kalau itu memungkinkan, sudah kulakukan sejak dulu." Arthur mencium lutut Ivy yang sedikit memar akibat latihan. "Katakan padaku, apa kau senang dengan studio ini?"
Ivy menatap sekeliling ruangan yang luas dan mewah itu. Ia menyadari bahwa meski Arthur membangunnya dengan cara yang otoriter, ini adalah bentuk cinta pria itu yang paling jujur. Arthur tidak memberikan bunga, ia memberikan ruang bagi Ivy untuk menjadi dirinya sendiri, meski ia tetap mengawasinya dari balik layar.
"Aku suka. Terima kasih, Arthur. Meskipun kau tetap menyebalkan karena mengusir Madame Elise."
"Dia terlalu banyak menuntut. Aku tidak suka ada orang lain yang memerintahmu lebih lama dariku." Arthur menarik Ivy kembali ke dalam pelukannya, kali ini dengan gairah yang mulai menyulut udara di studio itu.
Arthur mulai melepaskan pita satin hitam di pergelangan kaki Ivy satu per satu. Gerakannya lambat, sangat provokatif di bawah lampu yang kini sengaja ia redupkan lewat kendali di pergelangan tangannya. Ivy merasa jantungnya berdebar bukan karena kelelahan menari, tapi karena antisipasi akan apa yang akan dilakukan Arthur selanjutnya.
"Arthur, kita masih di studio."