


oleh bintangpendar · 54 Bab
Dua belas tahun Star ditinggalkan tanpa penjelasan. Sejak kecil dia tumbuh dengan satu pertanyaan yang tak terjawab: mengapa orang tuanya pergi? Petunjuk yang ada membawa Star terbang ke Amerika. Namun, ketika Reisa satu-satunya orang yang ia anggap keluarga justru pergi mencari identitas dan keluarganya sendiri. Star merasa sangat sendirian.Hingga takdir mempertemukannya dengan Gala, teman masa kecil yang dulu pergi tanpa pamit. Pertemuan itu mengubah segalanya. Antara pencarian dan perasaan yang tumbuh perlahan. Namun, apakah kebenaran yang Star cari akan membawa kedamaian atau justru menghancurkan segalanya?
Di Ottawa, kota metropolitan yang diselimuti salju hampir sepanjang tahun, dengan suhu harian rata-rata 1°C yang menjadi salah satu kota terdingin di dunia.
Bintang, gadis berusia enam belas tahun tinggal di sana dengan sang nenek, menjalani hari-harinya tanpa kedua orang tua yang berada jauh di Amerika.
Sejak usianya sembilan tahun, orang tuanya menitipkan Bintang pada sang nenek, dengan alasan pendidikan yang lebih baik.
Hingga sekarang Ia tak pernah memahami, kenapa harus berpisah sejauh ini? Tanpa dijenguk kembali.
Sejak tinggal dengan sang nenek, nama Bintang berubah menjadi Star. Panggilan bahasa Inggris dari namanya.
Pagi itu Star duduk di kelasnya sambil membuat musik, kegemarannya. Ia bernyanyi dengan suara yang mengalun pelan, hingga nyanyiannya berhenti ketika Rei muncul di depan mejanya.
Rei datang dengan senyum mengembang.
"Selamat pagi!" sapanya, lalu duduk di kursi samping Star.
Namun, Star tidak bergeming, ia masih kesal dengan cerita semalam di asrama: Rei mungkin akan pindah beberapa waktu lagi, karena ibu angkatnya sudah tidak sanggup merawatnya lagi.
"Star!" panggil Rei. Star hanya menoleh tanpa ekspresi, kemudian menunduk kembali, melanjutkan membuat musik seolah tak terusik oleh kehadiran Rei.
"Apa kau masih marah soal semalam?" tanya Rei, berusaha mengajak Star berbicara. Rei sendiri bingung, mengapa Star tidak menjawabnya, seolah sengaja menjauhkan diri.
Pertanyaan itu hanya menggantung di udara tanpa jawaban. Namun, Star masih menunggu, ingin tahu hal apa lagi yang akan Rei katakan.
"Aku di sini masih beberapa hari lagi, Star. Setidaknya mungkin sehabis ulangan, kau tidak perlu khawatir, aku akan tetap mengingatmu. Kita masih bisa berkomunikasi lewat telepon dan pesan nanti," bujuk Rei lembut.
Star hanya mendengarkan dalam diam. Ketika ia hampir membuka mulut untuk menjawab, seorang guru masuk dan kelas dimulai. Percakapan mereka terpaksa tertunda.
Sementara itu, Rei gelisah sepanjang pelajaran. Ia sulit fokus mendengarkan penjelasan guru karena pikirannya terus tertuju pada Star yang sejak tadi diam, membuatnya cemas.
Kehidupan Rei runtuh perlahan. Ayah angkatnya, satu-satunya keluarga yang ia punya, tengah menghadapi krisis rumah tangga. Istrinya hamil, dan kehadiran Rei di rumah itu kini dianggap beban.
"Kembali ke Indonesia," kata ibu angkatnya, tapi ke mana? Rei kehilangan orang tuanya bertahun lalu. Ottawa adalah rumah satu-satunya yang ia kenal. Kini, rumah itu menolaknya.
Rei tidak siap. Bagaimana mungkin ia pulang ke negara yang hampir tidak dia ingat? Sendirian. Tanpa keluarga. Tanpa rumah, dan yang terburuk ia harus meninggalkan Star. Gadis itu adalah teman yang benar-benar memahaminya. Tanpa Star, Ottawa terasa dingin, bagaimana dengan Indonesia nanti?
Bagi Star, Rei bukan sekadar teman. Ia adalah keluarga. Keluarga Star? Tidak ada yang tahu di mana mereka sekarang. Bahkan Star hampir tidak punya ingatan tentang mereka.
Yang Star tahu, mereka pernah ada di Amerika, tapi itu cerita lama informasi usang yang tak pernah diperbarui.
Neneknya yang mengasuhnya tidak pernah menjelaskan banyak. Hanya memberikan sebuah kalung dengan liontin bunga, dan secarik surat. "Jaga dia," tulis orang tuanya. Singkat. Tanpa alasan. Tanpa janji, dan kemudian mereka menghilang.
Dua tahun sebelumnya, nenek yang merawat Star menghembuskan napas terakhir, mungkin karena terlalu lelah bekerja dan mengurus banyak hal. Termasuk Star yang menjadi amanah yang harus dijaga, tanpa pernah tahu alasannya.
Setahun kemudian, pihak sekolah menghubunginya. Ada program asrama untuk siswa yang kehilangan wali. Star memenuhi syarat. Ia dijemput, dibawa ke gedung yang akan menjadi rumahnya yang baru.
Sejak saat itu, asrama adalah dunianya. Tanpa keluarga, hanya dengan teman-teman seangkatan dan kenangan yang perlahan memudar.
Begitu bel berbunyi, Rei meraih lengan Star. "Ayo." Satu kata. Tanpa penjelasan. Mereka melewati koridor yang ramai, meninggalkan gedung asrama. Star tidak bertanya. Ia tahu Rei butuh bicara.
Langkah mereka berhenti di tepi kanal Rideau. Air mengalir tenang, memantulkan cahaya sore. Kapal-kapal pesiar terparkir di dermaga, sementara perahu-perahu kecil meluncur perlahan di atas air.
"Apa kau sungguh akan pergi?" ucap Star tanpa mengalihkan pandangannya dari kanal.
"Ya." Suara Rei pelan. "Setelah ulangan aku akan pergi." Hening sejenak. Hanya suara air yang mengisi kekosongan. "Star ..." Rei menoleh, mencoba menatap wajah sahabatnya, "Apa kau akan baik-baik saja?"
"Bagaimana kau melihatnya sekarang?" tanya Star. Membalik pertanyaan.
"Aku percaya kau akan baik-baik saja. Kau di sini akan aman dan bahagia," ucap Rei, menahan kesedihan hingga suaranya bergetar dengan nada getir.
"Kebahagiaanku ada padamu, Rei. Bagaimana bisa aku bahagia kalau kau pergi?" Suara Star bergetar, kepalanya menunduk. Rei terdiam, tak tahu harus menjawab apa.
"Rei, apa kau tidak bisa tinggal di asrama sampai lulus? Lalu, kita bisa mulai kehidupan baru bersama," ujar Star penuh harap.
"Tidak bisa, Star." Rei menggeleng pelan. "Kalau aku tinggal di asrama, hutangku akan menumpuk. Aku tidak mau jadi beban lebih besar lagi."
"Maksudmu?" Star mengernyit, bingung.
"Asrama itu tidak gratis, Star." Rei menghela napas panjang. "Mommy angkatku sedang hamil. Dia butuh biaya untuk persalinan, dan keperluan bayi nanti. Dia ... dia sudah tidak mau aku tinggal di sana lagi─"
"Tapi kau sudah lama tinggal di sana, Rei!" Star menyela.
"Ya." Rei tersenyum pahit. "Tapi aku beban, Star. Beban yang terlalu berat untuk mereka." Tangannya mengepal, menahan gejolak di dalam dada.
"Daddyku, dia ... dia mencintai istrinya, dan istrinya membenci aku. Mereka bertengkar hampir setiap hari Sekarang.Gara-gara aku. Aku tidak bisa membiarkan pernikahan mereka hancur." Rei menatap langit yang mulai gelap.
"Jadi aku akan pergi. Daddy bilang dia akan mengantarku ke bandara. Tapi setelah itu." Suaranya menggantung. "Aku akan sendirian."
"Sendirian?" Suara Star hampir berbisik. "Kau akan ke Indonesia sendirian?" Rei mengangguk. Perlahan. Matanya berkaca-kaca, tapi ia menahan tangis. Star membeku. Tangannya gemetar.
"Kalau begitu." Star berbalik menatap Rei.
"Mungkin aku bisa ikut denganmu." Rei tersentak.
"Apa?" Star tersenyum kecil, mencoba santai meski jantungnya berdebar.
"Ikut ke Indonesia. Kita berdua." Rei menggeleng cepat. "Tidak Star, tidak bisa."
"Tidak Star." Rei menggeleng tegas. "Kau harus tetap di sini. Aku juga belum tahu akan tinggal di mana nanti. Aku tidak mau kau terjebak dalam masalahku atau." Suaranya bergetar. "Atau terancam bahaya." lanjutnya.
"Rei!" Suara Star meledak. Matanya sudah berkaca-kaca. "Kau pikir aku tidak takut? Kau pikir aku tidak khawatir kalau ikut denganmu?" Star melangkah maju, menatap Rei dengan tatapan yang menusuk.
"Tapi kau tahu apa yang lebih menakutkan? Membiarkanmu pergi sendirian! Ke negara asing, tanpa keluarga, tanpa teman, tanpa siapa pun!" Air matanya mulai jatuh. "Aku tidak bisa, Rei. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi."
Rei terdiam. Star benar, pergi sendirian memang lebih berbahaya. Tapi membawa Star? Itu artinya menyeret sahabatnya dalam ketidakpastian yang sama. Rei tidak bisa melakukan itu.
Keheningan menyelimuti mereka. Hanya suara dari air kanal, dan perahu yang lewat sesekali memecah sunyi. Keduanya terdiam, tak ada yang berani menghadapi kenyataan bahwa mereka akan berpisah.
Rei bukanlah nama aslinya. Nama aslinya Reisa, panggilannya Rei. Nama itu di berikan oleh pria yang menemukannya bertahun-tahun lalu, pebisnis Ottawa yang kebetulan singgah di Jakarta.
Malam itu di samping gedung terminal bandara Soekarno-Hatta, sang pria yang kemudian Rei panggil Daddy melihat seorang anak perempuan yang duduk sendirian. Usia sekitar empat tahun, mungkin lima.
Rambut kusut, baju lusuh, dan mata kosong menatap lantai. Tidak ada orang tua. Tidak ada yang mencari. Dia menunggu, berharap ada seseorang, siapa saja yang datang menjemput anak itu.
Tapi tidak ada. Ia lapor ke Avsec, ke pusat informasi, bahkan ke polisi bandara. Pencarian dimulai. Pengumuman berkali-kali mengudara.
Tapi bandara itu terlalu besar, terlalu ramai, terlalu bising. Tiga hari berlalu, tak seorang pun datang.
Setelah tiga hari menunggu, pihak bandara akan menyerahkan Rei ke panti sosial.
Bersambung ...

bintangpendar
14 Pengikut · 7 Novel