


oleh Eliyona · 87 Bab
Raka yang nyaris tersesat di hutan, diselamatkan oleh seorang gadis misterius bernama Wulan. Namun, Wulan tiba-tiba menghilang. Saat tiba di rumah neneknya, Raka dikejutkan dengan keberadaan seorang wanita tua yang terbaring tak berdaya bernama Mbah Sri dan sebuah lukisan tua yang memuat wajah yang sama persis dengan Wulan. Rasa penasaran membawa Raka pada sebuah pertanyaan, mungkinkah gadis penolongnya dan Mbah Sri adalah orang yang sama? Semakin dalam ia menyelidiki, benang-benang takdir yang terikat pada kutukan 'Gantung Siwur' akhirnya terkuak.
Baru pulang dari kampus, Raka dikejutkan dengan pertengkaran kedua orang tuanya.
Melalui sambungan telepon, Erna, ibunya, membalas ucapan sang ayah dengan keinginan tidak ingin dimadu.
Raka yang mendengar semuanya, terhenyak di tempat.
“Ini tidak mungkin.” Raka yang masih tidak percaya, mulai melangkah, mendekati Erna yang histeris. Terlihat sang ibu berjalan cepat masuk ke dalam kamar, saat menyadari keberadaan dirinya.
Dengan tergesa, Raka mengikuti langkah Erna. Ia lalu mengetuk pintu, berharap mendapat jawaban ‘kau hanya salah dengar’ dari ibunya.
Erna yang masih emosi, membalas ketukan pintu Raka dengan berteriak dari dalam kamar, “Pergi! Biarkan aku sendiri.”
Raka mencoba membuka pintu, tapi pintu terkunci. “Ini aku, Bu. Tolong buka, Raka ingin bicara.”
“Tidak ada yang perlu dibicarakan. Ibu ingin sendiri.” Suara Erna terdengar tegas di balik pintu. “Urus saja urusanmu sendiri. Urusan orang tua, anak tak perlu ikut campur. Pergi!”
Raka mendengkus kesal. Ia merasa percuma berdiri tanpa kepastian di depan pintu. Sampai akhirnya, ia memutuskan untuk masuk ke kamarnya.
“Aku harus menghubungi Ayah,” ucap Raka lebih kepada diri sendiri. “Aku tak ingin masalah ini berlarut. Ayah harus pulang.”
Dengan cepat ia mengambil gawai dan mencari nomor sang ayah. Tak lama telepon diangkat.
“Halo Ayah.” Raka mengucap salam.
“Iya, halo.” Terdengar balasan lembut seorang wanita, membuat Raka terdiam sejenak. Jantungnya seakan berhenti berdetak.
“Aku ingin bicara dengan Ayah,” ujar Raka dengan suara gemetar menahan gejolak.
“Maksudmu Mas Ratno?” Wanita itu malah balik bertanya dengan suara manja.
Raka tak lagi bisa menahan diri. "Berikan pada Ayah, cepat. Aku ingin bicara."
"Astaga kau kasar sekali, apa ibumu tidak pernah mengajarimu sopan santun?"
"Kau siapa? Kenapa gawai ayahku ada padamu?” Raka mulai kesal. Meski demikian, ia sebisa mungkin menahan diri untuk tidak emosi.
“Aku Karin, istri baru ayahmu. Saat ini Mas sedang menyetir. Kau bisa menghubungi lagi nanti.”
Klik, sambungan dimatikan. Raka mulai tidak bisa mengontrol emosi. Dia kembali menghubungi sang ayah, tapi panggilannya kali ini, ditolak.
“Wanita itu pasti yang mematikan gawai milik Ayah. Kurang ajar! Aku akan cari tahu siapa dia. Akan aku beri dia pelajaran.”
Raka beranjak dari tempatnya bersiap keluar kamar. Namun, ia mengendurkan langkah dan kembali duduk di sisi ranjang sambil mengacak rambutnya.
“Ke mana aku akan mencari wanita itu. Sedangkan aku hanya tahu namanya saja,” ucapnya bermonolog.
Raka membanting tubuh, bersiap untuk istirahat. Ia sangat lelah setelah seharian beraktivitas di kampus, apalagi setelah mendengar pertengkaran kedua orang tuanya.
Akan tetapi, baru saja menutup mata, Raka tersentak bangun. Suara dentuman musik yang sangat keras, mengganggunya.
“Sial,” umpatnya sambil beranjak.
Raka membuka pintu kamar. Suara musik terdengar lebih keras diiringi dengan tawa. “Siapa yang berpesta siang-siang begini,” gerutunya sambil berjalan menuju ke arah suara.
Sampai akhirnya langkah kaki Raka berhenti. Ia menoleh tajam saat melihat pemandangan yang membuatnya kembali bergejolak.
Di ruang tengah, Rania, adiknya yang masih berseragam sekolah, duduk bersandar di sofa. Di sebelahnya, Angga, pacarnya, terlihat santai dengan kedua kaki naik ke atas meja. Angga terlihat sedang memegang botol minuman.
“Apa-apaan ini?” bentak Raka.
Musik mendadak mati. Rania memutar tubuhnya kaget. “Mas Raka?”
“Ini rumah, bukan tempat dugem!” Raka menatap tajam ke arah Angga.
Angga berdiri. Lalu mendekat ke arah Rania sambil berbisik, “Bukankah kau bilang, kakakmu ada kegiatan di kampus?”
Rania menelan saliva, ia lalu menghampiri Raka dan berbicara, “Bukannya Mas ada acara sampai malam? Kok sudah pulang?”
“Acaranya ditunda karena belum dapat lokasi,” balas Raka sambil menarik lengan Rania kasar ke sisinya. “Kamu masih SMA, gak pantas kelakuanmu seperti ini. Sekolah yang bener, gak usah sok jadi anak gaul, apalagi pacaran sama laki begundal macam dia!” Raka menunjuk Angga dengan kesal.
“Keluar dari rumah ini sekarang juga sebelum aku benar-benar hilang kendali.” Raka menatap tajam Angga.
“Mas Raka, jangan begitu dong!” Rania mengempaskan tangan Raka. Ia mencoba menahan tubuh sang kakak supaya tidak mendekati pacarnya. “Angga ke sini karena aku yang minta. Ibu dan Ayah saja gak pernah over begini.”
Raka tidak peduli dengan rengekan sang adik. Dengan tegas dia kembali mengusir sambil menunjuk Angga.
“Cepat keluar!”
Angga mengangkat tangan, mencebik kesal, lalu berjalan ke pintu. Namun sebelum pergi, dia menoleh kepada Rania. “Ran, sorry, tapi kakakmu gak asyik.”
Brak!
Angga menutup pintu dengan kasar. Melihat kekasihnya pergi, Rania hanya bisa menatap ke arah pintu dengan mata berkaca.
Rania mengalihkan pandangan kepada sang kakak. Ia lalu mendorong tubuh Raka sambil berkata penuh emosi, “Mas kenapa sih? Selalu saja bersikap kolot. Aku ini sudah dewasa, Mas. Sudah tahu mana yang baik dan mana yang gak.”
“Mas sudah bilang, kamu itu masih SMA, Rania. Apa Angga itu ….”
“Pacarku, memang kenapa? Mas mau larang aku pacaran?” Rania memotong ucapan Raka. “Angga itu dari keluarga terhormat, Ibu saja sudah setuju aku pacaran sama dia.”
“Apa Ibu setuju?” Raka menatap penuh selidik. “Eh, kamu jangan bohong ya. Mas gak suka.”
“Terserah kalau Mas gak percaya!”
Rania mulai menangis dan lari ke kamarnya. Tak lama terdengar suara pintu yang dibanting keras.
“Aku benci Mas Raka! Aku gak suka Mas ada di sini!” Terdengar teriakan Rania dari balik pintu kamarnya.
Raka menghela napas panjang. Dadanya sesak. Ia merasa serba salah di rumahnya sendiri. Pelan-pelan ia menoleh ke arah pintu kamar orang tuanya. Pintu itu masih tertutup rapat.
“Apa Ibu masih di dalam ya? Kenapa dia tidak menegur Rania?” Raka berjalan menuju kamar orang tuanya. Ia ingin mengadukan tingkah adiknya.
Baru saja akan mengulurkan tangan untuk mengetuk, langkahnya mengendur, sang ibu tiba-tiba muncul di balik pintu.
“Ibu, baik-baik saja, kan?” Raka menatap mata sembap ibunya.
“Ya.” Erna mengacuhkan Raka, terus berjalan.
“Bu, tunggu.” Raka mengikuti langkah Erna. “Ayah tidak benar-benar selingkuh kan, Bu?"
Langkah Erna terhenti sejenak, ia mengalihkan pandangan, sorotan tajamnya begitu menusuk, membuat Raka merasa terintimidasi.
“Telingamu tidak rusak ‘kan? Apa kau tidak mendengar kalau aku tidak mau dimadu. Apalagi dengan wanita murahan seperti itu." Erna kembali melangkah.
"Ibu sudah menemani Ayah selama 20 tahun. Jangan biarkan wanita bernama Karin itu mengambil milikmu.” Raka terus mengiringi langkah kaki Erna sampai di teras.
“Ibu mau ke mana?” Raka terheran.
Belum sempat mendapat jawaban, sebuah mobil berhenti tepat di depan pagar. Seorang pria yang lebih muda dari ibunya turun dari mobil. Pria itu tersenyum, membuat Raka mulai berprasangka.
“Siapa dia, Bu?”
Erna memutar mata malas. Ia berjalan lebih cepat, masuk ke dalam mobil. Raka dengan cepat mengejar langkah sang ibu, tapi ucapan Erna membuatnya diam.
“Kalau ayahmu bisa, kenapa Ibu tidak?” Erna membuka pintu mobil dan masuk. “Ayo, kita pergi.” Erna memberi kode kepada pria muda itu.
“Tunggu!” Raka menarik lengan pria itu sebelum masuk ke mobil. “Kamu siapa?”
“Raka! Kembali ke kamarmu. Biarkan Ibu menyelesaikan urusan ini." Erna memerintah putranya, lalu memberi kode kepada teman prianya untuk masuk. "Ayo kita pergi."
Raka berusaha menghentikan, tapi Erna mendorongnya dengan pintu mobil.
“Kamu ini ngeyel, ya. Seperti ayahmu."
“Ibu tidak boleh membalas Ayah. Kalau Ibu tetap pergi, aku juga akan pergi dari rumah.” Raka mulai mengancam.
“Terserah. Ibu tidak peduli.” Erna menutup kaca mobil.
Raka berusaha mengejar mobil yang membawa Erna. Namun, mobil itu sudah melaju dengan cepat.
“Kenapa keluargaku jadi begini.” Lirih Raka.
Di kamar Raka mulai kesal dan mengemasi pakaiannya.
“Aku ingin menenangkan diri. Aku harap dengan kepergianku, Ibu dan Ayah akan lebih peduli dan tidak mementingkan ego sendiri.”
Raka berjalan menuju ke garasi. Tanpa sengaja ia berpapasan dengan Rania.
"Kalau mau pergi, pergi sana, sekalian saja gak usah kembali," ucap Rania ketus.

Eliyona
104 Pengikut · 10 Novel