


oleh Agil Rizkiani · 14 Bab
Garuda, pemuda kampung Tanah Hitam yang selalu menjadi bahan lelucon teman seperguruannya. Niat hati ingin belajar bela diri, justru di sana dirinya hanya dijadikan pesuruh sang guru dan murid lainnya. Hanya karena kasta dan status Garuda yang tak jelas asal-usulnya membuat lelaki itu selalu dikucilkan. Apalagi sang guru telah melabelinya sebagai pemuda 'kosong' karena tidak piawai bela diri. "Jika kamu memang seorang pendekar, seharusnya kamu menjaga kampung Tanah Hitam ini, bukan membuat kekacauan! Menjadi seorang pendekar bukanlah hal yang mudah, apalagi kamu masih sangat muda, Garuda. Pergunakanlah ilmumu itu dengan baik bukan untuk menyakiti orang lain!"
"Kamu, memang pantas dengan pekerjaan itu, daripada bermimpi menjadi seorang pendekar di Tanah Hitam ini."
Seorang lelaki, dengan iras yang begitu sombong menatap rendah orang yang tengah menaruh ember yang berisi air-air itu.
Mendengar hal yang selalu diulang membuat Garuda sudah terbiasa. Ia kembali mengangkat ember air dan mengantarkan ke dalam bilik-bilik kamar mandi dan dapur.
Merasa olokannya tidak mendapat respon, Anak Seno, seorang anak menteri, merasa tidak puas dan menendang Garuda hingga jatuh.
Ia tertawa senang melihat kondisi Garuda yang basah dengan air.
Hal itu mengundang gelak tawa dari beberapa calon-calon pendekar yang tengah belajar bela diri di perguruan Naga Putih.
Perguruan Naga Putih memang sangat terkenal di kampung Tanah Hitam, karena telah melahirkan banyak sekali pendekar yang memiliki ilmu bela diri cukup tinggi. Bahkan sampai terkenal ke kampung-kampung lain karena kesaktiannya itu.
"Ayo-ayo waktu istirahat sudah selesai kita berlatih lagi!"
Setelah menertawakan Garuda yang basah kuyup, mereka langsung saja meninggalkannya. Bahkan sebelum pergi pun para pemuda kampung itu tak henti-hentinya menghina Garuda lagi sebagai lelucon mereka.
Garuda segera menaruh ember tersebut, lalu dirinya ikut masuk ke dalam barisan. Namun, saat dirinya masuk dalam barisan sang guru memanggil.
"Memangnya kamu sudah mengisi semua bilik-bilik kamar mandi, Garuda?"
"Belum, Guru!"
Bahu Garuda ditepuk oleh sang guru, seperti biasa di saat yang lain latihan ilmu beladiri. Justru Garuda diminta untuk mengisi bilik-bilik kamar mandi.
Walaupun Garuda sudah tiga bulan masuk ke dalam perguruan Naga Putih, tidak sekalipun dirinya dilatih bela diri.
Ia hanya menjadi pesuruh sang guru dan juga para murid lainnya terutama sang anak menteri.
"Mengisi air-air di bak mandi, itu juga suatu latihan bela diri untuk melihat daya tahan tubuhmu Garuda. Cepat lakukan!"
Mau tidak mau akhirnya Garuda pergi, melakukan apa yang diminta oleh sang guru. Hal tersebut kembali lagi membuat murid-murid lain tertawa.
Perlakuan tidak adil didapatkan Garuda. Hanya karena kasta dan asal-usulnya yang tidak jelas. Sejak kecil dirinya mendapatkan perlakuan yang berbeda.
Orang-orang memanggilnya sebagai anak batu, karena saat bayi dirinya ditemukan di celah-celah batu besar. Dirinya tumbuh dari rasa kasihan para warga kampung.
Berpindah-pindah dari satu keluarga ke keluarga lain, hingga akhirnya setelah bisa mandiri. Garuda memilih untuk hidup sendiri.
Garuda akhirnya memilih untuk ke sungai. Melakukan apa yang diperintahkan oleh sang guru. Mengisi bak air.
Dari kejauhan, Garuda melihat teman-temannya yang lain tengah berlatih, membuat ia mengikuti gerakan secara diam-diam.
Memang hal tersebut seringkali dirinya lakukan, karena memang Garuda sadar apabila sang guru memang tidak menginginkannya ikut berlatih.
"Hei."
Garuda terkejut saat bahunya ditepuk seseorang. Sampai membuatnya tersungkur ke tanah.
"Maaf maaf, ini aku hanya memberikanmu makanan saja bukankah dari tadi kamu tidak berhenti mengisi air-air di beli-beli kamar mandi ya?"
Wanita itu menyodorkan sepiring makanan dan juga minuman. Merasa kasihan kepada Garuda, atas perlakuan semua orang.
"Terima kasih, Nawang."
Setelah memberikan makanan secara diam-diam, Nawang segera pergi. Takut, jika ayahnya tahu bisa-bisa akan kembali menambah masalah untuk Garuda.
Garuda makan dengan lahap, ia sangat lapar.
Nawang adalah putri dari sang guru, wanita itu sangat baik kepadanya. Selama ini wanita itu dengan tulus mau berteman dengan Garuda.
Dari balik pepohonan ada yang mengawasi Garuda. Tangannya mengepal, sorot mata penuh kebencian.
***
Setelah dari perguruan, Garuda segera pulang. Betapa terkejutnya ia melihat kebunnya hancur. Sayuran yang seharusnya seminggu lagi dipanen pun luluh lantak. Mata lelaki itu memerah seketika.
Sangat jelas, jika pelakunya bukan hewan. Melainkan ulah manusia. Sumber mata pencahariannya sudah hancur.
Garuda merasa begitu sedih, tiba-tiba seekor kuda mendekat. Seolah-olah ia mengetahui tentang kesedihan yang dirasakan oleh tuannya itu.
"Hitam, siapakah yang tega menghancurkan kebunku ini?"
Garuda mengusap kepala dari hewan berkaki empat itu. Hanya Hitamlah temannya. Kuda pemberian sang guru, saat yang lain diberikan kuda yang sehat dan juga lincah, berbeda dengan dirinya diberikan kuda yang sakit.
Namun, karena ketelatenan dan keyakinan Garuda mengobati kuda tersebut akhirnya Hitam bisa kembali lagi seperti sedia kala.
"Baiklah, ayo sekarang kita ke pasar membeli bibit-bibit baru lagi."
Garuda hanya bisa menghibur dirinya sendiri. Untung saja, uang sisa panen bulan lalu masih ada.
Menjadi pendekar bagi para pemuda di kampung Tanah Hitam adalah sebuah kebanggaan. Jika orang tua memiliki anak laki-laki maka harus dijadikan pendekar agar ia bisa bekerja di istana. Bahkan jika beruntung akan diangkat menantu oleh sang raja. Garuda ingin merubah nasibnya.
Saat tengah melintasi hutan-hutan lebat, Garuda dihadang beberapa orang.
"Anak Seno, ada apa kau menghadangku?" Garuda langsung saja turun dari kudanya.
"Garuda, kamu itu pemuda kosong! Jangan bermimpi untuk menjadi seorang pendekar, apalagi menjadi pendamping Nawang, asal kamu tahu Nawang sudah dijodohkan denganku!"
Anak Seno memerintahkan beberapa anak buahnya itu, untuk memegangi tubuh Garuda.
Lelaki itu langsung saja memukul Garuda tanpa ampun. Dengan mudah Anak Seno membabi buta.
Garuda bukan tidak melakukan perlawanan, tetapi jumlah mereka sangat tidak seimbang. Membuat Garuda mudah dikalahkan. Dihajar mati-matian.
"Cukup!"
Anak Seno mendekati Garuda, lalu ia memilih untuk mencekik Garuda dengan tangan kekarnya.
Rasa sakit hatinya kepada Garuda, membuat Anak Seno sangat murka. Wanita yang ia cintai, justru lebih memperhatikan pemuda kosong itu dari pada dirinya.
Garuda mencoba melawan dengan tenaga yang tersisa, wajahnya sudah memerah. Bahkan, dadanya pun telah terasa sesak. Namun, sepertinya Anak Seno semakin puas melihat itu.
Melihat Garuda yang hampir mati itu membuat Anak Seno tertawa, lalu berkata, "Ini adalah sebuah peringatan yang harus kau ingat, Nawang sudah dijodohkan denganku."
Anak Seno meludahi wajah Garuda berulang kali. Menunjukkan jika dia tidak sebanding dengan dirinya.

Agil Rizkiani
1 Pengikut · 1 Novel