"PULANG!"
Perempuan ini terus berlari dari sesosok wanita berkebaya hitam yang mengejarnya di belakang. Wanita itu melayang. Kain hitam yang dikenakannya sedikit berantakan dengan darah yang mengalir dari kakinya.
Zylianna Seiyandra tidak bisa melihat dengan jelas apa yang ada di depannya. Hutan gelap berkabut itu membuatnya kesulitan untuk melihat dengan jelas.
Pepohonan yang menjulang tinggi di kiri dan kanannya tampak berbeda, tidak ada dahan, tidak ada akar mencuat dari tanah, bahkan tidak ada daun. Semua pohon yang Lianna lewati hanya memiliki batang yang besar dan berwarna hitam.
“Lianna ….”
Sosok di belakang sana terus memanggil nama Lianna. Tidak hanya suara sosok itu, Lianna juga bisa mendengar suara-suara lain yang entah berasal dari mana. Memanggil-manggil namanya dengan lirih.
Perempuan ini berusaha untuk tetap fokus dengan keadaan di depannya. Dia mulai merasa aneh dengan yang ada di sekitar. Pohon-pohon besar, tinggi, dan hitam itu sama, tidak ada bedanya. Jalanannya juga terasa sangat jauh, seolah tidak berujung. Lianna bertanya-tanya, apakah sebenarnya aku sedang berlari di tempat?
Lianna sudah tidak sanggup lagi berlari. Napasnya terengah-engah sejak tadi. Keringat pun membanjiri pelipisnya. Semakin lama, kakinya semakin berat untuk melangkah. Perlahan-lahan, larinya mulai memelan, lalu berhenti.
“B-berhenti!” lirih Lianna. Suaranya sudah serak. Dia berulang kali berteriak, meminta sosok wanita itu untuk pergi dan berhenti mengejarnya, tapi sosok itu terus memintanya untuk pulang.
“Gimana?” tanya sosok itu. “Sekarang kamu udah ngerti, kan? Kamu gak akan bisa kembali ke dunia itu. Kamu harus pulang!”
Lianna menggeleng, lalu dia menatap tajam ke arah wanita itu. “Tempat terkutuk ini bukan rumah aku!” katanya tegas.
“Aku gak peduli apa pun yang kamu bilang, Lianna. Sebenci apa pun kamu dengan tempat ini, pada akhirnya kamu akan tetap pulang.”
Tiba-tiba saja semuanya berubah. Lianna seolah berpindah tempat ke rumah neneknya. Adegan demi adegan di masa lalu kembali terulang. Lianna seperti mengalami lagi hal yang membuatnya trauma.
Lianna yang tidak sanggup melihat orang tuanya meninggal mulai menjerit keras. Di saat yang sama, tubuhnya berguncang, seperti ada seseorang yang sedang berusaha membangunkannya dari mimpi buruk.
“LIANNA! BANGUN!”
***
Avilio membuka matanya lebar-lebar. Pandangannya langsung mengarah pada langit-langit kamarnya. Dia bangkit dari posisi berbaring, lalu perlahan melihat apa pun yang ada di sekitar.
“Huft!”
Dia mengembuskan napas, seolah lega kalau dirinya berada di kamar ini. Avilio menoleh ke arah jam digital yang ada di nakas samping kasur. Jarum pendek sudah menunjukkan angka dua, sedangkan jarum panjangnya baru saja melewati angka enam.
Lelaki itu bergegas duduk di depan laptopnya. Dia langsung membuka situs berbagi video dan mencari sebuah video rekaman yang selama satu tahun ini telah dia tonton berkali-kali.
Matanya kembali berkaca-kaca saat dia menyaksikan video tersebut. Dadanya kembali merasa sesak. Bahkan air matanya juga mengalir perlahan. Segera dia menyeka air yang melintasi pipinya. Dia menghentikan tontonannya.
Beberapa bulan terakhir, Avilio berusaha masuk ke akun miliknya di situs berbagi video tersebut, sayangnya selalu gagal. Dia sama sekali tidak ingat kata sandinya. Ingin sekali dia menghapus rekaman itu dan melupakannya, tapi dia tak bisa melakukan itu dengan mudah.
Sudah banyak yang menonton dan berkomentar. Banyak yang penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi kepada orang-orang yang ada pada rekaman tersebut. Mereka juga mempertanyakan keasliannya.
Meski tahu banyak orang yang menanyakan kabar dan kelanjutan dari video itu, Avilio memilih untuk tetap diam dan membiarkan orang-orang bertanya-tanya sendiri.
Avilio sudah menunjukkan videonya pada Lianna beberapa waktu lalu. Tentu saja saat itu Lianna sangatlah terkejut. Bahkan perempuan itu juga menangis saat melihat teman-teman Avilio pergi satu per satu.
Tidak ingin berlarut dalam kesedihan, Avilio menutup laptopnya. Dia memikirkan tentang mimpi yang dia alami saat tidur tadi. Dia kembali bertemu dengan teman-temannya di sana. Padahal sudah satu tahun ini dia tidak mengalaminya. Kenapa mimpi itu kembali datang? Apakah ada pesan yang ingin mereka sampaikan padanya?
Beberapa menit yang lalu, saat Avilio terlelap, entah bagaimana dia terbangun di sebuah hutan yang tidak asing baginya. Dia kembali ke sana, berdiri di depan gua Jepang yang pernah di datanginya kala itu.
Avilio melihat teman-temannya berdiri di mulut gua. Mereka seperti sedang berbicara padanya, tapi tanpa suara. Dia tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan dan tidak mengerti dengan gerak bibir mereka.
Saat hendak mendekat, tiba-tiba saja mulut gua runtuh, menimpa semua temannya. Avilio menjerit keras sembari berlari menghampiri. Dengan mata kepalanya sendiri, dia melihat teman-temannya tertimbun bebatuan dan tanah yang ada di atas mulut gua.
Tidak ada yang selamat. Mereka mati mengenaskan dengan kondisi yang sama persis, seperti terakhir kali Avilio melihat mereka beberapa tahun lalu.
Dalam mimpi itu, Avilio tidak bisa melakukan apa-apa. Sekeras apa pun dia berusaha, bebatuan dan tanah yang menimbun mereka tidak bisa disingkirkan. Dia hanya bisa menangis sembari memanggil nama mereka satu per satu.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara seorang pria dari arah belakang. Saat Avilio membalikkan badan, dia terkejut melihat sosok pria yang pernah dilihatnya di hutan itu. Pria berpakaian hitam yang pernah membantu dia dan teman-temannya keluar dari hutan ini.
Dengan suara serak dan agak berbeda dengan terakhir bertemu, pria itu meminta Avilio untuk kembali datang ke hutan. Ada hal yang harus Avilio lakukan di sana. Dia juga berjanji akan mempertemukan Avilio dengan teman-temannya yang telah tiada.
Tentu saja Avilio tergiur. Dia sangat ingin bertemu dengan teman-temannya. Namun, belum juga dia membalas perkataan pria itu, tiba-tiba saja semuanya berubah dan dia terbangun dari tidurnya.
Avilio masih ingat jelas kata terakhir yang pria itu katakan. Dia memintanya untuk ... ‘pulang’.
***
“Hati-hati, Yo,” ucap Lianna pada Avilio yang sedang menyetir. Mereka baru saja tiba di kawasan hutan yang pernah Avilio datangi dulu.
Avilio tak membalas ucapan Lianna yang duduk di sampingnya. Matanya fokus menatap jalanan di depan sana.
“Kamu masih inget jalan ini?” Lianna kembali berbicara. Dia berusaha mencairkan suasana hening di dalam mobil.
Avilio mengangguk pelan, dia tak menjawab.
Lianna menoleh ke arah lelaki itu. Dia bisa melihat dengan jelas kalau tangan Avilio yang sedang memegang setir bergemetar. Raut wajahnya juga tegang meskipun dilihat dari arah samping.
Reaksi Avilio membuat Lianna ragu untuk melanjutkan perjalanan mereka. Dia bertanya, “Kamu yakin masih mau lanjut? Kamu udah gemeteran banget, loh.”
“Kita udah sampai di sini, gak mungkin buat balik lagi,” jawab Avilio tanpa menoleh.
“Tapi—”
“Aku cuma ngerasa deja vu aja, Li. Ingetan aku tentang hari itu masih jelas banget. Semua memori waktu itu kayak berputar lagi di otak aku, tapi aku gapapa, kok. Kamu tenang aja!” jelas Avilio.
“Gapapa gimana?” tanya Lianna. “Tangan kamu tremor, tuh.”
Avilio menatap tangannya sejenak, lalu saat dia kembali menatap jalanan, dia terkejut saat bayangan hitam melintas dengan cepat di depan mobilnya. Alih-alih mengerem, Avilio malah menginjak gas. Mobil pun melaju cukup kencang.
“AVILIOOOO!” teriak Lianna panik sembari berpegangan pada assist grip. “REEEEEM!”
“AKU GAK BISA REM!” Avilio tak kalah panik saat dia menyadari pedal remnya tak berfungsi. Meski sudah menginjaknya berkali-kali, mobil tak kunjung berhenti.
Lianna masih terus berteriak. Dia berulang kali meminta Avilio menginjak rem dan menghentikan mobilnya. Sayangnya, Avilio tidak bisa melakukan itu. Entah kenapa, tiba-tiba saja remnya blong.
Avilio berusaha mengendalikan setir agar tetap berada di jalur jalanan. Namun, semakin lama laju mobil semakin kencang, terlebih saat mereka tiba di sebuah turunan.
“AAAAAA ....”
“AAARGGHH!!!”
Bersambung.