Zylianna Seiyandra baru saja tiba di depan rumah peninggalan neneknya. Dia turun dari mobil, menyusul orang tuanya yang lebih dulu keluar.
Dia sedikit meregangkan tubuh yang kaku setelah melewati perjalanan lebih dari tiga jam. Suara erangan halus keluar dari mulutnya. Bersamaan dengan itu, mata Lianna terangkat saat melihat rumah berlantai dua yang ada di depan sana.
Rumah tersebut bergaya klasik. Memiliki atap berbentuk runcing dengan hiasan menara kecil di bagian tengahnya. Beberapa jendela berkaca buram karena debu, di baliknya tergantung tirai yang tampak usang.
Dinding rumah ini sudah kusam, bahkan catnya saja sampai terkelupas akibat dimakan waktu. Ditambah halaman rumah dipenuhi rumput liar yang tumbuh tinggi. Pemandangan ini terkesan angker, apalagi sudah ditinggalkan lama.
Terlihat dari arah gerbang utama, sebuah pohon besar berdiri di pojok tembok pembatas belakang. Lianna bergidik saat melihat pohon itu. Kelihatannya menyeramkan, pikir dia.
Tak sengaja matanya melihat beberapa warga yang sedang menatapnya dengan aneh. Mereka tampak saling berbisik, seperti sedang membicarakannya.
Ayahnya—Andra, juga menyadari tatapan warga yang ada di sana. Tak ingin membuat istri dan putrinya tak nyaman, dia segera mengajak mereka untuk masuk ke rumah tersebut.
Ketika pintu berhasil dibuka, aroma debu langsung menusuk hidung hingga membuat Lianna terbatuk-batuk. Matanya membelalak kaget saat melihat betapa kotornya ruang utama.
Beberapa barang terlihat tertutup kain putih yang sama kotornya dengan lantai yang dia pijak. Sarang laba-laba menghiasi langit-langit dan sudut-sudut ruangannya. Meski sangat kotor, tetapi tidak ada bagian dalam rumah yang rusak.
“Bagian dalamnya masih bagus, kenapa Ayah sama Mama gak ngisi rumah ini aja?” tanya Lianna heran.
Andra menjawab, “Banyak hal yang harus dipertimbangkan, Li.”
“Lili,” panggil Seira dengan lembut.
Lianna langsung menoleh ke arah ibunya yang berdiri tak jauh darinya.
“Gimana kalau kamu cek lantai dua? Ada banyak kamar di atas, kamu bisa pilih kamar kamu sendiri,” usul Seira.
Lianna mengangguk lalu melangkahkan kaki menuju anak tangga yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Baru selangkah naik, Lianna terkejut saat tangannya menyentuh pegangan tangga. Tampak berdebu sekali. Dia mengangkat tangan kemudian menepuk-nepuknya, mencoba membersihkan debu itu.
Setibanya di lantai atas, ruangan yang cukup luas menyambut kedatangannya. Terlihat seperti ruang keluarga. Sebuah sofa panjang membentuk huruf U terlihat jelas meski ditutupi oleh kain putih yang sudah kotor.
Perempuan itu menelusuri setiap ruangan yang ada. Dia menyadari kalau lantai dua ini memiliki tiga kamar tidur yang dilengkapi dengan kamar mandi masing-masing. Ada juga dua ruangan lainnya.
Lianna membuka pintu yang berada di pojok ruangan. Tidak ada apa pun selain tangga menuju loteng. Perlahan, kaki Lianna menginjak anak tangga satu per satu.
Matanya menyisir setiap sudut loteng. Ruangan itu gelap, tapi sinar matahari yang masuk melalui jendela-jendela yang ada di sana cukup menerangi beberapa bagian.
Terlihat sebuah sakelar lampu yang tidak jauh dari tempat Lianna berdiri. Dia segera menyalakan lampu di ruangan ini.
Pencahayaan terang membuat semua yang ada di loteng terlihat. Rak-rak tertutup kain putih berdiri di pojok ruangan. Sebuah sofa panjang juga diletakkan di sana. Sepertinya, loteng ini bukan gudang, tapi tempat khusus untuk bersantai, pikir Lianna.
Tak sengaja, matanya melihat sebuah telepon tua yang tergeletak di atas meja panjang. Disatukan dengan beberapa benda lainnya yang sudah berdebu.
Rasa penasaran membuat Lianna mendekatinya. Untuk pertama kali, dia melihat benda seperti itu. Meski kotor karena debu, Lianna mencoba menempelkan jarinya di salah satu lubang di telepon tersebut lalu dia memutarnya.
Benda itu berderit pelan, menghasilkan suara klik-klik-klik saat kembali ke posisi semula. Lianna terkejut lalu tertawa kecil karena suara tersebut terdengar seperti mainan rusak.
Seusai memuaskan rasa penasarannya, perempuan ini mengalihkan pandangan ke arah rak. Dia menarik kain kotor yang menutupinya. Terlihat banyak buku yang berjejer rapi. Lianna menyentuh buku-buku itu.
Tak sengaja matanya melihat sebuah buku berjudul Upadésa Wengi Nyiar Geutih. Dia mengambil buku tersebut. Kening perempuan ini mengerut saat membaca judulnya. Apa artinya? Tanyanya dalam hati.
Buku yang dia pegang cukup tebal dan berat. Sampulnya berwarna merah pekat, seperti warna darah. Uniknya, dari sampul depan hingga ke sampul belakang, terdapat gambar timbul berupa batik kuno berwarna hitam yang membentuk burung gagak. Namun, Lianna tidak menyadari bentuk gambar tersebut.
Perlahan, Lianna membuka buku tersebut. Semua tulisannya menggunakan huruf-huruf yang sangat asing baginya. Karena benar-benar tak mengerti dengan semua tulisannya, dia menaruh kembali buku itu lalu melihat-lihat benda lainnya.
Hari ini, mereka akan membersihkan rumah. Tentu saja rumah sebesar ini tidak bisa dibersihkan oleh tiga orang saja. Seira menghubungi jasa layanan kebersihan, dia meminta orang-orang itu untuk membantu.
Beberapa barang yang ada di rumah peninggalan nenek masih cukup bersih, rapi, dan tidak rusak karena tertutup kain putih. Bersama jasa layanan kebersihan, mereka merapikan seisi rumah.
Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore, Lianna merasa lelah setelah beberapa jam membereskan loteng. Dia sendiri yang memilih untuk membenahi tempat itu bersama seorang perempuan dari jasa layanan kebersihan. Saat ini, perempuan tersebut sedang pergi menemui rekannya di lantai bawah.
Lianna memutuskan untuk membaringkan tubuhnya di sofa yang ada di sana. Rasa lelah membuatnya mengembuskan napas kasar. Baru kali ini dia terjun langsung membersihkan ruangan yang cukup luas ini.
Padahal sebelumnya, saat masih tinggal di kota, dia tidak pernah melakukan hal tersebut. Seira lebih memilih untuk mempekerjakan beberapa perempuan untuk membantunya mengurus rumah. Ibunya itu tidak pernah menyuruh Lianna untuk mengepel atau melakukan pekerjaan rumah lainnya.
Mulai hari ini, dia harus terbiasa mandiri. Ekonomi keluarganya sedang tidak baik-baik saja, tentu mereka tidak akan mempekerjakan pembantu untuk mengurus rumah.
Rasa lelah membuat Lianna mengantuk. Dia menyandarkan tubuh lalu memejamkan matanya, bermaksud untuk istirahat sejenak. Namun, baru saja terlelap selama beberapa menit, tiba-tiba suara benda jatuh yang terdengar cukup kencang membangunkannya.
“Apa itu?!” tanyanya terkejut. Dia bangkit dari posisi duduknya.
“Kak Fara?” Lianna memanggil nama perempuan dari jasa layanan kebersihan yang tadi membantunya membersihkan loteng. Akan tetapi, tidak ada sahutan dari lantai dua ataupun dari arah lain.
Lianna melihat ke sana kemari, memastikan di tempat itu tidak ada benda yang terjatuh. Setelah yakin suara tersebut bukan dari sana, dia memutuskan untuk turun ke lantai dua.
Satu per satu ruangan diperiksa, hingga akhirnya dia berhenti di suatu ruangan yang tidak jauh dari tangga. Terlihat sebuah lemari kayu tua berdiri kokoh di sana. Kain putih kotor yang semula menutupinya kini terjatuh di lantai, beserta dengan sebuah kotak kayu yang jatuh terbalik.
Lianna memandang seisi ruangan. Empat jendela yang ada di ruangan ini tertutup rapat. Ventilasi yang ada juga tidak begitu besar. Plafon tidak ada yang rusak atau bolong.
Dari kaca jendela yang begitu kotor, Lianna masih bisa melihat ke arah luar sana. Dia pastikan, tak ada angin sama sekali. Bagaimana bisa kain putih kotor yang semula menutupi lemari kayu ini tiba-tiba saja terjatuh?
Perempuan itu tak banyak berpikir. Dia mengambil kotak kayu itu, lalu pergi dari sana. Dia hendak melangkah ke lantai satu untuk menunjukkan benda tersebut pada orang tuanya. Namun, baru saja dia menginjak tiga anak tangga, tiba-tiba ....
BRAAKK!
Bersambung.