


oleh Dacytta Peach · 35 Bab
Sebelum membaca Season 2, baca terlebih dahulu Gelandangan yang Kubeli Ternyata Konglomerat Season 1 _________________ Karena dihina perawan tua dan selalu dibanding-bandingkan di dalam keluarganya, Nisa nekat membayar seorang pria untuk dijadikan suami pura-pura. Nisa rela membongkar seluruh tabungan miliknya dan mencari pria ideal untuk membungkam kejulidan keluarganya. Hingga pada akhirnya ia bertemu dengan Bram, pria pengangguran yang bersedia menjadi suami pura-pura. Akankah semuanya berjalan lancar sesuai dengan keinginan Nisa? Bagaimana reaksi Nisa dan keluarganya setelah tahu jika ternyata Bram—si suami pengangguran itu ternyata kaya raya dan cucu dari sultan perkebunan cengkeh?
"Wah, bagus itu." Bram berseru, wajahnya mendadak bersinar, "kita temui saja beliau. Aku juga ingin tahu seperti apa wajah ayahmu sekalian minta doa restu soal hubungan kita."
Nisa menatap Bram, wajahnya masih sendu seperti tadi. Ratih menghela napas, ia bangkit berdiri dari duduknya.
"Nak Bram, kalo memang nggak jodoh jangan dipaksakan." Ratih berkata kemudian, "hubungan kalian dari awal sudah dipaksakan. Ibu yakin baik kamu maupun Nisa pasti tertekan. Lebih baik sudahi saja Nak, jangan berpura-pura lagi. Besok kami akan pergi dari hotel ini, kami tidak ingin menumpang terus sama kamu."
"Tapi Bu, aku dan Nisa—"
"Sudah Nis, ayo kita pergi." Ratih menginstruksi Nisa untuk meninggalkan ruang kamar milik Bram. "Biarkan Nak Bram istirahat, maaf sudah mengganggu waktumu Nak. Permisi."
Ratih lantas menggandeng tangan Nisa untuk pergi dari ruangan itu. Bram ingin mencegah namun sepertinya situasi tidak memungkinkan.
Sementara itu Nisa pergi ke kamar ibunya. Ia bingung karena ada pesan yang mengaku ayahnya dan menginginkan untuk bertemu dengannya.
"Kamu yakin itu nomer ayahmu?" tanya Ratih harap-harap cemas.
"Iya Bu, dia bilang kalo dia ayah. Nih pesannya, coba Ibu baca sendiri." Nisa menyodorkan ponsel, menunjukkan pesan singkat yang dikirim oleh pria tersebut.
Ratih menutup mulut, matanya kembali berkaca-kaca manakala melihat foto profil nomer tersebut. Ya, foto suaminya yang gagah dan masih tampan meskipun sudah terlihat tua dan kusam.
"Ini foto ayahmu Nis," gumam Ratih disela-sela tangisnya yang perlahan pecah.
"Iya Bu," angguk Nisa sambil mengamati foto itu sekali lagi. Ya, sudah lama mereka berpisah kurang lebih lima tahun lamanya.
"Temui dia Nak," ucap Ratih setelah menghapus air matanya. "Ayahmu mungkin rindu sama kamu sehingga menghubungimu diam-diam seperti ini."
"Ibu tidak ingin bertemu dengannya?" tanya Nisa sambil memandang wajah ibunya.
"Tidak Nak, pengkhianatan yang ia beri pada ibu belum sembuh sampai sekarang. Meskipun begitu jangan pernah membenci ayahmu ya Nak. Apa pun alasan dia meninggalkan kita, tak seharusnya seorang anak membenci ayah. Tanpa ada ayahmu, mustahil kau lahir di dunia ini." Ratih menasehati panjang lebar seraya mengelus kepala putrinya.
Nisa terdiam, walau berat akhirnya ia menganggukkan kepala. Mungkin ada sebagian kata-kata ibunya yang tidak ia setujui namun kembali pada baktinya pada sang ibu, tidak ada salahnya untuk menurut.
Pagi menjelang siang itu akhirnya Nisa pamit pada ibunya untuk pergi menemui sang ayah. Sesuai petunjuk, ayahnya meminta bertemu di salah satu restoran ternama di kota tersebut.
Sementara itu Bram sama sekali tidak bisa konsentrasi dengan pekerjaannya. Anjuran ibu mertuanya dirasa sangat begitu mengganggu.
"Sudah, kalo memang Tuan ingin serius dengan hubungan itu sebaiknya Tuan bicara baik-baik sama ibu mertua. Bilang sama beliau kalo Tuan berubah haluan dan ingin bersungguh-sungguh dengan anaknya." Alex memberi saran, ikut pusing lantaran sang tuan selalu saja melimpahkan kemarahan terhadap dirinya dengan alasan yang tidak jelas.
"Memangnya harus begitu ya?" tanya Bram sambil menoleh ke arah Alex. Pria itu sedari tadi hanya menopang dagunya dengan tatapan malas.
"Iya," angguk Alex dengan serius. "Setidaknya yakinkan mereka. Jika kau tidak meyakinkan, mereka akan menganggap bahwa semuanya hanya sandiwara saja."
Bram diam beberapa saat, menghela napas panjang ia akhirnya menganggukkan kepala.
"Baiklah, aku akan mencobanya sekarang." Bram bertekad sambil bangkit dari duduknya. "Btw, makasih ya sarannya. Terkadang ... kamu jadi manusia juga ada gunanya."
Bram tersenyum manis, dengan enteng ia lantas pergi dari kamarnya menuju ke kamar ibu mertua.
"Bah, emang selama ini aku bukan manusia apa?!" gumam Alex mengerutkan kening. Menggeleng sejenak, ia lalu berdecap. "Begitulah orang kaya, kalo sudah dapat tentu saja tidak lupa merendahkan manusia lainnya."
***
Siang menjelang sore itu Ratih mengemasi barang-barang miliknya. Ia berencana akan pergi dari hotel itu bersama Nisa dan memilih untuk mencari kontrakan baru.
Bagi Ratih tidak enak rasanya hidup bergantung pada menantunya tersebut, terlebih hubungan dia dengan anak perempuannya hanyalah sandiwara yang sudah mereka rencanakan sebelumnya.
Suara bel berbunyi, mengalihkan perhatian serta lamunan-lamunan panjang yang menggelayuti pikiran Ratih saat ini.
Beranjak berdiri, wanita itu berjalan mendekat ke arah ke pintu. Melihat sejenak ke arah layar video yang dipergunakan untuk melihat siapa tamu yang datang, Ratih akhirnya membukakan pintu.
"Nak Bram?" gumam Ratih terheran-heran. "Ada apa?"
Bram menarik napas panjang, ia menatap ibu mertuanya dengan tatapan serius lagi tajam.
"Bu, boleh aku bicara sama Ibu?"
Ratih masih diam, ia menengok kiri dan kanan terlebih dahulu baru mengangguk. "Baiklah, kita bicara di luar saja ya."
Bram mengangguk tanda setuju. Ia dan Ratih akhirnya berjalan menuju ke salah satu sofa sudut yang terdapat di sudut hotel.
"Mau bicara apa Nak?" tanya Ratih penasaran. Setelah duduk, diperhatikannya wajah Bram dengan penuh seksama.
"Bu, aku tidak ingin menalak Nisa. Aku beneran menyukai anak perempuan Ibu. Tolong jangan paksa aku untuk berpisah dengannya."
Ratih terdiam, ia menatap keseriusan itu dalam bola mata Bram. Memang tidak ada kebohongan, yang Ratih lihat adalah rasa cinta yang tulus dari seorang pria pada seorang wanita.
"Apa kau yakin? Ibu takut kamu hanya terbawa suasana dan perasaan saja Nak. Selama ini kalian tinggal berdekatan, ibu takut rasa cintamu itu hanyalah jelmaan rasa takut kehilangan yang berlebihan."
"Tidak Bu, tidak. Aku cinta beneran sama Nisa. Aku akan menghapus perjanjian kontrak itu dan menjalani pernikahan yang sesungguhnya. Memang niat awal kami hanya pura-pura tapi ... semakin aku berbaur dengannya, aku ... aku merasa benar-benar mencintainya dan tidak ingin berjauhan dengannya. Tolong Bu percaya sama aku, aku bisa menjaga Nisa seperti aku menjaga diriku sendiri."
Ratih kembali terdiam, jujur ia tidak bisa menepis raut wajah memelas itu di hadapannya. Wanita berkerudung lebar hanya bisa mendesah berat lalu menganggukkan kepala.
"Baiklah, jika itu memang maumu Nak. Sebagai orang tua, ibu tidak bisa melarang terlebih kau sudah bertekad demikian. Bicarakan baik-baik hubungan kalian, Nisa perlu diyakinkan." Ratih akhirnya pasrah.
"Terima kasih Bu. Ehm ... Nisa di mana Bu? Tadi sebelumnya pergi sama Ibu?"
"Nisa pergi menemui ayahnya Nak," jawab Ratih apa adanya. "Hubungi dia, mungkin dia butuh teman untuk menemui ayahnya."
Bram mengangguk. Dengan senang hati ia lantas merogoh saku celananya dan mulai menghubungi nomer ponsel milik Nisa.
Setelah beberapa detik mencoba untuk menelpon, wajah sumringah Bram berubah jadi gusar lagi cemas.
"Bu, Nisa bawa ponsel nggak? Kenapa nomernya tidak aktif? Dia ... dia beneran ketemu ayahnya kan?"
______

Dacytta Peach
12 Pengikut · 2 Novel