Suara langkah kaki memecah keheningan malam. Rinetha dan Reizan berlari sekuat tenaga menyusuri gang sempit. Sesekali Reizan menoleh ke belakang untuk memastikan sosok yang mengejar mereka tak terlalu dekat.
Dari kejauhan, terdengar suara geraman kasar. Menggema hingga ke seluruh gang. Siapa pun akan ketakutan saat mendengar suara itu.
Reizan melihat sebuah pintu bangunan terbengkalai yang setengah terbuka. Dia menarik lengan kekasihnya agar berlari lebih cepat sebelum sosok yang mengejar mereka itu mendekat. Mereka pun masuk ke dalam bangunan tersebut.
Tempat itu gelap dan sunyi, hanya diisi oleh barang-barang yang sudah tak digunakan lagi. Tercium bau debu dan karat yang bercampur menjadi satu. Tak tertahankan. Namun, mereka terpaksa masuk ke sana demi bersembunyi dari sosok itu.
Meja kerja yang sudah tak dipakai menjadi tempat persembunyian keduanya.
BRAK!
Suara pintu didobrak dengan keras mengejutkan dua insan ini. Hampir saja Rinetha terpekik. Beruntung Reizan langsung menutup mulut kekasihnya.
Langkah kaki berat terdengar mendekat. Geraman juga semakin keras. Jelas, sosok itu tepat berada di belakang meja.
Jantung Reizan dan Rinetha berdegup kencang, tubuh pun bergemetar hebat. Hanya ketakutan yang kini mereka rasakan. Suasana terasa begitu menegangkan.
Tiba-tiba saja, meja terpelanting ke sembarang arah. Reizan dan Rinetha sangat terkejut saat sosok tersebut berhasil menemukan mereka.
“WWAAARRGGHHH!” erangnya. Mulutnya terbuka lebar, memperlihatkan gigi-gigi bertaring yang sangat tajam.
Dalam hitungan detik, Reizan dilempar begitu saja sampai dia menghantam dinding. Reizan sempat mengerang kesakitan. Dia langsung melihat ke arah sang kekasih yang masih ada di depan sosok itu.
Makhluk tersebut berbadan bungkuk, lebih tinggi dari manusia, dan memiliki cakar panjang di jari jemarinya. Kulit di tubuhnya terlihat pucat, ditambah tulang-tulang menonjok dari balik kulit. Di sekitarnya tercium aroma anyir yang cukup menyengat.
Reizan masih ingat, tatapan makhluk itu sangat menakutkan. Kedua pupilnya berwarna merah dan sklera hitam pekat. Dia tak bisa bergerak sama sekali, ditambah tubuhnya terasa amat sakit setelah menghantam dinding tadi.
Sementara itu, Rinetha mematung di depan sosok tersebut. Tak bicara, tak bergerak, hanya memandangi dengan ekspresi ketakutan. Bahkan mengusap air mata yang terus mengalir saja dia tak sanggup. Mulut juga terlalu kelu untuk mengeluarkan suara.
Tanpa disangka-sangka, tubuh Rinetha dicengkeram oleh makhluk itu. Rinetha langsung menjerit kesakitan.
“JANGAAANNN!” teriak Reizan. Baru saja dia hendak berdiri, matanya langsung membelalak saat menyaksikan kekasihnya dilahap
Darah mengucur dari mulutnya, terdengar pula suara tulang dan daging yang dikunyah. Makhluk tersebut memuntahkan sesuatu, yang tak lain pakaian Rinetha.
“AARRRGGGHH!”
***
“Heh, bangun!” Reizan tersentak saat Leiyara menepuk bahunya. Kepalanya yang semula terbenam di atas lipatan kedua tangan kini terangkat. Melihat ke arah Leiyara yang ada di samping.
“Kamu keringetan banget, sih. Abis mimpi buruk ya?” tebak Leiyara. “Makanya, jangan tidur di kelas. Setan kampus pasti lagi nakut-nakutin kamu.”
Reizan mengusap dahinya yang basah, lalu membalas, “Iya, kamu setannya.”
Sontak Leiyara memukul pelan punggung Reizan. Si empunya hanya meringis kesakitan, sedangkan Leiyara cuma cemberut, kesal dengan ucapan lelaki itu.
Reizan hanya terkekeh sambil geleng-geleng kepala. Dia melihat ke sekitar, suasana kelas tampak sepi. “Yang lain ke mana?” tanyanya.
“Udah pulang,” jawab Leiyara. “Kamu ketiduran sampe jam pelajaran selesai. Bahkan dosen cuma bisa geleng-geleng kepala liat kamu tidur kayak gini.”
“Kenapa kamu gak bangunin aku, sih?”
Tanpa dosa, Leiyara membalas, “Barusan kan udah kubangunin.” Dia menunjukkan deretan gigi-giginya yang putih.
Lelaki itu mendengkus mendengar ucapan Leiyara. Dia pun bangkit dari duduk, merapikan buku-buku yang ada di atas meja, lalu memasukannya ke dalam tas.
“Abis ini mau ke mana?”
Tanpa menoleh, Reizan menjawab, “Pulang. Kasian Marissa sendirian di rumah.”
“Aku boleh nebeng gak? Teman-temanku udah pulang duluan. Aku ditinggal sendirian.”
Reizan mengangguk memperbolehkan Leiyara ikut dengannya. Mereka pun pergi dari ruang kelas menuju tempat parkir. Setibanya di sana, mereka naik ke dalam mobil Reizan. Kendaraan itu melesat cepat meninggalkan kampus.
Di dalam mobil, suasana hening. Hanya terdengar suara deru mobil dan musik yang mengalun pelan. Reizan tampak fokus menyetir, sedangkan Leiyara memperhatikan pemandangan di luar.
“Oh iya, belakangan ini kamu sering tidur di kelas. Kamu bergadang ya?” tanya Leiyara memecahkan keheningan di antara mereka. Dia menoleh ke arah Erzan.
“Marissa mimpi buruk lagi. Aku nemenin sampai dia tenang. Ditambah aku kerja malem terus. Mau gak mau harus bergadang.”
Leiyara terdiam. Dia menunduk, menatap rok yang dia pakai. Ada rasa khawatir dengan kondisi tubuh lelaki di sampingnya itu. Bukan hanya hari ini saja, beberapa hari sebelumnya Reizan juga mengatakan hal yang sama. Leiyara menjadi cemas dengannya.
“Emangnya gak bisa ya ambil shift siang?”
“Aku udah ambil minggu lalu, minggu ini giliran shift malem. Bos bakalan marah kalau aku kebanyakan minta ganti shift.”
Perempuan itu hanya manggut-manggut saja. Dia tak bisa berbuat banyak kalau tempat kerja Reizan sudah menentukan shift bekerjanya. Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka tiba di depan rumah Leiyara.
“Makasih ya udah anterin aku,” katanya.
“Jauh-jauh gini nganterin kamu, gak ada bayaran gitu?” tanya Reizan membuat Leiyara mengernyit.
“Bayaran?”
“Iya, tapi aku gak mau uang.”
“Terus maunya apa?”
Dengan jahil, Reizan memajukan bibirnya sekilas. Kedua alisnya juga naik turun. Menandakan ingin sesuatu yang lebih daripada uang. Melihat reaksi itu membuat Leiyara bergidik geli.
Dia menunjukkan kepalan tangannya. “Nih! Mau ini?” tawarnya.
Reizan hanya mendesis seraya memalingkan wajah, sedangkan Leiyara tersenyum puas. Setelah itu, Leiyara pun turun dari mobil. Dia melambaikan tangan kepada Reizan. Lelaki ini hanya membalas dengan mengangkat kedua alis. Mobil pun melesat menjauh meninggalkan rumah Leiyara.
Hanya butuh waktu 15 menit hingga Reizan tiba di rumahnya. Dia langsung memarkirkan mobil di bagasi, lalu turun dari kendaraan itu. Reizan melangkah pelan memasuki rumah.
“Marissa!” seru Reizan. Tak ada sahutan. Dia mencari-cari keberadaan sang adik.
“Marissa, kamu di mana?” Sama seperti tadi, tidak ada suara siapa pun yang menyahuti teriakannya.
Seketika, terdengar suara pintu berderak dari arah kiri. Reizan menoleh, dia mendekati sumber suara. Namun, tak ada siapa-siapa di sana. Lelaki ini tampak kebingungan. Napasnya terdengar tak beraturan, ditambah jantungnya berdegup cepat. Khawatir terjadi sesuatu kepada Marissa.
“Marissa!” Sekali lagi Reizan menyerukan nama adiknya. Dia mengambil langkah hati-hati menyusuri ruang tengah. Sesekali dia menoleh ke belakang untuk memastikan tak ada seseorang yang sedang mengintainya. Entah kenapa, dia merasa diawasi oleh sesuatu.
Biasanya, saat sore seperti ini, tercium aroma masakan yang begitu khas dari arah dapur. Marissa sangat suka memasak. Namun kali ini, tak ada apa-apa. Hanya terdengar suara detak jam dinding yang memenuhi ruangan.
Reizan melihat ke lantai atas, dia menaiki tangga setelah tak menemukan siapa-siapa di lantai bawah. Dia mendekati pintu kamar Marissa yang tampak terbuka sedikit. Saat dibuka, dia tidak melihat siapa pun. Untuk kesekian kali, nama Marissa dipanggil. Hanya saja, lebih pelan.
Tak sengaja mata Reizan melihat lemari pakaian yang tampak terbuka setengah. Dia penasaran, kenapa adiknya tak menutup pintu itu rapat-rapat?
Dengan perlahan dia mendekati lemari. Ketika hendak memegang gagangnya, tiba-tiba saja ....
“DOR!”
Bersambung.