“Cukup tidak cukup, ya harus dicukup-cukupkan. Kamu itu jadi istri harus pintar memutar uang, Ratih. Jangan maunya Cuma menuntut lebih.”
Suara bariton milik Danu memecah keheningan pagi di dapur yang beralaskan semen plesteran itu. Bersamaan dengan selesainya kalimat tersebut, sebuah bunyi ketukan pelan terdengar di atas meja kayu yang mulai lapuk.
Sebuah gerakan tangan yang sengaja dibuat lambat dan penuh penekanan menaruh selembar uang kertas di sana. Danu membusungkan dada, menegakkan kerah kemeja kerjanya yang baru saja selesai disetrika rapi oleh istrinya.
Wajah pria itu bersih, harum minyak wangi isi ulang menyerbak dari tubuhnya, kontras dengan aroma bawang dan asap minyak jelantah yang menempel pada daster lusuh milik Ratih.
Ratih menghentikan aktivitasnya memotong sisa tahu di talenan. Pandangannya perlahan turun, tertuju pada benda yang baru saja diletakkan oleh suaminya.
Di atas meja makan yang kosong, selembar uang bernilai sepuluh ribu rupiah berwarna ungu tergeletak dengan angkuh. Sudut uang itu sedikit terlipat, tampak kuyu, bagi Danu, kertas tipis itu adalah bukti sahih kehebatannya sebagai seorang kepala rumah tangga yang bertanggung jawab.
“Sepuluh ribu rupiah, Mas?” Ratih bersuara, lirih ada getaran menahan sesak yang amat sangat di pangkal tenggorokannya.
Ia menatap wajah suaminya dengan sepasang mata yang kurang tidur.
“Kemarin sepuluh ribu, hari ini sepuluh ribu lagi. Harga beras di warung Bu Lastri sudah naik lagi, Mas. Belum minyak goreng, belum bumbu dapur. Belum lagi urusan popok dan susu murni untuk Bagas yang sudah habis sejak dua hari lalu.”
Danu berdecak bising, melipat kedua tangannya di depan dada dengan raut wajah yang seketika berubah menjadi masam.
“Halah! Alasan klasik. Selalu saja membanding-bandingkan dengan harga pasar. Di luar sana itu banyak ibu-ibu yang suaminya serabutan, bahkan tidak bisa memberi uang sama sekali setiap hari. Kamu ini kurang bersyukur apa, Ratih? Saya ini kerja kantoran, tiap pagi keluar rumah pakai kemeja rapi, pulangnya selalu bawa uang untuk kamu. Setiap hari tanpa absen!”
“Kenyataannya uang segini memang tidak cukup untuk makan kita bertiga sehari, Mas Danu,” potong Ratih, mencoba menyuarakan logika yang selama ini selalu didebat oleh suaminya.
“Uang sepuluh ribu zaman sekarang Cuma dapat telur dua butir dan satu ikat kangkung. Itu pun kalau tidak beli bumbu dan minyak goreng lagi. Lalu besok kita mau makan apa? Anak kita butuh gizi, Mas.”
“Makanya, putar otakmu itu!” bentak Danu, suaranya naik satu oktav membuat Ratih refleks tersentak mundur.
“Istri salehah itu harusnya kreatif, bukan malah mengeluh terus-menerus seperti burung beo. Ibu saya dulu, waktu almarhum Bapak Cuma kerja jadi kuli panggul, bisa membesarkan saya sampai jadi orang kantoran seperti sekarang. Ibu tidak pernah sekalipun mengemis-ngemis minta tambahan uang belanja seperti yang kamu lakukan tiap pagi ini. Memalukan tahu, tidak?”
Kalimat itu bagai sembilu yang menyayat tepat di ulu hati Ratih. Ini bukan kali pertama Danu membandingkan dirinya dengan sang ibu mertua. Setiap ada kekurangan di dalam rumah tangga mereka, Danu selalu menggunakan tameng “Ibu saya dulu bisa” untuk membungkam mulut Ratih.
Seolah-olah inflasi puluhan tahun tidak pernah terjadi di dunia ini, seolah-olah selembar uang sepuluh ribu hari ini bernilai sama dengan sepuluh ribu di masa remaja Danu dulu.
“Mas tahu sendiri, tabunganku sudah habis untuk menambal biaya kontrakan bulan lalu karena Mas bilang bonus kantormu ditunda,” ucap Ratih dengan suara yang mulai serak.
Setitik air mata menggenang di sudut pelupuk matanya, buru-buru ia seka dengan ujung dasternya. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan suaminya yang egois ini.
“Aku sudah tidak punya simpanan lagi untuk menutupi kekurangan uang dapurmu ini, Mas.”
***
Danu mendengkus meremehkan. Pria itu meraih tas kerjanya yang tergantung di sandaran kursi dengan sentakan kasar.
“Itu urusanmu, Ratih. Tugas lelaki itu mencari nafkah, dan saya sudah menunaikan tugas saya. Tugasmu adalah mengelolanya. Kalau uang itu tidak cukup, berarti kamunya yang tidak becus jadi istri. Sudah, saya mau berangkat. Bikin pusing saja setiap pagi."
Tanpa memedulikan tatapan nanar sang istri, Danu membalikkan badannya dengan langkah tegap. Sepatu pantofelnya yang mengilat berbunyi teratur di lantai, melangkah menuju pintu depan tanpa ada rasa bersalah sedikit pun.
Di matanya, ia telah menjadi sosok pahlawan yang telah memberikan selembar uang ungu untuk kelangsungan hidup keluarganya hari itu.
Ratih terpaku di tempatnya berdiri. Tubuhnya mendadak lemas, memaksanya untuk terduduk di atas kursi kayu ringkih yang bergoyang pelan menerima bebannya.
Pandangannya kembali lurus menatap uang sepuluh ribu rupiah di atas meja. Warnanya yang ungu seakan mengejek kemiskinan dan ketidakberdayaan yang kini mengurung dirinya di dalam rumah ini.
Bagaimana mungkin seorang suami yang bekerja di sebuah perusahaan distributor dengan penampilan parlente tega membiarkan anak dan istrinya bertahan hidup dengan uang yang bahkan tidak cukup untuk membeli sebungkus rokok kesukaannya? Pikiran Ratih berkelana ke mana-mana, membayangkan senyum meremehkan dari para pedagang pasar yang esok pagi harus ia hadapi kembali saat ia mulai menawar dagangan mereka dengan sisa harga diri yang semakin menipis.
Tiba-tiba, dari arah kamar tidur yang pintunya sedikit terbuka, terdengar suara rengekan kecil disusul dengan tangisan yang perlahan membesar.
Bagas, anak laki-laki mereka yang belum genap berusia tiga tahun, rupanya telah terbangun dari tidurnya. Tangisan bocah kecil itu terdengar serak, sebuah pertanda yang sangat dipahami oleh Ratih, sang anak terbangun karena perutnya yang lapar dan haus, sementara kotak susu di atas lemari sudah bersih tak bersisa sejak kemarin sore.