"Bim, kopi kamu dingin," ucap Nadia pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin cuci yang sedang bekerja di sudut dapur.
Bima tidak segera menyahut. Pria itu masih terpaku pada layar laptopnya, meskipun jemarinya sudah berhenti mengetik sejak lima menit lalu. Ruang makan yang biasanya hangat oleh obrolan ringan kini terasa seperti ruang tunggu rumah sakit, sunyi, steril, dan penuh tekanan yang tak kasatmata.
Nadia menatap punggung suaminya. Sebelas tahun membangun mahligai rumah tangga, seharusnya ia sudah hafal setiap lekuk kebiasaan Bima. Namun, malam ini, pria di depannya tampak seperti orang asing yang kebetulan berbagi atap.
Bima adalah sosok yang dikenal tetangga sebagai suami teladan, pria yang selalu membukakan pintu mobil untuk Nadia, pria yang rajin mengantar Alya ke sekolah, dan pria yang tidak pernah absen membawa buah tangan saat pulang kantor. Di mata dunia, mereka adalah pasangan yang sempurna.
Di balik dinding rumah yang dicat warna krem lembut itu, kebahagiaan perlahan-lahan menguap, menyisakan ruang hampa yang menyesakkan.
Bima akhirnya membalikkan badan. Matanya yang biasanya teduh kini tampak redup, dengan gurat kelelahan yang mulai menebal di bawah kelopak mata.
"Maaf, Nadia. Aku terlalu fokus," jawabnya datar. Ia meraih cangkir kopi itu, menyesapnya sedikit, lalu meletakkannya kembali dengan gestur yang kaku.
"Kamu terlihat sangat lelah, Bima. Sudah seminggu ini kamu pulang larut, dan saat di rumah pun, pikiranmu seolah sedang mengembara ke tempat lain," lanjut Nadia. Ia duduk di kursi seberang, mencoba menatap suaminya lebih dalam, berharap bisa menemukan sisa-sisa pria yang ia nikahi sebelas tahun lalu.
Bima hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke matanya.
"Hanya masalah proyek di kantor. Kamu tahu sendiri, akhir tahun selalu sibuk."
Nadia menelan ludah. Ia tahu itu bukan sekadar urusan kantor. Ia merasakan ada sesuatu yang retak, sesuatu yang sudah dimulai sejak berbulan-bulan lalu. Rumah mereka telah kehilangan detak jantungnya. Setiap percakapan terasa seperti berjalan di atas hamparan kulit telur, salah sedikit, bisa pecah.
Di sudut ruangan, bingkai foto keluarga yang tergantung di dinding tampak mengawasi mereka. Di sana, Nadia, Bima, dan Alya yang baru berusia enam tahun tampak tertawa lebar di sebuah taman.
Foto itu diambil dua tahun lalu, saat kehidupan masih terasa seperti aliran sungai yang tenang. Sekarang, mereka justru seperti dua kapal yang terombang-ambing di tengah badai, terikat oleh jangkar yang sama, tapi ditarik ke arah yang berlawanan.
"Bima," panggil Nadia lagi, kali ini suaranya lebih tegas, tapi tetap lembut.
"Bukan hanya pekerjaan, kan? Kamu belakangan ini sering mengurung diri. Kamu juga jarang bermain dengan Alya. Dia sempat bertanya padaku, kenapa Ayah jadi jarang mau diganggu."
Rahang Bima mengetat.
"Aku hanya butuh waktu untuk diriku sendiri, Nadia. Apakah itu salah? Aku bekerja keras demi kalian. Demi rumah ini. Demi masa depan Alya."
"Aku tidak pernah bilang itu salah," bantah Nadia dengan nada sabar yang dipaksakan. "Kita butuh kehadiranmu. Bukan hanya secara fisik, tapi secara utuh. Keberadaanmu di rumah ini mulai terasa hambar. Aku merasa seperti sedang hidup bersama bayang-bayang."
Kalimat terakhir Nadia seolah menjadi cambuk. Bima berdiri dengan kasar, membuat kursi kayunya berderit nyaring di atas lantai keramik.
"Hambar? Kau bilang hidup kita hambar setelah semua yang kulakukan?"
Nadia terkejut melihat reaksi suaminya yang meledak begitu tiba-tiba. Biasanya, Bima adalah orang yang sangat terkendali, seseorang yang bahkan tidak pernah meninggikan suara saat berdebat. Namun, malam ini, ada kilatan emosi yang tidak ia kenali, sebuah amarah yang bercampur dengan ketakutan yang mendalam.
"Bima, tenanglah. Aku tidak bermaksud seperti itu," ujar Nadia seraya berdiri, mencoba mendekat.
Bima mundur selangkah. Ia menatap Nadia dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada kepedihan, ada ketergantungan yang obsesif, dan ada sesuatu yang gelap yang perlahan-lahan mulai merayap keluar dari balik topeng ketenangannya selama ini.
Pria itu tampak seperti orang yang sedang berdiri di tepi jurang, menunggu dorongan kecil untuk benar-benar terjatuh.
"Kau tidak mengerti, Nadia," bisik Bima, suaranya bergetar. "Kau tidak tahu betapa aku takut jika suatu hari nanti, saat aku bangun, kau sudah tidak ada di sini lagi. Bahwa kau dan Alya adalah satu-satunya alasan aku masih bertahan di dunia yang kejam ini."
Nadia terpaku. Ketakutan itu, itu bukan lagi sekadar kasih sayang. Itu adalah rantai, dan ia menyadari bahwa selama bertahun-tahun, ia telah membiarkan dirinya terbelenggu dalam ketakutan yang sama. Ia merasa tercekik oleh cinta yang seharusnya membebaskan, tapi justru memenjarakan.
"Kita perlu bicara serius, Bima. Tentang kita," ucap Nadia akhirnya, membulatkan tekad yang sudah lama ia simpan di sudut hatinya yang paling dalam.
***
Bima menatap Nadia lekat-lekat, lalu ia tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sumbang dan menyakitkan.
Ia tidak menunggu jawaban Nadia lebih lanjut. Pria itu segera berbalik dan berjalan cepat menuju kamar mereka, lalu membanting pintunya hingga menimbulkan dentuman keras yang menggetarkan seisi rumah.
Nadia berdiri sendirian di ruang makan yang kini terasa lebih dingin dari sebelumnya. Ia memandang ke arah pintu kamar yang tertutup rapat, menyadari bahwa dinding yang selama ini memisahkan mereka bukanlah dinding fisik, melainkan dinding bisu yang dibangun dari kesalahpahaman, ketakutan, dan luka yang tak pernah diungkapkan.
Saat keheningan kembali menguasai ruangan, ponsel di atas meja makan bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Nadia mengerutkan kening, tangannya gemetar saat ia menyentuh layar ponselnya. Pesan itu hanya berisi satu kalimat singkat, tapi mampu membuat aliran darahnya seolah berhenti seketika.
“Jangan pernah berpikir untuk pergi, karena kau akan menyesali apa yang akan terjadi selanjutnya.”