"Kapan kamu akan melamar putri tunggal Pak Surya, Ridho?"
Suara pembawa acara talkshow itu menggema di ruang tamu yang sempit, memantul pada dinding kayu yang sudah mulai lapuk. Di layar televisi tabung 21 inci yang gambarnya sedikit bersemut, wajah yang sepuluh tahun lalu dicium Ratna dengan penuh tangis kini tampak begitu berseri.
Ridho duduk di sana. Jasnya berwarna biru gelap, potongan rambutnya rapi, dan jam tangan logam di pergelangan kirinya berkilat tertimpa lampu studio.
Ia tersenyum, senyum yang sama yang dulu menjanjikan masa depan, lalu melirik wanita cantik di sampingnya yang mengenakan gaun sutra.
"Segera. Kami sudah bertunangan secara tertutup bulan lalu. Mohon doanya agar semua lancar sampai hari pernikahan," jawab Ridho mantap. Suaranya berat, berwibawa, dan sama sekali tidak menyisakan ruang bagi keraguan.
Gelas plastik berisi teh hangat di tangan Ratna terlepas. Isinya tumpah, membasahi lantai semen yang dingin, tapi ia tak merasakannya. Jantungnya seperti berhenti berdetak selama beberapa detik, sebelum akhirnya berpacu dengan kecepatan yang menyakitkan.
"Sepuluh tahun, Dho," bisik Ratna lirih. Suaranya tercekat di tenggorokan yang terasa mencekik.
Di layar itu, Ridho menjabat tangan calon mertuanya, seorang konglomerat properti yang sering muncul di berita ekonomi. Mereka tampak seperti keluarga sempurna.
Tidak ada sedikit pun jejak Ridho yang dulu sering mencangkul di sawah ayahnya, atau Ridho yang menangis di pundak Ratna karena tidak punya ongkos untuk berangkat ke Jakarta.
Sepuluh tahun Ratna mengabdi pada sebuah kalimat. "Tunggu aku sukses, Rat. Aku akan kembali dan menjadikanmu wanita paling bahagia."
Kalimat itu adalah napas bagi Ratna. Demi janji itu, ia menolak setiap lamaran pria di desa. Demi janji itu, ia bekerja membanting tulang sebagai buruh cuci dan pengumpul sayur untuk membantu mengirimkan sedikit uang saku di tahun-tahun pertama Ridho merantau. Demi janji itu pula, ia menahan rindu yang membuncah setiap kali lebaran tiba tanpa sosok pria itu di sampingnya.
Ratna bangkit dari duduknya dengan kaki yang gemetar. Ia mendekat ke arah televisi, menyentuh permukaan kaca yang terasa hangat. Jemarinya gemetar menyusuri garis wajah Ridho di layar.
"Kamu sukses, Dho. Kamu benar-benar sukses.” Air mata Ratna akhirnya jatuh, deras dan tak terbendung.
"Kenapa bukan aku yang ada di sana?"
Tayangan berubah menjadi iklan, bayangan pengumuman pertunangan itu seolah terpahat permanen di kornea matanya. Ratna merasa seperti orang gila.
Ia menoleh ke arah meja kecil di sudut ruangan, di mana sebuah kotak kaleng tua tersimpan rapi. Dengan tangan gemetar, ia membuka kotak itu.
Di dalamnya terdapat tumpukan surat dari tahun-tahun pertama. Kertasnya sudah menguning, baunya apek, tapi tinta di sana masih terbaca jelas.
“Rat, Jakarta keras, tapi mengingat wajahmu saat mengantarku ke terminal membuatku kuat. Sabar, ya. Sedikit lagi kita akan bersama.”
Ratna meremas surat itu hingga lecek. Kebohongan yang sangat rapi. Apakah kesuksesan memang memiliki kekuatan untuk menghapus ingatan seseorang? Atau sejak awal, ia hanyalah jembatan yang sengaja diinjak Ridho untuk menyeberang, lalu dihancurkan setelah pria itu sampai di seberang?
Tiba-tiba, suara ketukan pintu mengejutkannya. Ibu Ratna, yang sejak tadi berada di dapur dan mungkin tidak mendengar televisi, muncul dengan wajah cemas.
"Ratna? Kamu kenapa, Nak? Ada suara gelas pecah tadi," tanya sang ibu. Pandangannya beralih dari pecahan gelas ke wajah putrinya yang sembap.
Ratna tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah televisi yang kini menampilkan berita ekonomi tentang saham perusahaan Ridho yang melonjak setelah pengumuman pertunangannya. Ibunya memicingkan mata, berusaha mengenali wajah pria di layar itu. Saat kesadaran itu menghantam, sang ibu menutup mulut dengan tangan, air mata langsung menggenang di matanya yang sudah tua.
"Itu, itu Ridho?" tanya ibunya tidak percaya.
Ratna mengangguk pelan. Dadanya terasa sesak seolah-olah seluruh oksigen di desa itu telah tersedot habis. Penantian sepuluh tahun ternyata hanyalah sebuah lelucon panjang yang puncaknya ditayangkan secara nasional.
Rasa sedih yang semula melumpuhkannya perlahan berubah menjadi panas yang membara di dada. Ratna mengusap air matanya dengan kasar menggunakan ujung daster. Ia tidak boleh hanya diam di sini dan membiarkan dirinya layu seperti bunga yang dilupakan. Jika Ridho bisa melupakan jalan pulang, maka Ratna yang akan mendatanginya untuk mengingatkan.
Ia bergegas masuk ke dalam kamar, menarik sebuah tas kain usang dari bawah tempat tidur. Ia mulai memasukkan beberapa helai baju ke dalamnya dengan gerakan cepat dan penuh amarah.
"Ratna, kamu mau ke mana?" tanya ibunya panik, mengikuti ke ambang pintu kamar.
Ratna berhenti sejenak, menatap tas kainnya, lalu menatap wajah ibunya yang renta. Matanya berkilat dengan ketetapan hati yang belum pernah terlihat selama sepuluh tahun terakhir.
"Aku akan ke Jakarta, Bu," jawabnya dengan suara rendah, tapi tajam.
"Jangan, Nak. Kota itu besar. Kamu tidak punya siapa-siapa di sana. Biarkan saja dia, mungkin ini garis takdirmu."
Ratna menggeleng keras. Ia mengambil dompet kecil yang berisi uang tabungannya selama bertahun-tahun, uang yang rencananya akan ia gunakan untuk biaya pernikahan mereka kelak.
"Aku tidak pergi untuk memintanya kembali, Bu. Aku pergi untuk melihat langsung matanya saat aku menagih sepuluh tahun hidupku yang dia curi," ujar Ratna.
Ia melangkah keluar rumah tanpa mempedulikan hari yang mulai gelap. Kakinya melangkah pasti menuju terminal bus antar kota. Namun, langkahnya terhenti saat sebuah mobil hitam mewah, sesuatu yang sangat asing di desa terpencil itu, berhenti tepat di depan pagar rumahnya.
Kaca jendela mobil itu turun perlahan, menampakkan sosok pria berseragam yang tampak seperti seorang ajudan. Pria itu menatap Ratna dengan tatapan dingin dan menyerahkan sebuah amplop tebal berwarna cokelat.
"Ibu Ratna? Saya diutus oleh Bapak Ridho. Ada sesuatu yang harus saya sampaikan agar Ibu tidak perlu repot-repot mencarinya ke kota."
Ratna terpaku, tangannya perlahan menerima amplop yang terasa berat itu, sementara firasat buruk mulai merayap di tengkuknya.