


oleh Saraswatinda · 16 Bab
Hati yang Terpilih adalah kisah seorang Nazwa Rengganis, yang bangkit dari keterpurukannya setelah diceraikan tanpa alasan yang jelas dari Rafi, sang suami. Rumah tangga selama dua belas tahun itu berjalan harmonis dan bahagia. Tepat setelah Nazwa berhasil kembali mempercayai cinta dan memutuskan untuk menikah dengan Kafka, laki-laki yang ia kenal selama menjalani konseling pasca perceraiannya, barulah Nazwa mengetahui alasan sebenarnya Rafi menceraikan dirinya. Permintaan Rafi untuk kembali, reaksi Kafka yang memberikan Rafi kesempatan, dan hadirnya Razki, teman kampus yang mencintainya, membuat hidup Nazwa menjadi begitu rumit. Belum lagi, hadirnya Ewi, mantan istri Kafka yang mencoba untuk kembali dengan Kafka.
Sudah seminggu ini Nazwa resah. Ia tak mengerti mengapa Rafi begitu keberatan dengan rencana pernikahannya dengan Kafka, Ia merasa ada yang Rafi inginkan darinya. Ia kenal tabiat Rafi, Nazwa masih saja termangu mengingat percakapannya dengan Rafi saat ia mengantar Salsabila dan Hanif ke rumahnya. Pekan ini adalah jatah Salsabila dan Hanif bersamanya, setelah beberapa pekan yang lalu mereka berada di rumah Rafi.
“Benar apa yang dikatakan Bila, kalau Kafka ingin menikahimu?” Tanpa pengantar apa pun, Rafi bertanya pada Nazwa yang betul-betul tak menduga kalau Rafi akan membahas masalah pribadinya.
“Mengarah ke sana. Sebetulnya kami sedang mempersiapkan segalanya,” urai Nazwa pelan.
“Secepat itukah hati kamu berubah terhadapku, Naz?”
“Maksudnya?” tanya Nazwa tak mengerti.
“Ya. Secepat itu kamu bersedia menjalani hubungan menuju pernikahan? Padahal kita resmi berpisah baru dua tahun sepuluh bulan!"
Nazwa beristighfar dalam hati mendengar ucapan Rafi. Laki-laki dewasa di hadapannya ini memang masih saja berpikir seperti anak-anak. Di mana semua orang harus mengerti dan mengabulkan setiap keinginannya.
“Raf, pertanyaan kamu tuh, lucu ya?!”
“Lucu?”
“Lucu! Karena perpisahan ini kan keinginan kamu. Kamu yang melepaskan aku, kok sekarang kamu yang keberatan, jika ada orang yang berniat baik terhadap aku?"
“Siapa yang keberatan?”
“Kamu! Pertanyaan kamu yang berkaitan dengan perasaanku terhadap kamu, bukan artinya kamu keberatan kalau aku menyerahkan hatiku pada orang lain?”
“Aku hanya berpikir tentang anak-anak, Naz.”
“Anak-anak? Ada apa dengan mereka? Aku lihat mereka bisa menerima Kafka. Lagi pula Kafka juga sayang dengan mereka, Ia menerima aku satu paket dengan anak-anak.” Nazwa menghela napas sejenak. “Asal kamu tahu, bahkan ia yang meminta kami tidak menjalani hubungan ini terlalu lama karena adanya anak-anak. Kafka tidak ingin orang berfikir negative tentang stastusku yang janda ini.”
Rafi terdiam sejenak sebelum kembali bertanya, “Apa kamu sudah bertanya kepada anak-anak, apa pendapat mereka, Naz?”
“Belum. Mengapa memang?”
“Seharusnya kamu juga menimbang pendapat mereka, sebelum memutuskan kelanjutan hubunganmu dengan kafka. Mereka juga yang akan hidup bersama Kafka kelak, bukan hanya kamu."
Deg. Nazwa tersentak kaget mendengar pernyataan ini. Apa yang dikatakan Rafi memang benar, tapi ....
“Naz, kalau aku boleh tahu, apa yang membuat kamu memutuskan menikah dengan Kafka? Sebaik apakah Kafka di matamu? Apa yang kamu lihat dari seorang Kafka?” Kali ini Rafi bertanya dengan suara pelan.
Ditatapnya wanita yang duduk di hadapannya ini, Nazwa Rengganis namanya. Wanita yang sudah menemaninya, dalam bahtera rumah tangga selama dua belas tahun. Wanita yang telah melahirkan dua malaikat kecilnya, Salsabila dan Hanif. Wanita yang telah begitu sabar dan pengertian akan semua perilaku dan tabiat-tabiatnya yang sulit. Dan wanita yang telah dicampakkannya tanpa memberikan wanita itu kesempatan untuk membela dirinya sendiri. Tanpa tahu alasan yang menjadi penyebab perceraian mereka. Ironisnya, semua kebaikan Nazwa terpampang dengan jelasnya saat ia tak lagi memiliki Nazwa. Memang benar ucapan orang bijak, kita akan menyadari telah kehilangan sesuatu yang sesungguhnya berharga untuk kita justru pada saat kita tak lagi memilikinya.
“Apa tidak terpikir olehmu, bahwa kita bisa kembali bersatu, Naz?” Tanpa menunggu jawaban Nazwa, Rafi kembali bertanya.
“Tali yang terjalin lalu sengaja diputuskan, kemudian akan disambung kembali?” Nazwa bertanya pada Rafi dan dirinya sendiri. Ia menghembuskan napas. “Maaf, Fi. Itu tidak ada dalam kamus hidupku!” jawab Nazwa tegas.
“Bahkan demi anak-anak?” desak Rafi.
Nazwa terdiam, ia tidak bisa menjawab. Dalam hati kecilnya ia sangat menyayangi Rafi dan ke dua anaknya. Namun, tindakan ceroboh dan egois Rafi yang menggugat dirinya tanpa alasan, sangat membekas di hati Nazwa. Bahkan ketika Nazwa bertanya di depan hakim, apa kesalahannya sehingga membuat Rafi menjatuhkan talak untuk dirinya, Rafi sama sekali tidak memberikan alasan dan hanya bungkam.
Namun, sekarang Rafi kembali datang dan melarangnya untuk menikah dengan laki-laki lain. Seribu cara dan alasan Rafi utarakan, tanpa pernah memikirkan perasaan Nazwa. Andaikan Rafi berkaca ke belakang, betapa baiknya Nazwa. Saat dirinya meminta Nazwa untuk resign dari pekerjaan, dengan dalih supaya fokus mengurus Rafi dan Salsabila anak pertamanya, dengan patuh Nazwa menuruti semua itu.
Belum lagi ketika dirinya dicampakkan Rafi, dengan alasan pekerjaan. Nazwa tidak pernah menuntut apa pun, Nazwa mencoba mengerti. Namun, semua kesabaran yang Nazwa lakukan berakhir di pengadilan. Apa menurut Rafi itu adil?
Berkali-kali Nazwa menggelengkan kepala, tidak paham dengan jalan pikiran Rafi. "Rafi ... aku rasa kamu sudah tahu jawabannya. Terima kasih sudah mengantarkan anak-anak. Maaf sekarang sudah larut malam, aku ingin menemani anak-anak beristirahat." Nazwa mengusir Rafi secara halus.
Mendengar perkataan Nazwa, Rafi mendengus kesal. Ia tahu akan sangat sulit untuk membujuk Nazwa, tapi ia tidak akan menyerah begitu saja.
"Baiklah, aku akan pulang! Tapi minggu depan aku akan kembali menjemput anak-anak untuk menginap di rumahku."
Nazwa hanya mengangguk pelan, ia segera menutup pintu begitu Rafi berbalik badan. Setelah itu, ia menuju kamar Salsabila dan Hanif untuk mengucapkan selamat tidur, dan masuk ke dalam kamarnya sendiri.
Sudah tujuh hari lamanya, Nazwa memikirkan perkataan Rafi. Sungguh dirinya tidak paham, apa maksud dan tujuannya lelaki itu mengucapkan kata-kata itu? Entah karena Rafi menyesal, dan ingin kembali pada Nazwa. Atau mungkin sebaliknya, ia hanya berniat untuk menggagalkan kebahagiaan Nazwa saja? Nazwa tersenyum getir, sampai saat ini masih belum terlintas dalam pikirannya, kemana arah pembicaraan Rafi malam itu.
'Dia yang menceraikan aku, dan sekarang dia menyesali hal itu? Lalu meminta aku kembali dengan semudah itu?' gumam Nazwa dalam hati. 'Tidak Rafi! Aku tidak ingin termakan ucapanmu begitu saja! Kamu saja tidak memikirkan anak-anak pada saat menceraikan aku. Lalu kenapa sekarang, pas aku ingin menikah lagi, kamu mempertanyakan hal itu? Sungguh lucu!' Nazwa terus merutuki kebodohan Rafi.
Dering telepon membuyarkan lamunan Nazwa.
"Assalamu'alaikum," sapa Nazwa, begitu menjawab panggilan itu.
"Wa'alaikumsalam ... maaf, apakah saya bisa berbicara dengan saudara Nazwa Rengganis?" tanya seorang wanita, di seberang sana.
"Dengan saya sendiri. Maaf, dengan siapa?"
"Saya Renata, sahabat Rafi. Boleh kita bertemu? Ada hal penting yang ingin saya sampaikan."
"Soal apa? Maaf saya tidak mengenal Anda."
"Tapi kamu mengenal Rafi, kan?"
"Ya, urusannya sama kamu apa?"
"Saya harap kamu berkenan bertemu dengan saya, ada hal penting yang ingin saya sampaikan, tentang alasan Rafi menceraikan kamu."

Saraswatinda
3 Pengikut · 1 Novel