Distrik Corvald, itulah nama yang tertera di atas peta besar yang terpajang di billboard. Riel Valehart mendengkus setelah melihatnya. Dia tampak enggan berada di distrik ini, kelihatan jelas dari raut wajahnya yang sekarang sedang menahan kekesalan.
Riel membalikkan badan, berjalan berlawanan dengan billboard menuju halte yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Dia berhenti di sana, menunggu bus yang sedang melaju mendekati halte. Beberapa menit kemudian, bus pun mengerem di depan Riel. Dia langsung naik ke dalam kendaraan itu bersama koper yang sejak tadi dibawanya.
Selama di perjalanan, Riel melihat aktivitas tak biasa di distrik ini. Ada sekelompok orang yang sedang berkelahi, pemabuk jalanan dan parahnya lagi, dia menyaksikan seseorang ditikam.
Hampir saja dia bangkit dari duduk, berniat menghentikan bus untuk turun dan menyelamatkan korban. Namun, niat itu dia urungkan setelah sadar sekarang dia ada di distrik yang dipenuhi para kriminal. Alih-alih membantu korban, yang ada dia malah terseret ke dalam masalah besar karena ikut campur urusan mereka.
Tak mau berurusan dengan para kriminal itu, Riel memutuskan membiarkannya saja. Apa pun yang terjadi di sini, tak ada hubungannya dengan dia.
Satu jam berlalu, bus berhenti tepat di pemberhentian terakhir, Riel turun dari kendaraan itu. Dia melihat ponsel yang sejak tadi digenggamnya, mencari alamat yang tertera di sana. Riel berjalan menyusuri trotoar dan melewati beberapa bangunan.
“Riel!” Seseorang menyerukan namanya membuat langkah lelaki ini berhenti, dia menoleh.
Vaigen Luthair menghampiri Riel. Berlari kecil dari kejauhan. “Maaf ya. Seharusnya aku menunggumu di halte, tapi malah pergi beli minum. Ini untukmu.” Dia melempar sekaleng minuman kepada Riel. Lelaki itu menangkapnya dengan cekatan.
“Sebelum ke apartemen, kita makan dulu. Ada yang mau aku bicarakan,” kata Vaigen lagi lalu berjalan duluan. Riel mengikuti langkah lelaki itu. Dia menceritakan apa yang dilihatnya di jalan tadi. Vaigen hanya terkekeh pelan.
“Pertama kali aku ke sini, aku juga merasakan hal yang sama. Bahkan sempat mengurung diri karena takut, tapi sekarang sudah terbiasa.”
Riel menggeleng pelan, keheranan dengan semua yang dia lihat di distrik ini. “Aku agak syok saat melihat kejadian itu. Tadinya mau kutolong, tapi tak kulakukan karena tahu bagaimana risiko yang kudapatkan nanti.”
“Jangan berani melibatkan diri, El. Ini bukan Distrik Straveld. Sekalinya kau terlibat, nyawamu jadi taruhan. Mereka tidak akan membiarkanmu bebas, apalagi ....” Vaigen menjeda ucapannya. Dia mendekati Riel lalu berbisik, “Di sinilah orang-orang Helfyze tinggal, kau harus menjauhi mereka. Kalau tidak, kau tak akan selamat.”
Seusai berbisik, Vaigen menjauhkan diri. Riel melirik temannya itu. “Aku tahu sedikit tentang mereka, pernah mendengarnya waktu di Distrik Straveld,” balas Riel.
“Nanti kuberi tahu detailnya. Kita cari tempat makan dulu.”
Akhirnya, Riel dan Vaigen berhenti di salah satu kedai yang tak begitu ramai. Hanya ada beberapa orang di kedai itu. Keduanya duduk di pojok, jauh dari jendela. Memesan beberapa menu yang ada di sana.
Vaigen menjelaskan bahwa ada sindikat kejahatan di distrik ini. Mereka terlibat dalam berbagai aktivitas kriminal, salah satunya adalah penyelundupan organ tubuh manusia. Mereka memburu wanita, anak-anak dan siapa pun yang dianggap sebagai musuh. Sindikat itu bernama Hellforged Syndicate atau yang dikenal dengan sebutan Helfyze.
Markas utama mereka berada di distrik ini, Distrik Corvald, yang terkenal sebagai jantungnya Kota Lorvella. Meskipun markasnya di sini, beberapa anggota Helfyze berkeliaran bebas di distrik-distrik yang lain. Hal tersebutlah yang membuat nama Helfyze terkenal.
Riel manggut-manggut mendengar penjelasan Vaigen. Kini dia mengerti kenapa Helfyze termasuk sindikat yang paling dihindari oleh orang-orang.
“Makanya, hanya di distrik ini tingkat keberadaan perempuan minim. Mereka takut berhadapan dengan anggota kelompok itu,” kata Vaigen seusai menjelaskan tentang sindikat kejahatan yang ada di Distrik Corvald. “Oh iya, orang-orang yang kau lihat di jalanan, kemungkinan mereka anggota Helfyze, termasuk si ... pembunuh itu.”
“Sungguh, aku menyesal pindah kemari.” Hanya itu balasan Riel, membuat Vaigen tertawa renyah.
“Aku tahu kamu terpaksa, tapi ya mau bagaimana lagi? Kau harus menetap dan melewatinya.”
Riel mengembuskan napas beratnya. Dia terlihat enggan membahas hal ini. “Kau benar. Aku terpaksa harus tinggal di sini. Orang tuaku ingin aku kuliah di Universitas Corvald dan mengambil jurusan arsitektur.”
“Bagiku, Universitas Corvald bagus, semua jurusan ada di sana. Belum lagi, kau akan mendapatkan jaminan, siapa pun yang memiliki nilai terbaik, dia akan langsung mendapatkan pekerjaan setelah lulus. Hanya saja ....” Vaigen menjeda ucapannya.
Riel yang semula menyeruput minuman pun menghentikan hal itu. Dia bertanya, “Apa? Jangan buat aku penasaran.”
“Mahasiswa di sana menarik, Riel. Hampir semuanya bisa berkelahi dan mereka dibagi 3 fraksi. Setiap fraksi punya leader yang cukup kuat.”
Riel menggeleng. “Aku tak mau berurusan dengan hal-hal seperti itu. Dulu aku memang berandalan dan nakal, tapi setelah kuliah, aku ingin berubah. Aku mau hidup normal, Gen.”
Vaigen manggut-manggut. Walau dia tahu Riel sudah berubah, dirinya tetap ingin lelaki itu mengetahui apa saja yang ada di kampus barunya nanti. Vaigen terus memperingati Riel agar tidak terlibat masalah dengan mereka. Ditambah, orang-orang seperti itu suka sekali keroyokan.
“Kalau kau melawan, aku tak yakin kau akan menang.”
“Sayangnya, aku tak ada niat membuat masalah dengan siapa pun.”
Vaigen hanya mengangkat kedua alis. Dia membenarkan ucapan Riel. Kalau tak ada yang mengusik mereka, pasti akan aman. Namun, dia tak begitu yakin karena tak tahu apa-apa kehidupan di Universitas Corvald, ditambah dia tak kuliah di sana. Dia hanya bisa memperingati Riel agar tetap berhati-hati.
Setelah selesai makan, mereka meninggalkan kedai. Pergi menuju ke apartemen—tempat tinggal baru Riel. Kebetulan Vaigen mengetahui lokasinya sehingga Riel tak perlu repot-repot membuka ponsel untuk mengecek alamat apartemennya.
Sesampainya di sana, mereka melihat gedung apartemen yang cukup sederhana. Riel pun masuk ke dalam, sedangkan Vaigen menunggu di luar gedung apartemen. Lelaki ini menghampiri resepsionis lalu menunjukkan data dirinya. Seusai itu, barulah kunci diberikan. Ternyata kamar Riel berada di lantai dua.
Saat hendak masuk ke dalam elevator, dia dikejutkan dengan kehadiran tiga orang lelaki muda. Mereka tampak seperti berandalan dengan penampilan yang acak-acakan. Menyerobot masuk setelah pintu elevator terbuka.
Lelaki ini mengurungkan niat, enggan satu elevator dengan mereka. Namun, saat dia hendak berbalik, salah satu di antara mereka memanggil, “Hei, Lelaki pembawa koper!”
Riel menghentikan langkahnya. Dia menoleh.
“Kau mau masuk, kan? Masuklah! Jangan membuat kami menunggu,” katanya.
Riel ingin menolak, tetapi dia khawatir orang-orang itu marah. Di sisi lain, kalau dia menurut, entah apa yang akan mereka lakukan kepadanya di dalam elevator. Kelihatannya anak-anak muda ini berbahaya.
“Cepatlah! Kalau kau tak mau masuk, kutandai siapa kamu lalu kami akan mencarimu!”
Mendengar ancaman itu, dengan cepat Riel masuk ke dalam lalu menekan tombol elevator. Saat pintu tertutup, mereka tertawa puas.
Tanpa diduga, ketiga lelaki itu mendekat. Mengelilingi Riel dengan tatapan tajam dan jahil. Bahkan tidak memberinya ruang untuk mundur.
Bersambung.