


oleh Lilac Girl · 84 Bab
Kanaya Salsabilla adalah gadis biasa dengan wajah dan nilai pas-pasan, tubuh agak berisi, serta kehidupan yang nyaris tak pernah menonjol. Ia terbiasa diremehkan, bahkan oleh keluarganya sendiri, dan menjalani hari-hari yang terasa datar. Sampai suatu insiden kecil mengubah segalanya. Tanpa sengaja, Kanaya hampir menghancurkan motor kesayangan Altarel—pentolan SMA Nusa Bakti yang terkenal nakal, berani, dan selalu menjadi pusat perhatian. Sejak saat itu hidup Kanaya menjadi rumit. Altarel menuntutnya “bertanggung jawab” dengan caranya sendiri, membuat Kanaya terjebak menjadi semacam asisten pribadi atau lebih tepatnya, “babu”—bagi cowok yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan.
Senin pagi itu, suasana di SMA Nusa Bakti riuh bukan main. Gerbang sekolah baru saja dibuka, dan halaman sudah dipenuhi murid-murid berseragam putih abu-abu.
Ada yang baru turun dari motornya, ada yang berlari kecil sambil menenteng tas, ada pula yang berdiri santai di koridor sambil bercermin di layar ponsel. Beberapa siswa sibuk menyiapkan atribut upacara bendera.
Di sisi lain, sekelompok murid yang kebagian piket tampak mondar-mandir membawa sapu dan kemoceng.
Tak sedikit pula yang asyik tertawa-tawa di bangku taman, menggibah dengan suara setengah berbisik, seolah Hari Senin tak pernah benar-benar terasa seperti hari paling berat dalam seminggu.
Di antara keramaian itu, ada Kanaya Salsabilla. Ia hanya sekadar murid biasa di sekolah ini. Namanya tak pernah terpampang di papan peringkat nilai, wajahnya tak pernah menjadi pusat perhatian, dan suaranya tak pernah terdengar paling keras di kelas. Ia hanyalah satu dari sekian banyak murid biasa yang keberadaannya sering luput dari sorotan.
Temannya pun tak banyak. Hanya Selina Maharani, sahabat yang entah bagaimana selalu memilih duduk di sampingnya, mendengarkan keluh kesahnya, dan tertawa bersama hal-hal sederhana yang bagi orang lain mungkin tak berarti apa-apa.
Di pojok kelas 10 IPS 2, Kanaya duduk di depan jendela yang sedikit terbuka. Angin pagi meniup pelan rambut hitamnya. Ia bercermin sambil merapikan dasi dengan gerakan hati-hati, memastikan lipatannya sejajar dan rapi sebelum upacara dimulai.
“Heran, deh. Kok bisa satu kelas nggak ada yang toleransi. Peka dikit dong, saling tolong-menolong gitu. Emang nyaman apa belajar di lingkungan kotor?” cerocosnya, nada suaranya setengah menggerutu.
Kanaya tersenyum tipis, masih fokus merapikan kerahnya. “Ya gitulah. Tahu sendiri kelas sebelah tuh individualis banget.”
“Tapi kebangetan, Nay. Yang tugas piket pada izin semua, terus teman kelasnya diam aja? Bukannya minimal ada yang inisiatif bersihin?”
“Iyalah,” jawab Kanaya singkat.
Obrolan mereka mengalir ringan, membicarakan kelas 10 IPS 3 yang kemarin sempat menjadi bahan gosip satu angkatan karena membiarkan kelasnya berantakan sebelum pelajaran dimulai. Lantai yang kotor, papan tulis tak terhapus, bahkan tempat sampah nyaris meluap.
Alasannya sederhana, semua petugas piket izin tidak berangkat. Dan tak satu pun murid lain merasa perlu menggantikan, membuat wali murid marah dengan hal itu.
Belum sempat percakapan mereka berlanjut, bel upacara berbunyi nyaring memekakkan telinga dan memantul di setiap sudut gedung. Suaranya seperti komando tak terlihat yang memaksa seluruh murid bergerak serempak.
Dalam hitungan detik, koridor yang tadinya ramai berubah menjadi arus manusia yang berhamburan menuju lapangan. Suara langkah kaki, tawa yang tertahan, dan teriakan kecil panitia upacara bercampur jadi satu.
Kanaya menarik napas pelan. “Yuk,” katanya singkat.
Ia melangkah keluar kelas bersama Selina, menyatu dalam barisan panjang siswa SMA Nusa Bakti yang perlahan membentuk barisan rapi di bawah langit Senin yang masih pucat.
Matahari belum sepenuhnya tinggi, tapi cahayanya sudah cukup untuk menampakkan bayangan-bayangan tipis di atas lapangan. Dan di antara ratusan murid itu, Kanaya berdiri—biasa saja, sederhana saja.
“Langitnya pengertian, ya?” ucap salah satu murid di sebelah mereka.
“Iya, bener deh. Biar upacara kali ini kita adem,” jawab temannya.
***
Jam istirahat tiba, para murid bergerombol memenuhi kantin sekolah. Ada yang sibuk memesan mie instan dan es teh manis, ada yang mengantri gorengan sambil bercanda, ada pula yang hanya membeli air mineral lalu duduk mengobrol panjang.
Beberapa siswa memilih makan di kursi kantin yang berderet sederhana. Tak sedikit pula yang membawa makanan mereka ke tangga, ke bawah pohon ketapang di halaman sekolah, atau kembali ke kelas masing-masing untuk makan sambil bersantai. Kanaya dan Selina termasuk yang terakhir.
Sementara itu, di halaman depan sekolah, tepat di balik pagar besi, gerobak-gerobak penjual kaki lima berjejer rapi. Ada siomay dengan uap panas yang mengepul, batagor yang digoreng dadakan, es teller warna-warni, hingga cilok dengan saus kacang yang kental. Suasana selalu ramai setiap jam istirahat.
Memang begitulah, kehidupan sehari-hari di SMA Nusa Bakti ini. Sekolah swasta yang berdiri cukup lama di kecamatan itu. Bangunannya tidak megah, cat dindingnya tak selalu tampak baru, dan fasilitasnya pun sekadar cukup.
Lab komputer berisi perangkat lama yang kadang harus dinyalakan dua kali, perpustakaan kecil dengan rak-rak kayu yang sederhana, serta lapangan upacara yang sekaligus menjadi lapangan olahraga tanpa pembatas khusus.
Sekolah itu tetap berjalan sebagaimana mestinya. Tak pernah masuk daftar sekolah favorit, tak pula dikenal sebagai sekolah unggulan.
Di sini hanya sekolah biasa tempat anak-anak dengan mimpi sederhana belajar, tumbuh, dan berusaha menemukan versi terbaik dari diri mereka, meski dengan fasilitas seadanya.
“Nay, kemarin Minggu ngapain aja?” tanya Selina sambil memasukkan kerupuk pedas ke mulutnya. Bunyi kriuk-kriuknya terdengar jelas, seolah ikut menyela udara siang yang hangat di ruang kelas sekolah itu.
“Biasalah.”
“Di rumah, rebahan aja?”
“Yup. Betul sekali.” Kanaya mengangkat jari jempolnya, lalu menyeruput es tehnya yang tinggal setengah.
“Sesekali main yuk, Nay. Ke mana gitu. Kamu nggak suntuk apa di rumah terus?”
“Kadang suntuk sih,” jawab Kanaya pelan. “Tapi kan belum ada uang. Masa iya mau utang kamu lagi? Utangku yang bulan kemarin aja belum lunas.”
Selina memutar bola matanya. “Yaelah, santai aja napa sih, Nay. Kayak sama siapa aja.”
“Sebenarnya aku mah santai, Sel. Cuma tuh pusing mikirin mau mengembalikannya loh. Kalau mau main, aku ngumpulin uang dulu ya. Rencana mau ke mana emangnya?”
Selina menopang dagu, berpikir keras. “Yang adem-adem gitu enaknya ke mana ya?”
Kanaya menatap halaman sekolah yang silau terkena matahari. “Wah satu frekuensi kita. Pingin ngademin pikiran dan mental. Istirahat sejenak dari tatapan dan omongan manusia-manusia berisik.”
“Ke curug?”
Kanaya langsung menoleh. “Boleh deh, tapi tunggu ya. Harus ngumpulin uang saku dulu ini,” ucapnya sambil menyengir.
“Iya iya,” celetuk Selina sambil terkekeh.
Obrolan demi obrolan kian meluncur dari mulut dua sahabat itu. Dari membahas rencana liburan yang belum tentu jadi, diet yang selalu gagal, sampai pelajaran selanjutnya yang setelah istirahat pertama ini akan mereka hadapi dengan pasrah.
“Tapi kalau dipikir ya, hampir semua pelajaran tuh kayak nggak ada yang menarik buatku rasanya,” ujar Kanaya tiba-tiba, nadanya berubah lebih pelan. “Kapasitas otak aku kecil banget apa ya?”
Selina berhenti mengunyah. “Jangan gitu, Nay.”
“Serius. Kadang aku ngerasa orang lain cepet banget nangkepnya. Aku tuh kayak loading lama.”
“Kadang insecure ya, sama kok sebenarnya. Aku juga sering nggak ngerti. Tapi nggak boleh gitu, Nay. Yang penting kan kita ada usaha belajar. Lagian faktanya, hampir semua orang tuh emang nggak suka matematika kayaknya deh.”
Selina menghela napas panjang. “Matematika tuh kayak mantan. Makin dipelajari, makin bikin sakit kepala.”
“Hahaha. Mantan siapa dulu nih?” kali ini Kanaya kembali bersuara.
“Ya mantan nilai bagus ku waktu masih SD,” jawab Selina.
Mereka tertawa bersamaan. Tawa yang sederhana, tapi cukup buat mengusir sedikit beban yang tak pernah benar-benar mereka ceritakan.
Kring-kring-kring.
Bel masuk berbunyi nyaring, memotong sisa tawa mereka. Selina langsung meneguk habis es teller di depannya. Tanggung, tinggal sedikit.

Lilac Girl
5 Pengikut · 1 Novel