Aku
tidak pernah menyukai pintu besi. Bunyi gesekannya terlalu familiar. Seperti
suara pengkhianatan yang membuka dan menutup hidupku tanpa peringatan.
Saat
itu hujan turun pelan. Gerimis seperti suara napas seseorang yang baru selesai
menangis. Aku berdiri di ambang pagar besi penjara dengan satu tas kecil di
tangan dan selembar surat bebas bersyarat yang bahkan tidak aku baca.
Dunia
di luar terlalu terang untuk mata yang lama terbiasa dengan lampu mati pukul
sepuluh malam. Namun, kali ini aku tidak menutup mata. Tidak akan.
"Zeora
Calleigh."
Namaku
dipanggil oleh petugas laki-laki yang menatapku seperti aku hanya tambahan
dokumen di daftar hari ini. Aku tidak menyahut. Aku hanya melangkah pergi, satu
langkah yang terasa seperti menekan ulang hidup yang sudah lama mati.
Tidak
ada yang menjemput atau menunggu. Namun, aku tidak mengharapkan siapa-siapa.
Dua
tahun lalu, seseorang melemparkanku ke sini tanpa sedikit pun keberanian untuk
melihat mataku. Pria itu duduk di kursi saksi dan menolak bicara. Diamnya jauh
lebih tajam dari seribu tuduhan. Sementara perempuan yang duduk di sampingnya,
Elaya, tampak tersenyum seperti semuanya berjalan sesuai rencana.
Mereka
pasangan sekarang. Kabar itu aku terima dari seorang mantan napi di blok sel
sebelah. Katanya pernikahannya akan digelar akhir pekan ini
Aku
sempat diam cukup lama saat mendengarnya. Lalu tertawa. Tawa yang datar dan
berat, seperti menertawakan lelucon yang terlalu buruk.
Tidak.
Aku tidak ingin mengganggu. Aku hanya ingin hadir.
Empat
hari kemudian, aku berdiri di depan cermin dengan gaun merah menyala yang
disewa dari butik kecil. Gaun itu menempel pas di tubuh yang sudah tidak sama
seperti dua tahun lalu. Semua lemak berlebih telah hilang bersama harga diriku.
Sekarang yang tersisa hanya kulit, tulang dan tekad.
Aku
berdiri di lobby hotel tempat mereka menggelar pesta pernikahan. Orang-orang
datang dengan senyum dan gelas minuman anggur. Tidak ada yang mengenaliku.
Bahkan saat aku berjalan masuk ke ballroom, tak satu pun mata menatapku seperti
mantan narapidana.
Sampai
Rhavian melihatku. Tatapannya membeku. Gelas di tangannya nyaris jatuh.
Lalu
Elaya, oh, astaga dia mendekatiku dengan gaun putih dan aura pengantin
palsunya. "Kau tak diundang, Zeora."
Aku
tersenyum. Senyum yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.
"Aku
tahu." Lalu kubuka clutch kecilku, mengeluarkan segepok uang tunai dan
melemparkannya ke arah Rhavian. Uang itu berserakan di atas lantai marmer dan
menyentuh kaki para tamu yang mulai memperhatikan.
"Anggap
saja itu sumbangan atas kebodohan masa lalu."
Elaya
melotot. Wajahnya refleks memerah. "Kau gila, ya?"
"Tidak.
Aku hanya tidak ingin melewatkan kesempatan melihat seberapa jauh kalian bisa
berpura-pura."
Elaya
maju selangkah. "Keluar dari sini sekarang juga!"
"Sudah kubilang, aku tidak
diundang, tapi tidak ada yang melarangku untuk menyaksikan seseorang menikahi
kebohongan."
Tangan
Elaya meraih gelas di meja terdekat dan menyiramkannya ke tubuhku. Cairan merah
manis mengenai wajah dan bagian depan gaunku. Aku tetap diam. Para tamu mulai
berbisik. Sebagian bahkan mengangkat ponsel. Rhavian tampak hendak bicara, tapi
lidahnya kaku.
"Lihat?
Bahkan saat basah pun aku masih lebih berkelas darimu."
Elaya
hendak menamparku, tapi tangannya dicegah oleh suara tegas yang datang dari
arah belakang.
Seseorang
masuk dari sisi kiri aula. Pria bertubuh tinggi dengan jas hitam elegan,
wajahnya terkenal di layar bisnis dan media. Itu Leon Navarre.
Dia
mendekat, melepas jasnya, lalu menyampirkannya ke bahuku tanpa bicara. Kamera
para tamu mulai menyala. Leon menatap semua orang.
"Saya
rasa cukup. Calon istri saya tidak suka acara resepsi yang terlalu
berisik."
Aku
menatapnya. Dia tidak melihatku, tapi tangannya yang menyentuh bahuku cukup
hangat untuk menyadarkanku bahwa ini bukan bagian dari rencanaku.
Kami
keluar dari ballroom di tengah bisik-bisik dan kilatan kamera. Di luar, udara
dingin dan basah menampar wajahku. Leon melepas jasnya dari bahuku dan
melemparkannya ke kursi terdekat.
"Nama
tengahmu berapa huruf?" tanyanya tiba-tiba.
Aku
mengerutkan kening. "Apa?"
"Lima.
Oke. Nanti kita cocokkan dengan nama belakangku."
"Aku
tidak tahu siapa dirimu."
"Semua
orang tahu siapa kau sekarang dan kebetulan aku sedang membutuhkan istri. Kau
kelihatan bisa menjadi aktris yang meyakinkan."
Aku
menatapnya tajam, meraih jas di kursi dan menyerahkannya kembali ke tangannya.
"Terima kasih untuk pertunjukannya, tapi aku tidak punya waktu untuk
menjadi bagian dari drama siapa pun."
Aku
berbalik dan hendak melangkah pergi. Namun, dua orang pria berpakaian gelap
muncul dari sisi kanan dan kiri, menghalangi jalanku tanpa berkata sepatah kata
pun. Aku mendongak untuk menatap mereka dingin. Mereka tidak bergerak sama
sekali.
"Apa
ini?"
Leon
menyandarkan tubuh ke pilar sambil menyilangkan tangan di depan dada. "Kau
benar-benar berpikir aku akan membiarkan seseorang semenarik dirimu berjalan
pergi begitu saja?"
Aku
menyipitkan mata. "Kau pikir aku mau ikut sandiwaramu?"
"Kau
tidak harus ikut sekarang, tapi cepat atau lambat, kau akan sadar kalau ini
lebih menguntungkan dari sekadar sandiwara."
Aku
mengangkat dagu. "Aku tidak butuh penyelamat."
"Oh,
oke? Aku juga bukan pahlawan. Aku hanya pemimpin yang tahu kapan seseorang
terlalu berharga untuk dilewatkan."
Aku
memutar tubuhku. "Terserah. Lepaskan jalanku."
Leon
memberi isyarat kecil. Dua pria itu menepi. Namun, sebelum aku bisa melangkah
lagi, dia berkata, "Kau bebas pergi, tapi kalau kau berubah pikiran, aku
tidak akan berada di tempat yang sama dua kali."
Aku
terdiam, tapi langkahku memelan. Lalu pikiranku mulai bergerak lebih cepat dari
yang kukira. Tepat saat aku melewati mobil hitam yang terparkir di sisi
trotoar, pintunya terbuka otomatis. Dua orang yang tadi menghalangiku berdiri
di sana lagi. Tanpa aba-aba salah satu dari mereka memegang lenganku.
"Hei,
jangan sentuh aku!"
"Kau
bisa naik sendiri atau kubiarkan mereka mengangkatmu." Suara Leon
terdengar malas dari belakangku.
"Kau
gila!" Aku menyentakkan tangan, tapi tidak berhasil.
Leon
sudah berdiri terlalu dekat. Wajahnya tenang, bibirnya tersenyum kecil dan
matanya seperti mengukur seberapa keras aku bisa melawan sebelum lelah sendiri.
"Aku
hanya meminta kau duduk lima menit di dalam mobilku. Tidak lebih." Nada
suaranya santai, tapi ada tekanan halus di situ. Seperti seseorang yang
terbiasa membuat dunia bergerak dengan kata-katanya.