Jose Alexander duduk di kursi panjang kantin kampus, menatap menu yang terpampang di dinding. Matanya berbinar melihat tulisan besar-besar: “AYAM PENYET – Hanya Hari Ini, Gratis Sambal Terasi Tambah!”
“Horas! Ini rezeki namanya,” gumam Jose dalam hati. “Kalau aku dapat ayam penyet terakhir, pasti hari ini jadi hari paling bahagia. Siapa tahu sekalian dapat jodoh di kantin, bukan di kelas.”
Perutnya sudah berdendang dangdut. Dari kejauhan, ia melihat seorang gadis melangkah ke arah meja kasir. Rambut hitam lurusnya tergerai, wajahnya manis, langkahnya percaya diri. Jose spontan menegakkan duduknya.
“Siapa pula itu? Cakep kali! Jangan-jangan ini tanda-tanda cinta lokasi di kantin.”
Gadis itu bernama Lisa Anggraini. Mahasiswi yang terkenal rajin, pintar, dan, yang paling penting, anak dari dosen killer fakultas, tapi Jose belum tahu.
Lisa berdiri di depan kasir. “Bang, ayam penyet satu ya.”
Jose yang baru mau buka mulut langsung terloncat dari kursinya. “Horas! Tunggu dulu, Bang Kasir. Itu ayam penyet terakhir, kan? Aku sudah ngintai dari tadi!”
Kasir kebingungan, menoleh kiri kanan. “Iya, tinggal satu lagi, Dek. Jadi, siapa cepat dia dapat.”
Lisa memandang Jose dengan tatapan tajam. “Eh, maaf ya. Aku duluan pesan.”
Jose maju setapak, menyilangkan tangan di dada. “Aku duluan ngintai. Kau baru datang, aku sudah lama berdoa di sini. Tuhan pasti lebih dengar doa orang yang sabar.”
Lisa mendengus, matanya melotot kecil. “Horas, kau kira ayam ini warisan opungmu?”
Jose langsung menukas cepat. “Horas balik, kau kira ayam ini tinggalan marga-margamu?”
Beberapa mahasiswa yang makan di kantin langsung menoleh. Rumana, teman sekampus Jose, sampai terbatuk karena menahan tawa. Eka Santi dan Puteri Bintang yang duduk di pojok sudah mengeluarkan HP, siap merekam adegan kocak itu. Nur Faizah dan Riva Alivva saling berbisik sambil cekikikan.
“Ucok Jose ini lagi-lagi bikin heboh kantin,” bisik Riva.
“Parah. Baru ayam penyet saja sudah macam rebutan warisan keluarga,” timpal Nur Faizah sambil tertawa.
Lisa menghela napas panjang. “Bang, aku sudah bayar, kan? Jadi ayam ini punya aku.”
Kasir melirik nota di tangannya. “Eh, belum, Dek. Uangnya masih di tangan.”
Jose langsung menepuk meja. “Yes! Berarti masih ada kesempatan.”
Ia merogoh kantong celananya, mengeluarkan selembar uang, tapi ternyata dompetnya kosong. Hanya ada selembar seribuan yang lusuh. Jose panik.
“Bah! Malapetaka. Uangku tinggal seribu. Ayam penyet segede itu mana bisa dibeli pakai selembar gope dua kali lipat,” batinnya.
Lisa tersenyum puas. Dengan anggun ia mengeluarkan dompet mungil warna biru, menyodorkan uang pas ke kasir. “Satu ayam penyet, bungkus dengan sambal pedas level lima.”
Jose menatap uang di tangannya sendiri, lalu menatap Lisa. “Aduh, kalah modal aku, tapi tidak boleh kalah wibawa.”
Ia mendekati Lisa, lalu berbisik setengah bercanda. “Kalau begitu, boleh kita makan ayam itu berdua saja? Aku makan sambalnya, kau makan ayamnya.”
Lisa melotot. “Apa-apaan sih! Ini pesananku.”
“Ya kan sayang, lebih indah kalau berbagi,” Jose sengaja melunak. “Siapa tahu dari berbagi ayam penyet, jadi berbagi hati.”
Teman-teman di kantin langsung bersorak.
“Wuih, gombal Batak kelas internasional!” teriak Eka Santi sambil ngakak.
“Jose, kau memang raja drama kantin!” tambah Puteri Bintang.
Lisa menunduk, pura-pura sibuk dengan HP-nya, walau sebenarnya pipinya memerah. Ia tak menyangka cowok ini bisa seluwes itu melontarkan rayuan.
Jose makin percaya diri. Ia mengambil kursi dan duduk tepat di depan Lisa. “Kau tahu nggak, Lisa? Orang Batak itu selalu tulus. Kalau sudah suka, suka kali. Kalau sudah cinta, cinta kali, tapi kalau lapar, lapar kali juga.”
Lisa menahan tawa. “Kau ini serius atau memang tiap hari tugasmu bikin orang kantin ketawa?”
“Serius lah. Cuma gayaku memang agak sedikit apa ya komediana gitu,” jawab Jose sambil mengangkat alis.
Ayam penyet pesanan Lisa akhirnya datang. Aroma sambalnya langsung menyebar. Jose menelan ludah.
Lisa mulai makan, sementara Jose hanya bisa menatap penuh harap. “Eh, Lisa, aku boleh cicip sedikit nggak? Satu suap saja. Demi persahabatan.”
Lisa menatapnya tajam. “Baru kenal sudah minta suap. Kau pikir aku mamakmu?”
Suasana kantin meledak dengan tawa. Nur Faizah hampir tersedak es jeruknya.
Jose tak menyerah. Ia menadahkan tangan seperti pengemis. “Satu suap, Lisa. Kalau tidak, aku bisa jatuh pingsan di sini. Kau mau tanggung jawab?”
Lisa pura-pura cuek, tapi diam-diam ia mendorong sepotong kecil ayam ke piring Jose. “Ini, biar kau tidak drama lagi.”
Jose menatap potongan ayam itu seperti melihat berlian. “Horas! Ternyata kau bukan cuma cantik, tapi juga berhati malaikat.”
“Jangan banyak cakap. Makan saja.”
Jose tersenyum lebar, menyuap ayam itu dengan penuh kemenangan. “Aduh, enak kali rasanya. Lebih enak lagi karena suapan dari Lisa Anggraini. Kalau begini, aku yakin. Jodohku memang lahir di kantin!”
Rumana yang duduk tak jauh langsung menimpali. “Horas, Jose! Baru dapat sepotong ayam sudah bilang jodoh. Kalau kau dapat sekilo ayam, jangan-jangan kau langsung lamaran di kantin ini.”
Semua mahasiswa kembali tertawa terbahak-bahak. Lisa hanya menggeleng, tapi di sudut bibirnya tersungging senyum kecil yang tak bisa ia sembunyikan.
Dalam hati, Jose bersorak, “Yes! Satu langkah lebih dekat. Dari ayam penyet menuju hati Lisa.”
***
Suasana kantin semakin riuh. Semua mahasiswa sudah lupa sama makanannya masing-masing, sibuk menonton drama kocak Jose dan Lisa.
Eka Santi yang merekam dengan HP-nya berbisik ke Puteri Bintang.
“Kalau ini ku-upload ke TikTok, pasti viral. Judulnya Rebutan Ayam Penyet Berujung Jodoh.”
Puteri Bintang cekikikan. “Jangan lupa kasih caption. Horas, cinta datang dari sambal level lima!”
Rumana menepuk meja sambil ngakak. “Kau semua jangan-jangan lebih heboh daripada sinetron sore di TV!”
Sementara itu, Jose menatap Lisa dengan wajah penuh strategi. Dalam pikirannya, ia sudah menyusun seribu jurus gombal.
“Oke, Jose. Jangan kasih kendor. Sekarang saatnya bikin dia ingat sama kau seumur hidup. Kalau perlu, biar dia mimpiin kau tiap malam.”
“Lisa,” Jose memulai dengan nada sok serius. “Kau tahu nggak, ayam penyet itu ibarat cinta sejati.”
Lisa mengangkat alis. “Maksudmu apa lagi ini?”
“Kalau tanpa sambal, hambar. Sama lah kalau hidup tanpa kau.”
Seisi kantin langsung meledak.
“Woiii gombalnya naik level!” teriak Riva Alivva sambil tepuk tangan.
Lisa menutup wajahnya dengan tangan. “Astaga, kau ini ada-ada saja.”
Jose malah semakin menjadi. Ia berdiri, meraih sendok, lalu pura-pura berpidato.
“Saudara-saudara sekalian! Saksikanlah, di hari bersejarah ini, aku Jose Alexander resmi menyatakan bahwa jodohku sudah kutemukan di kantin universitas ini. Namanya Lisa Anggraini!”
“Woooooo!” teriak semua mahasiswa serentak, bersorak-sorai.
Lisa refleks berdiri, menarik tangan Jose agar duduk kembali. “Hoi, jangan gila kali kau! Semua orang lihat.”
Jose menyeringai. “Baguslah, biar semua orang jadi saksi cinta kita.”
“Cinta apanya! Kita baru kenal lima menit,” Lisa mengibaskan tangannya, wajahnya memerah.
Jose membalas cepat, “Cinta sejati tak butuh waktu lama, Lisa. Kayak sambal, sekali cicip langsung kepedesan. Sekali lihat kau, langsung panas hatiku eh, panas rindu maksudnya.”
Tawa kembali pecah. Nur Faizah bahkan sampai menutup mulut pakai jilbabnya agar suara tawanya tidak terlalu keras, tapi tetap saja terdengar.
Lisa menatap Jose dengan tatapan bercampur sebal dan geli. Ia mencoba mengalihkan topik. “Sudahlah, aku mau makan dengan tenang.”
Jose pura-pura cemberut, tapi diam-diam ia masih memperhatikan setiap gerakan Lisa.
“Aduh, cantik kali kalau makan sambil marah. Bah, jangan-jangan ini yang dinamakan cinta pertama di kantin.”
Rumana mendekat sambil membawa segelas es teh. “Jose, jangan kau ganggu Lisa terus. Biar dia makan lah. Kalau tidak, nanti sambalnya jadi dingin.”
Jose mengangguk, tapi tetap saja mulutnya tidak bisa berhenti. “Baiklah, Rumana. Aku kasih dia makan tenang, tapi setelah itu, aku tetap mau dapat suap terakhir. Biar jadi penutup manis hubungan kami.”