


oleh Siti Nuraini · 91 Bab
Suara dangdut menggema dari hutan larangan setiap tengah malam. Siapa pun yang mendengarnya, akan ikut menari tanpa sadar. Cinta, gadis desa sederhana, nekat membongkar rahasia kelam kampungnya. Namun, apa jadinya jika hantu penari cantik, pocong ketawa, dan arwah penasaran ikut meramaikan pesta? Horor, misteri, dan komedi berpadu dalam kisah menegangkan ini. Apakah desa bisa bebas dari kutukan joget arwah? Atau musik itu akan terus bergema … selamanya?
Malam itu, Desa Karangjati sunyi seperti biasa. Hanya terdengar suara jangkrik, sesekali lolongan anjing dari ujung desa, dan desiran angin menembus pepohonan bambu yang mengelilingi rumah-rumah warga. Lampu minyak di teras rumah berkelip pelan, seperti menari mengikuti irama alam.
Bagi orang luar, mungkin desa ini tampak damai, jauh dari hiruk pikuk kota. Namun, bagi warga yang sudah turun-temurun tinggal di sini, malam selalu menyimpan ketakutan. Terutama jika jam sudah melewati tengah malam.
Ada satu kepercayaan yang tak pernah berani dilanggar, jangan keluar rumah ketika suara musik terdengar dari arah hutan larangan. Sebab siapa pun yang mendengarnya, konon akan ikut menari tanpa sadar, seolah tubuh mereka bukan lagi milik mereka sendiri.
Cinta Wulandari, gadis desa berusia tujuh belas tahun, duduk di depan rumah kayunya malam itu. Rambutnya yang panjang tergerai, matanya menatap langit penuh bintang. Ia selalu menyukai malam, meski ibunya sering melarangnya duduk sendirian terlalu lama.
“Cin, masuklah. Anginnya dingin. Jangan sampai masuk angin, nanti sakit.” Suara lembut ibunya, Bu Sari, terdengar dari dalam rumah.
Cinta mendengkus kecil. “Iya, Bu. Sebentar lagi. Aku cuma mau lihat bintang.”
“Bintang bisa kau lihat besok malam juga, tapi kalau sudah waktunya suara itu muncul, kau jangan nekat!” Nada suara ibunya meninggi, jelas penuh kecemasan.
Cinta tahu maksudnya. Ibunya selalu takut kalau-kalau anaknya mendengar suara terlarang itu. Namun, justru larangan itulah yang membuat rasa penasaran Cinta semakin besar.
Sejak kecil, ia tumbuh dengan cerita-cerita tentang hutan larangan. Tempat di mana arwah menari, musik bergema, dan orang-orang hilang tanpa jejak.
Anehnya, tidak ada seorang pun yang bisa menceritakan kisah itu secara utuh. Semuanya hanya rumor, gosip, dan potongan-potongan cerita yang tak pernah jelas ujung pangkalnya.
Malam itu, Cinta menghela napas panjang. Ia masuk ke rumah, duduk di dipan bambu, lalu membuka buku catatan kecilnya. Ia memang suka menulis. Semua cerita orang-orang desa, semua gosip, semua peringatan, ditulisnya rapi di buku itu.
“Kalau memang benar ada sesuatu, aku pasti bisa menemukannya,” gumamnya dalam hati.
***
Di tempat lain, tepat di pos ronda desa, beberapa pemuda sedang berkumpul. Salah satunya adalah Raka Pratama, sahabat dekat Cinta. Raka terkenal kocak dan suka membuat orang tertawa, meski sering kali kelucuannya datang di saat-saat yang tidak tepat.
“Mbah Darmo bilang, dulu ada orang yang nekat masuk hutan pas malam hari. Pulangnya? Hahaha, nggak pulang! Hilang ditelan tanah!” ucap Raka dengan ekspresi menyeramkan.
Teman-temannya langsung menatapnya dengan wajah pucat. “Kau itu jangan sembarangan ngomong, Rak! Nanti benar-benar ada yang hilang, kau juga ikut disalahkan.”
Raka terkekeh. “Aku cuma cerita. Lagian, kalau memang ada musik dangdut tengah malam, apa salahnya kita ikut joget? Mungkin itu hiburan gratis dari arwah.”
Para pemuda mendengkus kesal, ada yang menimpukinya dengan sandal. “Dasar gila! Kau kira arwah itu artis kampung?”
Gelak tawa pecah sejenak, tapi tak lama kemudian, suasana kembali hening. Malam semakin larut. Angin berembus membawa hawa dingin. Mereka semua diam, menunggu dengan cemas karena jam hampir menunjukkan pukul dua belas.
Salah satu pemuda yang paling penakut, Bowo, memeluk bantal duduk di pos ronda. “Rak, kalau nanti ada suara beneran, jangan tinggalin aku ya.”
Raka menepuk pundaknya. “Tenang, kalau ada musik, aku jadi vokalisnya. Kau penari latar.”
“Gila kau! Serius aku takut ini!” Bowo hampir menangis.
***
Di rumah, Cinta sudah mulai mengantuk. Namun, tepat saat matanya hampir terpejam, telinganya menangkap sesuatu. Suara musik samar, jauh, tapi jelas. Alunan gendang berpadu dengan suara seruling, membentuk ritme yang aneh. Terlalu teratur untuk suara alam, terlalu hidup untuk sekadar angin.
Deg. Cinta terperanjat, matanya melebar.
Ia menegakkan tubuh, berusaha memastikan. Benar, suara itu berasal dari arah hutan larangan. Seperti sebuah pesta besar yang sedang berlangsung di balik pepohonan gelap.
“Tidak mungkin,” bisiknya.
Tubuhnya gemetar, bukan karena takut, tapi karena rasa penasaran yang semakin membuncah. Ia berjalan pelan ke jendela, membuka sedikit tirai bambu, dan mengintip keluar.
Malam tetap gelap, hanya ditemani cahaya kunang-kunang, tapi suara itu semakin jelas. Anehnya, ia merasa kakinya mulai gatal untuk bergerak mengikuti irama.
Tidak! Cinta menggigit bibir, mencoba menahan diri. Ia ingat pesan ibunya, pesan semua orang desa, jangan ikut menari. Namun, semakin ia menahan, semakin kuat godaan itu.
***
Sementara itu, di pos ronda, para pemuda juga mendengarnya. Wajah mereka pucat, tubuh mereka kaku. Raka yang tadinya sok berani kini ikut bergidik.
“Rak, kau dengar?” bisik seorang temannya.
Raka menelan ludah. “Iya. Itu, itu musik beneran. Dangdut koplo, bro!”
Beberapa pemuda langsung ketakutan, tapi anehnya, satu per satu dari mereka mulai menggerakkan kaki, lalu pinggul, lalu tangan, seperti penari yang tak bisa dikendalikan.
“Eh, eh, jangan joget! Jangan!” seru salah seorang, tapi terlambat. Temannya sudah melompat-lompat, tertawa-tawa, seakan berada di sebuah pesta.
Raka sendiri berusaha menahan, tapi tubuhnya goyang ke kanan-kiri. “Astaga, kenapa kakiku ini? Kenapa tanganku kayak. Woy, ini bukan aku!” Ia panik, tapi wajahnya malah terlihat lucu karena tangannya berputar seperti kipas angin.
Bowo menjerit. “Aku nggak mau ikut! Aku takut! tapi kok kaki ini ikut dangdutan juga, Rak?!” Tubuhnya berjoget aneh, campuran ketakutan dan kocak.
Di kejauhan, lolongan anjing berubah menjadi lengkingan panjang, seperti ikut dalam orkestra aneh itu.
***
Cinta semakin tak tahan. Ia membuka pintu pelan-pelan, melangkah keluar rumah. Angin malam menyapa, dingin menusuk kulit. Suara musik itu, oh suara itu semakin dekat, semakin memikat. Namun, sebelum ia melangkah lebih jauh, sebuah tangan kuat menariknya dari belakang.
“Cinta! Kau gila? Mau ke mana?”
Itu ibunya. Wajah Bu Sari pucat pasi, matanya penuh ketakutan. “Kau ingin mati, hah? Jangan pernah keluar saat musik itu berbunyi!”
Cinta menunduk, merasa bersalah. Dalam di hatinya, rasa ingin tahu semakin membara.
Di rumah-rumah lain, warga desa yang juga mendengar suara itu mulai panik. Beberapa orang buru-buru menutup rapat jendela, memadamkan lampu minyak, lalu menguncinya dengan kain sarung agar tak ada cahaya keluar.
Dari celah-celah dinding bambu, terdengar suara doa lirih. Ada yang membaca ayat-ayat suci dengan terbata, ada pula yang hanya menutup telinga rapat-rapat sambil menangis. Namun, meski telinga ditutup, musik itu tetap terasa.
Bukan hanya suara, tapi seperti getaran yang merasuk ke dada. Seolah-olah suara gendang berasal dari dalam tubuh mereka sendiri.
Cinta berdiri kaku di samping ibunya, mendengarkan bagaimana lantunan aneh itu membungkus seluruh desa. Pikirannya dipenuhi tanda tanya. Siapa yang bisa memainkan musik sebesar itu di tengah hutan larangan? Mengapa bisa terdengar sejelas ini?
Sementara itu, di pos ronda, Raka semakin tak karuan. Ia mencoba menahan tubuhnya dengan memegang tiang kayu, tapi justru kakinya bergoyang makin cepat.
“Woy, kalau ada yang rekam, jangan upload ke TikTok, sumpah aku malu!” teriaknya, meski wajahnya sendiri sudah sepenuhnya panik.
Bowo malah menjerit ketakutan. “Rak! Kalau aku kesurupan, bilangin ibuku aku sayang dia!” Tangannya bergerak-gerak seperti orang main angklung, membuat suasana jadi semakin absurd.
Di antara rasa takut, Cinta justru merasakan sesuatu yang berbeda: dorongan yang begitu kuat untuk tahu kebenaran. Malam itu ia bersumpah dalam hati terdalamnya seberbahaya apa pun, ia akan mencari tahu rahasia musik dari hutan larangan.
Malam itu menjadi malam pertama Cinta benar-benar mendengar langsung musik terkutuk dari hutan larangan. Malam ketika ia menyadari bahwa semua cerita, semua larangan, semua gosip ternyata bukan sekadar dongeng.
Kini ia tahu, cepat atau lambat, ia harus menemukan kebenaran di baliknya.

Siti Nuraini
38 Pengikut · 6 Novel