Matahari bersinar terang, panasnya membuat Erika berkeringat.
"Buka yang lebar jendelanya, Mar!" perintahnya pada Damar, yang duduk dekat jendela.
"Ini sudah mentok, Ka, udah ngga bisa diturunkan lagi." Jawaban Damar agak sewot, "Emang kau saja yang kepanasan, kami semua juga!" sambungnya lagi.
"Izh ...." Erika mendorong pelan lengan lelaki itu.
Mobil berjalan tenang, dengan pengemudi bernama Satria. Ada enam penumpang. Erika, Damar, Fiona, Satria, Bayu, dan Elang. Mereka berenam berniat munggah gunung Merbabu. Izin sudah ada, jadwal pemberangkatan pun sudah didapatkan dari base camp.
Mereka sudah berkali-kali melakukan hal ini, sedianya mobil akan dititipkan di basecamp saja.
"Ini kita lewat jalur timur, ya. Ingat kita cuma survey saja. Setelah mencatat semua keadaan pos, kita langsung turun." Bayu sudah meultimatum kegiatan bulan ini.
"Siap, bos!" seru Fiona.
Laju mobil mulai melambat, "Kita berhenti dulu sebentar, pantatku panas, woy!" seru Satria dan memakirkan mobil di sebelah kiri jalan. Kiri kanan masih terlihat banyak pohon tinggi. Jalanan beraspal halus, tanda tempat ini masih mendapat perhatian dari pemerintah, karena menjadi jalur utama untuk kendaraan yang menuju kota Solo.
Serentak mereka bersorak, "Ah akhirnya, lumayanlah, bisa slonjor dulu."
Elang, Bayu dan Damar sudah duduk di jalan beraspal, seraya merentangkan kaki panjang mereka. Ketiga cowok keren ini mempunyai tinggi hampir sama, 170'an. Otomatis lutut mereka agak tidak nyaman dalam perjalanan jauh.
Erika dan Fiona pun melakukan hal yang sama. Erika mulai mengibas-ngibaskan karton untuk mengusir rasa gerah yang sedari dari menyelimutinya.
"Memang udaranya lagi panas, ya?" celetuknya, seraya ikutan duduk di antara mereka bertiga.
"He em, kok ngga biasanya ya? Padahal kita udah di kaki gunungnya loh," jawab Fiona, sesaat pandanganya diedarkan ke seluruh alam yang terbentang. Sunyi.
Satria nampak sibuk membuka kap mobil dan menambah air untuk karburator mesin.
Fiona masuk mobil lagi dan menenteng makanan dari dalam tasnya.
"Aku lapar," katanya sambil manyun.
"Kau ini, kebiasaan. Sini bagi!" seru Damar.
Mereka pun melepas lelah sejenak, sambil berbincang. Satria menelepon seseorang sahabatnya yang bertugas di base camp, dan tak lama terlibat perbincangan ringan, Satria terlihat tertawa dalam candanya lewat hubungan via telepon tersebut.
"Yuk, jalan lagi, paling ngga ada satu jam kita sampai di base camp." Satria segera mengajak teman-temannya.
"Oke, siap."
Semua pun masuk kembali ke dalam mobil. Panther warna hitam legam itu bergerak kembali menuju tempat berkumpulnya para pendaki yang hendak naik ke gunung Merbabu.
Waktu menunjukkan pukul 14.00 siang. Mobil sudah terparkir sempurna di tempat parkiran untuk penitipan mobil.
Satria terlihat nampak serius berbincang dengan teman yang tadi di sambungan telepon.
Fiona dan Erika terlihat sudah berganti pakaian bersih dan sudah melaksanakan shalat Dhuhur. Begitu juga Damar, Elang dan Bayu.
Mereka duduk santai di sudut ruangan, tak lama kopi yang mereka pesan pada salah satu warung, datang.
"Nah, ini kopi yang panas nikmat sudah datang, terima kasih, Pak." Damar segera membayar semua kopi yang masih berasap dan tercium aroma yang menyegarkan.
"Biar saja gelasnya di sini, Mas, biar nanti saya yang ambil. Monggo," kata pemilik warung, dan meninggalkan tempat tersebut.
Segelas kopi hitam, panas dan beraroma khas membuat mereka lupa akan penat tubuh dan lelah, yang tadinya lapar jadi terobati dengan segelas kopi ini.
Tak lama Satria pun sudah bergabung dengan rombongan.
"Gini, gaiz, kita bagi tiga kelompok, masing-masing ada dua orang. Erika dan Bayu, Damar dan fiona, dan aku berdua sama Elang. Kita terakhir naik. Pertama, Erika dan Bayu, lapor bila sampai pos 2, lanjut Damar dan Fiona, dan berikutnya aku dan Elang."
"Mengapa harus terpisah?"
"Ini merbabu, gaiz, memang harus begitu, dua-dua. Ingat ya, laporan tiap pos ke base camp. Kita hanya survey saja, karena ini juga untuk mapala pemula."
Semua terdiam, dan menurut saja perintah Satria.
"Kita akan melewati lima pos, dan 2 sabana, ini jalur pendek ya," jelas Satria seraya memberikan gambaran dan tugas-tugasnya nanti.
Mereka pilih jalur Thekelan via Salatiga, yang merupakan salah satu jalur tertua.
Urutannya adalah basecamp - Pos 1 - Pos 2 - Pos 3 - Pos 4 - Watu Gubug - Puncak.
Pejelasan dari Satria begitu jelas sekali.
"Paling tak ada tiga hari selesai, karena kita hanya butuh tes track saja. Ingat cuma survey dan tetap patuhi rambu-rambu pendakian."
"Siap!" seru Erika dan Fiona bebarengan, disambut senyum manis Elang, Damar dan Bayu. Tiga pentolan yang banyak digilai para mapala junior.
"Kita mulai besok, pukul enam pagi, sekarang malam ini, istirahat di barak dulu." Satria tersenyum sambil menunjukkan ranjang terbuat dari bambu alias lincak.
Fiona tertawa ngakak, "Tak apa, asal bisa tidur nyenyak, ya ngga, Erika?"
"Yo'i," balas Erika yang memang sama-sama sefrekuensi. Tomboy, dan cuek.
"Terus, aku di mana?" tanya Damar.
"Noh, di sana!" tunjuk Satria pada tempat mushola kecil.
Semua tersenyum tulus, walaupun dari tim basecamp juga menyediakan kamar untuk mereka, akan tetapi Satria menolaknya, karena banyaknya dari pengunjung malam yang lebih membutuhkan.
Angin bersemilir tenang, terlihat Erika dan Fiona sudah terlelap dalam sleeping bagnya masing-masing. Satria dan Damar pun terlihat sama, mereka malah mendengkur halus. Bayu dan Elang masih membenahi tali-tali yang sedianya akan mereka gunakan besok pagi.
Malam ini terasa tenang, tak ada suara-suara bising orang mengobrol, ataupun gitar yang mengalun.
"Aku merasa aneh dengan keadaan sekitar, atau hanya aku saja yang merasa, ya?" celetuk Bayu pada Elang.
Elang menatapnya pelan, "Aku pun merasakan juga, semoga besok baik-baik saja."
"Aamin," balas Bayu lirih.
Tampak dari jauh, terdengar genderang berdengar samar. Asap tipis membumbung tinggi. Langit berwarna jingga berbaur awan hitam legam. Bulan semburat jingga sedikit merah, malu-malu untuk menampakkan diri.
Malam itu, hutan di lereng Gunung Merbabu mulai menyimpan sesuatu yang belum mereka pahami.