


oleh Djune86 · 6 Bab
Semua orang percaya Arin tewas dalam kecelakaan tragis, mobilnya hangus terbakar, kasusnya ditutup begitu saja. Namun, Arin masih hidup. Diselamatkan secara diam-diam, ia terpaksa bersembunyi saat dunia menganggapnya telah tiada. Sementara itu, Evan Calder, pria yang tak pernah bertindak tanpa perhitungan, terseret ke dalam kejadian ini setelah keputusan impulsifnya. Semakin jauh mereka melangkah, semakin jelas bahwa kecelakaan itu bukan kebetulan. Dan yang paling berbahaya bukan musuh yang tersembunyi, melainkan orang-orang terdekat.
Seperti malam-malam biasanya, meja makan telah dipenuhi oleh berbagai hidangan yang tertata rapi. Uap tipis naik perlahan, memenuhi ruangan dengan aroma lezat dan hangat yang menenangkan.
Arin baru saja mematikan kompor untuk masakan terakhir, ketika ponselnya bergetar di atas meja dapur.
Ia masih berdiri di sana, tatapannya berhenti sejenak saat melihat nama bibinya muncul di layar.
Kening Arin berkerut, ada perasaan tak enak yang langsung mengendap dalam dadanya. Tak seharusnya wanita itu menelepon, keluarga itu tak pernah datang tanpa membawa masalah untuk dilimpahkan kepadanya.
Ia membiarkan ponsel itu bergetar beberapa detik lebih lama, seolah berharap panggilan itu menghilang dengan sendirinya.
Meskipun ia tahu, itu tidak akan berhenti.
Dengan tarikan napas pendek, Arin mengangkatnya. Namun, belum sempat ia menyapa, suara panik lebih dulu menyergap telinganya.
“Ayahmu baru saja dibawa pergi ke kantor polisi!”
Untuk sesaat, dapur terasa sangat sunyi.
Mendengar kata ayah saja, sudah cukup untuk menyeret Arin pada kenangan yang ingin ia kubur dalam-dalam, tentang seorang pria yang gemar menyakiti, lalu pergi tanpa menoleh saat ia membutuhkan perlindungan. Kini sosok itu muncul kembali, seperti biasa, membawa satu hal yang tak pernah berubah: masalah.
Detik berlalu tanpa reaksi, Arin tidak bertanya, tidak pula menangis. Yang ia rasakan bukanlah kesedihan atau kasihan, melainkan rasa waswas yang membuatnya membeku.
Pikirannya hanya tertuju pada satu hal, jika ini sampai bocor dan menjadi perbincangan publik, tidak hanya namanya yang akan terseret, tapi juga semua usaha yang ia bangun susah payah selama ini juga akan hancur.
Arin menutup panggilan tanpa mengucapkan kata. Tangannya yang bergetar melepas apron dari pinggangnya, dan menaruhnya begitu saja di atas meja dapur.
Tak ingin membuang waktu, Arin bergegas menuju kamar. Langkahnya sempat goyah, tetapi ia tak berhenti.
Ia segera meraih mantel dari gantungan dan memakainya. Namun, sebelum Arin sempat melangkah keluar, pintu kamar terbuka dengan entakan keras.
Ryan berdiri di ambang pintu dengan wajah tegang dan napas memburu. Sebuah amplop cokelat yang tampak kusut tergenggam erat di tangannya.
Amplop yang Arin bahkan tidak perlu bertanya untuk tahu apa isinya.
Tanpa basa-basi, Ryan membuka amplop itu dan menarik selembar kertas, lalu menyodorkannya tepat di depan wajah Arin.
Surat Cerai, tulisan besar itu terpampang jelas di bagian atas kertas.
“Tanda tangani ini sekarang juga!” kata Ryan tajam.
Arin menghela napas pelan, memutar bola matanya dengan lelah. “Sayang,” panggilnya lembut, nyaris tanpa emosi. “Aku tidak punya waktu untuk ini sekarang,” lanjutnya sembari merapikan mantelnya.
Ia melangkah keluar kamar, melewati Ryan begitu saja. Tangannya dengan cepat menyambar kunci mobil dan ponsel yang tergeletak di atas meja makan.
“Kau mau ke mana?!” seru Ryan mengikuti dari belakang.
“Kita bicarakan ini nanti. Oke?” Arin menjawab tanpa menoleh.
Bibirnya mengulas senyum lembut, raut wajahnya tenang, terlalu tenang bahkan. Seakan percakapan itu tak lebih dari gangguan singkat. Namun, belum sempat Arin meraih gagang pintu, Ryan mencengkeram lengannya dan menariknya kembali.
“Apa kau mau menemui ayahmu?”
Seketika tubuh Arin menegang, wajahnya memucat, reaksi yang bahkan tidak muncul saat surat cerai disodorkan padanya. “Bagaimana kau bisa tahu?” Suaranya melemah tanpa ia sadari.
"Kenapa?" Ryan tersenyum miring. "Selama ini kau sibuk menyembunyikannya. Jadi kau terkejut sekarang aku tahu?”
Ryan melangkah mendekat, mempersempit jarak di antara mereka. Tatapannya tajam dan dingin.
“Apa kau yang melakukannya?” suara Arin bergetar, tapi sorot matanya tidak goyah.
“Benar!” jawab Ryan tanpa ragu. “Aku yang melakukannya.” Nada suaranya terdengar sangat puas.
“Apa kau sudah gila?” Arin melangkah maju, rahangnya mengeras. “Kalau ini sampai diketahui publik, bukan hanya aku—”
“Aku tidak peduli!” bentak Ryan. Suaranya menggema, meruntuhkan ketenangan yang semula ada.
“Lagi pula hari ini aku pasti akan menceraikanmu. Jadi cepat tanda tangani sekarang!”
Ryan menarik lengan Arin dengan kasar, menyeretnya masuk kembali.
Kunci mobil dan ponsel terlepas dari genggaman Arin, jatuh ke lantai. Sepatu-sepatu yang semula tertata rapi di dekat pintu kini berantakan oleh langkah mereka.
Dengan satu ayunan penuh emosi, Ryan menyapu meja makan. Piring-piring beserta isinya terlempar dan menghantam lantai, pecah dengan suara yang memekakkan telinga.
“Lepaskan!” Arin memberontak. “Aku bilang lepaskan!”
Dalam kekalutan, Arin mengerahkan seluruh tenaganya.
Tubuhnya yang kecil terus meronta, berusaha melepaskan diri. Namun, tanpa sengaja tangannya yang terayun mengenai pipi Ryan dengan keras.
Suara tamparan itu membuat ruangan mendadak sunyi.
“Beraninya kau—”
“Sadarlah!” potong Arin. Napasnya tersengal, dadanya naik turun tak beraturan. “Apa ibumu tahu apa yang sedang kau lakukan padaku sekarang?”
Ia menatap Ryan tanpa gentar. “Aku sudah memperingatkannya. Aku yakin sudah menjelaskan apa yang akan terjadi kalau kalian memaksaku bercerai!”
Ryan mengacak rambutnya dengan frustrasi. “Sebenarnya apa yang kau miliki sampai membuatmu sekeras ini?!”
Arin menyeringai. “Tanyakan saja pada ibumu.” Tatapannya dingin, tanpa ada sedikit pun kehangatan di sana.
“Sampai kapan pun aku tidak akan bercerai. Aku tidak akan membiarkan diriku jatuh sendirian.”
Ia kemudian membungkuk, mengambil kembali kunci dan ponselnya dari lantai, lalu melangkah pergi tanpa menoleh sedikit pun.
Pintu tertutup di belakangnya, meninggalkan gema di rumah yang telah porak-poranda.
Ryan berdiri di ruang tengah, tangannya mengacak rambut dengan gerakan kasar.
Ia merogoh ponselnya tanpa ragu, jarinya menekan satu nama yang sudah terlalu sering ia hubungi hari ini. Napasnya berat, dadanya naik turun dengan cepat, seolah seluruh kemarahannya telah siap diluapkan begitu sambungan terhubung.
“Kenapa wanita itu bisa sebegitu percaya dirinya?!” bentaknya pada detik pertama. Rahangnya mengeras, urat di lehernya menegang, wajahnya memerah menahan amarah yang tak tersalurkan.
Di seberang, suara ibunya terdengar tenang, sangat kontras dengan keadaannya. “Apa kau kembali memintanya bercerai?” tanyanya. “Sudah Ibu bilang, jangan lakukan itu.”
Ryan mengusap wajahnya dengan kasar, lalu berjalan mondar-mandir. Cengkeraman pada ponselnya menguat. “Sebenarnya apa yang ia miliki sampai Ibu terus menuruti kemauannya?” Suaranya meninggi, nadanya sarat akan kejengkelan bercampur kebingungan.
Hening sejenak mengisi percakapan itu, sebelum suara di seberang kembali terdengar.
“Untuk sekarang, tenangkan dirimu. Ibu akan mengurusnya.”
Langkah Ryan terhenti.
“Mengurusnya?” Ia tertawa pendek tanpa humor. “Wanita itu benar-benar tidak tahu malu.”
“Ryan, dengarkan Ibu.” Nada suara itu berubah, lebih rendah dan lebih menekan. “Sekarang juga kau kembali ke kantor. Pastikan ada orang yang melihatmu di sana. Kalau bisa, banyak orang.”
Kening Ryan berkerut. “Apa yang akan Ibu lakukan?”
“Turuti saja perintah Ibu,” jawabnya singkat. “Ibu akan mengurus wanita itu.”
Ryan menurunkan ponselnya perlahan.
Rumah itu kembali sunyi, tetapi ketenangan yang tersisa terasa ganjil, seolah sesuatu sedang disiapkan di balik layar, bergerak tanpa suara, menunggu saat yang tepat untuk muncul ke permukaan.
Bersambung

Djune86
0 Pengikut · 1 Novel