


oleh nisriandini · 41 Bab
Satu murid jatuh dari rooftop. Darah mengalir, rahasia terbuka. Sekolah elit Imperion bukan lagi tempat yang aman—ini medan perang bayangan. Ketua OSIS, geng elite, dan seorang murid misterius …. Siapa yang sebenarnya menarik benang di balik tragedi ini?
Dering telepon memecah kesunyian pagi itu, mampu membuat seseorang di balik selimut perlahan menggerakan tubuhnya. Dengan kelompak mata yang masih tertutup salah satu tangan meraba ke arah atas nakas, mencari sesuatu di sana. Mengambil benda persegi panjang yang terus berdering.
"Hallo?" Ia menjawab dengan suara serak, khas orang bangun tidur.
"Cepat ke sekolah!" kata perempuan di seberang sana dengan nada tidak santai.
Akhirnya mata gadis yang nampak enggan bangun itu terbuka sepenuhnya. Menatap ke arah jam weker yang masih menunjukkan pukul 6.15 di mana ia masih memiliki waktu 5 menit lagi untuk berlari ke kamar mandi seperti biasanya.
"Aku belum apa-apa, mandi saja belum," kata gadis itu santai.
"Kalau gitu cepat mandi dan ke sekolah sekarang, Elvania! Kamu harus lihat salah satu teman Sekolah kita yang jatuh dari rooftop sebelum tim medis membawanya pergi."
Tanpa berpikir Elvania langsung melempar asal handphone di atas kasur, lalu loncat dari tempat tidur, masuk begitu saja ke dalam kamar mandi.
Tidak membutuhkan waktu lama Elvania sudah rapi dengan seragam sekolahnya dan saat hendak menarik salah satu sweater dari dalam lemari, ia mematung. Murid mana yang nekat loncat dari Rooftop? Atau ini bukan hanya sekadar kecelakaan atau bunuh diri?
Ditariknya sweater berwarna merah itu, memakainya, lalu mengambil ransel yang terdapat di kursi belajar, tak lupa handphone. Melangkah keluar kamar dengan pasti.
"Morning, Ma," sapa Elvania pada mamanya yang sedang menggoreng telur mata sapi. Seorang wanita paruh baya yang terlihat cantik dengan keanggunan dan kelembutannya.
"Pagi, Sayang. Sudah mau berangkat? Mama baru akan buat sandwich."
"Ada hal mendesak yang buat aku harus tiba di sekolah sekarang. Nanti sebelum masuk, aku bisa beli sesuatu untuk sarapan." Lalu, Elvania meneguk sedikit air putih. Mencium punggung tangan mamanya, dan berlalu dari sana.
Saat di luar Elvania lihat sopir yang biasa mengantarnya sedang mengelap mobil yang sudah mengkilap. "Pagi, Pak Budi."
"Pagi, Non," balas Pak Budi seraya tersenyum.
Elvania masuk ke dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang. Membelah jalanan kota yang saat itu terpantau lancar. Di tengah perjalanannya, Elvania mengetuk-ngetuk pelan belakang handphone yang saat itu ada di pangkuan.
Tatapan matanya tak biasa. Bukan karena kesal karena harus datang lebih pagi, tapi ada sesuatu yang sepertinya mengganggu pikiran Elvania. Pagi yang benar-benar berbeda.
Sekitar 15 menit, Elvania pun sampai di depan gerbang sekolahnya. Melangkah masuk dengan manik mata yang tertuju pada sekelompok orang yang sedang berdiri di depan sana. Menatap ke arah bawah. Dengan tatapan mata dingin dan tajam, Elvania menghentikan langkah kakinya di antara murid-murid itu.
Elvania terlambat. Tubuh murid yang katanya lompat dari rootfop sudah tak ada. Hanya darah dalam jumlah tak sedikit yang tersisa, dan tentu garis polisi.
"El," ucap seseorang yang membuat Elvania langsung menoleh ke sumber arah.
"Gak sempat lihat juga kan," kata siswi berambut lurus hitam panjang sedada dengan poni tipis menutupi dahi.
"Ada fotonya?" tanya Elvania dengan wajah serius.
Siswi itu menyentuh beberapa kali layar handphone yang sebelumnya terus dipegang, lalu memberikannya pada Elvania. Elvania menatapnya lekat-lekat.
"Kelas berapa?" Sembari mengembalikan handphone milik siswi itu.
"11 IPA 2, b-class."
"Ezra sudah datang?"
"Di ruang OSIS."
Elvania melangkah pergi dari sana dengan diikuti siswi itu yang tak lain adalah anggota OSIS juga, sebut saja Nadine. Dengan langkah pasti dan wajah yang terkena dinginnya, kali ini ada yang beda dan murid lain yang kebetulan berpapasan dengan Elvania dapat melihatnya. Ada kemarahan pada sorot mata ketua OSIS itu.
Dibukanya pintu seorang siswa dan siswi yang tengah duduk di sofa panjang, langsung menoleh. "Cari tahu apa yang sebenarnya terjadi karena aku pikir ini adalah awal dari sesuatu yang besar," kata Elvania pada Ezra yang menatapnya tak kalah serius. Tanpa kata Ezra langsung melangkah pergi dari sana sembari membawa ranselnya.
"Menurut kamu gimana, El? Bunuh diri?" tanya siswi berambut hitam lurus sebahu dengan poni yang menutupi dahi bagian kiri.
"Semua kemungkinan ada," jawab Elvania hendak duduk di samping siswi itu.
Dengan wajah seperti memikirkan sesuatu, Elvania menoleh ke arah siswi di sampingnya. "Keira," panggilnya.
"Aku sudah tahu kamu mau bilang apa. Cari tahu apa siswi itu pernah mengikuti ujian masuk ss-class, benar?"
"Jadi gimana? Pernah ikut ujian?"
"Ya, dan gak lolos karena gagal di ujian ekstrakulikuler ngelawan Thalia."
Elvania menaruh handphone di atas meja, lalu menyandarkan badan ke sandaran sofa. Melipat kedua tangan di depan dada.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Nadine yang terus berdiri dengan salah satu tangan yang memegang handphone.
"Kita tunggu laporan dari Ezra," ucap Elvania.
"Kalau ternyata siswi itu bunuh diri atau terjadi sesuatu yang berhubungan dengan elite club, bukankah kita perlu bertindak? Selama ini kita hanya diam dan membiarkan mereka menguasai sekolah," ujar Nadine dengan wajah sangat serius.
"Kita bisa bahas ini nanti setelah kabar yang disampaikan Ezra." Elvania melangkah pergi dari sana, meninggalkan Nadine dan Keira.
Di tengah jalan yang penuh dengan pemikiran tiba-tiba langkah Elvania harus terhenti lantaran ada seorang siswa bertubuh tinggi, atletis, berkulit sedikit putih yang menghalangi jalannya. Walau wajah siswa itu tampan bak seorang idol, namun Elvania tidak tertarik sedikit pun.
"Ruang guru di mana ya?"
Alih-alih Elvania memberitahu siswa itu yang sepertinya murid baru terlihat dari menanyakan ruang guru, Elvania memanggil asal murid lain.
"Ada apa ya, Kak Elvania?" tanya siswi bertubuh sedikit pendek dari Elvania yang memiliki tinggi 165 cm.
"Tolong antarkan murid ini ke ruang guru."
Siswi itu sempat melihat sesaat ke arah siswa itu, sebelum mengatakan "iya, Kak" pada Elvania. Ketika Elvania melangkahkan kaki pergi dari hadapan siswa itu, siswa itu menoleh ke arah Elvania, tersenyum penuh arti.
Sampainya di kelas 11 IPA 1 (ss-class), Elvania langsung mendudukkan diri di kursinya. Lalu, masuk beberapa murid yang selalu menyita perhatian murid lainnya setiap kali baru datang. Ketiga siswi itu langsung menempati meja masing-masing.
Terdengar murid-murid yang mulai membicarakan soal siswi yang katanya bunuh diri itu. Daripada mendengarkan ucapan yang belum tahu kebenarannya, Elvania memilih memakai earphone. Sampai bel masuk berbunyi. Murid yang tadinya tidak berada di meja-nya sendiri pun mulai menempati meja masing-masing.
Datang seorang pria berusia sekitar 40-an, berkemeja abu-abu yang berdiri di depan kelas. "Hari ini kita kedatangan murid baru," kata guru yang berperan menjadi wali kelas 11 IPA 1 juga.

nisriandini
5 Pengikut · 6 Novel