"Nyonya Muda, Tuan sudah kembali."
Hari ini, untuk pertama kalinya setelah tiga tahun pernikahan, Rea tidak langsung berdiri dan menyambut kedatangan suaminya dengan senyum ceria.
Ia hanya menghela napas pelan dan tersenyum pada pembantunya. “Bi, tolong belikan body lotion seperti ini di supermarket.”
Apa pun yang terjadi, bahkan jika nyawanya sendiri menjadi taruhan, ia tidak akan pernah menyeret Bi Surti ke dalam masalah. Di villa besar The Grand Pavilion ini, hanya Bi Surti yang bisa ia anggap sebagai keluarga. Sisanya hanyalah kumpulan daging hidup yang tak punya hati.
Melihat Rea hanya duduk tenang, Bi Surti tetap menjawab dengan sopan seperti biasa, "Tentu saja bisa. Nyonya Muda ingin wangi yang lain atau yang persis seperti itu?" Kadang-kadang, Nyonya Mudanya memang suka berganti varian meski sama mereknya.
"Belikan yang sama saja."
"Baik."
Saat Bi Surti hendak pergi, Rea cepat-cepat memanggilnya. “Bi Surti,” melepas kalungnya, satu-satunya barang berharga yang ia punya. “selama ini Bibi sudah merawatku dengan sangat baik. Semoga ini berguna untuk Bibi nanti.”
Bi Surti ingin menolak dengan sopan. Namun, dari ekor mata, ia melihat sepasang kaki yang terbalut dengan sepatu hitam mengilap milik tuannya, Adrian Tanuwijaya, telah memasuki kamar kecil Nyonya Mudanya.
Ia pun tak berani berada di kamar itu lebih lama lagi. Bergegas keluar setelah mengucapkan terima kasih dan menyapa Adrian dengan sopan.
Sekepergian Bi Surti, ruangan tiba-tiba menjadi canggung dengan tak masuk akal.
Rea dengan tenang meneruskan gerakan tangan menyisir rambut. Kali ini, ia tak akan menyapa Adrian lebih dulu. Bahkan tak merasa perlu melihat kehadiran Adrian yang telah berdiri tepat di belakangnya dengan selembar kertas.
Merasa tak dihiraukan, Adrian berdeham kecil, sebelum berkata, "Ini surat gugatan cerai yang telah aku buat. Kamu bacalah dulu atau langsung setuju saja agar semua ini cepat usai."
Rea tidak menjawab. Ia telah mendengar perihal gugatan cerai ini saat tak sengaja melewati ruang kerja Adrian, dan melihat suaminya itu tengah berbicara dengan ibu mertuanya, Nyonya Shopia Tanuwijaya.
Dengan hati yang telah beku, Rea menerima surat itu dan membacanya sekilas. Di bagian alasan perceraian tertulis dengan jelas bahwa, "Selama tiga tahun menikah, Rea tidak pernah menghormati mertuanya dan tidak memiliki keturunan!"
Tiba-tiba Rea tertawa sangat kencang, hingga sederet gigi putihnya terlihat di antara dua belahan bibir ranumnya.
Wajah Adrian menjadi merah dan ungu untuk beberapa saat. Saat masuk tadi, dia masih sempat berpikir Rea akan menyambut dengan gembira seperti biasa. Mulai menggoda dengan cara apapun yang gadis itu bisa. Tapi ketika mendapati Rea hanya diam saja, entah bagaimana dia merasa gelisah dengan tak masuk akal.
"Apa yang kamu tertawakan?" Adrian mencium bau bensin yang menyengat, tapi tak menghiraukannya.
Sekarang bukan waktunya mengurusi hal yang tidak penting!
Rea menutupi sebagian wajah cantiknya dengan 'surat gugatan cerai' itu, masih tertawa keras dan menjawab, "Hanya menertawakan tiga tahunku yang bagai lelucon!"
"Rea ...!"
Selama tiga tahun ini, dia telah mengabdikan hidupnya di The Grand Pavilion dengan melayani semua keinginan suami dan mertuanya.
Ia bahkan telah melampaui pengabdian terbesar sebagai seorang istri, membiarkan sang suami tetap berhubungan dengan wanita yang dicintai, dan bahkan menikahi wanita itu tanpa memperdulikan perasaannya sendiri.
Ia merasa itu hanyalah hal yang wajar dilakukan setelah seluruh kota mengatakan bahwa keluarganyalah yang telah menjebak Adrian agar menikahinya.
Yah, pernikahan mereka bukanlah karena cinta atau perjodohan!
Tiga tahun lalu, Rea terbangun di dalam sebuah kamar hotel mewah tanpa busana. Hal yang semakin membuatnya terkejut adalah, ketika ia hendak pergi, terdapat begitu banyak orang yang berdiri di depan kamar itu dengan berbagai emosi di wajah mereka.
Kabar buruknya adalah, kedua orang tuanya juga ada di antara kepala yang menyembul, dan ia mendapati Adrian begitu marah mencoba menjelaskan.
Akhirnya, pernikahan itu terjadi begitu menyesakkan. Ketika para saksi melihat sukacita di wajah kedua orang tuanya atas pernikahan itu, maka semua kesalahan hanya bisa ditanggung olehnya.
Semua orang terus memandangnya rendah dan berkata bahwa hanya demi harta, ia rela melakukan hal menjijikkan.
Malangnya, hal itu bertepatan dengan kondisi perusahaan orang tuanya yang menyempit. Sehingga semua itu berhasil membenarkan spekulasi setiap orang atas tuduhan mereka.
Adrian adalah salah satu pemegang saham di grup mahkota. Walau bukan termasuk salah satu dari empat keluarga penguasa yang terkenal, posisi itu jelas jauh lebih tinggi daripada posisinya yang begitu mentereng dengan label ‘anak dari pengusaha banyak utang!’
Maka dari itu, ia selalu menganggap bahwa semua ketidakadilan yang ia terima di The Grand Pavilion adalah hal yang wajar. Karena saat kejadian itu terjadi, ia juga sama sekali tidak mengingat apapun. Dalam hatinya, entah bagaimana juga membenarkan spekulasi orang-orang tentang kedua orang tuanya yang telah menjebak Adrian demi keuntungan pribadi.
Dengan tenang, Rea meletakkan surat gugatan cerai itu di atas nakas, lalu meletakkan selembar lainnya. "Adrian, orang lain tidak tahu kenapa aku tidak hamil. Tapi apakah kamu tidak tahu?"
Saat terbangun tiga tahun yang lalu, Rea sama sekali tidak mendapati dirinya ternoda sedikit pun. Hingga kini ia masih berpikir bahwa setelah menikah tiga tahun lamanya, ia masih perawan!
Adrian terdiam, hanya menatap wajah cantik Rea dengan kedua mata burung cendrawasihnya.
"Selama ini aku sudah cukup merendahkan diri di depan keluargamu. Aku selalu berpikir bahwa aku adalah orang yang paling bersalah atas pernikahan kita. Sebagai gantinya, aku tunduk di bawah tingkah kalian dan berharap suatu hari kamu akan memberikan setitik kehangatan di hatimu untukku."
Ia menggerakkan sisirnya di sepanjang nakas, bermain-main dengan sangat menyesal. "Aku bahkan membiarkanmu menikahi Mira dan menjadikan diriku lelucon terbesar di hari pernikahanmu yang bahagia. Lalu sekarang kamu datang agar aku menandatangani surat, yang akan membuatku tak lagi bisa menemukan penggantimu seumur hidup?!"
Rea kembali tertawa miris. "Kamu sungguh bajingan!"
Adrian memilih diam. Bagaimanapun, ia telah lama mengaku salah dalam hati. Kali ini, ia ingin menceraikan Rea dengan damai. Hanya saja ia takut Rea tidak setuju, jadi memberikan surat gugatan cerai buruk itu untuk mengancam.
Dengan tenang, Rea menunjuk kertas yang baru saja ia taruh di atas nakas dengan dagunya. "Jika ingin bercerai, maka ceraikan aku baik-baik, kamu tak perlu mengarang cerita yang kamu sendiri tahu bahwa itu adalah kebohongan besar!"
Adrian mengerucutkan bibirnya. Tatapan matanya muram, meski rasa bersalah menyelimuti hati. "Kalau kamu menginginkan harta, kamu juga bisa menuliskannya sekalian."
Rea mendengkus kasar. "Selama tiga tahun ini, kamu adalah orang yang paling tahu apakah aku adalah orang yang hanya mengincar hartamu atau bukan!"
Ia memang sangat menyukai uang. Bagaimanapun, ia juga menginginkan hidup dengan baik tanpa memikirkan apakah bisa makan atau minum di hari esok.
Itu bukan berarti ia akan melakukan segala hal untuk mendapatkan uang. Termasuk menikahi Adrian dengan cara yang menjijikkan!
Untuk terakhir kalinya, Adrian ingin berbaik hati pada Rea. "Periksalah dulu. Kalau ada poin penting yang tertinggal, tambahkan saja. Setelah aku memegang surat itu, kita tidak akan terlibat dalam hal apa pun lagi."
"Aku tidak akan memeriksanya. Kamu bisa langsung mengambilnya sekarang. Tapi jika kamu ingin menambahkan sesuatu, silakan saja." Rea menyerahkan bolpoin yang telah ia buka. Adrian mendekat tanpa curiga.
Saat Adrian membungkukkan badannya untuk mengambil surat gugatan cerai itu, Rea bergerak dengan begitu cepat mengambil pisau dapur yang telah lama ia sembunyikan di balik lengan bajunya.
Lalu ia tancapkan ujung tajam pisau itu tepat ke bagian dada Adrian tanpa belas kasih.