Perempuan itu tidak tahan untuk tidak meringis. Wajahnya sudah cukup pucat hingga berpeluh. Nyeri yang mendera perutnya semakin terasa hebat.
"Lama banget nggak dipanggil-panggil," keluh Rayna.
"Sabar dikit. Bentar lagi juga pasti dipanggil," seloroh perempuan yang duduk tepat di sebelah Rayna.
Sedikit demi sedikit Rayna mengeluarkan suara desisan, membuat Haroh menoleh memandanginya. Haroh pun lantas melontarkan pertanyaan.
"Apa kamu sering kesakitan kayak gitu, Ray?"
"Kadang. Kalau masa PMS-ku datang nggak teratur," jawab Rayna.
"Kalau gitu kamu sampaikan keluhan itu sama dokternya. Biar ditangani juga," saran Haroh.
Rayna bergeming. Perempuan itu masih fokus memegangi perutnya sambil merasakan sensasi nyeri yang tak kunjung berkurang sedikit pun.
Pintu ruang periksa dokter terbuka lebar. Seorang wanita paruh baya keluar dari sana, disusul seorang laki-laki muda yang berlari mengejar seraya berseru lantang.
"Tante, Tante Nis, tunggu!"
Wanita paruh baya yang dipanggil Tante Nis itu lantas menghentikan langkahnya, kemudian berbalik untuk mengajukan pertanyaan kepada laki-laki muda tersebut.
"Gimana, dr. Sam? Kamu berubah pikiran?"
"Astaga. Saya hargai niat baik Tante. Hanya saja ...."
Kata-kata dr. Sam tidak terselesaikan karena pada waktu yang bersamaan kedua matanya menangkap sosok Rayna dan terpaku padanya.
"Pacarku ada di sini," gumam dr. Sam.
"Hai, Beb," sapa dr. Sam asal sambil melangkah mendekati Rayna.
Tatapan Tante Nis serta beberapa pasien yang berada di ruang tunggu praktik dr. Sammy pagi itu fokus tertuju pada tingkah konyol dokter muda tersebut. Haroh yang turut menyaksikan hal itu buru-buru menyikut Rayna yang sama sekali tidak memerhatikan.
"Aduh, sakit, Bu. Ada apa? Sudah waktunya dipanggil?" tanya Rayna setelah menoleh ke arah Haroh.
"Belum. Itu, tuh, lihat!" perintah Haroh setengah berbisik.
Rayna melakukan apa yang diucapkan Haroh dan betapa kagetnya perempuan itu ketika mendapati sosok dr. Sammy yang tiba-tiba berjongkok di hadapannya.
"Beb." Dokter muda itu buka suara.
Beb? Aku? pikir Rayna dalam hati.
"Kamu kemari kenapa nggak calling-calling aku? Kamu kenapa? Mana yang sakit? Kalau gitu ayo buruan masuk ke ruang periksa, biar lekas aku obati," ujar dr. Sam penuh perhatian, meski hanya pura-pura.
Rayna menyipitkan kedua mata, mencoba mencerna apa yang terjadi, tetapi dirinya masih belum paham. Bagi kebanyakan orang yang tiba-tiba mendapat perlakuan seperti itu, mereka pasti ngamuk bahkan sampai ada yang mengajak ribut.
Rayna justru lain cerita. Alih-alih ngamuk maupun mengajak ribut, perempuan itu memilih menurut ketika dr. Sammy memegang kedua lengan atasnya dan membantunya berdiri.
Tangan yang sedari tadi hanya berada di area perut lantas jatuh terkulai di kedua sisi tubuh. Sambil dituntun dr. Sammy dari belakang, Rayna turut melangkah masuk ke ruang periksa.
Setelah pintu tertutup rapat dan dipastikan tidak ada seorang pun yang bisa mencuri dengar percakapan mereka, dr. Sammy lekas beranjak ke kursi kerjanya, duduk saling berhadapan dengan Rayna yang masih memasang tatapan penuh selidik.
"Barusan itu apa maksudnya? Kenapa Anda dengan gampangnya manggil saya pakai sebutan Beb? Kenal sama Anda juga kagak," sembur Rayna memulai percakapan.
"Lah, gimana jelasinnya, ya? Intinya saya beneran lagi kepepet."
Dokter muda itu menjawab pertanyaan Rayna sesantai mungkin, bahkan nyaris terkekeh.
Rayna tidak habis pikir melihat tingkah konyol dokter yang duduk di hadapannya itu. Alih-alih segera memeriksa Rayna, dr. Sam justru melakukan sesuatu yang lain.
Ia menulis di selembar kertas memo, kemudian menyerahkannya kepada Rayna. Rayna tidak segera meraih uluran kertas memo tersebut.
Ia hanya membaca sekilas tulisan yang tertera di dalamnya. Sebuah nomor ponsel. Tentu saja milik dokter muda itu. Rayna menggeleng dan respons itu sontak berhasil membuat dr. Sammy melontarkan pertanyaan.
"Loh, kenapa? Padahal saya sangat yakin Anda pasti menginginkan permintaan maaf dari saya lain waktu nanti."
Astaga. Percaya dirinya cukup berlebihan.
Rayna bergumam sendiri dalam hati. Perempuan itu lantas menelengkan kepala ke samping kanan, seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu.
"Kenapa harus menunggu nanti dan kagak langsung sekarang saja? Begitu saya keluar dari sini setelah diperiksa, tentunya saya kagak akan berhubungan dengan Anda lagi, Dokter.
Kecuali Anda masih butuh bantuan dari saya dan bukankah seharusnya Anda yang meminta nomor ponsel saya alih-alih memberikan nomor ponsel Anda kepada saya?"
Rayna mencoba menyampaikan maksud pemikirannya yang panjang lebar dan itu berhasil membuat dr. Sammy diam tak berkutik untuk sesaat.
Di dalam lubuk hati, Rayna merasa menang sekaligus girang.
Skakmat. Kena dia. Well done, Rayna. Ke mana perginya rasa percaya diri yang berlebihan beberapa saat yang lalu?
Laki-laki muda itu mendadak diam.
Bahkan ketika sedang memeriksa Rayna, dr. Sammy hanya bicara seperlunya saja. Baik itu menjelaskan kondisi tubuh Rayna, terutama area perut, maupun menjabarkan secara detail resep obat yang akan dikonsumsi.
Waktu periksa telah selesai. Rayna bersiap untuk meninggalkan ruangan. Tangan perempuan itu bahkan telah menyentuh gagang pintu untuk segera membukanya.
Akan, tetapi aksinya terhalangi oleh kemunculan dr. Sammy yang mendadak mencegah Rayna membuka pintu ruang periksa tersebut. Rayna mengernyit heran dan dr. Sammy tahu betul perempuan itu pasti sedang bertanya-tanya.
"Tunggu! Jangan keluar dulu! Saya sepertinya melupakan sesuatu. Bolehkah saya minta nomor ponsel Anda, Nona Beb?" pinta dr. Sam seraya melengkungkan seulas senyum.
Akhirnya, dr. Sam tidak lagi menahan diri. Dokter muda itu memberanikan diri untuk memohon kepada Rayna. Perempuan itu sudah menduganya.
"Kenapa nggak pernah cerita kalau kalian saling kenal?"
Haroh yang membonceng Rayna dalam perjalanan pulang mengeraskan volume suaranya ketika melempar pertanyaan itu.
"Kenal dari Hongkong. Ketemu aja baru kali pertama ini," sergah Rayna.
"Terus, maksud dia manggil kamu Beb?"
Haroh melempar pertanyaan lagi. Rasa ingin tahunya benar-benar sangat tinggi.
"Itulah namanya definisi of kepepet. Orang kalau lagi kayak gitu, ada aja cara konyol bahkan kocak yang bisa dilakukan," jawab Rayna.
Jujurly, Rayna enggan membahas itu, tetapi mau bagaimana lagi. Ia harus memuaskan rasa ingin tahu Haroh.
"Omong-omong, kepepetnya itu kenapa, ya?" Haroh masih terus ingin tahu.
"Jangan nanya aku! Aku mana tahu dan juga nggak mau tahu," ujar Rayna jengkel.
"Terus, kenapa kamu bisa santai gitu nanggepinnya tadi? Kebanyakan orang pasti seketika marah, kalau nggak ngajakin ribut," celoteh Haroh lagi.
"Ya, kan, secara aku nggak mau jadi bidikan sorot tajam mata orang-orang yang ada di situ hanya gara-gara kejadian nyeleneh."
Rayna memberitahu, meski itu bukan alasan yang sebenarnya.
Alasan yang sebenarnya lebih ke masalah privasi dan cukup hanya Rayna yang tahu soal itu.
"Ray."
"Hm. Apa?"
"Bukan maksudku mau bilang alasanmu kurang tepat. Hanya saja, kalau dipikir-pikir lagi, kamu bisa bikin dokter Beb itu salah paham. Kalau respons kamu lunak begitu, mungkin dokter Beb bisa anggap kamu orang yang dengan mudah dimanfaatkan."
Haroh sekadar mengutarakan pendapatnya.
Rayna tercekat usai mendengarnya. Perempuan itu lantas diam merenung. Dipahaminya pelan-pelan maksud ucapan yang dilontarkan Haroh.
Seketika sekujur tubuh Rayna menegang.
Kedua telapak tangannya perlahan mengeluarkan keringat dingin. Soal wajah, Rayna berusaha menampilkan ekspresi senatural mungkin. Ia tidak ingin Haroh tahu dirinya sedang didera rasa panik.
Tak ingin mendiamkan Haroh terlalu lama hingga bisa membuatnya berpikir macam-macam, Rayna lekas berkomentar.
"Benar juga apa yang kamu bilang, Bu. Kok, aku bisa nggak kepikiran sampai situ? Terus, aku harus gimana?"
"Memangnya kamu mau yang gimana lagi? Kamu, kan, nggak bakal ketemu lagi sama dokter Beb," cecar Haroh.
Rayna meringis tanpa sepengetahuan Haroh. Perempuan itu seketika berkutat dengan pikirannya sendiri. Mustahil dirinya nggak bakal ketemu lagi dengan dr. Sammy, mengingat dirinya telah dengan begitu gampangnya memberikan nomor ponsel kepada dokter Sammy yang memohon memintanya.
Haroh tidak tahu akan soal itu.