


oleh Eliyona · 136 Bab
Revana Mikhaila adalah seorang CEO muda sekaligus influencer ternama di balik merek kecantikan “Reva Beauty”. Hidup gemerlap dan kesempurnaan rupa menjadikannya sosok yang dikagumi jutaan mata. Reva percaya, kesuksesan yang diraih adalah karena kepiawaiannya dalam membangun bisnis. Tanpa Reva sadari, setiap pujian dan kemewahan yang ia raih, justru semakin menjauhkan dirinya dari cahaya hidup yang sebenarnya. Di balik layar senyum dan doa yang tak lagi dijawab, Tuhan menuntunnya perlahan menuju jurang yang ia kira surga. Istidraj atau nikmat yang menipu. Lalu ketika semuanya sudah sangat sempurna, hidup Revana perlahan berubah hancur dan dia mulai mengenal Tuhan-nya.
"Selain donatur dilarang ngatur. Kalau miskin, jangan sok, bau tidak mampu tercium dari dekat." Reva membuat jargon di depan kamera. Menutup hidung, seakan alergi dengan orang miskin.
Saat ia sibuk mengatur gaya, mengupload video, suara keributan terdengar dari lantai bawah.
"Omegot, apa itu?" cicit Reva. Matanya mengerjap. "Pantas saja, ternyata aku lupa nutup pintu. Fiuh, padahal kamarku kedap suara," sungutnya, lalu mendadak suaranya berubah menjadi lengkingan keras. "Bik!"
Hanya berselang 5 menit, asistennya masuk. "Iya, Non."
"Close my door!" Ia memerintah, sambil menunjuk ke arah pintu.
"Reva!"
Gertakan keras membuatnya menoleh. Kaget. "Papa?" Ia mendapati papanya, Hadan, sudah berdiri di ambang ptuin sambil berkacak pinggang.
"Mulai detik ini, kamu jangan sok memerintah!" ujar Hadan tegas. "Papa tak lagi sanggup menggaji asisten rumah tangga. Mulai sekarang, belajarlah menyesuaikan keadaan."
"What?" Mata Reva melotot tajam. "Tapi kenapa?"
"Usaha Papa dinyatakan pailit. Beberapa aset disita."
"No, Papa. Reva nggak siap!"
"Siap atau tidak, kau tetap harus siap! Rumah ini akan Papa jual. Kita akan pindah ke rumah lebih kecil demi usaha Papa bisa bertahan."
"Tidak! Aku nggak bisa hidup rumah kecil."
"Beradaptasilah. Meski kecil, rumah itu masih layak kok. Ada pendingin, kolam dan taman," celetuk Hadan. "Dulu kamu juga pernah tinggal di sana waktu kecil."
"Wait!" Reva mengangkat satu tangan. "Apa kita akan tinggal di rumah Kakek?"
Hadan mengangguk. Membuat Reva menepuk dahi. "No! Kolamnya kecil. Aku nggak suka, gelay."
"Terserah! Mau gelay, mau galday. Papa memutuskan kita akan pindah ke sana, titik."
"Kalau aku menolak?"
"Kamu ini berbicara seakan bisa cari duit sendiri saja." Hadan menatap Reva, meremehkan.
"Papa lupa ya? Reva kan sudah bisa cari duit. Reva ini seleb lho, Pa."
Hadan menarik napas panjang. "Reva, tolong jangan bikin Papa pusing. Kalau kamu mau cari uang sendiri, hidup mandiri, silakan. Itu sangat baik. Papa pasti mendukung."
Setelah berkata demikian. Hadan berlalu. Meninggalkan Reva dengan kekesalan yang bergejolak.
---
Azan Maghrib baru berkumandang, saat Reva memutuskan keluar. “Mau ke mana?” tegur Yeni, mama Reva. Suaranya tertahan di antara gema azan yang masih menggantung.
"Biasa,” balas Reva singkat dan acuh. Tangannya sudah meraih tas.
“Biasa itu apa?” Yeni hampir kehilangan kesabaran.
“Jangan cerewet deh, Ma. Hust, diem!” Reva memberi kode telunjuk, lalu berlalu pergi tanpa menoleh.
Pintu ditutup keras. Mobil melaju. Kabin dipenuhi suara azan yang bersahutan dari berbagai arah.
“Azan itu berisik sekali,” sungut Reva kesal. “Siapa sih yang buat azan! Bikin telinga sakit aja, ngeselin!"
Ia menginjak gas lebih dalam,menuju klub. Begitu turun dari mobil, ia melenggang santai masuk ke ruang remang.
“Princess party sudah datang!” seru seseorang. “Naikin beat!” teriak yang lain.
DJ memutar musik, dentum bass menelan sisa azan yang tertinggal di telinga Reva. “Minum dulu!”
"Joget!”
Gelas beradu, tawa pecah.
Reva naik ke panggung, mulai menggoyang pinggul. Sesekali ia mengempas rambut. Mengangkat tangan. Memperlihatkan lekuk indah wanita.
Lampu strobo memotong wajahnya.
“Reva! Reva!” sorak teman-temannya.
Ia tertawa, terus melenggang sambil sesekali minum dan berteriak.
Usai puas bergoyang, Reva turun dengan langkah sedikit terhuyung. Tanpa sempat menghindar, ia menubruk seseorang.
“Jadi ini yang namanya Reva. Cantik juga.”
Reva mendongak, wajah pria itu samar tapi terasa akrab. “Aduh!” Reva memegang kepala.
“Kamu mabok ya?”
“Ah, mana mungkin." Reva mengibaskan tangan. "Princess party pantang mabok,” sergahnya. Langkahnya sempoyongan menuju pojok ruangan. Duduk.
Pria itu mengikuti Reva. Tanpa izin mengambil tempat di sebelahnya. Tersenyum.
“Aku Wahyu Atmaja,” katanya sambil mengulurkan tangan.
“Oh iya, Wahyu Atmaja. Pantas aku seperti mengenal … Om?” Reva memicingkan mata.
“Jangan panggil Om. Panggil Mas saja.”
“Mas? Masa sudah tua dipanggil Mas? Heh?” Reva tertawa mengejek. “Om Wahyu ini lho, seumuran Papa.”
“Benarkah? Kalau boleh tahu, siapa papamu?”
"Pengusaha Hadan Kusuma!” jawab Reva dengan dada terangkat.
Wahyu tersenyum tipis. “Oh, anak Hadan. Wajar sombong. Tapi aku dengar usaha Hadan sedang ada masalah.”
Reva terdiam.
“Kau diam berarti gosip itu bukan sekadar omong kosong,” lanjut Wahyu pelan.
"Siapa yang bilang?” Reva menyentak.
“Dunia bisnis itu sempit,” jawab Wahyu. “Berita tentang golongan atas cepat terangkat, Sayang. Lelang bangunan selalu dipajang kalau ada pengusaha yang pailit. Belum lagi saham anjlok, otomatis nama pelaku usahnya berdampak."
Reva terkekeh getir. “Hahaha, Papa baru tadi siang mengatakannya."
"Mengatakan apa?" Wahyu mendekat.
"Dia mengeluhkan usahanya yang jatuh," desisnya, hampir seperti bisikan. "Aku nggak mau ... hidup susah. Aku takut."
Wahyu mendekat. Menarik kepala Reva. Mendekapnya. "Jangan bersedih," katanya. "Kalau Reva mau, Om bisa membantu."
"Membantu?" Reva menatap Wahyu, setengah tidak percaya.
"Ya."
"Aku mau!" serunya girang. Lengkungan kecil terlihat di kedua sudut bibir.
"Benarkah?"
"Ya!" Mata Reva berbinar penuh harap.
"Kalau Om minta syarat, bagaimana?" Wahyu menatap Reva dengan maksud tertentu.
"Syarat apa?"
"Temani Om malam ini."
"Demi uang aku mau."
---
Wahyu mengajak Reva ke sebuah hotel bintang 5 di pusat kota. Dadanya berdegup kencang meski ini bukan kali pertama baginya.
"Kamu gemetar,” bisik Wahyu di dalam lift.
“Sedikit,” jawab Reva singkat, menatap angka lantai yang terus naik.
“Apa ini kali pertama kau ....”
"Tidak," potong Reva cepat. "Tapi kalau sama suami orang, baru ini."
Wahyu tersenyum. “Istri ya?" gumamnya.
"April Atmaja, mantan artis lawas, memutuskan pensiun sejak menikah."
"Hahaha." Wahyu terbahak. "Aku tak pernah memintanya berhenti."
"Benarkah?" Reva mendengkus.
“True,” sahut Wahyu.
Pintu kamar terbuka. Lampu temaram. Tirai tebal menutup jendela. “Tenang.” Wahyu mendekat. “Di sini aman. Tak ada razia di hotel bintang 5."
"Aku tahu," sela Reva, "para penegak itu hanya berani menindak mereka yang kecil."
"Karena orang kecil tak ada duit, Sayang. Sementara para penegak kedisiplinan itu butuh duit."
Wahyu meraih wajah Reva. Mengecupnya pelan.
"Karena itu aku alergi dengan kemiskinan." Reva mulai melepas kain yang menempel.
“Jangan buru-buru.” Wahyu memperingatkan. "Malam masih panjang."
Reva memejamkan mata. “Apa Om pernah bermain api sebelum denganku?"
"Beberapa kali."
"Gila. Terus aku yang ke berapa?" Suara Reva mulai merayu manja. Memainkan kancing pakaian Wahyu.
"Entah." Wahyu mendorong tubuh Reva. Membuat wanita muda itu terbaring di atas ranjang. "Aku tak ingat."
Baru akan menikmati madu cinta, ponsel Wahyu berdering.
“Siapa?” Reva mengernyit, saat melihat tangan Wahyu menolak sambungan. “Istri, Om ya?” Ia mulai menebak.
Wahyu mengangguk. “Ya, lebih tepatnya calon mantan istri.”
“Calon mantan istri?” Reva bangkit setengah duduk. "Om mau cerai?"
Wahyu, menarik napas. "Pengennya begitu, tapi sulit. Wanita egois itu selalu menerima kenakalanku. Seperti takut kalau aku menceraikannya."
"Benarkah?" Reva memiringkan sudut bibir. Mencibir, "Wanita macam apa itu? Bodoh."
"Dia memang bodoh. Gak bisa kerja. Hanya tahu bersenang-senang dengan uang."
"Bukankah dia dulu bekerja? Kenapa nggak main film lagi?"
"Siapa yang mau memakai artis tua. Dia sudah tak menarik," ejek Wahyu. Matanya kembali menatap Reva. "Berbeda denganmu. Kau muda, cantik dan istimewa."
Reva tertawa kecil. "Aku memang istimewa. Karena itu, banyak lelaki mengejarku."
"Berarti aku salah satunya."
"Ya. Kau salah satu yang aku sukai." Reva merebut ponsel Wahyu. Mematikannya. "Malam ini tak boleh ada yang mengganggu. Termasuk istri bodohmu itu."
Lampu kamar temaram menyisakan sedikit cahaya remang. Reva memejam, napasnya bertaut dengan desah Wahyu yang diembuskan pelan. Sentuhan kecil, perlahan berubah menjadi entakan. Liar dan brutal.
Jari-jari menyusur tajam. Menembus pertahanan bersama dengan bisik dan racau.
Reva merasakan hangat dan nikmat yang menenangkan bersamaan. Sampai tiba-tiba, Reva mengendurkan tubuh. Mendorong tubuh Wahyu. "Bodoh!" hardiknya, "aku bisa hamil kalau Om melepasnya!"
"Sudah terlanjur," balas Wahyu santai.
Reva mulai gemetar takut. "Kalau 'jadi' bagaimana?"
"Biarkan saja. Justru bagus." Wahyu tersenyum kecil, membelai rambut Reva. "Belasan tahun menikah, sudah lama aku menginginkannya. Kalau April tidak bisa memberikan, barangkali aku bisa mendapatkannya darimu."

Eliyona
104 Pengikut · 10 Novel