


oleh LennyMarlina · 100 Bab
Eleanor terikat dalam sebuah perjanjian pernikahan yang awalnya melibatkan sang adik. Dia yang bertekad memberikan luka dalam pada suaminya malah membuatnya jatuh ke dalam sisi bahaya dan tak bisa kembali seperti semula. Lalu, apa yang harus Eleanor lakukan pada suami yang telah menodai adiknya itu? Akan ia menemukan keadilan untuk adiknya?
“Siapa namamu?”
Pemuda bertato jangkar di punggung tangan sebelah kiri baru saja melayangkan pertanyaan yang begitu penting setelah meniduri dan membuat keperawanan seorang gadis terenggut. Si perokok yang andal dalam urusan ranjang itu menatap tajam.
Gadis bermasker pun terdiam dalam ketakutan.
“Kenapa kau selalu memakai masker? Cepat, lepaskan atau aku yang— ”
“Saya!” Mau tak mau dia harus menanggapinya. “Saya sedang flu.”
“Oh, ya? Kau mampu berhubungan badan saat sedang sakit? Sungguh menakjubkan.”
“T-terima kasih.”
Pandangannya kembali melihat sekitar. Terdapat sejumlah orang berpakaian serba hitam mengawasi setiap pergerakannya. Apakah mereka bawahan pria itu?
‘Bagaimana caranya aku keluar dari tempat ini?’ batinnya.
BRAK!
“Ha!”
Gadis itu langsung terperanjat begitu sang pria dewasa menggebrak meja.
“Lama-lama kau menyita waktuku padahal aku hanya bertanya siapa namamu.” Dia mencondongkan wajahnya dan wajah mereka berdekatan. “Kau tidak akan bisa keluar sebelum kau memberi tahu siapa namamu.”
“E-Eleanor! Nama saya Eleanor Lavonne,” pekik gadis itu spontan.
Setelah mengetahui nama gadis itu, pria itu menjauhkan wajahnya.
“Berikan KTP-mu padaku,” titahnya.
Permintaannya semakin aneh-aneh. “U-untuk apa?”
“Orang sepertimu kadang suka berbohong. Hanya barang itu yang bisa menyelamatkanmu. Cepat, berikan padaku.” Tangannya sudah terulur.
Ini seperti pencurian. Namun, bukan uang ataupun perhiasan yang mereka cari, melainkan sebuah KTP yang begitu mereka inginkan. Gadis bernama Eleanor itu merogoh tasnya dan memberikan sesuatu yang pria itu inginkan. Perasaannya sungguh takut.
“I-ini.”
Tangan gemetarnya terus membuat geli siapa saja yang melihat.
CEKREK!
Hanya sekejap saja barang itu sudah dikembalikan.
“Sebelum pergi, bisakah kau menandatangani sebuah surat untukku?”
Ekor matanya melirik dan bertanya, “S-surat apa?”
“Surat kontrak pernikahan.”
“Apa?!” teriaknya.
Tubuhnya spontan berdiri karena terkejut sampai-sampai orang yang berada di sekitarnya ikut bergerak begitu Eleanor berdiri. Dia bingung, mengapa orang itu ingin melakukan pernikahan dengannya?
“I-itu artinya apa? Saya harus menikah dengan Anda, begitu?” tanya Eleanor.
“Benar.”
“Tapi, kenapa saya harus melakukannya? Kenapa saya?!”
Eleanor merasa terjebak dalam situasi yang membuatnya harus memilih. Sudah membuatnya kehilangan keperawanan, memotret barang pribadi, lalu sekarang memintanya untuk menandatangani surat pernikahan. Apa mau pria itu sebenarnya?
“Reaksi macam apa ini? Kau bertingkah seolah-olah kau tidak membutuhkan uang.”
Vance ikut berdiri dan menatap lekat Eleanor.
“Bukankah tujuanmu datang kemari adalah untuk mencari uang? Kuyakin, bayaran satu malam kita pun tidak akan cukup untuk menghidupi keluargamu. Jadi, kutawarkan tawaran menikah ini. Bagaimana?”
Eleanor menggelengkan kepala.
“Tidak, saya tidak mau! Saya tidak mau melakukannya!”
Sepertinya memerlukan kekerasan terlebih dahulu agar wanita itu menyetujuinya.
Lalu, orang-orang berbaju hitam mulai menangkap Eleanor bahkan salah satunya mengeluarkan benda tajam dari balik saku celananya. Jantung yang secara spontan berdetak kencang membuat suasananya menjadi semakin mencengangkan. Eleanor berteriak.
“Anda mau apa?! Lepaskan saya! Tolong! Tolong!”
Keringat dingin mulai bercucuran.
Dia berkali-kali meminta pertolongan dengan sangat keras. Namun, tak ada seorang pun yang dapat mendengarnya, entah karena suara musik di dalam dan di luar ruangan atau karena memang ruangan tersebut kedap suara sehingga tak ada yang bisa mendengarnya.
“Berteriaklah sesuka hatimu. Tidak ada yang bisa menolongmu selain aku.”
Hanya Vance yang saat ini berkuasa di sana.
“Tolong, jangan sakiti saya. Saya hanya seorang mahasiswa. Kasihanilah saya, Tuan.”
Eleanor sangat berharap ada belas kasihan dari pria itu untuknya.
BRAK!
Surat yang tadi ditawarkan dilemparkan ke atas meja.
“Kalau kau memenuhi satu permintaanku, akan kubebaskan kau dengan cara yang mudah. Kau tidak mau mati di tempat seperti ini, 'kan? Tanda tangan saja dulu, nanti akan kupikirkan apakah kau cocok untuk menjadi istriku atau tidak. Sangat mudah, 'kan?”
Kalau untuk sekadar menandatanganinya saja memang sangat mudah. Tetapi, konsekuensi yang harus Eleanor tanggunglah yang membuatnya ragu untuk melakukan itu.
Waktunya semakin sedikit.
Orang yang memegang senjata mendekatinya secara perlahan sambil mengincar bagian perut.
“Tidak, kumohon, jangan lakukan itu. Tidak ...!” teriak Eleanor.
“Hiyaa!!” Dia cepat menyerang.
Semakin cepat menghampirinya membuat sang wanita tak memiliki pilihan lain.
“Baik! Saya akan menandatanganinya!” Dia sudah membuat keputusan.
“Keputusan yang bagus. Lepaskan dia,” titah Vance.
“Ah!”
Salah seorang pria di belakangnya memaksanya untuk duduk.
Rasanya begitu sakit dihadapkan pilihan yang menyangkut tentang nyawa. Itu pertama kalinya bagi Eleanor yang diperlakukan seperti itu oleh orang lain. Keberadaannya di sana pun bukan atas kehendaknya. Teman kuliahnya yang mendesaknya untuk ikut ke sana.
“Tanda tangan.”
Vance kembali menyodorkan surat kontrak itu dan kali ini harus ditandatangani.
‘Aku tidak punya pilihan lain. Jika kau berada di posisiku, kau pasti akan melakukannya, 'kan? Kumohon, maafkan aku. Jangan terlalu membenciku,’ batin Eleanor.
Setelah membatin dengan harapan akan termaafkan, Eleanor mengambil pulpen itu dan kemudian menandatanganinya sesuai yang ada di KTP-nya. Ia tak ragu menyumbangkan tanda tangannya.
Di satu sisi, Vance terlihat tersenyum menyeringai saat suratnya ditandatangani.
“Saya sudah menandatanganinya. Lepaskan saya,” ucap Eleanor.
“Baiklah, sampai jumpa lagi, Eleanor. Aku akan mengingatmu.”
Eleanor tahu betapa kejamnya sorot mata pria itu dengan senyuman liciknya. Dia buru-buru mengambil tasnya dan keluar dari sana setelah pintu terbuka lebar.
***
BRAK!
Sebuah dokumen dilemparkan ke atas meja di hadapan seorang pria paruh baya. Bukan hanya dokumen saja, tetapi foto KTP wanita di galeri ponselnya juga dijadikan sebagai bukti khusus.
“Apa-apaan ini?” tanya orang itu kebingungan.
“Sesuai permintaan Anda, saya akan menikah. Sudah seharusnya Anda meninggalkan rumah ibu saya, 'kan? Tolong angkat kaki dari rumah ini,” tandas Vance.
“Haha.” Pria itu terkekeh sembari melepas kacamatanya “Kau benar-benar anak penurut.”
Jayce Von Heisenberg adalah Kepala Keluarga dan merupakan ayah kandung Vance.
Keduanya sama-sama membuat kesepakatan bahwa jika Vance tak berhasil menikah pada akhir tahun itu maka rumah peninggalan ibunya akan Jayce jual. Namun, jika Vance berhasil mewujudkan impian sang ayah, maka Jayce harus meninggalkan rumah tersebut.
“Tapi, Vance. Bukankah ayah sudah bilang bahwa kau harus benar-benar 'sudah' menikah untuk mengusir ayahmu sendiri? Dengan kertas seperti ini saja tidak cukup untuk mengusirku,” ucap Jayce.
Dengan kata lain, pernikahan harus terjadi di depan matanya langsung baru bisa dipercaya.
“Untuk mendapatkan persetujuan wanita itu saja sudah membuat saya terengah-engah. Tanda tangan dan foto KTP-nya seharusnya sudah melebihi kata cukup,” omel Vance.
“Silakan saja kau membuat aturanmu sendiri. Ayah akan menjual rumah ini sebelum akhir tahun. Tapi, jika kau sangat menginginkannya, maka menikahlah. Itu keputusan ayah.” Tak ada pilihan lain lagi.
Jayce kemudian berbaring di kasur.
“Apa kau akan terus berdiri di sana? Kalau sudah tidak ada yang mau kau bicarakan, keluarlah.” Hari-harinya sangat sibuk.
Dengan perasaan kesal, Vance keluar dari kamar ayahnya.
“Haa, anak itu. Bisa-bisanya sudah berusia 30 tahun tapi tidak ada niat menikah. Sebagai orang tua yang menginginkan cucu, aku terpaksa harus mendorongmu menikah, Dasar anak manja.”
Tujuan Jayce adalah menimang cucu dari putra satu-satunya.
***
CEKLEK!
Eleanor baru saja kembali ke rumahnya dengan harapan orang rumah sudah tidur. Dia sengaja mengendap-endap agar tak menimbulkan suara yang mampu menarik perhatian.
Tiba-tiba, lampu rumah langsung menyala begitu Eleanor memegang gagang pintu kamar. Dia berbalik badan.
“Leah, kenapa malam sekali pulangnya?”
Wanita itu menelan ludahnya. “K-kak? Belum tidur?”
“Bagaimana kakak bisa tidur kalau kamu belum pulang?” Hatinya merasa gelisah saat tahu adiknya belum pulang ke rumah.
“B-begitu, ya?” Dia berusaha untuk tersenyum.
“Apa hari ini ada tugas kelompok? Tidak biasanya kamu pulang larut malam. Kakak khawatir terjadi sesuatu padamu. Ponselmu juga tidak bisa dihubungi. Kenapa lagi itu?” tanya sang kakak.
Sebaiknya, ia menjawab seadanya saja.
“Iya, hari ini aku ada tugas kelompok yang harus diselesaikan. Ah, Kak. Aku lelah sekali. Aku masuk duluan, ya? Selamat malam, Kak.”
BRAK!
BERSAMBUNG

LennyMarlina
15 Pengikut · 3 Novel