


oleh Zivanna Adelline · 13 Bab
Menjadi istri simpanan bukanlah suatu hal pilihan yang menyenangkan. Apalagi jika status dan keberadaannya harus disembunyikan dari banyak orang. Problema hidup yang berat dan mengimpit, terkadang memaksa untuk menerima posisi itu. Hal itulah yang dirasakan oleh Xera setelah dirinya kebingungan mencari dana untuk operasi sang adik. Xera terpaksa harus menerima tawaran dari bosnya untuk menjadi istri kedua. Namun, seiring waktu berjalan, banyak hantaman yang ingin mengempaskan tubuh Xera ke dasar jurang. Istri pertama yang berbuat culas, serta mantan kekasih yang merupakan keponakan dari suaminya, membuat Xera harus menguatkan hati dan mentalnya. Mampukah Xera melewati semuanya?
“Xera! Ayah mohon, cepatlah datang ke rumah sakit! Adikmu mengalami kritis.”
Sebuah panggilan melalui ponsel, membuat jantung Xera berdegup kencang. Hampir saja ia tak mampu bernapas setelah mendengarkan suara sang ayah, yang mengabarkan kondisi terkini adik tercintanya.
Xera baru saja selesai menemani bosnya rapat. Karena waktu sudah sore, dan jam pulang tiba, ia tak berpamitan kepada sang bos seperti biasa.
Xera mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi untuk cepat sampai di rumah sakit.
Setelah dirinya sampai di rumah sakit yang diberitahukan oleh ayahnya saat berbicara lewat telepon tadi, Xera terlebih dahulu menemui resepsionis untuk menanyakan di ruangan mana sang adik di rawat.
Xera berjalan menuju lorong yang menuju ke ruang ICU. Di sana, di depan salah satu kamar, sang ayah tengah duduk bersandar di dinding dan menunduk sedih.
“Ayah!” panggil Xera, “bagaimana keadaan Nindy, Yah?”
Pria yang ambil oleh Xera dengan sebutan 'ayah', perlahan bangkit dari duduknya setelah melihat putri sulungnya datang. Xera membantu memegangi tangan sang ayah untuk berdiri. Ia memperhatikan secara intens, wajah dari pria yang merupakan cinta pertamanya.
“Dokter yang menangani adikmu, belum keluar dari tadi. Ayah khawatir jika seandainya terjadi sesuatu buruk terhadap adikmu,” jawab Herman — ayah Xera, dengan wajah yang lesu.
“Ayah jangan khawatir. Aku tahu Nindy itu seperti apa. Dia anak yang kuat.” Xera mengusap lembut punggung ayahnya, berharap memberikan ketenangan.
Herman menghela napas. “Iya, Nak. Semoga, semuanya baik-baik saja.”
Herman menatap wajah putri sulungnya. Netra pria paruh baya itu memperhatikan wajah putri sulungnya yang terlihat kelelahan.
“Kamu masih bekerja?” tanya Herman kepada Xera.
Xera tersenyum. “Aku sedang menemani bosku melakukan rapat. Karena ayah memberi kabar demikian, aku juga khawatir. Kebetulan juga, rapatnya sudah selesai. Makanya aku segera datang ke sini.”
“Maaf, karena ayah mengganggu pekerjaan kamu,” ujar Herman.
“Tidak apa-apa, Ayah. Jangan bicara seperti itu. Bukankah kita sesama keluarga, harus selalu ada di saat yang satu sedang membutuhkan bantuan?”
“Terima kasih. Seandainya Ibu kalian masih ada. Tapi beliau sudah tidak ada di sini," ucap Herman dengan sendu.
“Sabar, Ayah!" Xera memeluk pria paruh baya, yang menjadi cinta pertamanya dalam hidup.
Herman sangat mencintai istrinya, mendiang ibu dari kedua putrinya. Ibu Xera meninggal setelah melahirkan adik Xera. Herman membesarkan kedua putri yang ia miliki, dengan luka hati yang ia simpan seumur hidup setelah kehilangan istri tercinta.
Pelukan mereka terurai ketika pintu ruangan terbuka. Seorang dokter tampan, yang merawat adik Xera, keluar dan menampilkan senyum ramah kepada Xera dan Herman.
“Bagaimana Dokter, keadaan adik saya? Apa dia baik-baik saja?" tanya Xera khawatir.
Dokter mengangguk. "Mari ikut ke ruangan saya!"
Xera dan ayahnya, mengikuti langkah dokter Kelvin ke ruangan pribadi milik Dokter Kelvin. Sesampainya di sana, Xera dan Herman dipersilahkan untuk duduk. Dokter Kelvin menghidupkan layar monitor yang menggambarkan organ jantung.
“Kami ingin menjabarkan secara detail, bagaimana keadaan Nindy."
"Jantung Nindy, mengalami insufisiensi mitral. Dimana katup mitral tidak tertutup dengan sempurna, sehingga aliran darah kembali ke atrium sebelah kiri. Itulah yang menyebabkan Nindy batuk berkepanjangan, dan keluar darah yang disertai nyeri dada. Nafsu makan Nindy berkurang, tangan dan kaki mengalami pembengkakan, itu adalah gejala lanjutan. Jika terus dibiarkan dan tidak dilakukan tindakan yang efektif, bisa mengakibatkan gagal jantung, dan kematian mendadak," terang dokter Kelvin.
Baik Xera maupun Herman, sama-sama terkejut dengan penjabaran dari dokter. Rasa takut menyerang hati keduanya. Mereka tak sanggup jika harus kehilangan Nindy.
"Dokter! Kira-kira, apa yang harus kita lakukan sekarang untuk menyelamatkan Nindy?" tanya Xera dengan nada prihatin.
"Untuk kasus seperti ini, Nindy membutuhkan tindakan operasi untuk memperbaiki katup mitral yang bermasalah. Operasi ini cukup rumit dan memerlukan persiapan yang matang. Namun, dengan prosedur yang tepat, peluang kesembuhan Nindy cukup besar."
“Jadi, ada dua jenis operasi yang sedang kami pertimbangkan. Jantungnya harus dipasang ring, atau, hanya perlu melakukan penutupan lagi pada katup mitral," terang Dokter Kelvin.
"Mohon lakukan yang terbaik untuk anak saya, Dokter," pinta Herman memohon kepada Dokter Kelvin.
Dokter Kelvin mengangguk mengerti. "Kami akan melakukan operasi dengan segera agar kondisinya tidak semakin memburuk."
Setelah mendengarkan penjelasan dari dokter Kelvin, Xera dan ayahnya keluar dari ruangan tersebut.
Herman menghela napas panjang memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi jika misalkan operasi Nindy gagal.
Resiko yang harus dihadapi saat dokter Kelvin menjelaskan tadi mengenai operasi, membuat Xera dan Herman dilanda kecemasan.
Xera melangkah ke meja administrasi untuk mengecek biaya operasi sang adik.
Ketika sedang berbicara dengan suster yang bertugas di bagian administrasi, seseorang menggunakan sepatu pantofel dengan jas hitam, mengawasi Xera dari kejauhan. Tatapan itu terlihat tajam menatap Xera.
Xera merasakan hal tak nyaman pada hatinya. Netranya tak sengaja menangkap bayangan yang terdapat di vas bunga besar berbahan kaca, yang terletak di samping meja administrasi.
Ia terkejut karena ada seseorang yang mengawasinya. Xera mencoba menoleh ke belakang, tetapi ia tak dapat menemukan seorang pun yang mengawasi dirinya.
Ketika ia berbalik menatap lagi vas bunga berbahan kaca itu, ia juga tak menemukan bayangan yang mengawasinya dari balik dinding sudut rumah sakit. Siapa sebenarnya pelaku yang mengintai Xera?
Dengan suasana tegang yang menyelimuti, Xera memilih untuk mengabaikan dan tidak peduli.
Suster menyerahkan sebuah lembaran yang berisikan daftar rincian pembayaran untuk operasi jantung Nindy. Herman ikut membaca rincian itu. Dan didalamnya, tertera biaya operasi sebesar 250 juta rupiah.
“Besar sekali biayanya," keluh Herman.
“Ayah jangan khawatir. Aku akan mencari pinjaman," kata Xera mencoba menenangkan sang ayah.
Mereka tidak memiliki asuransi kesehatan yang bisa sedikit membantu. Kemungkinan, Xera akan meminjam teman terlebih dahulu, atau mengajukan pinjaman ke perusahaan tempatnya bekerja. Nanti setelah tiba tanggal ia menerima gaji, Xera akan menyicilnya tiap bulan sedikit demi sedikit.
“Maaf karena ayah merepotkan kamu," lirih Herman.
Xera menggeleng menatap Herman. “Aku tidak merasa direpotkan."
Herman merasa bersalah kepada putri sulungnya. Selama ini Xera menjadi tulang punggung keluarga. Bahkan biaya sekolah Nindy, Xera yang menanggung. Herman yang sudah sepuh juga tidak diperbolehkan lagi oleh Xera untuk bekerja.
Xera dan Herman kembali ke ruangan Nindy dirawat. Mereka melihat keadaan Nindy yang sangat pucat di bagian wajahnya.
Xera menghela napas berat. Wanita itu berpikir, akankah Nindy bisa melewati operasi dengan berhasil?

Zivanna Adelline
8 Pengikut · 6 Novel