


oleh IR Windy · 92 Bab
"Kukira aku sudah memilikimu seutuhnya, rupanya aku keliru." Arshella mengira bahwa dengan merebut kebahagiaan orang lain bisa semudah itu, terlebih dia sendiri menyimpan rahasia besar yang tidak banyak orang tahu, termasuk Dion. Apa yang harus dia lakukan? Apalagi saat seseorang dari masalalu datang kembali ke kehidupannya.
Fyuh ….
"Akhirnya masalah selesai," gumam Shella sembari membuang napas panjangnya.
Hari ini terasa begitu melegakan baginya setelah menemani serangkaian sidang perceraian suami dengan istri sebelumnya sampai mereka resmi bercerai dan Shella menjadi istri Dion satu-satunya.
Sampai akhirnya suara bel pintu yang terdengar sampai ke ruang tengah, berhasil membuat Shella mengerjap kala ia tengah asyik bermain dengan putri kecilnya.
"Mbok? Tolong bukain pintu, sepertinya ada tamu," teriak Shella berusaha memanggil asisten rumah tangganya. Lalu ia kembali menemani Arshetta menempel-nempelkan beberapa puzzle bergambar.
Beberapa menit berlalu, tiba-tiba bel tersebut kembali terdengar membuat Shella kembali meringis.
"Mbok Yem ke mana, ya?" lirihnya.
Shella pun kembali melirik anak perempuannya yang masih asyik memainkan beberapa mainan lainnya. "Sayang, Mama ke depan dulu, ya. Shetta tunggu di sini dan jangan ke mana-mana."
Arshetta pun mengangkat kepalanya kemudian menjawab, "Iya, Ma."
"Anak pintar!"
Tanpa menunggu lama lagi, Shella lantas bangkit dari duduknya dan bergegas menuju pintu utama. Dalam hati ia menduga-duga siapa seseorang di balik pintu tersebut.
Ceklek!
Ketika pintu terbuka, seketika saja kedua mata wanita itu terbelalak dengan kening yang mengerut. Tampak seorang lelaki bertubuh tinggi berpakaian rapi tengah membelakanginya.
"Maaf, cari siapa, ya?" tanya Shella bernada sopan.
Lelaki itu pun membalikkan tubuhnya sembari menampakkan senyuman lebarnya. Hal itu seketika saja membuat Shella terkejut bukan main.
"Selamat siang! Long time no see, Nyonya Arshella!"
Deg!
Shella tampak terkesiap, kedua bola matanya membulat sempurna, tubuhnya terasa kaku bahkan tak dapat bergerak sedikit pun.
Wanita itu tentu saja merasa terkejut dengan kehadiran lelaki yang dahulu menghantui bahkan sempat mengancamnya.
Dengan suara yang terdengar bergetar karena rasa takut yang menyelimuti, Shella pun berkata, "M-mau apa lagi kamu ke sini, Hans!? Bukankah sudah kukatakan buat nggak menemuiku lagi!?"
Mendengar ucapan Shella yang seakan-akan merasa terganggu, membuat Hans berdecih sembari memutar bola matanya.
"Hmm, kupikir kau sudah melupakanku. Ternyata belum," ucap lelaki itu bernada menyinggung, "yah, mana mungkin kau lupa padaku bukan? Seorang pria yang-"
"Cukup! Tutup mulutmu dan tolong tinggalkan tempat ini!"
Shella berusaha menghentikan perkataan Hans yang tak ingin ia dengar dalam bentuk apa pun terkait kejadian masa lalunya.
Dengan raut wajah yang tampak memerah bak kepiting rebus, bahkan wanita itu sesekali mengedarkan pandangannya takut-takut seseorang melihat dirinya dan menguping pembicaraan tersebut.
Sedangkan Hans, lelaki itu terlihat bersikap tenang seolah tak ada yang harus ia khawatirkan. Hans pun berdecih dengan senyuman sinis yang tiba-tiba menampak.
"Astaga, kamu masih saja menyangkal, tapi tidak apa. Aku datang ke sini cuma mau bertemu dengan anakku," jelas Hans, "di mana dia?"
"Berhenti mengada-ngada, dia bukan anakmu!" sergah Shella menekankan.
Alih-alih menjawab dan bersikap baik terhadap tamunya, Shella justru berlagak arogan, seakan-akan ia sangat benci melihat lelaki itu menemui dirinya.
Ucapan Shella pun berhasil membuat kesabaran Hans terkuras habis, ia datang dengan senyuman tetapi tidak disangka ia disambut dengan sikap dan perilaku Shella yang kasar.
Di tengah-tengah suasana yang semakin panas tersebut tiba-tiba terdengar suara anak kecil dari dalam rumah tersebut.
"Ma!? Mama di mana!?"
Lalu beberapa detik kemudian muncul seorang gadis kecil memeluk kaki Shella dari belakang. Hal itu jelas membuat Shella terkejut bukan main, kenapa Arshetta tiba-tiba saja muncul?
Perasaan Shella kini terasa campur aduk, ia tentu tak ingin putri kecilnya bertemu dengan Hans.
Akan tetapi, tampaknya Hans terlihat senang, ia menyeringai dengan indah kala bertemu dengan Arshetta, gadis kecil berusia 5 tahun tersebut.
"Hallo, anak manis! Senang bertemu-"
"Shetta, Mama 'kan udah bilang kamu tunggu di dalam aja," ujar Shella lekas berjongkok dan menatap putrinya sembari memegangi kedua tangannya.
"Tapi ... Mama lama, Shetta jadi bosen," jawab Arshetta.
Wanita itu terlihat sangat panik dan berusaha membuat anaknya agar tidak bertegur sapa dengan Hans.
Hal itu semakin membuat Hans geram, tapi tak dapat dipungkiri, ia terus berusaha mengendalikan sikapnya dan berperilaku baik di depan gadis kecil itu.
Untuk apa lagi? Hans jelas tidak ingin menciptakan kesan buruk saat pertemuan dengan Arshetta untuk kali pertama.
Sementara Shella, ia kini semakin gugup dan panik. Lalu tanpa berpikir panjang ia kembali bangkit dan menatap Hans dengan tatapan tajam seakan-akan kemarahan telah menguasainya.
"Maaf, sepertinya kamu harus pergi," ucapnya ketus, lalu mengalihkan pandangannya mengarah pada Arshetta, "ayo, Sayang. Kita main lagi di dalam."
Belum sempat Hans berkomentar, Shella telah lebih dahulu menutup pintu tersebut bahkan sebelum ia memberi kesempatan padanya untuk berbicara lebih banyak.
Hans tetap diam dengan pandangan kosong, tubuhnya seakan-akan kaku, terpaku dengan perkataan Shella yang tetap saja menolak kehadirannya.
Hingga beberapa detik berlalu sampai akhirnya Hans mendengus kesal sembari menampakkan senyuman sinisnya.
"Tch!"
Hans membalikkan tubuhnya, lalu bertolak pinggang menatap sekeliling.
Sungguh! Ia tak bisa berkata apa pun untuk sekadar melampiaskan kekesalannya, niatannya untuk melihat gadis kecil yang selalu ia rindukan rupanya tak membuahkan hasil.
Yang ia dapat hanya cacian dan ancaman dari Shella.
Lalu pandangannya beralih pada paper bag yang sedari tadi ia pegangi tanpa sempat memberikannya kepada Arshetta.
"Aish!! Aku sampai lupa memberikan ini," lirihnya.
Hans kembali menatap pintu yang sudah tertutup rapat tersebut dan berpikir sejenak.
Tetapi semua percuma saja, jika ia kembali mengetuk pintu tersebut berniat untuk memberikan hadiah itu, bukan hal aneh jika Shella menolaknya bahkan mungkin saja wanita itu membuangnya tepat di depan Hans.
Hans pun menggeleng-gelengkan kepalanya kala ia membayangkan hal itu. "Tidak, sepertinya itu bukan ide yang bagus!"
Lelaki itu pun berjalan satu langkah dan membungkukkan tubuh, lalu meletakkan paper bag tersebut tepat di samping pintu bersama dengan langkah kakinya meninggalkan rumah itu.
***
"Bagaimana ini? Kupikir dia gak akan datang lagi ke dalam hidupku," gumam Shella dalam hati.
Tentu, setelah ia mengusir Hans dengan bersikap kasar, rupa-rupanya masalah tak berhenti sampai di situ. Pikiran Shella kini terasa kalut memikirkan suatu hal bahkan telah ia kubur dalam-dalam.
Kedua matanya fokus memperhatikan Arshetta yang tengah asyik mewarnai buku bergambar, tetapi tidak dengan pikirannya.
"Bagus gak, Ma?" tanya Arshetta sembari mengangkat gambar yang telah selesai ia warnai.
Tetapi ibunya tidak menjawab pertanyaan anak itu dan hanya terdiam.
"Ma?"
Satu panggilan dari Arshetta tak lantas membuat Shella menoleh, wanita itu tampak melamun kala ia kembali menemani Arshetta bermain di ruang tengah.
"Ma??" Arshetta kembali berusaha memanggil ibunya, tapi kali ini ia menaikkan nada bicaranya hingga berhasil membuat Shella mengerjap.
"Y-ya!?" Shella mendelikkan matanya, "a-ada apa, Sayang?"
Shella tampak ketar ketir, menunjukkan gelagat aneh sehingga membuat Arshetta sedikit merasa heran dengan tingkah laku ibunya sendiri. Arshetta pun kini terlihat kesal, karena baru kali ini ia merasa diabaikan oleh ibunya.
Sedangkan Shella yang telah menyadari sikap anaknya pun merasa sedih dan menyesal, bisa-bisanya ia terhanyut dalam lamunannya sendiri.
Di tengah-tengah itu, dering ponsel lantas membuat perhatiannya kembali teralihkan. Shella pun melihat layar ponsel yang memperlihatkan deretan angka yang berjejer, tentu ia tidak mengenali sang penelepon tersebut.
"Tunggu sebentar ya, Nak!" ujarnya lalu meraih ponsel itu dan kemudian menekan tombol hijau.
Detik berikutnya Shella tampak terdiam, dengan kedua mata terbuka lebar kala ia berbicara dengan sang penelepon.

IR Windy
31 Pengikut · 4 Novel