


oleh Citra Ayu Bening · 24 Bab
Andrew telah menjalin hubungan dengan Saskia lewat dunia maya. Tanpa disangka-sangka, mereka dipertemukan di dunia nyata, sebagai direktur dan karyawan. Hubungan mereka pun terjalin semakin serius. Namun ternyata, Andrew terpaksa harus menikahi Renata, pacar abangnya yang hamil. Sedangkan abang si Andrew kabur. Andrew dengan Renata sepakat akan cerai setelah bayi lahir. Pernikahan mereka demi menutup aib keluarga. Ternyata Renata adalah kakak sepupu Saskia. Ternyata Renata yang tahu bahwa Andrew adalah seorang pengusaha, berubah pikiran. Ia ingin memiliki Andrew seutuhnya. Apalagi setelah melahirkan wanita ini menderita baby blues. Andrew sibuk menjaga Renata. Kisah cinta segitiga ketiganya semakin rumit saja.
"Kiaaa! Buruan tengok itu!"
"Oh, my God! Mimpi apa aku semalam!"
Dania menjerit histeris, lalu buru-buru menutup mulut dengan telapak tangan. Kedua mata melotot, menatap ke arah depan. Sementara wanita di sampingnya terlihat cuek. Beberapa saat setelah mengatur napas, ia pun menarik ujung baju Saskia.
"Kia! Lihat di pintu lobi!" seru Dania sambil mencubit lengan Saskia.
"Aduh! Apaan, sih! Rombongan pria berjas doang. Apa anehnya?" tanya Saskia sambil mencebik. Ia mengusap-usap bekas cubitan Dania.
"Yang jalan ke arah lift," bisik Dania dengan ekspresi gemas.
"Ada Pak Kevin dan dua pria," balas Saskia datar.
"Sebelahnya Pak Kevin, Kia," ucap Dania yang semakin dibuat gemas oleh sikap sahabat karibnya yang tetap datar saja.
"Nggak kelihatan wajahnya," balas Saskia cuek segera beranjak ke ruangannya.
Dania dengan sedikit berlari menyusul langkah kaki sahabat karibnya tersebut. Setelah sampai di ruangannya, Saskia duduk lalu mulai menghidupkan laptop. Ia harus segera menyelesaikan berkas untuk meeting. Setelah jam makan siang sesuai rencana, dia akan mendampingi Pak Kevin bertemu klien.
"Ganteng banget, kan?" tanya Dania sambil duduk persis depan Saskia.
"Ganteng? Pak Kevin? Ngaco kamu! Orang udah punya istri juga. Mau jadi pelakor?"
"Oh, my God! Saskia Wilhelmina! Aku merasa terkena kutukan, tahu! Punya temen macam kamu. Yang kudet gini."
"Emang ngaruh dengan kerjaan kita?"
Belum juga Dania sempat menjawab pertanyaan Zaskia, tiba-tiba Kevin sudah berdiri di ambang pintu.
"Saskia, entar jam 10 kamu ikut Pak Andrew bertemu klien. Siapkan proposal yang kemarin!" perintah pria berkacamata tersebut.
Saskia seketika mendongak. "Baik, Pak," balas Saskia sambil mengangguk.
Dania segera menoleh, lalu tersenyum salah tingkah ke arah kepala divisi di depannya.
"Silakan duduk, Pak! Saya hanya antar berkas saja," ucap kikuk Dania sambil bangkit lalu memberi ruang untuk Kevin.
Pria berusia 40 tahunan tersebut tertawa kecil sambil mendekat ke meja Zaskia. "Saya dengar pembicaraan kalian. Pesona Pak Andrew berhasil menggeser kedudukan saya," ucap Kevin yang direspon tawa kecil oleh dua wanita di dekatnya.
"Nah, loh! Pak Kevin saja paham pesona Pak Andrew. Saskia payah, Pak. Nggak tahu cowok limited edition," sahut Dania yang merasa mendapat angin segar.
Saskia hanya tersenyum tipis mendapat ledekan dari teman karibnya.
"Kalau enggak jadi sama Bapak, berarti mengubah proposal, dong? Dalam berkas terlanjur saya cantumkan nama Bapak," ucap Saskia dengan kedua mata mengamati hasil ketikan pada layar laptop.
"Ubah saja! Pak Andrew sedang mempelajari cara kerja setiap divisi. Masih ada waktu dua jam lagi. Bisa, kan?" tanya Kevin dengan senyum ramahnya.
Pria ini yakin Saskia bisa diandalkan untuk jadi calon sekretaris Andrew. Dari sekian karyawati semua divisi, hanya Saskia yang selalu punya ide berlian dalam berinovasi. Hal tersebut yang diutarakan Andrew, saat memintanya memilihkan calon sekretaris.
"Saya kerjakan segera, Pak," balas Saskia kemudian.
"Saya yakin, kamu selalu bisa diandalkan. Silakan kerjakan tugas hari ini! Selamat pagi," tegas Kevin lalu beranjak meninggalkan ruangan.
"Selamat pagi, Pak," balas kedua wanita.
Selepas Kevin pergi, Dania pun ikut keluar ruangan. Kini, Saskia mulai sibuk mempersiapkan proposal yang baru.
Dalam waktu kurang dari satu jam, semua berkah yang diperlukan untuk meeting dengan klien telah siap. Waktunya Saskia bersantai sebentar. Wanita muda itu lantas mengambil ponsel dan mulai membuka aplikasi sosial media berlogo biru. Kedua mata wanita muda tersebut terbelalak membaca pesan dari aplikasi.
[ Selamat pagi, Saskia. Jam 10 kita jalan.]
Jantung Saskia seakan-akan berhenti berdetak. Dia mengamati nama akun dan foto profil si pengirim pesan.
Andrew Shailendra? Dia manager baru?
Kedua mata Saskia tak berkedip menatap layar ponsel. Kemudian dia mulai mencari tahu data lengkap akun tersebut. Tak ada data, selain nama dan alamat email. Foto-foto yang tersimpan pun hanya mengenai keindahan alam dan perjalanan bersama kaum sukarelawan.
Saskia mengenal pemilik akun sedari setahun lalu. Mereka adalah orang yang sama-sama penyuka dunia literasi. Dari sebuah event menulis cerita, akhirnya terjalin pertemanan akrab di antara mereka.
[Saskia? Bengong, ya?]
Saskia tersenyum tipis lalu membalas.
[Maaf, Pak. Saya enggak tahu, kalau Bapak itu manager baru di sini.]
[Panggil, Bang, kayak biasanya! Kalau aku manager baru, apa masalahnya?]
[Saya merasa nggak enak hati, Pak.]
[Bang! Panggil Bang!]
Saskia yang salah tingkah tak membalas lagi. Wanita itu sibuk menata hatinya yang mulai tak karuan. Getaran dalam darah tak bisa berkhianat, bahwa dirinya telah memendam rasa suka lebih dari sekadar teman.
Akan tetapi, rasa tersebut sengaja ia disingkirkan. Saskia merasa tak pantas bersanding dengan Andrew. Seorang pria mapan berstatus bujangan. Sementara dirinya adalah single parent dengan satu orang anak.
Saskia diam terpaku memandang layar ponsel yang berisi beberapa kiriman pesan dari Andrew. Tiba-tiba telepon paralel di meja Saskia berdering. Kevin sedang menghubunginya. Wanita berambut sebahu tersebut segera mengangkat telepon.
"Halo, Pak."
"Kamu sudah selesai bikin proposal baru?"
"Tinggal dikit lagi, Pak. Meeting jam sepuluh, kan?"
"Pak Andrew barusan telepon saya. Ingin berdiskusi sebelum berangkat meeting."
"Saya selesaikan dulu, Pak," balas Saskia terpaksa berbohong. Dia sedang menenangkan hati agar tak grogi berhadapan dengan Andrew nanti.
"Saya harap jam sembilan proposal sudah selesai. Kamu langsung temui Pak Andrew."
"Baik, Pak," balas Saskia dengan bibir bergetar.

Citra Ayu Bening
1 Pengikut · 2 Novel