


oleh Lavendulaaa · 101 Bab
Percaya dengan perkataan orang yang bilang, “Semua orang punya kesulitan sendiri-sendiri dalam hidupnya” membuatku tidak yakin. Aku terlalu menyamakan kehidupanku dengan mereka sehingga aku merasa terlalu menyedihkan. Entah hidupku yang terlalu banyak air mata atau hidup mereka yang terlalu rapi menyimpan segalanya. Semua orang yang menyayangiku satu persatu pergi. Aku dipaksa untuk mengikhlaskan apa yang terjadi di masa lalu dan berdamai dengan masa lalu. Mungkin memang benar bahwa bahagia akan selalu berubah variabelnya, tapi aku tidak yakin akan variabel bahagia yang benar-benar membuatku bahagia. Aku mempertanyakan semua yang terjadi padaku. Apa memang ini takdirku? Mengapa ini terlalu menyedihkan, Tuhan?
Hari pertama Mas Arlan pergi semua masih baik-baik saja, Gilang masih izin dan bisa menemaniku ke mana pun.
Aku pergi seperti yang diminta Mas Arlan, tapi hari ini Gilang sudah masuk kerja. Aku dan Bunda hanya sendirian di rumah. Aku bukan tipe orang yang bisa diam jika bosan.
Saat ini aku berada di kamarku. Aku sudah membaca banyak buku yang ada di kamarku. Bahkan aku sempat membuka buku pelajaran saat aku sekolah dan iseng mengerjakan soal matematika yang membuatku menyerah dulu.
Pada akhirnya, aku juga bosan. Tadi pagi sebelum Mas Arlan berangkat kerja, kedua priaku itu sudah menelepon dan Mas Arlan mengingatkanku untuk banyak minum air putih, tapi sekarang aku sudah merindukan mereka lagi.
Kubuka laptop semasa sekolahku yang sengaja aku biarkan di rumah Bunda dan tetap merawatnya. Aku membuka beberapa file yang ada di sana dan menemukan drama Korea jadul yang dulu membuatku sangat jatuh cinta dengan kehaluannya.
Drama dengan tema kedokteran itu kunikmati, karena cita-citaku dulu menjadi dokter. Meski berujung sirna, tapi aku bahagia dengan diriku yang sekarang. Walau tidak menjadi dokter, aku memiliki suami yang baik dan menyayangiku, anak yang lucu dan menggemaskan, pekerjaan tetap yang bertahan hingga saat ini dengan penghasilan yang lumayan.
Aku mematikan laptop saat rasa kantuk menyerang. Aku pun memilih untuk ke tempat tidur dan tidur. Aku mengusir rasa sepi dengan tidur. Entah berapa lama aku tertidur hingga aku bangun sudah sangat sore. Aku pun segera mandi dan salat ashar.
Kudongakkan kepalaku saat duduk di sofa kamarku. Biasanya aku mendengar suara Raka yang berceloteh atau Mas Arlan yang menggoda saat jam segini. Aku merindukan mereka. Masih ada beberapa hari lagi untuk Raka pulang.
Handphoneku berbunyi dan panggilan dari Mas Arlan masuk. Terlihat Raka dan Lani sedang berada di kamar hotel Mas Arlan. Entah, Mas Arlan sedang berada di mana. Raka menyapaku dan mengatakan kegiatannya hari ini. Aku mendengarkannya dengan saksama.
“Papa mana? Kok cuma berdua?” tanyaku.
“Papa mandi. Raka yang minta telepon Mama dulu. Mama kangen Raka gak?” Aku tersenyum menahan air mataku.
“Jelas dong. Mama kangen Raka. Raka baik-baik di sana, ya. Jangan lepas dari Tante Hana kalau jalan-jalan, ya. Jaga Lani juga, bantu Tante Hana. Lani ‘kan suka jalan sembarangan,” kataku.
“Iya, Raka selalu pegang tangan Lani kalau kami jalan. Mama minta apa? Papa bolehkan Raka beli-beli besok. Tadi ‘kan Raka beli jajan banyak di dekat hotel. Banyak banget jajan di pinggir jalan, tapi susah namanya. Raka banyak gak sukanya.”
Aku tertawa saat mendengarnya. Mas Arlan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang dia usapkan ke rambutnya.
“Itu Papa.” Raka memberikan HP-nya pada Mas Arlan. Mas Arlan duduk di sofa dan melihatku.
“Kenapa wajahnya?” tanya Mas Arlan yang membuatku melihat wajahku sendiri.
“Emang kenapa? Buluk, ya?” tanyaku. Mas Arlan terkekeh mendengarnya.
“Enggak. Wajahmu menyampaikan sesuatu yang gak bisa kamu omongin.” Aku menghela napas panjang dan tersenyum melihat wajah tampan suamiku dari layar hpku. “Aku juga, apa pun yang kamu rasakan sekarang. Aku bilang, aku juga.”
“Kalau aku merasakan belet buang air besar, kamu juga gitu? Ngelucu?!” Mas Arlan tertawa mendengarnya. “Gimana kerjaannya? Capek, ya?” tanyaku.
“Eum … capek, tapi, sedikit terangkatlah masalahnya.” Mas Arlan memindah kamera belakang, membuatku mengerutkan dahiku. “Lihat anak kamu.”
Aku tertawa melihat Raka pasrah menerima perlakuan Lani yang memakaikan bedak bayi ke wajah Raka. Lani juga menata rambut Raka. Terdengar suara Raka meminta untuk menata dengan rapi. Mas Arlan memindahkan kembali ke kamera depan.
“Mereka bener-bener membantu melepas penat. Kamu ngapain aja, hari ini?” tanya Mas Arlan.
Aku pun menceritakan apa yang aku lakukan seharian ini. Mas Arlan tertawa saat aku mengatakan aku kembali belajar buku SMA dan mengerjakan soal matematika.
“Aku beneran tahu, Mas. Kamu kok gak percaya banget sih,” keluhku.
“Bukan gak percaya. Lucu aja, kamu belajar lagi setelah sekian lama kamu tumbuh dan sudah menjadi ibu. Masih ingat emang sama rumusnya?” Mas Arlan masih tertawa.
“Dulu aku gak tahu rumusnya, sekarang malah lupa. Itulah aku, lagian kenapa ada matematika? Itu mereka punya masalah gak mau diselesaikan sendiri bikin nambah masalah orang aja!” Mas Arlan semakin tertawa mendengar komentarku hingga aku mengeluh.
“Sayang, nanti lagi, ya. Udah jam makan malam. Kamu makan sana, aku ajak Hana sama anak-anak makan dulu.” Aku menganggukkan kepalaku dan mematikan panggilan setelah Raka mengucapkan salam saat Mas Arlan mengatakan akan mematikan panggilan.
Aku turun dan makan bersama Bunda dan Gilang. Kami makan sambil mengobrol dan obrolan kami terasa sepi karena para bocah berlibur, tapi kami bercanda. Aku dan Gilang pun bermain game online di ruang keluarga. Bunda langsung ke kamar saat aku dan Gilang bermain.
“Gimana rasanya ditinggal suami dan bakal lama di negara tetangga, Kak?” tanya Gilang sambil bermain denganku.
“Ya biasa aja sebenarnya, tapi hamil bikin aku gak rela aja ditinggal. Mana udah hamil besar juga ‘kan,” jawabku,
“Awas, belakang kakak ada musuh. Tembak kepalanya!” Kami heboh sendiri dan permainan terhenti karena panggilan dari Mas Arlan.
“Jam berapa, Lang?” tanyaku.
“Jam setengah 11. Mas Arlan, ya?” balas Gilang. Aku berdiri dan mengingatkan Gilang untuk mengunci pintu.
Saat berjalan ke kamar, panggilan dari Mas Arlan berakhir. Aku keluar dari game online dan menghubungi Mas Arlan kembali.
“Raka udah tidur?” tanyaku saat Mas Arlan menggunakan fitur voice call saat jam segini.
“Iya, baru aja tidur. Kamu kok gak langsung angkat panggilanku? Tidur juga?” tanyanya.
“Enggak, tadi main game sama Gilang. Maaf,” jawabku.
Mas Arlan menghela napas panjang.
“Kenapa, Mas? Kamu lagi suntuk?” tanyaku.
“Iya. Kamu udah ngantuk belum?” tanyanya.
“Belum sih. ‘Kan seharian gitu aja. Malah lebih banyak tidurnya. Mau cerita?” tawarku.
Mas Arlan mulai menceritakan kegiatannya hari ini. Aku mendengarkannya dan tidak menyelanya sama sekali. Terdengar nada bicara Mas Arlan merasa capek dengan hari ini.
“Aku mulai gak yakin bisa selesai cepat. Aku gak mau lebih lama lagi ninggalin kamu. Satu bulan udah cukup lama, kalau masalah ini belum selesai, mana bisa aku pulang. Perusahaan di sini bisa collapse beneran.” Suaranya mulai terdengar menyerah.
“Gak, kamu bisa kok. Pelan-pelan, jangan terlalu terburu-buru. Yang melakukan penyelewengan, tindak lanjut juga. Jangan dibiarkan atau hanya kamu pecat. Biar dia jera, Mas. Serahkan ke pihak berwajib. Pelan-pelan pasti sahamnya balik kok dan client akan percaya lagi sama kamu.”
Mas Arlan menghela napas berat, mengiyakan apa yang aku ucapkan dan mengatakan bahwa dia sudah membuat laporan tentang penyelewengan dana perusahaannya. Ia hampir lupa pulang jika Roland tidak mengingatkan tentang Raka yang sedang bersamanya.
“Terus sekarang kamu mau lembur?” tanyaku, khawatir dia sakit di negara orang.
“Enggak. Paling besok bangun pagi banget buat periksa berkas-berkas. Aku tahu kalau aku lembur, kamu akan khawatir. Aku gak mau kamu makin kepikiran sama aku. Kamu istirahat sana.” Mas Arlan menyuruhku tidur.
“Iya, kamu juga, ya. Jaga kesehatan. Kamu lagi jauh, aku gak mungkin bisa ke sana langsung kalau kamu sakit. Jadi, jangan sakit, ya,” kataku.
“Iya. I miss you, Baby.” Aku tertawa pelan mendengar dia memanggilku ‘Baby’.
“Eum, I miss you too, Mas.”
**

Lavendulaaa
38 Pengikut · 5 Novel