Satu persatu keluargaku pulang terlebih dahulu. Di sini, di ruang rawat Mas Arlan tersisa, aku, Mama, Kak Dana, dan anak-anak. Mas Arlan baru saja beristirahat. Anak-anak pun ikut beristirahat di tempat tidur yang ada di ruangan ini.
Aku, Mama dan Kak Dana duduk di sofa. Kami menatap Mas Arlan yang terlelap. Mama mengusap bahuku dan merangkulku. Tidak banyak yang Mama katakan, tapi Mama tersenyum bahagia melihatku.
“Mama kenapa?” tanyaku.
“Farin udah selesai nunggunya. Kalian bisa selesaikan masalah kalian dengan baik-baik. Apa pun itu, Mama akan bantu kalian, jika kalian butuh bantuan Mama. Jangan kembali terpuruk, ya, Sayang. Arlan sudah bangun sekarang. Kamu bisa bicara sama dia perlahan.” Aku menganggukkan kepalaku.
“Rin, mau jaga Arlan? Anak-anak biar sama aku. Di rumah Bunda ada Jae-hyun sama Gilang yang masih bisa dijadikan asistenmu.” Aku tertawa pelan mendengarnya.
“Masalahnya, Bunda emang ngizinin? Udah tahu Bunda overprotective banget seminggu ini. Dua hari aku ke sini aja, Ana yang minta izin,” keluhku.
“Bunda udah lihat sendiri, kalau suamimu benar sudah sadar. Bunda pasti izinkan kok. Mau coba telepon? Aku tahu kamu masih membutuhkan waktu berdua sama Arlan.” Aku melihat Kak Dana dan Mama bergantian. Keduanya menganggukkan kepala dan membuatku pun mengangguk.
Aku berdiri dan mengambil handphoneku di tas. Aku keluar dan menghubungi Bunda yang mungkin baru saja sampai di rumah. Aku menunggu Bunda mengangkat panggilanku dan menyapa dengan hangat. Aku segera mengatakan tujuanku, saat suara Bunda terdengar.
“Iya, udah, Kakak di sana aja. Anak-anak suruh pulang sama Kak Dana. Besok Bunda ke sana lagi, antar anak-anak.” Aku menghela napas lega mendengar Bunda mengizinkanku tanpa aku meminta Ana yang bicara pada Bunda.
“Oke, anak-anak baru tidur. Nanti kalau bangun dan aku ajak makan dulu, ya, Bun.” Aku menyampaikannya pada Bunda.
“Iya, Kak. Makannya jangan yang aneh-aneh. Ingat Kakak juga baru sembuh.” Tuh, ‘kan. Baru saja aku memikirkan banyak makanan lezat yang sudah dilarang Bunda akhir-akhir ini.
“Iya.” Aku sudah sangat pasrah pada sikap Bunda yang seperti ini. Daripada aku kesal sendiri, mending aku pasrah dan nikmati aja perhatian Bunda yang seperti ini.
“Minta Kak Dana yang pesan. Bunda gak yakin sama ‘iya’ Kakak.” Astagfirullah. Bunda suka banget suudzon sama anak sendiri. Salah apa coba aku sama Bunda. Aku pun hanya pasrah dan kembali mengatakan iya. Aku segera mematikan sambungan dan kembali masuk.
Aku duduk lagi di samping Mama. Kak Dana menanyakan bagaimana keputusan Bunda. Aku menghela napas dan menganggukkan kepalaku.
“Bunda kasih izin. Terus, Bunda mau Kakak pesan makan buat kita makan sama anak-anak waktu mereka bangun. Kakak tahu ‘kan apa yang Bunda bolehkan dan larang? Ya, udah itu yang harus aku makan. Bunda gak yakin aku memesan makanan seperti keinginan Bunda.” Aku mengeluh.
Mama menenangkanku dan Kak Dana pun menganggukkan kepalanya. Aku menyandarkan punggungku dan Mama terus menenangkanku agar tidak terlalu kesal pada Bunda. Aku beberapa kali hanya bisa menghela napas panjang dan menganggukkan kepalaku.
Anak-anak terbangun saat hari sudah semakin sore. Mas Arlan pun terbangun saat Ana memanggilnya. Anak itu masih bermanja pada papanya. Mama baru saja pamit pulang saat Mas Arlan bangun. Kak Dana mengantar Mama turun bersama dia mengambil pesanan makanan kami.
“Papa jangan tidur lagi.” Ana duduk di pangkuan Mas Arlan bersama Icam. Aku merangkul Raka yang duduk di kursi menatap papanya.
“Kakak gak sekolah hari ini?” tanya Mas Arlan pada anak sulungnya yang terdiam menatapnya.
“Besok juga gak mau sekolah.” Mas Arlan melebarkan matanya mendengar anaknya tidak ingin sekolah.
“Kenapa?” tanya Mas Arlan halus dengan suaranya yang belum pulih sepenuhnya.
“Mau sama Papa dulu. Mau di sini sama Papa.” Aku mengusap kepala Raka lembut dan Mas Arlan tersenyum melihat anaknya itu.
“Papa gak akan ke mana-mana. Mama besok di sini kok. Kakak pulang sekolah aja ke sini, ya. Mama yang akan jaga Papa di sini.” Raka menggelengkan kepalanya.
“Besok sama Yangti ke sini, Mama akan selalu di sini kok, temani Papa.” Raka menghela napas pasrah dan menganggukkan kepalanya. Kak Dana datang dan mengajak anak-anakku makan. Aku memutar bola mataku kesal saat melihat bubur ayam di depanku.
Aku pecinta bubur ayam juga, tapi aku udah bosan melihatnya. Aku yang ingin protes malah melihat Kak Dana memberikan soto ayam. Aku tersenyum dan memeluk Kak Dana.
Bubur ayam itu punya Kak Dana yang memang ingin makan bubur ayam. Sedangkan aku dan anak-anak makan soto ayam. Ana mengoceh dan menawari papanya. Pria itu menolak halus dan menyuruh anaknya makan dengan hati-hati agar tidak tersedak.
Dengan banyak drama, akhirnya anak-anak pulang setelah makan. Kak Dana pamit bersama anak-anak. Aku mengantar keluar dan mereka terus mengingatkanku untuk menjaga kesehatan. Raka terus mengomel tentang kesehatanku.
“Kakak gak mau Mama pulang sakit lagi. Jangan sakit juga, ya, Mama. Papa belum sembuh.” Aku menganggukkan kepala dan menyuruh mereka segera masuk lift yang baru saja terbuka.
Aku melambaikan tanganku sampai lift benar-benar tertutup. Aku menghela napas dan berjalan kembali ke ruang rawat Mas Arlan. Aku melihat Mas Arlan menatapku yang baru saja masuk ke ruang rawatnya.
***