“Dokter Kirana, tolong tandatangani berkas logistik obat-obatan ini sebelum kurirnya berangkat ke distrik sebelah,” panggil Suster Lastri, membuyarkan lamunan panjang yang sedari tadi melanda bening kepala wanita berambut sebahu itu.
Kirana mengerjap, menarik napas dalam-dalam guna mengembalikan kesadarannya ke dunia nyata. Ruang pemeriksaan klinik tempatnya mendedikasikan diri tampak lengang, menyisakan aroma khas cairan antiseptik dan obat penurun panas yang menguar tipis di udara.
Ia menerima lembaran kertas dari tangan Suster Lastri, membubuhkan tanda tangan dengan rapi, lalu kembali memandang ke luar jendela kaca klinik yang langsung menghadap ke jalanan setapak berdebu.
Rutinitas harian Kirana sebagai seorang dokter relawan di kawasan pinggiran kota ini memang menuntut konsentrasi penuh. Hidupnya terbingkai dalam keteraturan yang nyaris steril dari kejutan emosional, memeriksa pasien demam berdarah, merawat luka lecet anak-anak kampung, hingga menyusun laporan bulanan kesehatan masyarakat. Baginya, ketenangan adalah sebuah kemewahan yang harus dijaga rapat-rapat setelah masa lalu meninggalkan rongga kosong di dalam dadanya.
Sore ini, ketenangan itu mendadak terusik oleh sebuah suara ketukan sepatu yang asing dan sangat berirama di halaman paving block klinik. Tok, tok, tok. Ketukan yang tegas, teratur, dan memiliki bobot penekanan yang berbeda dari langkah kaki pasien biasa maupun warga desa setempat. Suara itu mengingatkannya pada derap langkah yang bertahun-tahun lalu pernah mengisi hari-hari masa kecilnya di kompleks perumahan asrama militer.
Langkah kaki itu terhenti tepat di depan pintu utama klinik. Sesaat kemudian, bayangan seseorang berpostur tegap dan tinggi terpatri di balik tirai putih jendela. Jantung Kirana tanpa sadar berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Ada getaran aneh yang menjalar di ujung jemarinya, sensasi familiar yang seketika menyeret ingatannya mundur jauh ke masa belasan tahun silam, ketika dunia terasa begitu luas dan sederhana.
Masa lalu selalu memiliki cara tersendiri untuk merangsek masuk ke dalam ingatan tanpa diundang. Dalam benak Kirana, bayangan masa kecilnya bersama Arsen berputar bagaikan film bisu beresolusi tinggi. Arsen adalah anak lelaki tetangga sebelah rumah dinas yang tidak pernah bisa diam. Rambutnya selalu berantakan, lututnya kerap dipenuhi koreng akibat jatuh dari pohon mangga, dan tawanya begitu lantang mengalahkan suara bel sekolah sore.
Dulu, di bawah naungan pohon ketapang tua di halaman asrama, Arsen sering kali memamerkan cita-citanya dengan mata berbinar-binar penuh keyakinan.
“Suatu hari nanti, Kir, aku bakal pakai seragam hijau loreng dengan baret paling keren di militer. Biar aku bisa melindungi ibu, melindungi tempat ini, dan melindungimu juga kalau ada orang nakal yang mengganggu,” ucap Arsen kecil kala itu, sambil mengangkat mainan pistol-pistolan plastik dengan dada membusung bangga.
Kirana kecil yang pemalu hanya akan mencibir pelan, menyodorkan plester luka bergambar kelinci untuk menutupi goresan di lutut bocah lelaki itu. “Halah, gaya banget. Janji dulu jangan nangis waktu disuntik imunisasi sama mantri kesehatan, baru ngomongin tentara.”
***
Ejekan itu selalu sukses membuat Arsen merengut sebal, sebelum akhirnya mereka kembali tertawa bersama, menikmati hari-hari tanpa beban di bawah payung perlindungan para prajurit senior yang menjadi orang tua mereka.
Waktu berjalan seperti air bah yang tidak bisa ditahan. Ketika mereka menginjak usia remaja, jalan hidup mulai menarik garis pemisah yang tegas. Ayah Arsen gugur dalam sebuah tugas operasi militer di luar pulau, meninggalkan duka mendalam yang mengubah tabiat Arsen dalam semalam. Bocah periang itu perlahan-lahan bertransformasi menjadi sosok remaja yang lebih pendiam, serius, dan menyimpan tekad baja di balik tatapan matanya yang tajam.
Ia tidak lagi mengejar burung di lapangan asrama, jam-jam luangnya dihabiskan untuk berlari keliling lapangan bola, pull-up di dahan pohon, dan membaca buku-buku strategi militer pinjaman dari rekan sesama perwira sang ayah.
Beberapa tahun berselang, perpisahan mutlak pun terjadi. Arsen harus meninggalkan kota kecil tersebut untuk mengikuti seleksi akademi militer di Lembah Tidar, sementara Kirana fokus mengejar impian masa kecilnya yang lain, mengenakan jas putih kedokteran demi menyembuhkan orang-orang sakit. Komunikasi yang awalnya intens perlahan-lahan menipis tersita oleh kesibukan masing-masing dunia yang teramat kontras. Dunia Kirana adalah rumah sakit, jurnal ilmiah, dan teori biologi molekuler. Sebaliknya, dunia Arsen adalah barak, disiplin besi, tempaan fisik ekstrem, dan sumpah prajurit yang mengikat mati jiwa raganya.
Kembali ke masa kini, suara dehem seseorang di ambang pintu memecah lamunan panjang Kirana. Suster Lastri melangkah masuk membawa map rekam medis tambahan, tapi matanya melirik ke arah pintu depan dengan rasa penasaran.
“Dok, di luar ada tamu yang mencarinya. Katanya dari instansi khusus, tapi penampilannya, wah, rapi dan tegas sekali,” bisik Suster Lastri dengan nada setengah berbinar, khas orang yang terpesona oleh wibawa seorang aparat.
Kirana merapikan kerah jas putihnya, berusaha menetralkan napasnya yang mendadak memburu. Ia melangkah pelan meninggalkan meja kerjanya, menyibak tirai pembatas ruangan, dan mengarahkan pandangannya lurus ke ruang tunggu klinik yang kini tampak sunyi.
Di sana, berdiri tegak sesosok pria dengan postur tubuh tinggi tegap yang mendominasi ruangan. Pria itu mengenakan pakaian dinas lapangan hijau gelap yang disetrika licin tanpa cela, sepatu lars hitam yang mengkilap memantulkan cahaya lampu neon ruangan, serta sebuah topi lapangan yang dipegangnya erat dengan tangan kanan yang kokoh.
Pria itu perlahan membalikkan tubuhnya begitu mendengar suara langkah kaki Kirana di lantai keramik.
Wajah tirus dengan rahang tegas itu kini tampak jauh lebih matang. Garis-garis kedewasaan dan tempaan matahari lapangan mengukir ketampanan yang matang di wajahnya, jauh berbeda dari bayangan Arsen bocah lelaki pencinta pohon mangga belasan tahun lalu. Namun, ada satu hal yang tidak pernah berubah, sorot mata tajam nan hangat yang langsung menghujam jantung Kirana detik itu juga.
Arsen tersenyum tipis, sebuah senyuman langka yang mampu meluluhkan kebekuan udara sore di klinik tersebut.